
"Haihh kenapa harus aku juga Adam... Kau ada, kenapa juga mereka memintaku."
Briel menggerutu kesal. Sepanjang perjalanan meniju ruangan meeting, Briel hanya menggerutu kesal, mengomel tidak jelas. Tidak seharusnya dia ada di sana saat ini. Harusnya dia menikmati harinya bersama dengan anak dan istrinya. Niat hati Briel tidak akan memenuhi semuanya itu, namun proyek besar menanti dirinya di meeting dengan client nya. Andai tidak banyak berpengaruh, mungkin dirinya hanya akan mengikuti kata hatinya untuk tetap tinggal. Keuntungan yang ia dapat jika ia mengambil proyek itu mampu untuk menghidupi banyak orang.
Sepanjang meeting, Briel melakukannya dengan terpaksa. Wajah bisa saja menipu tapi hatinya ingin sekali ia pergi dari meeting itu. Briel hanya mampu menghela napas diam–diam. Raganya boleh saja di sana, namun pikirannya telah berada di rumah.
"Bagaimana Tuan Briel?" tanya clientnya setelah sekretarisnya telah selesai menjelaskan bagaimana proyek yang akan mereka jalankan bersama. Ia meminta pendapat Briel tentang bagaimana proyek ini, apakah Briel menyetujuinya ataupun tidak. Jika Briel menyetujuinya, itu adalah keberuntungan besar bagi mereka, lantaran profit dari proyek itu tidak main–main besarnya. Siapapun orangnya pasti akan tergiyur dengan hasilnya.
"Saya setuju dengan semua pemaparan Anda tentang prosedur dan seluk beluk yang berhubugam dengan proyek ini."
Briel berdiri dengan tegas lantas mengulurkan tangannya.
"Deal, kerjasama ini saya terima," ungkap Briel dengan tegas. Ia tidak ingin mengulur–ulur waktu lagi.
Joni, yang merupakan client besarnya itu pun turut berdiri. Ia menatap wajah Briel dengan penuh hormat. Senyum itu mengembang di kedua sudut bibir Joni. "Deal. Terima kasih atas semuanya, Tuan."
Mereka saling menjabat tangan. Persetujuan akan kontrak kerja sama di antara mereka telah selesai.
"Untuk ke depannya, silahkan menghubungi sekretaris saya. Saya ada terburu–buru saat ini. Tanda tangan kontrak bisa kita lakukan besok lusa," ucap Briel. Briel telah membereskan peralatannya. Ia ingin segera pergi dari meeting itu. Harus pergi dengan segera. Ia tidak betah lagi. Pikirannya sudah penuh dengan dua wajah mungil itu.
"Baik, Tuan. Nanti biar sekretaris saya yang datang kembali ke kantor perusahaan ini."
Briel tersenyum singkat, lantas pergi meninggalkan Joni. Adam mengikutinya di belakang.
"Astaga Briel ... Kamu tidak menanyakan bagaimana nanti profit dan lain lainnya?"
Adam sungguh ingin menepuk kepala Briel dari belakang pasalnya apa yang mereka bahas tidak Briel telusuri lebih detail tentang bagaimana proyek itu. Biasanya Briel akan sangat teliti kala mendengar penjelasan yang di presentasikan oleh partner kerjasamanya.
"Sudahlah... Aku percaya denganmu. Kau pasti bisa menghandle semuanya kan?"
__ADS_1
Briel menepuk pundak Adam. Ia mengedipkan sebelah matanya pada Adam, mencoba merayu dan berharap Adam mengerti tentang dirinya saat ini.
Adam memutar bola matanya malas. Ini dia yang tidak suka dari Briel. Seenaknya Briel melimpahkan hal yang seharusnya bisa bukan jadi tanggung jawabnya.
"Enak saja kau Bri! Itu kan tanggung jawabmu," gerutu Adam.
Briel tersenyum lebar. "Hmm iya..."
Jawaban itu seakan menjadi angin penyejuk untuk Adam.
"Tapi tetap saja itu tanggung jawabmu kalau aku ingin melimpahkannya padamu. Bukankah itu tugasmu juga. Tanggung jawab bos bisa didelegasikan pada kamu, sekretaris pribadi sekaligus asisten pribadiku," celetuk Briel seenaknya.
Adam mendengkus kesal. Mau tidak mau ia harus menghandle semuanya itu sendirian lagi.
"Mau ke mana kau Bos," tanya Adam tatkala melihat punggung Briel yang semakin cepat menjauh bahkan dengan langkah yang tergesa dan panjang.
"Pulang ...!"
"Memang gila dan itu aku ..."
Tanpa menyanggah sedikitpun, Briel meninggalkan Adam yang kini menatapnya dengan wajah yang ingin sekali memakan orang. Banyak deadline yang harus ia kerjakan, namun bertambah pula hal yang harus ia lakukan lantaran Briel yang seenak jidatnya melimpahkan tanggung jawab yang tidak sedikit kepada Adam. Ingin protes namun ia tidak bisa. Hidupnya ada di tangan Briel. Bukan sepenuhnya, namun dirinya sendiri yang menganggapnya demikian. Briel tidak pernah menganggap jika hidup Adam ada di tangannya. Karena bagaimanapun hidup Adam adalah milik Adam sendiri. Hanya kebetulan saja ia ada di dalam hidup Adam.
"Ah terserah lah pusing saiyaaa ..." keluh Adam. Ia berjalan kembali ke ruangannya dengan langkah gontai. Tidak ada semangat sedikitpun walaupun telah banyak pekerjaan menanti. Rasanya semakin malas jika pekerjaan semakin banyak.
"Aaaaaaa" teriaknya dengan malas.
Tidur dulu tidak apa kalik ya. Capek. Manusia butuh tidur. Sudah 2 malam aku tidak tidur akibat ulah Bos yang terlalu tau aturan itu. Hmmm..." gumam Adam lantas merebahkan kepalanya di meja dengan tangan yang menelungkup.
Tangannya meraih gagang telepon. Ia menekan tombol pada telepon itu.
__ADS_1
"Tolong bawakan saya kopi," titah Adam kala telepon itu telah tersambung.
Tanpa menunggu jawaban dari seberang, Adam mematikan sambungan itu secara sepihak. Matanya memang benar–benar tidak bisa diajak kompromi. Tubuhnya mulai lelah. Sedari tadi ia mulai menguap berulang kali. Ia tidak bisa menahan kantuknya lagi, jika tidak menggunakan bantuan kafein dari kopi.
"Aihh ayolah mata jangan tertidur. Kerjaaa ..." rengek Adam sendirian di ruangannya.
Badan boleh besar, kharisma dan wibawa boleh saja disegani, namun ternyata, jiwa kekanak–kanakannya masih saja muncul jika ia sendirian. Ia masih manusia biasa yang bisa saja mengeluh. Namun ia tahu tempat di mana ia harus mengeluh.
Tak lama kemudian, sang office boy telah datang membawa secangkir kopi di atas nampan. Ia mengetuk pintu ruangan Adam.
"Masuk!" Titah Adam dari dalam.
"Ini, Bos, kopinya," ucap office boy itu.
"Ya terimakasih. Oh iya aku minta agar Ibu Runi ke ruangan saya segera."
Office boy itu menggangguk lantas pergi meninggalkan Adam di sana dengan secangkir kopi yang kini telah Adam genggam.
Adam mulai menyeruput kopi itu.
"Aihhh kenapa bisa semanis ini. Benar–benar dia ingin membuatku diabetes," ungkap Adam setelah office boy itu pergi.
Dia adalah pekerja baru yang baru saja seminggu ini bekerja. Office boy yang biasanya membuatkan Adam kopi dan sudah terbiasa dengan takaran kopi dan gula sesuai apa yang Adam mau, telah resign. Katanya sih untuk menikah.
Mengingat kata menikah, ia teringat akan nasibnya yang masih saja jomblo hingga detik ini. Adam meletakkan cangkirnya kasar ke mejanya. Mendadak ia semakin tidak berselera dengan kopi itu.
"Aihh seperinya tinggal aku sendiri yang tidak punya kesibukan lain. Pantas saja Briel semena–mena saja terhadapku. Aahh... Benaru kata Bunda. Tapi gimana dong? Jodoh aja belum ketemu, masak mau menikahi diri sendiri?" Adam bermonolog.
"Hiihh kok ngeri ya hanya dengan membayangkannya saja."
__ADS_1
Adam bergidik dengan pikiran absurdnya itu.