
Di sebuah taman yang indah, seorang wanita dengan gaun putih yang indah tengah berbaring terlentang. Ia dikelilingi bunga–bunga cantik warna warni dengan berbagai macam jenis. Ia memandang langit biru yang membentang indah.
Kemudian datanglah seorang pangeran yang berdiri tak jauh darinya. Karena penasaran, wanita itu terbangun lalu mengambil posisi duduk. Ia memandangi pangeran tampan itu. Perlahan, pangeran tampan itu datang menghampirinya dengan gagah. Ia mengulurkan tangan kepada wanita itu. Dengan senang hati, wanita itu menerima uluran tangan sang pangeran.
Sang wanita itu berdiri. Dengan perlahan, punggung tangannya dikecup oleh sang pangeran. Wajah wanita itu berseri–seri dengan rona merah yang membuat wajahnya semakin menggemaskan. Sang pangeran menatap wanita itu dalam. Sebuah senyuman terulas di bibirnya.
Sang pangeran menarik wanita itu. Lalu sang wanita merasakan kalau dirinya terbang di angkasa. Rupanya pangeran tampan itu membawanya terbang. Ia dapat melihat hamparan hijau dan juga biru yang membentang luas dari ketinggian. Ia juga melihat perumahan penduduk yang terlihat indah dari atas. Ia menatap kagum pemandangan yang disuguhkan di depannya.
Tiba–tiba datanglah seorang musuh yang menyerang sang pangeran yang mulai lengah karaena tengah menikmati kebersamaannya dengan wanitanya. Sang pangeran pun terkena serangan musuh hingga membuatnya tak sadarkan diri. Ketidaksadaran diri itu membuat wanita itu kehilangan pegangan. Ia ikut terjatuh bersama sang pangeran.
"Aaaaaaaa ….."
🍂
Kali ini Briel pulang terlambat lagi. Ia terlalu menyibukkan diri hingga ia lupa untuk pulang. Ia sampai di apartemen pukul tujuh malam. Ia melihat Gea tengah tertidur di sofa yang ada di depan televisi ruang tengah dengan pakaian yang sudah dipakai sejak bekerja seharian tadi.
Briel menghampiri Gea. Ia mengamati wajah Gea yang cukup lelah dengan mata yang masih terpejam. Ia mengurungkan niatnya untuk membangunkan Gea. Ia tak sampai hati mengganggu tidur Gea yang terlihat pulas itu.
Briel melepas jas yang ia pakai lalu menyampirkannya pada punggung sofa. Ia meraih tubuh langsing itu ke dalam gendongannya. Ia mengangkat Gea dengan hati–hati karena ia tak mau mengganggu tidur Gea. Bukannya terganggu, Gea malah mencari tempat yang nyaman di dalam gendongan Briel. Ia memposisikan wajahnya di dada bidang Briel sebagai tempat untuk bersandar. Tiba–tiba ….
Meoungww … meoungww ...
"Huwa huwaaa …. Kuciiiiinnnggg!!!!"
Lagi–lagi Briel heboh akan kehadiran kucing yang tiba–tiba saja mendekati kakinya. Ia sangat geli dengan bulu kucing. Hal itu yang selalu membuatnya ingin kabur tatkala melihat kucing. Briel melompat–lompat kecil. Tubuhnya yang juga membawa Gea di dalam gendongannya, membuat keseimbangannya mudah goyah.
"Aaaaaaaa ….." Briel dan Gea menjerit.
Mereka berdua jatuh bersamaan. Tubuh Gea dikungkung oleh Briel yang ada di atasnya. Untung saja Briel masih bisa menahan dirinya agar tak menindih tubuh Gea yang jauh lebih kecil dari tubuhnya. Salah satu tangan Briel menyangga tubuhnya agar tak langsung menindih Gea dan yang satunya ia gunakan untuk melindungi kepala Gea agar tak terbentur langsung ke lantai. Dengan perlahan Briel meletakkan kepala Gea ke lantai. Gea masih memejamkan matanya karena ia takut untuk melihat apa yang terjadi.
"Apakah aku sudah mati?" gumam Gea. Ia berpikir masih terjatuh dari ketinggian. Ia juga berpikir bahwa dia sudah ada di alam lain.
Pletuk
Briel menyentil ringan bibir Gea dengan jari tangannya. Gea pun kesakitan dan memegangi bibirnya yang disentil Briel.
"Sakit, Bang!"
"Ya kamu sih kalau bicara gak disaring terlebih dahulu. Masih belum lolos laboratorium!" ucap Briel. Ia masih berada di atas Gea. Jarak tubuh mereka benar–benar dekat. Tatapan mata mereka malah terkunci satu sama lain. Gea menahan napas yang semakin sesak karena jantung mereks seperti tengah berlari maraton.
"Bang, menyingkirlah. Aku kebelet pipis, Bang!" ucap Gea untuk mengembalikan suasana. Ia ingin keluar dari kecanggungan yang melanda mereka berdua.
Briel pun segera tersadar. Ia menggulingkan badannya ke samping lalu berdiri lagi. Ia juga membantu Gea untuk berdiri. Gea pun langsung berlari ke kamar mandi, sedangkan Briel menuju ke kamar untuk bersiap–siap mandi.
🍂
Selesainya mandi, Briel mencari keberadaan Gea yang sudah tidak ada di dalam kamar. Ia berjalan ke luar kamar untuk mencari Gea. Ternyata Gea berada di dapur bersama dengan seekor kucing. Ia mengamati kucing kecil berwarna orange itu.
"Hii …. Kenapa kebanyakan manusia menyukai kucing sih? Hiii …." Briel bergidik tatkala melihat Gea mengelus–elus kucing itu. Kucing itu memakan makanan yang telah disiapkan Gea dengan lahap.
"Kamu mendapatkan kucing itu dari mana, Gey?" tanya Briel yang berdiri cukup jauh dari Gea.
__ADS_1
"Nemu, Bang, tadi di kardus yang diletakkan di dekat parkiran bawah, Bang." Gea tak mengalihkan pandangannya dari kucing yang ia elus–elus.
"Astaga …. Kenapa tidak kamu biarkan saja, Gey? Dia kan bukan kucingmu!" Briel benar–benar frustasi melihat kucing itu.
"Memang bukan, tapi sekarang iya, Bang," ucap Gea santai. Ia sudah terlanjur sayang dengan kucing itu.
"Gey, buang aja ya kucingnya?" ucap Briel lebih halus. Rasa gelinya pada kucing membuatnya ingin kabur.
"Jangan! Kasihan, Bang … kucing ini dibuang dan hidup sendirian."
"Iya, Gey. Tapi …." Briel tak melanjutkan ucapannya. Ia mengambil gawainya dan menekan nomor untuk menghubungi seseorang.
"Hei, Brother! Bisakah kamu mengadopsi satu hewan lagi?" ucapnya langsung pada orang di seberang sana.
"Apa? "
"Kucing"
"What?? Kucing? Kucing itu gak ada gunanya Brother! Untuk apa aku mengadopsinya? Dasar gila! "
"Yaa … siapa tahu singamu butuh teman untuk main gitu?"
"Astaga … tidak level kalau Baba mainan sama kucing yang gak ada apa–apanya itu! "
"Sombong sekali!"
"Bukan sombong. Tapi kenyataannya memang seperti itu derajatnya! " ucap sahabat Briel yang tak lain adalah Xavier. Dia mulai menyombongkan kekayaannya.
"Tidak mau! "
"Please, Vie ..."
"Astaga, Bri …. Rawatlah sendiri kucing itu! "
Briel hanya berdecak kesal mendengar jawaban dari sahabatnya itu. Seketika terdengarlah suara tawa yang mengglegar di ujung telepon.
"Kenapa tertawa?!" tanya Briel ketus.
"Aku baru ingat kalau dirimu takut kucing! " ucap Xavier yang masih tertawa.
Lagi–lagi jawaban Xavier terdengar begitu mengesalkan di telinga Briel. Briel menepuk dahinya. Rupanya ia telah salah langkah meminta bantuan Xavier untuk merawat kucing itu.
Briel berdecak lagi. "Bukan takut, tapi geli!" Briel menegaskan.
"Sama saja, Bri. Sudahlah aku tidak mau Bri! Silahkan rawat sendiri. Bye."
Briel mendesah kasar. Rupanya Xavier mematikan teleponnya sepihak. Tiba–tiba kucing itu mendusel manja di kakinya. Briel pun berlari. Kelakuan Briel mengundang tawa Gea. Gea tak menyangka, jika seorang CEO saja juga bisa takut kucing. Kelakuannya berbanding terbalik dengan wajahnya yang manly dan sikapnya yang berwibawa. Briel sampai berdiri di atas kursi. Kucing itu menunggu Briel di bawah kursi.
"Hus hus pergi!" usir Briel. Namun bukannya pergi, kucing itu malah berguling–guling di bawah kursi yang Briel naiki.
Gea tak bisa menahan tawanya. Ia tertawa sembari berjalan menghampiri kucing itu dan menggendongnya.
__ADS_1
"Aaaaa…" Briel berteriak tatkala Gea menjahilinya dengan mengarahkan kucing itu ke wajah Briel.
"Please, Gey … jauhkan kucing itu!" pinta Briel sambil memejamkan matanya.
Ges menjauhkan kucing itu. Briel membuka matanya kembali. Ia lega melihat kucing itu telah menjauh. Ia mengelus dadanya pelan.
"Hwaaaa …." teriak Briel lagi tatkala dengan jahilnya Gea mendekatkan lagi kucing itu ke arah Briel.
Gea tertawa. "Astaga, Bang … sama kucing aja takut."
"Bukan takut, Gey, tapi geli," bantah Briel.
"Sama aja, Bang."
"Beda, Gey! Jauhkah, tolong!" Suara Briel mulai menciut. Tapi bukannya menjauhkan, Gea malah semakin jahil. Ia semakin mendekatkan kucing itu. Gea merasa impas dengan tindakan Briel yang mengerjahilinya tadi pagi.
"Astaga astaga … Gey jangan bercanda! Jauhkan kucing itu … hacu …" Briel mengusap hidungnya uang mulai gatal ketika ia sudah terlalu geli dengan kucing.
Gea segera menjauhkan kucing itu. Ia menatap Briel dengan rasa bersalahnya. Ia tak tahu kalau Briel bisa sampai bersin seperti itu karena kucing. "Maaf, Bang. Aku gak tahu kalau Abang sebegitunya gak bisa sama kucing."
"Haihh …. Malah kenapa dirimu? Saya tidak apa–apa." Briel mencoba menyakinkan pada Gea kalau ia baik–baik saja.
"Tapi, Bang, apakah aku harus melepas kucing ini pergi?" Gea menaruh harap pada Briel. Ia kasihan dengan kucing kecil yang dibuang itu. Ia mengingat dirinya sendiri tatkala melihat nasib kucing itu.
"Peliharalah. Besok saya belikan kandangnya. Asalkan kamu harus berjanji, jangan biarkan dia berkeliaran kalau saya ada di sini!"
Seketika mata Gea berbinar bahagia. Akhirnya ia bisa merawat kucing itu. Kucing itu mendusel manja dalam dekapan Gea. Sepertinya kucing itu juga turut merasakan kebahagiaan yang dirasakan Gea.
"Terima kasih, Bang!" Gea memeluk Briel dengan kucing yang juga ada di dalam dekapannya. Seketika Briel menolak pelukan itu dan menjauh. Gea pun akhirnya tersadar dan hanya terkekeh ringan. Sedangkan Briel mengambil air putih untuk ia minum.
🍂
//
Hai semuaa untuk mengetahui di novel mana kisah bang Xavier, bisa kunjungi lapak othor kece di bawah ini ....
Dan juga ada karya baru teman author yang uwuw bangett, tak kalah seru jugaaa di bawah inii ....
🍂
//
Happy reading guys
Jangan lupa bahagia 💕💕
__ADS_1