Pengantin CEO Yang Tertukar

Pengantin CEO Yang Tertukar
114. Hendri Menepuk Dahi


__ADS_3

"Kakak ..." ucap Gea.


Gea melenggang masuk ke ruangan Hendri tanpa permisi terlebih dahulu. Dengan santainya ia melangkahkan kakinya tanpa beban. Ia memilih duduk di sebuah kursi. Tangannya meraih sebuah map yang berisi data–data penting butiknya.


"Hem?"


Hendri yang tengah sibuk berurusan dengan kertas–kertas yang menumpuk itupun meletakkan semuanya. Ia mengalihkan perhatiannya pada Gea. Hendri berjalan menghampiri Gea.


"Tumben Gey ke sini di pagi hari. Gak kerja?"


"Tidak, Kak. Tadi udah bilang juga sama Bang Briel kalau mau mengecek butik hari ini."


Gea hanya menatap Hendri sekilas saja lalu kembali berkonsetrasi dengan map di genggamannya. Hendri memilih duduk di kursi yang ada di depan Gea.


"Bagaimana dengan peluncuran produk kita?" tanya Gea sembari meletakkan map yang ia pegang.


"Sudah berjalan 50%. Semua bisa dilaksanakan sesuai waktu yang sudah direncanakan."


Gea mengangguk mengerti. "Baiklah kalau begitu. Aku menunggu laporan lebih lanjut."


Hendri mengangguk ringan. "Iya," jawabnya singkat.


Hendri berjalan menuju meja kerjanya dan memilih untuk menyelesaikan kembali pekerjaan yang ia tinggalkan. Sedangkan Gea tengah terdiam beberapa saat. Ia mengingat sesuatu yang harus dia lakukan.


"Kak, temenin aku mau gak, Kak?" ucap Gea pada akhirnya.


"Kemana?"


"Ke suatu tempat. Beli sesuatu kak untuk hadiah ulang tahun Bang Briel."


"Apa?"


"Ya adadeh. Temenin ya, Kak."


Gea masih enggan memberi tahu apa yang akan ia beli. Ia hanya menyematkan senyuman dari bibirnya.


"Baiklah. Kita pergi di jam istirahat siang."


"Okedeh, Kak."


🍂


Dela tengah duduk di depan televisi. Tangannya memegang sebungkus camilan ringan. Sesekali tangannya menyuapkan camilan itu ke dalam mulutnya sendiri. Matanya menatap televisi yang ia hidupkan, namun tatapannya kosong. Hati dan pikirannya berkelana, menerka–nerka dengan apa yang tengah terjadi.


"Kenapa aku merasa akhir–akhir ini sikap Davin padaku berbeda ya."


Dela merasakan kejanggalan yang tak sengaja Davin tunjukkan padanya. Ia merasa Davin cukup enggan dengannya. Davin tak seromantis seperti awal pertemuan hingga awal pernikahan mereka. Ia tak mengerti dengan apa yang terjadi dengan Davin.


"Tapi kenapa?"


"Apa jangan–jangan ia main dengan wanita lain lagi di belakangku?"


Pikiran negatif mulai memenuhi benak Dela. Prasangka–prasangka buruk itu berdatangan silih berganti tanpa ia minta. Ketakutan akan kehilangan Davin mulai muncul walaupun hanya setitik.


"Haihh bodo amatlah. Kayaknya aku harus cari angin segar nih."


Dela ingin mengusir pikiran buruknya. Ia masih berpikir ingin pergi kemana sembari menyuapkan camilan itu sedikit demi sedikit ke dalam mulutnya.

__ADS_1


"Tapi kalau sendiri gak asik! Apa aku ajak Chika saja ya?"


Chika adalah teman Dela sedari kecil. Mereka cukup dekat dan bisa dikatakan sebagai sahabat. Dari TK hingga kuliah, mereka selalu bersama. Bahkan bisa dikatakan tak terpisahkan.


Ia menghubungi temannya itu. Tanpa berlama–lama, Dela mematikan televisi itu. Ia bersiap–siap untuk jalan ke luar dengan teman–temannya.


🍂


"Gey, mau makan tidak?" tanya Hendri yang tengah fokus dengan jalanan.


"Boleh, Kak. Laper juga nih!" Gea memegang perutnya yang terasa cukup lapar karena sarapan tadi ia hanya memakan sehelai roti dan segelas susu.


"Baiklah. Kita cari restoran terdekat."


Hendri memutar arah untuk mencari tempat makan yang mereka inginkan.


"Eh eh, Kak. Kita cari dulu aja barangnya. Habis itu baru makan."


Gea menyengir. Ia memperlihatkan deretan giginya. Sedangkan Hendri mengerutkan dahinya.


"Loh. Gak jadi makan dulu?"


"Nanti saja, Kak. Pengin kelarin semuanya dulu. Biar makannya juga terasa lebih nikmat."


"Tapi aku lapar, Gey," rengek Hendri. Wajahnya dibuat semelas mungkin agar Gea mau mendengarkannya. Ia juga tidak ingin Gea telat makan siang.


"Hilih … masak iya nahan sebentar aja gak kuat Kak. Dasar lemah!" ledek Gea. Ia masih kekeuh ingin mencari barang yang ia cari terlebih dahulu.


Hendri melongo dibuatnya. Selama mengenal Gea, baru kali ini Gea berkata demikian padanya. Biasanya Gea akan berbicara lebih lembut, bahkan terkesan menurut saja. Tapi kali ini Gea berbeda.


Perubahan dalam diri Gea cukup signifikan setelah Gea menikah dengan Briel. Terutama dalam gaya bicaranya. Dahulu Gea cukup jarang memanggilnya "kakak", bahkan meledekpun bisa dihitung dengan jari.


"Kenapa Kak melihatku seperti itu? Ada yang salah?" Gea menyipitkan matanya. Bahkan ia mengamati dirinya sendiri, untuk melihat kesalahan yang ada pada dirinya.


Sembari memperhatikan jalan, Hendri meletakkan punggung tangannya ke dahi Gea.


"Tidak panas. Sehat berarti," gumam Hendri.


"Ada apa sih, Kak?" tanya Gea. Ia merasa aneh dengan sikap Hendri yang aneh menurutnya. Tapi ia sendiri tak menyadari keanehan yang pada dirinya yang juga Hendri rasakan.


"Ah …. Tidak, tidak. Ku kira kamu demam."


"Ha?"


Hendri tak menyahuti lagi perkataan Gea. Ia mengemudika mobilnya menembus jalanan yang cukup padat ke tempat yang ingin mereka tuju.


🍂


Cukup lama Gea memilah dan memilih barang. Rasa lapar telah menyergapnya. Begitupun juga dengan Hendri. Mereka memutuskan untuk mencari tempat makan.


"Kak, berhenti berhenti!"


Gea meminta Hendri menghentikan mobilnya ketika melihat pedagang bakso pentol di pinggir jalan.


"Mau apa Gey?" tanya Hendri heran sembari menepikan mobilnya.


"Berhenti saja udah."

__ADS_1


Gea segera turun tatkala mobil itu telah berhenti. Ia menghampiri tukang bakso itu. Ia membeli 2 porsi, untuk Hendri dan dirinya sendiri.


"Makasih, Kang," ucap Gea sembari menerima bungkusan itu.


"Sama–sama, Neng."


Gea kembali ke dalam mobil. Ia menyodorkan sebungkus bakso pentol pada Hendri.


Hendri menggeleng. Ia tak begitu suka dengan segala macam bakso–baksoan.


"Okelah kalau begitu. Aku makan sendiri saja."


Gea mulai memakan satu persatu dengan tusuk sate yang digunakan untuk mengambil satu persatu bakso itu. Perlahan keringat mulai berjatuhan membasahi wajahnya. Rasa gerah, panas, dan pedas menyergapnya. Bahkan mulut Gea tak berhenti mengaduh kepedasan.


"Astaga Gea …. Sebanyak apa sambal yang kamu pakai?"


"Gak banyak kok, Kak. Cuma 5 sendok!" ucap Gea sembari menahan pedas.


Hendri hanya bisa menepuk dahinya sendiri. "Sepertinya selama ini Briel memberikan makanan yang salah sama Gea."


Hendri menggelengkan kepalanya melihat Gea yang asik memakan bakso pentol itu.


"Kakak mau?"


Gea menawarkan lagi bakso pentol yang ia makan.


"Tidak, Gey, terimakasih."


Gea hanya mengedikkan bahunya lalu melanjutkan kegiatannya, sedangkan Hendri menggelengkan kepalanya melihat Gea yang kepedasan namun cara makannya telihat begitu nikmat.


"Masih mau makan tidak?" tanya Hendri tatkala ia melihat Gea mengemasi sampah bungkus bakso itu.


Gea belum menjawab pertanyaan Hendri. Ia menenggak air minum dari botol air mineral yang kebetulan selalu Hendri sediakan di mobil.


"Ya jelas mau dong Kak," jawab Gea mantab.


Hendri terperangah dibuatnya. Dua porsi bakso pentol telah Gea makan sendiri, namun Gea masih ingin makan lagi.


"Beneran Gey?" tanya Hendri ragu dan masih tak percaya bahkan terkesan kaget.


"Iyalah, Kak. Memang kenapa sih?"


"Perutmu gak begah Gey?"


"Tidak. Biasa saja. Aku masih ingin makan Kak."


Tak bisa dipungkiri. Rasa ingin makan masih saja Gea rasakan. Rasanya ia masih belum kenyang, walau ia telah memakan dua porsi bakso pentol.


Lagi–lagi Hendri hanya bisa menepuk dahinya sendiri. Ia juga menggelengkan kepalanya tak percaya dengan ucapan Gea. Namun pada akhirnya Hendri juga mencari restoran terdekat.


🍂


//


Happy reading gaess


Jangan lupa bahagia 💕💕

__ADS_1


__ADS_2