
Selama berjalan bersama, tidak ada percakapan di antara mereka. Bahkan Dela memilih untuk berjalan di belakang Gaza. Mereka saling diam satu sama lain. Dela tidak berani menatap Gaza. Tidak sedikitpun ia menoleh ke arah Gaza. la berpura-pura mengabaikan dan sibuk dengan dunianya sendiri sembari mengamati rumah-rumah yang ada di sepanjang jalan.
"Oh my ghost, rumahnya tidak ada yang rupa. Pantas saja rumah kontrakan Gaza seperti itu. Tapi setidaknya lebih mending dari pada yang lain. Yeahhh meski tetap aja rumah petakan," gumamnya dalam hati. Ia mengedarkan pandangannya ke kanan dan ke kiri. Sepanjang perjalanan pun dia selalu menggumamkan "Oh my ghost" dalam hatinya.
Sedangkan Gaza sendiri tidak ada niat untuk menegur Dela terlebih dahulu. Perginya Dela dari rumah kontrakan membuatnya kalang kabut. Ia berusaha mencari Dela kemana–mana namun hasilnya nihil. Ia harus berjalan ke sana kemari, bertanya pada tetangganya ke mana Dela pergi. Namun mereka semua tidak ada yang tahu sedikitpun tentang Dela.
Pada akhirnya ia berjalan mencari Dela ke seluruh penjuru kampung. Dan ia baru lega kala ia melihat Dela bersama mereka. Namun ia juga kesal lantaran Dela tidak pamit dengannya. Sungguh merepotkan, pikirnya.
Sebenernya bukan masalah peduli atau tidak. Namun tinggalnya Dela bersama dengannya artinya tanggung jawab Dela itu adalah tanggung jawabnya. Keselamatan Dela harus ia jamin meskipun dia sendiri sering kali dibuat dongkol oleh Dela. Andai Dela kenapa–napa, maka sanksi sosial itu akan jatuh kepadanya.
Brak!!!
Gaza membuka pintu itu kasar.
"Ihhh kasar," ungkap Dela jujur.
Gaza tidak menggubrisnya ia menatap datar ke arah depan dan ia juga masuk ke dalam tanpa menoleh ke arah Dela.
Gaza duduk di sofa yang hanya cukup untuk dirinya saja. Ia menatap Dela dengan tatapan mengintimidasi.
"Kenapa kau pergi tanpa pamit?" tanya Gaza datar.
"Ya aku bosan," jawab Dela santai. Tatapan itu tidak mempan pada Dela. Sungguh wanita menyebalkan.
"Harusnya kau tetap ijin. Ini rumah, rumahku. Kau hanya numpang di sini," ucap Gaza tegas.
"Untuk apa ijin? Ini rumah memang rumahmu. Tapi kau bukan suamiku. Kewajibanku izin hanya pada suami, bukan padamu. Lagi pula mantan suami laknat ku aja tidak pernah mempermasalahkan ketika aku pergi tanpa ijin. kenapa kau masalah? Dasar aneh!"
"Kau yang aneh! Dulu ya dulu, sekarang ya sekarang. Dulu yg punya peraturan dia, dan sekarang yang punya peraturan aku. Aku tuan rumah di sini."
Gaza tidak bisa membendung emosinya lagi. Seketika jika ia sudah tidak tahan lagi, jurus ngomel ala emak–emak bisa keluar begitu saja.
"Hilih, rumah kontrakan saja bangga," cibir Dela.
"Ya memang kontrakan. Tapi kalau tidak di sini, mungkin kau sudah ada di jembatan. Jadi temennya si manis. Dia manis masih enak dipandang walau hantu. Sedangkan kamu? Asem yang ada."
Mulut Gaza memang sepedas itu. Hanya perkataan biasa namun membuat harga diri Dela sebagai manusia terlebih sebagai wanita ternodai oleh hantu yang bahkan dia sendiri belum pernah bertemu.
"Wah wah wah wah ... Kurang ajar sekali mulut Anda. Aku masih hidup, bisa bisanya dibandingkan sama hantu. Wajahku ni original, tidak bakalan bisa berubah jadi serem. Aku sumpahin kau bertemu dengannya dalam keadaan wajah yang serem!" Dela mulai gerah. Suhu ruangan yang biasa saja mendadak jadi panas.
__ADS_1
"Ya memang itu kenyataannya kan? Tidak usah ngelak. Kalau kau secantik itu, tidak mungkin juga mantan suamimu mencampakanmu!" sindir Gaza dengan sedikit gurauan.
Berasa tertohok, kini tanpa diminta, air mata yang bisa dikatakan tidak pernah luruh, kini menggenang dengan sendirinya dipelupuk matanya. Gurauan itu telah ditanggapi serius oleh Dela. Gaza kebingungan melihat pemandangan di depannya itu. Niatnya hanya bercanda namun malah membuat Dela menangis.
"Eh kau kenapa?" tanya Gaza panik.
"Gak!"
Dela hanya menjawabnya singkat. Entah mengapa kali ini ia terbawa perasaan. Padahal dia juga tahu jika arah pembicaraan Gaza hanyalah sekadar gurauan. Namun kali ini ia tidak bisa menerima gurauan itu.
"Bilangnya enggak, tapi menangis. Ayolah kau tu kenapa?"
Suara isakan tangis makin menjadi. Dela semakin menangis tersedu kala Gaza semakin khawatir dengannya.
"Heh malah kayak anak kecil. Kau kenapa nangis ha?" tanya Gaza kembali karena kebungkaman Dela.
"Huwaaaaaah ... Masih tanya lagi kenapa! Huhuhuhu..."
"Eh eh jangan menangis. Nanti tetangga mengiranya aku apa–apain kamu. Bisa kena kroyok aku nanti."
Gaza mulai panik. Ia menutup mulut Dela agar Dela tidak menangis kencang. Terlihat jelas kegusarannya. Ia celingukan ke arah pintu, berharap tidak ada yang datang menghampiri mereka.
Suaranya tertahan oleh telapak tangan Gaza. Ternyata semua itu fakta, bukan sekadar mitos. Gaza kira ibu hamil yang labil hanya mitos yang disebarluaskan oleh artikel di mbah legend. Namun ternyata semua itu benar adanya. Ia kebingungan bagaimana menghadapi mood ibu hamil yang tidak terduga.
"Diam dulu Del. Astagaa ... Gimana caranya biar kamu diam?!"
Gaza sudah jengkel sendiri. Cukup lama Dela menangis, namun tak kunjung selesai. Harusnya dia yang marah karena makin hari Dela semakin merepotkannya. Namun ini malah sebaliknya. Dela malah menangis dan membuatnya kelimpungan.
"Gak ada! Huwaaa..."
Dela menarik bibir dalam hati. Sebelumnya ia memang menangis sungguhan namun saat ini ia hanya menangis pura–pura. Sesekali ia ingin memberikan pelajaran untuk Gaza agar Gaza tidak kebanyakan mengomel.
"Huhuhuhu..."
"Aaarrghh gimana ini?!" keluh Gaza dalam hati. Gaza mengerang frustasi. Ia menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Es krim mau?" ucap Gaza. Ia mulai menawarkan sesuatu untuk mencoba menenangkan Dela. Yeah mungkin sama seperti anak kecil, pikirnya.
Dela menggeleng.
__ADS_1
"Susu?"
Dela masih menggeleng.
"Nasi padang?
Dan Dela masih menggeleng.
"Siomay, rujak jambu, jus, rujak, seblak, nasi goreng, manis–"
"Rujak es krim," ucap Dela memotong semua penawaran yang Gaza tawarkan.
"Hah? Rujak es krim? Memangnya ada?" tanya Gaza. Seketika ia menyesali ucapannya yang menawarkan makanan sebagai tutup mulut Dela.
"Ya mana aku tau!!!" ucap Dela lantas kembali mewek.
"Astaga rewelnya ..." keluh Gaza.
"Haaaaaaaa ..." Dela menangis semakin kencang. Gaza langsung membungkam kembali mulut Dela.
"Iya iya iyaa ... Aku carikan," putusnya pada akhirnya. Ia tidak mempunyai pilihan lain. Ia menyerah dengan sikap Dela yang seperti itu. Gaza berdecak kesal, sedangkan Dela tersenyum penuh kemenangan di dalam hatinya. Senyum miring yang terukir tipis di bibir Dela tidak disadari oleh indra penglihatan Gaza.
Dela masih memanyunkan bibirnya. Ia menagangguk. "Iya"
Gaza pergi meninggalkan Dela. Ia mencari rujak es krim yang Dela mau. Sedangkan selepas Gaza tidak terlihat lagi. Dela mengusap air mata palsunya. Ia tertawa licik.
"Rasakan!! Siapa suruh sering memarahi seorang Dela? Tanggung tu akibatnya. Seorang Dela bisa mencari seribu akal untuk membalas perbuatan musuh," gumam Dela menggebu. Ia menyibakan rambutnya yang tergerai indah.
"Ahh ... Selamat mencari Tuan Gaza. Aku mau tidur dulu. Bye!"
Dela berjalan masuk ke kamar. Ia merebahkan tubuhnya yang lelah karena cukup jauh ia berjalan. Ia mulai menguap lantas memejamkan matanya. Ia tidak peduli dengan usaha Gaza yang mencari rujak es krim di waktu matahari sedang terik–teriknya.
🍂
//
Happy reading gaes,
Jangan lupa bahagia 🤗💕💕
__ADS_1