Pengantin CEO Yang Tertukar

Pengantin CEO Yang Tertukar
119. Ternyata


__ADS_3

Suara dering panggilan masuk terdengar di gawai Briel. Ia yang tengah menggarap proyeknya pun meninggalkan apa yang ia lakukan. Ia mengambil gawai itu, memekan gambar telepon hijau di layar gawainya.


"Ya Bun?"


Sapanya pada orang yang di seberang sana.


"Bri cepat pulang! Ada sesuatu yang terjadi pada istrimu," ucap orang yang tak lain adalah Tere.


Seketika raut wajah Briel berubah. Kekhawatiran itu secepat kilat merasuk ke dalam jiwanya. Pertanyaan kenapa dan bagaimana mulai berputar–putar di otaknya.


"Ada apa dengannya Bun?"


"Bunda tak bisa menjelaskannya sekarang. Cepat pulang Bri!"


Belum sempat Briel menyahuti, namun sambungan itu telah terputus. Briel mendesah kasar.


Tanpa berpikir panjang, ia mengambil kunci mobil yang ada di atas meja, meninggalkan meja kerja yang masih berantakan karena ulahnya. Adam yang mau masuk ke dalam ruangan Briel pun terheran–heran, kenapa Briel berjalan secepat itu, bahkan bisa dikatakan berlari.


Adam mengejar Briel. "Bos, tunggu!" teriak Adam.


Briel tak menggubris teriakan Adam. Ia tetap fokus dengan tujuan awalnya, segera menemui Gea. Sekuat tenaga, Adam berusaha mengejak Briel. Ia menghentikan langkah Briel.


"Bos!" ucap Adam setengah berteriak takala ia berhasil mensejajari Briel. Mau tak mau Briel pun menghentikan langkah kakinya.


"Aku tak punya waktu lagi Dam!" bentak Briel. Kesabarannya mulai habis. Ia tak mau sesuatu hal buruk terjadi pada Gea. Ia harus segera menemui Gea agar ia tahu apa yang terjadi pada Gea.


"Mana kuncinya?" tanya Adam. Briel bergeming. Ia menatap Adam dalam diam, dengan sorot mata yang tajam.


Adam melirik ke arah tangan Briel. Kunci mobil itu berada dalam genggaman Briel. Secepat kilat ia merebut kunci itu. Kunci itu berpindah tangan, berada dalam genggamannya.


"Saya saja yang menyetirnya Bos." Adam membukakan pintu mobil di bagian kursi penumpang. "Silahkan masuk!"


"Aku bisa sendiri Dam!" ucapnya lirih namun tegas. "Kembalikan kuncinya!"


"Tidak! Masuk atau tidak pergi sama sekali!" ujar Adam lebih tegas. Walaupun Briel adalah atasannya, namun untuk urusan pribadi, Adam tetaplah sahabat Briel yang tak akan pernah takut dengan Briel.


Briel menghela napas kasar. Adam selalu saja bisa membuatnya tak berkutik. Mau tak mau ia harus mau. Tak banyak membantah lagi, ia masuk ke dalam mobil, mempersilahkan Adam mengemudikan mobil itu membelah jalanan padat.


🍂


Panas


Adalah rasa yang Briel rasakan saat ini. Jalanan kota yang macet, membuatnya gerah hati. Duduknya yang tadinya tenang, berangsur–angsur mulai gusar. Bahkan tanpa keluar mobil, ia pindah ke kursi samping kemudi. Tangannya mulai tak bisa diam. Ia menekan klakson berulang kali, tak sabar dengan kemacetan yang terjadi.


"Astaga …. Lama–lama aku bisa mati karena ketidaksabaran!" ucap Briel nglantur. Pikirannya sudah dipenuhi oleh Gea. Ia tak mampu berpikir jernih lagi.

__ADS_1


Adam tak menyahuti ucapan Briel. Percuma. Hanya akan membuang tenaganya saja.


Mobil itu berjalan lambat. Hingga di suatu titik, kemacetan itu berakhir. Adam melajukan mobilnya lebih cepat ke rumah orang tua Briel.


Briel melangkah tergesa, berlari ke dalam rumah tanpa menunggu Adam yang tengah memarkirkan mobilnya. Bertemu dengan Gea adalah prioritas utamanya saat ini. Wajah panik mengiringi setiap langkah lebar.


"Bun, Yah, Gey!" teriaknya. Namun tak ada jawaban dari sana.


Briel naik ke lantai atas dengan lift agar lebih cepat. Butuh waktu beberapa detik lebih cepat dari pada ia harus berlari ke lantai atas.


"Gey!" ucapnya tatkala membuka pintu kamar. Namun apa. Gea tak ada di dalam kamar. Ia bahkan mencari Gea sampai ke dalam kamar mandi. Tak ada tanda–tanda Gea ada di sana.


"Geyang, dimana kamu?!" teriaknya lagi mencari di mana Gea berada.


Tiba–tiba .…


🍂


"Selesai," gumam Gea lirih.


"Sudah siap semuanya Ge?" tanya Tere pada Gea yang tengah mempersiapkan kue untuk Briel.


"Eh Bunda. Sudah Bun," ucap gea dengan senyuman.


"Sudah menghubungi Briel?" tanya Tere.


"Belum, Bun," ucap Gea.


"Kesempatan nih," gumam Tere dalam hati. Terbesit sebuah rencana di benaknya.


"Baiklah, biar Bunda yang menyuruh Briel untuk segera pulang," tawar Tere.


Gea mengangguk. "Oke Bunda."


Tere pergi menjauh dari Gea untuk menghubungi Briel.


"Kena kau Bri."


Tere pun tertawa kecil setelah selesai menghubungi Briel. Ia membayangkan betapa paniknya Briel setelah menerima panggilan darinya. Ia berjalan ke tempat di mana Gea dengan senyum yang masih tersemat di bibirnya.


Gea menatap Tere heran. "Apakah ada yang lucu?" gumam Gea dalam hati sembari terus menatap Tere. Senyum itu nasih belum luntur walau Gea memperhatikannya.


"Bunda kenapa?" tanya Gea heran.


Tawa Tere pecah, namun hanya sebentar.

__ADS_1


"Tidak papa Ge. Bunda hanya ingin tertawa saja 😃"


Tere tak memberitahukan apa yang ia rencanakan untuk Briel dengan Gea.


Gea hanya beroh ria saja. Ia percaya dengan apa yang Tere walau Tere terlihat cukup aneh.


"Ge, cepat naik ke kamar ya, kamu bersembunyi di tempat yang bisa membuat Briel terkejut dengan kejutan darimu. Nanti Briel akan naik ke kamar."


"Hem ... terus Bunda?"


"Bunda akan mengawasi keadaan. Nanti kalau Briel sudah datang, Bunda akan menyusulmu."


Gea mengangguk. Ia menyetujui rencana ibu mertuanya itu. Ia melepas apron yang ia pakai. Lalu berjalan ke lantai atas dengan membawa kue di tangannya.


Gea bersembunyi di ruang ganti. Ia menunggu sampai Briel masuk ke dalam kamar. Cukup lama. Ia memilih menyiapkan hadiah yang ingin ia berikan untuk Briel.


"Kemana sih Bunda? Sampai sekarang kenapa belum ke sini juga?" Gea bermonolog. Sudah cukup lama, tapi Tere tak kunjung datang ke kamarnya.


Tak lama kemudian, ia mendengar derap kaki orang yang berlarian.


"Astaga … sepertinya itu Bayang. Sembunyi–sembunyi," ucapnya pada diri sendiri.


Gea berlari ke tempat di mana ia bersembunyi. Ia mulai menghidupkan lilin itu.


Sampai pintu ruang ganti itu terbuka ….


"Happy birthday to you 🎶 "


Gea menyanyikan lagu itu tatkala Briel berdiri saat pintu itu terbuka. Briel melongo tak percaya. Ternyata apa yang ia khawatirkan sia–sia. Namun tak bisa dipungkiri bahwa hatinya lebih lega karena melihat Gea baik–baik saja. Briel menghela napas. Ia menatap Gea datar.


Gea terus bernyanyi akan tetapi Briel masih memandang datar Gea. Gea sadar akan hal itu. Berangsur–angsur suaranya memelan, bahkan nyanyiannya berhenti.


"Kenapa Bayang terlihat tak suka bahkan terkesan marah?" tanyanya dalam hati.


"Bukankah seharusnya ia senang?" lanjutnya lagi. Ia masih belum tahu apa yang terjadi.


Dia–diam Gea menghela napas. " Aku pikir, hari ini adalah hari yang mengejutkan dan membahagiakan untuk Bayang. Namun ternyata aku salah. Hari ini adalah petaka bagiku karena Bayang tak menyukai apa yang aku lakukan," sesal Gea dalam hati dengan tatapan matanya yang sendu.


🍂


//


Happy reading gaess,


Jangan lupa bahagia 💕💕

__ADS_1


__ADS_2