
Semuanya sudah kembali normal. Atas kebesaran hati Gea, Dini masih bekerja menjadi babby sitter Rio dan Nino. Sebenarnya Gea memang sudah tidak mau menggunakan jasa Dini. Namun, ternyata mencari babby sitter cukup sulit. Tidak ada tenaga kosong di saat itu. Ada pun jauh dan orang itu tidak mau pindah ke kota. Mau tidak mau Gea memang harus. Tangannya masih terasa sakit jika aktivitasnya terlalu banyak. Briel juga mengawatirkan hal itu. Ia tidak ingin hal buruk terjadi pada Gea.
"Kamu kenapa Din?"
Minah melihat Dini duduk di pojok ruangan terduduk lesu. Tatapan matanya sayu, menyiratkan kesedihan. Minah menghampiri Dini dengan sentuhan hangat di pundak Dini.
"Eh Mbak Minah." Dini terperanjat lalu mendongak. Dini kini memanggil Minah dengan sebutan "mbak".
"Kenapa melamun sendirian? Kesambet bahaya loh."
Dini mengulas senyum tipisnya. Ia menghela napas berat mengingat apa yang ia rasakan pasca prahara waktu itu.
"Ga papa Mbak." Dini terdiam sejenak. "Hanya saja ... Nyonya Gea sangatlah dingin padaku. Bahkan sering kali beliau memgambil alih kembali jika Rio ataupun Nino aku gendong. Rasanya tuh... "
Dini tak kuasa melanjutkan ucapannya. Perasaan yang tidak bisa digambarkan. Ia menerawang jauh ke depan, menatap tembok yang menghalang pemandangan. Sedangkan Minah tidak berniat untuk memotong ucapan Dini atau menenangkan Dini kala itu juga. Ia membiarkan Dini bercerita tanpa merasa dihakimi.
Dini menoleh ke arah Minah. Menatap lekat sepasang mata itu, mencari pengharapan di kedua mata itu.
"Apa aku berhenti saja ya? Sepertinya Nyonya Gea tidak menyukai kehadiranku?"
Minah menghela napas. Ia memegang kedua pundak Dini. Minah nenggelengkan kepalanya, untuk mengisyaratkan kata "tidak".
"Jangan langsung berhenti. Wajar jika Nyonya masih marah. Cobalah mengambil lagi hati Nyonya. Dan ingat! Kamu juga jangan lakukan kesalahan yang sama," ujar Minah berusaha menjadi penengah. Ia tidak ingin menyalahkan siapapun walaupun memang pada awalnya Dini yang salah.
"Ahh ... Sudah sudah. Jangan galau terus. Nanti jodohnya ilang loh," gurau Minah berusaha mencairkan suasana.
Dini tertawa kecil, meski sorot matanya masih banyak kesedihan. Perihal jodoh, ia memang sudah pasrah. Masa lalunya tidak akan mudah diterima oleh orang lain.
"Iya Mbak, iya." Dini menyahut ucapan Minah. Bibir berkata iya, namun hati masih sama. Namun setidaknya ada beban yang sedikit menghilang.
Suara tangis duo kembar terdengar. Obrolan mereka terinterupsi. "Sudah–sudah. Den kembar nangis tu. Ayo ke sana!" ajak Minah yang kini telah beranjak terlebih dahulu.
Dini menghela napas sembari menatap punggung yang sudah menjauh terlebih dahulu itu. Ia tersenyum tipis. Sulit untuk diartikan. Hanya Dini yang tahu. Ia pun mengikuti ke mana arah Minah pergi.
🍂
"Bayang!!" panggil Gea sedikit ketus. Ia menghampiri Briel yang tengah sibuk di depan layar dengan jari jemari yang lincah menyentuh keyboard.
"Hem?" sahut Briel yang hanya menatap sekilas lantas kembali fokus pada pekerjaannya.
"Berhenti dulu!" titah Gea. Tangannya sudah menutup layar laptop itu. Briel menghela napas berat.
"Sini sini, ada apa?" Briel berucap lembut. Tangannya menepuk sofa kosong yang ada di sampingnya.
__ADS_1
"Kapan baby sitter baru ada? Jujur saja aku merasa tidak aman dengan keadaan Dini. Entah mengapa meski dia berjanji, tetap saja hatiku gelisah. Aku selalu was was. Apapun itu harus selalu ada dalam pantauanku. Tidurpun aku jadi tidak nyenyak."
Gea menuturkan keluh kesahnya yang ia alami beberapa minggu ini.
Briel tersenyum lembut. Tangannya membelai surai Gea perlahan.
"Sebentar lagi ya. Yayasan itu baru mencarikan tenaga baru. Mungkin 2 atau 3 hari lagi mereka sampai."
Gea menghela napas. Putus asa menyelimuti dirinya. Beberapa hari itu terasa begitu lama. Bahkan untuk sehari pun terasa seperti seminggu. Bukan lebay namun begitu pada nyatanya.
"Terlalu lama, Bayang... Apakah tidak bisa esok hari?" tanya Gea dengan wajah penuh harap. Matanya menatap lekat kedua bola mata Briel.
"Akan aku usahakan. Tapi aku tidak janji ya."
Tangan Briel mengusap lembut pipi Gea, memberikan rasa aman dari tindakan kecil yang membuat hati Gea menghangat.
Gea mengangguk perlahan. Ia menuruti apa kata Briel.
Tiba–tiba dering gawai Gea berbunyi.
"Siapa?"
"Kak Hendri"
Briel menyuruh Gea untuk mengangkatnya terlebih dahulu. Gea mengeraskan suara. Ia ingin suaminya juga mendengar pembicaraan mereka.
"Aku dengar kamu mencari baby sitter baru?"
"Iya kak. Tapi kami belum menemukan. Kenapa kak?"
Gea bertanya–tanya. Tidak biasanya Hendri ikut campur dalam urusan rumah tangga mereka. Begitupun juga dengan Briel yang masih duduk di sebelah Gea.
"Aku sudah menemukan baby sitter baru. Kalau kamu mau, aku bisa menghubungi yayasan itu. Kemungkinan besar, besok dia sudah bisa bekerja."
Bagai tanah kering yang tersiram air hujan, mata Gea berbinar. Apa yang ia harapkan akan terwujud. Ia tidak perlu menantikan terlalu lama hanya untuk mendapatkan seorang pengganti baby sitter. Tangannya menepuk paha Briel. Briel tersenyum cerah.
"Bagaimana?" tanya Hendri di seberang telepon untuk memastikan.
"Segera hubungi kembali Hen. Secepatnya. Tolong atur semuanya itu." Kali ini Briel menjawab pertanyaan Hendri.
"Baiklah... Tapi jangan lupa." Hendri memberikan kode yang hanya bisa dimengerti oleh kaum lelaki.
"Beres soal itu. Kita bicarakan nanti."
__ADS_1
Tak lama setelah itu, Hendri menutup sambungan itu. Sampai telepon terputus, Gea masih menatap heran ke arah Briel. Tatapannya seperti polisi yang tengah mengintrogasi tersangka.
"Kenapa kamu menatapku seperti itu, Yank?" Briel mengerutkan dahinya.
"Kalian ngomongin apa sih? Pakai kode-kode an segala."
Briel terkekeh. Ia mengacak lembut kepala Gea. "Urusan pria. Kaum wanita tidak boleh tau!" Briel meledek Gea.
"Isss apaan sih? Jangan membuatku penasaran Bayang...!" ujar Gea gemas. Ia masih penasaran.
"Sudah–sudah sana. Aku mau melanjutkan pekerjaanku dulu."
Briel mengusir Gea dengan candaan. Sedangkan Gea yang memahami arti privasi pun menanggapinya dengan senyum, meski rasa kesal terselip dalam batinnya. Jiwa kekepoan seorang wanita begitu besar di dalam hatinya.
"Awas loh ya nanti malam lihat saja!" ujar Gea sembari berlalu meninggalkan Briel dengan jari yang sudah menari di atas keyboard.
Jedueerr
Bagaikan petir yang menyambar, seketika aktivitas Briel terhenti. Kemudian ia berlari mengejar sang istri dengan wajah melasnya.
"Sayang ... Tidak bisa gitu dong ya...ya yaaa..."
Briel berusaha membujuk istrinya yang terus mengabaikan bujukan Briel. Gea berusaha untuk tidak luluh dengan bujukan Briel, meski dia sendiri sebenarnya hanya ingin menjahili Briel.
"Tidak bisa ditarik ..."
"Sayang ... Jangan gitu dong ya ya ya..."
Gea berusaha menahan tawa melihat wajah memelas yang Briel tunjukkan. Pada akhirnya tawa pub pecah. Merasa diisengin sang istri, Briel mengejar istrinya itu. Sedangkan Gea berlari menghindari tangkapan Briel. Akan berbahaya untuk dirinya saat ini jika ia sampai tertangkap. Mereka berlari kejar kejaran, layaknya sepasang suami istri yang baru saja menikah. Asisten rumah tangga yang melihatnya dari kejauhan turut mengumbar senyum melihat kedua tuan mereka tertawa lebar.
🍂
Hai semua...
muehehe pasti pada bertanya tanya kan kenapa sudah lama sekali tidak update. Maaf ya Asa baru up sekarang. Ada hal yang tidak bisa Asa katakan saat ini pada kalian semua.
Makasih ya untuk semua supportnya 🤗 Asa akan tetap menyelesaikan novel ini. Oh iya. Untuk komen, maaf Asa belum bisa membalas satu persatu. Namun Asa tetap membaca komen kalian.
Moga Tuhan menyertai kalian semua 🌻🌻💙
🍂
//
__ADS_1
Happy reading gaes,
Jangan lupa bahagia 🌻🌻