
"Bayang cepetan!!"
"Iya," sahut Briel samar.
Gea berteriak pada suaminya yang kini masih berada di dalam kamar mandi. Dirinya sudah bersiap dengan gaun cantik dengan model bagian atas yang bisa dibuka dengan mudah. Kini ia tengah memakaikan baju couple untuk si kembar.
Hari ini keluarga kecil itu ingin melakukan photoshoot yang memang sudah beberapa waktu lalu mereka rencanakan. Namun ternyata semuanya melenceng. Nyatanya duo kembar dan juga ayah mereka sulit untuk diajak bangun pagi untuk hari ini. Hal itu membuat jiwa–jiwa emak–emak rempong yang selama ini bersemayan dalam diri Gea keluar begitu saja.
"Pakai baju dulu, anak–anak Bunda yang ganteng."
Tangan Gea memegang baju mungil milik mereka. Ia merayu anaknya itu dengan gaya gaya lucu agar anaknya mudah untuk dipakaikan baju. Pasalnya tanpa rayuan, terkadang hanya dipakaikan baju saja mereka menangis kencang. Rio tertawa. Sedangkan Nino yang masih belum mengenakan baju, turut tertawa menatap bunda dan kakaknya yang sebenarnya ia masih belum mengerti dalam bahasa secara lisan. Yang mereka ketahui hanyalah bahasa tubuh dari sang ibu. Nino menggerakkan kedua tangan dan kakinya antusias.
"Anak pinter ... Emuach"
Gea memberikan beberapa kecupan gemas nan hangat di beberapa bagian wajah Rio. Sedangkan Nino yang sedari tadi melihat kakak dan bundanya jtu, kini semakin antusias, ingin segera mendapatkan giliran seperti apa yang kakak kembarnya dapatkan.
"Aaaakk ehe... ehe..." teriak Nino imut. Gea yang semula berfokus pada Rio kini beralih pada Nino.
"Waahh anak bunda juga mau ya? He'em?"
Nino hanya menjawab dengan ocehan lucu yang tidak bisa dimengerti oleh bahasa lisan manusia. Gea pun mulai memakaikan baju untuk Nino. Sebelumnya ia telah membubuhkan minyak bayi ke tubuh si kembar agar mereka tetap merasakan hangat meski kulit mereka telah menyentuh dinginnya air meski telah menggunakan air hangat.
"Yeyy ... Anak bunda ternyata pinter–pinter."
Gea memberikan hal yang sama pada Nino. Ia tidak ingin berlaku beda pada kedua anaknya. Sebisa mungkin ia memberikan hal sama untuk mereka. Pagi ini ia melakukan semuanya sendirian. Ia hanya ingin sesekali mengurus kedua buah hatinya itu dengan kedua tangannya sendiri.
"Nah tampan–tampan anak bunda," ucap Gea yang telah selesai memoleskan bedak bayi di wajah mereka berdua. Harum semerbak wangi bayi menyengat menenangkan dalam indra penciuman Gea.
"Ck lama sekali Bayang mandinya. Dia ngapain sih di kamar mandi sampai sampai belum selesai juga mandinya. Padahal sudah sedari tadi dia mandi."
Gea teringat akan suaminya yang masih belum juga usai. Ia mengomel sendiri. Lama–lama Gea geram lantaran suaminya itu terlalu lama mandi. Bahkan menurutnya lama mandi Briel melebihi gadis remaja yang ingin bertemu dengan crush–nya.
__ADS_1
"Bayang cepetan! Sudah siang ini. Nanti kita telat, Bayang!!" pekik Gea sekali lagi. Ia berharap teriakan kali ini di dengar Briel.
"Iya, Sayang, sebentar lagi. Masih menyampo ini!!"
Gea mendengar teriakan yang teredam dari dalam kamar mandi. Seketika Gea menggelengkan kepalanya sembari menganga lebar, tidak percaya dengan yang ia dengar baru saja.
"Hah? Sedari tadi Bayang baru menyampo? Dia ngapain aja astaga ya tuhan," keluh Gea. Baru kali ini juga Gea mengetahui jika Briel bisa mandi selama itu.
"Cepetan Bayang! Waktunya sudah mepet! Kalau gak keluar, kita gak jadi aja sekalian," ancam Gea.
Yeah tinggal 45 menit sebelum pemotretan, Briel masih saja belum usai. Padahal jika di total semuanya, perjalanan menuju ke tempat di mana mereka akan melakukan photoshoot itu memakan waktu 30 menit. Itupun jika tidak macet kalau tidak perjalanan biasanya akan molor kurang lebih 10 menitan bakan bisa sampai 15 menit. Sedangkan Briel masih harus menyelesaikan mandi dan juga mengenakan baju juga terlebih dahulu.
"Iya, Sayang, Iya!" ucap Briel. Tidak lama setelah itu, benar saja. Briel keluar dari kamar mandi dengan handuk yang melilit di pinggangnya. Tapi hanya dengan melihat Briel keluar dari keluar kamar mandi, membuat Gea menepuk dahinya sendiri sembari tertawa. Briel yang ditatap hanya menatap Gea bingung. Ia bertanya–tanya dalam hati. Ada apa dengan istrinya? Apakah ada yang salah?
"Kenapa? Ada apa, Sayang?" tanya Briel heran.
"Bayang ..." ucapan Gea terhenti lantaran tawanya mendominasi. Ia kesulitan untuk menjelaskan apa yang terjadi.
"Itu Bayang, itu..." Gea terhenti lagi. Ia masih tertawa kencang.
"Itu apa? Yang jelas dong, Sayang."
Tertawanya Gea tanpa adanya penjelasan, membuat diri nya semakin bingung.
"Hehhhh hehhhh ..." Gea mencoba meredam tawanya yang kian menjadi. Gea menunjuk ke arah rambut Briel dengan sebelah telapak tangannya yang membungkam mulutnya agar berhenti tertawa.
Briel mengarahkan tangannya ke kepalanya. Dan betapa kagetnya dia kala rambutnya lupa untuk ia bilas. Sedangkan tawa Gea semakin pecah kala melihat bagaimana ekspresi Briel. Seakan mengerti, duo kembar turut menertawakan ayah mereka.
"Lah kok lah kok ... Kenapa aku bisa lupa astaga."
Briel kembali ke kamar mandi untuk membilas rambutnya hingga bersih dari busa sampo itu.
__ADS_1
🍂
"Astaga Bayang, bisa lebih cepat tidak sih?" ucap Gea gusar. Ia mulai kesal dengan semuanya. Waktu sudah semakin siang. Bahkan mereka sudah terlewat 5 menit dari jam yang seharusnya.
"Sabar, Sayang. Sebentar lagi. Lihat itu, depan kita antrian mobilnya terlalu padat merayap."
Pada hari itu, jalanan terlalu padat, hingga kecepatan mobil itu bisa saja kalah jika dibandingkan dengan orang berjalan cepat. Briel dan Gea duduk di kursi penumpang. Masing–masing memangku kedua anak mereka.
"Aihh jika jalan ke sana hanya membutuhkan 2–5 menit, aku memilih untuk jalan kaki saja," sungut Gea.
Namun itu semua tidak mungkin. Pasalnya jika ia memilih untuk berjalan, sama saja ia harus berjalan selama 15 menit. Jika hanya dirinya dan Briel saja, mungkin mereka memilih cara alternatif itu. Masalahnya mereka memiliki dua bocah kembar yang harus mereka jaga. Mereka tidak tega jika harus membiarkan duo kembar kepanasan karena hal itu.
"Arrggh jika tahu seperti ini, aku lebih memilih photoshoot di rumah saja."
Gea menyesal akan pilihannya kali ini. Dahulu mereka mempunyai pilihan untuk photoshoot di rumah atau memilih untuk di luar ruangnya. Dan Gea memilih konsep outdoor. Awalnya ia menganggap jika photoshoot di luar ruangan itu bisa mengajarkan anak mereka mengenal alam dan lingkungan sekitar lebih dekat. Sambil menyelam minum air istilahnya. Namun ternyata yang terjadi hanyalah menyelam saja.
"Mana semakin panas lagi. Bagaimana nanti dengan duo kembar kalau hari semakin panas. Mereka sudah pasti kepanasan," ungkap Gea khawatir.
Briel tersenyum di samping Gea. Ia mengerti kekhawatiran Gea. Namun ia juga menganggap kekhawatiran Gea itu berlebihan. Hari masih menunjukan pukul 7 lebih 5 manit. Itu artinya malah sinar matahari itu sangat bermanfaat untuk memberikan vitamin D untuk duo kembar.
"Tidak apa–apa, Sayang. Sesekali mereka merasakan hangatnya matahari secara langsung."
Briel mencoba menenangkan istrinya itu yang tengah over khawatir itu. Namun tetap saja, jiwa emak–emak nya itu tetap melekat meski tengah ditenangkan. Ia terlihat mengabaikan suaminya itu dan tetap teguh khawatir dengan kedua buah hati mereka. Sedangkan Dini dan juga Samsul yang ada di depan hanya mendengarkan percakapan mereka bedua dengan saksama.
"Ah gini nih kalau bicara sama kaum lelaki. Tidak akan mudah memahami pikiran dan perasaan kaum wanita!" gumam Gea lirih sembari menatap jendela samping, memalingkan wajah dari tatapan mata Briel.
🍂
//
Happy reading gaes,
__ADS_1
Jangan lupa bahagia 🌻