
"Huwaaaakk"
Runi menggeliatkan badannya, menarik tangannya ke arah atas lantas menarik kakinya seakan menjauh dari tubuhnya. Aktivitas inilah hal yang paling nikmat di antara berbagai aktivitas seusai tidur.
Ia mengacak rambutnya pelan. Bibirnya masih sibuk membuka menutup lantaran masih terus menguap.
"Hooamm jam berapa ini ya?"
Runi meraba ranjang dan menyingkap selimut untuk mencari ikat rambut yang ia sendiri lupa di mana ia meletakkannya.
"Issh di mana sih ikat rambutku?" gerutunya. Cukup lama ia mencari ikat rambutnya itu, namun belum juga ia temukan.
"Ah bodo amatlah dengan ikat rambutku."
Runi membuat simpul rambut tanpa ikat rambut. Random memang, dan harusnya sedari tadi pun ia tidak perlu repot–repit mencari ikat rambutnya yang entah ke mana.
Dengan mata setengah terpejam, ia berjalan menuju kamar mandi. Ia mengambil sikat gigi dan pasta gigi. Sikat lembut itu mulai menyapu gigi Runi hingga busa busa lembut mulai menutup permukaan gigi.
"Eh sebentar."
Runi terdiam, tangannya berhenti dari kesibukannya menggosok gigi. Sikat gigi itu terdiam di sebelah pipinya hingga membuat pipi itu menggembung.
"Ada yang aneh."
Runi mengingat–ingat apa yang telah terjadi sebelumnya. Seperti ada kejadian yang ia lupakan. Ia mulai mengingat–ingat apapun hal yang ia lalui sejak sore kemarin.
"Kemarin aku mengerjakan deadline pekerjaanku, habis itu aku ke kamar baca novel. Terus ...."
Runi masih berusaha memutar ingatannya kembali. "... aku ikut sama Bos Gelo ke rumah sakit jemput Tante Tere. Habis itu aku ngapain ya?"
"Aaakhh kok aku lupa sih?" Runi mengetuk–ketuk kepalanya dengan sikat gigi yang ia pegang sekarang.
"Nah iya... mobil yang kami kendarai terdampar di jalan," celetuknya begitu excited.
Runi masih merasa ada yang aneh tentang pagi itu. "Tapi pertanyaannya ... kenapa mendadak aku bisa sampai kamar ini? Apa aku cuma mimpi?"
"Heihh bodo amatlah!"
Runi menggosok giginya kembali dengan berusaha mengabaikan kejanggalan yang ia rasakan. Bahkan seberusaha itu dia mencoba, namun tetap saja pertanyaan itu terselip di setiap gerakan tangannya yang lincah kala menggosok gigi.
Seketika itu juga ia terhenti. Matanya yang semula malas untuk terbuka pun sekarang membeliak. Ia mematung menatap dirinya di cermin, memperlihatkan dirinya dengan mulut penuh dengan busa.
Mbuah mbuah
Runi membasuh mulutnya segera. Lantas ia kembali menegakkan tubuhnya, menatap dirinya dalam cermin lantas kembali membasuh mulutnya. Ia lakukan itu berulang kali.
Runi mengingat semua kejadian yang terlintas begitu saja dalam kepalanya.
__ADS_1
Ia merasa ada seorang pangeran yang menggendongnya. Ia menikmati perlakuan itu, bahkan ia mencari posisi ternyaman dalam sandaran bahu lebar itu. Dan yang paling membagongkan baginya adalah wajah Adam yang terlintas begitu saja.
"Wait wait wait. Pergilah. Ngapain juga dia masuk di otakku. Kurang kerjaan saja! Di mana–mana ada dia. Tidak capek apa merecoki hidupku?"
Tangan mungil itu mengetuk kepala Runi berulang kali untuk mengenyahkan wajah Adam.
"Masak dalam mimpi pun dia ikut masuk juga. Dasar kurang ajar, kayak hantu saja hidupnya!"
Runi menyahut kasar handuknya yang tergantung di gantungan handuk. Ia mengabaikan pemikiran yang menghantuinya.
🍂
"Loh ... Mereka ke mana?" tanya Adam yang datang dengan stelan baju casual bercelana pendek.
"Dah pergi," jawab Runi tanpa menoleh sedikitpun ke arah Adam. Hatinya masih tidak rela Adam ikut masuk ke dalam mimpinya. Ia menggigit roti selai dengan kasar, seperti tengah memangsa korbannya. Lirikannya yang tajam membuat Adam heran.
"Kau kenapa?"
"Tidak."
"Hidihh sewot amat. PMS ya bund?"
Adam heran dengan sikap Runi yang lebih tidak bersahabat dari biasanya. Tidak ada angin tidak ada hujan bahkan tidak ada badai.
Runi memelototkan matanya. "Kurang ajar ya!"
"Kau kenapa sih?" Adam menatap Runi oenuh dengan tanya. Ia juga mulai kesal dengan tingkah Runi yang terkesan absurd itu.
Runi bungkam. Ia enggan menjawab. Ia memilih untuk fokus dengan roti dan segelas susu di depannya itu.
Adam meraih roti dan selai itu. Tangannya lincah mengoleskan selai itu ke rotinya lantas melahapnya. Ia menggigit dengan gigitan yang cukup besar. Selagi mengunyah roti itu, tangannya sibuk menuangkan orange juice ke dalam gelas. Susu bukanlah minuman yang ia sukai.
Tiba–tiba saja Runi berlari ke kamarnya. Ia teringat akan gawainya yang lupa tidak diisi baterainya.
"Yaaa benar–benar mati."
Sesuai dugaan. Baterai gawainya kosong. Ia mencari charger ke mana–mana namun ia tidak menemukannya. Tidak kunjung ia temukan di kamar, Runi mencari charger–nya ke luar. Namun nihil, tidak kunjung ia temukan lagi. Ia berjalan mondar mandir di depan Adam yang masih sarapan.
"Ck... Bisa tidak sih kau berhenti?!" tanya Adam kesal. Aktivitas Runi menganggu pemandangannya.
Runi mendengkus kesal. "Tak usah ikut campurlah. Kan kan konsentrasiku terpecah." Runi mencebik kesal. Ia mulai menyalahkan Adam.
"Cari apa sih?"
"Ya ada deh."
Adam memutar bola matanya malas. Ditanya baik–baik tapi responnya luar biasa, pikir Adam. Adam mulai mengunyah kembali rotinya yang masih sisa setengah itu.
__ADS_1
"Lihat charger ponselku tidak?"
Tidak ada pilihan lain. Runi membuang ego dan gengsi itu demi gawainya hidup kembali.
"Hadehh ... Tadi ditanya tidak jawab. Sekarang baru ... hmm...."
"Ya kan tadi belom lah."
"Ya ya ya suka–suka Anda!"
Adam tidak ingin memulai harinya dengan berdebat lagi.
"Ihhh malah tidak jawab. Terus di mana charger ku? Kau melihatnya tidak?"
Ingin rasanya Runi melempar tubuh Adam ke kolam. Namun hanya dalam bayangannya saja. Untuk aslinya ia tidak berani, ataua dirinyalah yang malah akan dilempar. Secara perbandingan tubuh mereka begitu jauh.
"Ada, di mobil. Cari aja di dashboard."
"Oke." Runi berjalan cepat. Namun tiba–tiba saja ia terhenti. Ia membalikan badannya.
"Loh kok charger–ku bisa ada di mobil?"
"Bisalah, kemarin tertinggal. Kau pikir charger itu bisa jalan sendiri?"
Runi cengengesan. Deretan gigi rapi itu terpampang. "Iya juga sih."
Adam menatap punggung sempit yang mulai menjauh itu. Sekilas ia tertawa melihat tingkah Runi yang terkadang cukup menggemaskan. Hanya saja jika jiwa menyebalkannya muncul, Runi adalah spesias kaum hawa yang sangat menyebalkan.
"Heh sadar Dam. Haram hukumnya tersenyum karena ulah Runi!"
Adam mulai memblokir pemikirannya akan Runi, mengenyahkan Runi dari pikirannya yang berlogo positif.
"Dasar tidak tahu terima kasih!"
Ia mulai mengingat kekesalannya akan makhluk itu. Apa lagi seusai diberi tahu, Runi tidak mengucapkan satu kata terima kasih. Bahkan setelah kejadian semalam sekalipun.
"Haihh ... Kenapa juga aku semalam tetap membawanya ke mobil. Seharusnya aku membiarkannya di sana. Sekalian biar digigit nyamuk–nyamuk penghisap darah. Kali kan dia jadi vampir nyamuk atau zombie biar sekalian enyah dari kehidupanku?!" ucap Adam geram. Ia menyuapkan kasar potongan roti terakhir ke dalam mulutnya.
"Eh jangan, tidak jadi. Yang ada aku diburu dia sampai neraka jahanam."
Adam bergidik ngeri dengan pikiran tidak masuk akalnya itu. Andai semuanya bisa terjadi, ia akan kewalahan jika Runi membalas dendam dengannya.
🍂
//
Happy reading gaess,
__ADS_1
Jangan lupa bahagia 🤗💕💕