Pengantin CEO Yang Tertukar

Pengantin CEO Yang Tertukar
148. Lelucon? (Dela)


__ADS_3

Berfoya–foya adalah rutinitas harian yang Dela lakukan. Kali ini ia memilih untuk memanjakan dirinya ke sebuah tempat perawatan kecantikan yang terkenal di kota itu. Ia ingin menikmati pijat relaksasi untuk memanjakan tubuhnya yang membantu merilekskan pikirannya.


"Mbak yang agak kerasan sedikit!" pinta Dela.


"Nah ..." ucapnya tatkala pijitan itu sesuai dengan apa yang Dela inginkan. Ia memejamkan matanya menikmati fasilitas yang diberikan, menikmati pijitan demi pijitan.


Sembari tidur telungkup, dia memainkan gawainya untuk berselancar di dunia online. Memamerkan hal mewah yang ia lakukan adalah suatu keharusan yang menunjukkan betapa glamornya kehidupannya.


Tiba–tiba saja bunyi notifikasi terdengar dari gawainya. Ia lagsung membuka notifikasi berita yang muncul di layar utama.


"Ha?! Apakah aku tak salah lihat?" ucapnya kaget saat melihat berita yang tengah on tranding itu. Ia berada di titik antara percaya dan tidak percaya dengan berita yang ia baca itu.


🍂


Sementara itu di ruangan kerjanya, Edi tengah mengamati perubahan grafik saham yang menurun drastis dari grafik saha perusahaan menantu dan besannya. Ia hanya menggelengkan kepalanya tatkala mendengar berita yang sudah tersebar di dunia internet itu. Ia sangat menyayangkan perilaku dan gaya hidup mereka.


"Perusahaan akan sangat cepat hancur dalam sekejab oleh kecerobohan dan kebusukan diri sendiri," ucapnya sambil terus menatap tabletnya.


Ia tak bisa melakukan apapun untuk membantu perusahaan Kemal dan Davin yang sudah jatuh sejatuh–jatuhnya. Bahkan bisa dikatakan tak dapat bangkit lagi kecuali memulai semuanya dari nol. Itu pun sabgat sulit dilakukan karena publik sudah memberikan stempel hitam untuk mereka.


🍂

__ADS_1


Brak!


Dela masuk ke dalam ruangan Edi tanpa permisi. Ia masuk tanpa ada sopan santun sedikitpun.


"Papi," panggilnya pada Edi yang tengah berdiskusi dengan asistennya.


Edi langsung menghentikan aktivitasnya. "Pergilah terlebih dahulu," titah Edi pada asistennya.


"Baik Tuan." Asisten itu meninggalkan mereka berdua di sana.


Tiba–tiba saja suara derap sepatu dari kaki yang melangkah pun terdengar. Derap itu cukup kerap. Mereka berdua menoleh ke sumber suara. Ternyata Clara juga datang ke kantor Edi untuk memastikan apa yang baru saja ia dengar di berita.


"Astaga Mami mengacau! Baru saja Dela mau bertanya. Mami malah main srobot saja!" sungut Dela. Itulah tujuan Dela menemui Edi. Ia juga ingin menanyakan hal yang sama, yang juga ingin Clara ketahui.


Edi mengirup napas dalam dan mengeluarkannya kasar. Ada kekecewaan yang terselip di wajahnya. Karena dahulu ia pernah menginvestasikan modal ke perusahaan Davin. Namun nyatanya yang ia investasikan disalahgunakan oleh Davin.


"Iya semua berita itu benar. Perusahaan mereka bangkrut dan tidak bisa bangkit lagi. Kepercayaan publik pada mereka telag hancur."


Pernyataan Edi membuat Clara dan Dela menganga lebar. Mereka tak menyangka. Perusahaan besar yang mereka kira bakal memakmurkan kehidupan mereka sekarang hancur seperti itu.


Tiba–tiba saja gawai Dela berdering. Nampak di layar utama itu nomor yang tak dikenal. Ia menggeser warna hijau untuk mengangkat panggilan itu.

__ADS_1


"Iya?" Hati–hati Dela menyapa orang di seberang sana.


Tiba–tiba raut wajah Dela berubah drastis. Informasi dari penelpon itu membuatnya terkejut bukan main.


"Baik Pak terimakasih!"


Dela langsung melempar gawainya cukup keras. Namun beruntunglah karena gawai itu terlempar pada sebuah karpet.


"Lelucon macam apa ini?!" Dela tertawa seperti orang gila yang tak tahu bagaimana mengekspresikan suasana hatinya. Clara juga syok dengan kenyataan di hadapannya. Tapi tidak dengan Edi. Edi membiarkan kedua orang penting dalam hidupnya itu berdamai terlebih dahulu dengan keadaan saat ini.


"Hancur! Semua hancur!" teriak Dela. Ia menjambak rambutnya sendiri. Ia tak akan mengira bahwa semuanya akan seperti ini. Suami dan keluarganya jatuh miskin. Ia tak bisa menerima kenyataan itu.


Keinginan untuk berpisah pun muncul. Ia ingin bercerai dengan Davin lantaran Davin bukanlah orang yang bisa ia banggakan lagi. Sekarang Davin adalah aib baginya.


🍂


//


Happy reading gaess,


Jangan lupa bahagia 💕💕

__ADS_1


__ADS_2