Pengantin CEO Yang Tertukar

Pengantin CEO Yang Tertukar
M2 Keterikatan (Dela: Teman atau Musuh?)


__ADS_3

"Aku ikut!"


Tekad bulat yang telah Gea ikrarkan awalnya ditentang oleh Briel. Briel tidak ingin Gea kenapa–napa. Andai hal buruk terjadi, ia tidak ingin kehilangan keduanya.


"KAMU EGOIS BAYANG!! Aku juga ibunya!!" ucap Gea tidak terima.


"Aku bukan egois, tapi aku memperhatikan keselamatanmu!"


Gea menggeleng cepat dengan air mata yang masih mengalir. Ia tertawa pilu. "Kalau kamu gak egois, harusnya kamu membiarkanku ikut bersamamu untuk mencari Rio bersama."


Ucapan Gea sangatlah menohok. Briel terbungkam. Pada nyatanya ia memang egois. Ia lebih condong memikirkan dirinya sendiri.


"Ayo berangkat," ujar Briel pada akhirnya. Mereka bersama–sama mencari keberadaan Rio


🍂


"Akhirnya kartu ATMku dikembalikan..." ujar Dela sumringah. "...sama manusia itu!!" lanjut Dela dengan nada yang kesal.


Selama ini ia mencari kartu beserta tasnya itu, namun ternyata Gazalah yang menyimpanannya di tempat tersembunyi. Kartu yang dibekukan itu pun juga telah di cairkan kembali.


"Besok apa sekarang ya?" Telunjuk lentik itu mengusap dagu mulus di wajah itu, memikirkan pilihan mana yang akan dia pilih.


"Aihh bodo amat. Harus sekarang pokoknya!"


Secepat kilat tangan Dela menyambar tas di atas kasur. Dengan kaki Dela yang telah pulih sempurna itu, Dela menaiki taxi yang kebetulan melintas, membelah dinginnya malam. Ia tidak mengenal lelah, demi beberapa uang miliknya yang tersisa di ATM itu. Ia ingin segera Sedangkan Gaza kini telah kembali bekerja.


Dela mengantri selama 15 menit untuk bisa mengecek saldonya. Tangannya lincah mengoperasikan mesin itu. Seketika matanya membeliak sempurna, menatap layar itu.


"Weh ... Apa ini? Aneh. Kenapa di kartu ATM ku ada uang sebanyak ini?"


Dela kembali mengecek saldo di mesin ATM itu. Ia masih belum percaya. Bahkan dirinya mengira jika saldo itu adalah saldo prank dari pihak Bank. Berulang kali ia mencoba, namun hasilnya tetap sama. Sepuluh digit angka tertera pada layar tersebut.


🍂


Drrrtt


Getar notifikasi panggilan masuk terasa di tengah kesibukan Gaza. Gaza bergeming. Niat hati ia ingin mengabaikan panggilan masuk itu. Namun getaran itu sangat menganganggunya.


"Ck siapa sih?! Kalau sampai Marvel, akan ku habisi dia!" omelnya sembari merogoh gawai yang ada di sakunya itu.


"Apa?!" ujarnya ketus.


"Wah wah wah ... Main bentaknya makin lancar Bund... Apa kau mentransfer uang ke rekeningku?" sahut di seberang sana tanpa basa basi.


Reflek Gaza menautkan kedua alisnya, keterdiaman sementara itu membuat sang penelpon angkat bicara.


"Ah sudahlah! Mana mungkin kau bisa memberiku uang milyaran seperti ini. Beli baju bayi aja pelitnya nauzubilah!" Dela masih kesal padahal kejadian itu sudah berlalu.


Mendengar jawaban itu, Gaza memutar bola matanya malas. "Asal kau tau ya! Uangku bisa membeli mulutmu itu!"

__ADS_1


"Nyenyenyenye"


Dela menirukan gaya bicara Gaza. Baginya Gaza tidak lebih dari kuli.


"Serah lah. Cepat katakan ada apa?!" Kekesalan Gaza sudah mencapai level tingkat dewa.


"Aku shareloc. Datang kesini, ada hal yang ingin kuberitahukan padamu," ujar Dela lantas mematikan sambungan itu sepihak.


"Tidak biasanya dia menelponku seperti itu." Gaza mencium ketidakberesan itu.


Tak lama kemudian terasa getar notifikasi singkat di tangannya.


Gaza membuka pesan singkat itu. Setelah ia lihat, lokasinya tidak begitu jauh dari tempatnya berada.


"Cari tempat yang cukup ramai. Jangan di sana sendirian!" titah Gaza dalam pesan singkatnya itu sebelum ia memasukan kembali gawainya ke dalam sakunya.


Gaza menyambar kunci mobil yang ada di sampingnya. Langkah panjangnya bergerak cepat, untuk mempersingkat waktu.


🍂


"Ck di mana dia?"


Dela duduk di sebuah warung kopi pinggir jalan yang cukup ramai. Tangannya memegang segelas jeruk hangat untuk menetralisir hawa dingin yang kian menusuk kulitnya.


"Kemana saja sih?!" omel Dela kala melihat orang di dalam mobil yang menghampiri nya.


"Ck tidak usah banyak komen. Cepat masuk!"


"Mang, bungkus ya!" teriak Gaza tanpa berlama.


"Siap!!!" jawab sang penjual dengan sigap.


"Mobil siapa ini?" tanya Dela sembari menyeruput sedikit demi sedikit jeruk hangat yang ada di plastik itu.


"Katakan cepat!" desak Gaza. Tidak ada keinginan untuk menjawab pertanyaan Dela. Dela mencebik kesal.


"Iya iyaa," ujar Dela setengah hati. "Ini," lanjutnya dengan memperlihatkan nominal saldo yang tertera di aplikasi yang terinstal di gawainya. Dela menginstal aplikasi itu setelah ia mengecek saldo rekeningnya di ATM.


Gaza mengerutkan dahinya. Terakhir ia mengetahui saldo Dela, tidak sebesar saat ini. Mungkin hanya bernilai 6 digit saja. Ada kejanggalan yang terjadi.


"Coba cek kapan transaksinya!"


Dela segera melakukan apa yang Gaza katakan.


"Ada, tapi aku tidak kenal nama pengirimnya."


Gaza mengangguk singkat. Lantas ia mendekatkan gawainya ke telinganya.


"Cari tau di mana dan siapa pengirim uang itu. Ada yang janggal dengan semuanya ini!" titah Gaza pada orang di seberang telepon itu. Seketika Dela terpana dengan kharisma yang Gaza punya. Ia tidak mengira jika laki–laki di depannya sekeren itu. Sangat berdemage dan vibesnya seperti bos besar yang memerintah bawahannya.

__ADS_1


"Apa kau lihat–lihat?! Aku memang sudah tampan sejak lahir!" ujar Gaza narsis, membuat Dela menarik semua ucapannya.


"Idihh... Najis!" umpat Dela.


Keterdiaman menjadi pengisi malam yang sunyi itu. Tidak ada yang berniat mencairkan suasana. Mereka tahu, bukannya cair malah suasana bisa mendidih. Hingga sebuah notif masuk di gawai Gaza. Getaran itu menyita perhatian dua insan itu.


Gaza menatap layarnya itu tak percaya. Banyak hal yang sebenarnya bisa diretas, namun Marvel hanya menemukan nama samaran pemilik rekening itu.


"Siapa?" tanya Dela menuntut jawaban. Sedangkan Gaza hanya menggeleng sebagai jawabannya.


Gaza mengetik pesan begitu cepat.


"Cepat cari tahu sampai akar! Namun jangan sampai membuat mereka curiga!"


Mereka kembali menunggu kabar terbaru. Hingga kali ini dering telepon menyadarkan ketegangan mereka.


"Ya?"


Wajah Gaza terlihat begitu serius. Bahkan wajah Gaza sangat terkejut mendengar semua hal yang Marvel ucapkan. Sekilas Gaza melihat ke arah Dela lantas kembali fokus dengan arah depan.


"Tetap awasi mereka!" ujar Gaza lantas mematikan sambungan itu.


Lirikan tajam Gaza bagaikan pedang yang menghunus. Dela beringsut ke arah pintu mobil kala menatap mata Gaza. Tatapan mata Gaza kali ini bukanlah tatapan yang menyebalkan, melainkan tatapan yang seakan akan ingin menghabisi nyawa Dela kala itu juga.


"Ada hubungan apa kamu dengannya?!" ujar Gaza lirih, namun mampu membuat bulu kuduk Dela berdiri.


"Si–siapa?" jawab Dela terbata.


Gaza tertawa sumbang. Ingin ia tidak percaya pada manusia yang seakan polos di depannya itu. Tawanya itu membuat bulu Dela semakin meremang.


"Harus dengan aku menyadarkanmu?" tanya Gaza dengan geram. Auranya kini sangatlah mematikan. Senyumannya seperti ingin mengeksekusi Dela. Bahkan Dela yang biasanya bisa menyanggah Gaza, kini tidak bisa berkutik.


Sedangkan, Gaza tidak menyangka jika musuh dan orang terdekatnya memiliki hubungan sedekat itu hingga uang pun bisa ditransfer untuk Dela sebanyak itu. Milyaran bukanlah uang yang sedikit. Hanya hubungan tertentu yang membuat uang sebanyak itu terasa begitu enteng untuk diberikan secara cuma–cuma. Namun baik dia maupun Marvel juga tidak tahu hubungan apa yang terjalin di antara mereka sebenarnya. Belum ada benang merah yang menghubungkannya.


"Sepertinya aku harus memberikan applose meriah atas sandiwara ini. Benar–benar berhasil. Namun sayang, baru 99%. Nyatanya satu persen bukan keberuntunganmu!" ujar Gaza dengan senyum miring.


Semakin dipojokan, membuat Dela semakin bingung akan apa yang terjadi. Dela memejamkan matanya untuk mengumpulkan keberanian.


"Dasar pengkhianat!!!"


Tuduhan itu terucap sangat dingin. Manik mata Dela yang semula terpejam, kini membuka pasti.


Belum sempat Dela menjawab, kini Gaza telah memacu mobilnya kencang. Dela memegang pegangan keamanan yang ada di mobil itu. Tak ada akal sehat, sebelum Dela mampu menjawab semua kalimatnya. Jika Dela tidak bisa menjawab, ia akan menganggap jika Dela telah bersekongkol dengan musuhnya untuk menghancurkannya.


🍂


//


Happy reading

__ADS_1


Jangan lupa bahagia 💕💕


__ADS_2