
Brakk!!
Briel membuka pintu kamarnya dengan kasar. Ia menatap Gea datar. Sedangkan Gea yang ditatap seperti itu hanya mengangkat kedua alisnya, heran dengan sikap Briel yang tidak seperti biasanya.
Dengan cueknya, Gea menata kembali barang belanjaannya di kamar si kecil.
"Jelaskan siapa dia?" tanya Briel dengan tatapan yang tajam. Ketegasannya membuat Gea berhenti lantas menatap Briel yang tengah dipenuhi amarah itu. Tangannya memberi–tahukan foto Gea masuk ke dalam mobil yang tidak ia kenal. Foto itu ia dapatkan dari nomor yang tidak dikenal dan foto itu pula yang membuatnya meninggalkan Adam dan Runi tanpa penjelasan sedikitpun.
Gea tertawa sumbang lantas terdiam di beberapa detik berikutnya. Secepat itu ia berhenti dan merubah raut wajahnya datar. Ia kembali ke aktivitasnya. Hal itu membuat Briel naik darah. Pertanyaannya seperti tidak dihargai sedikitpun.
"Kalau suami tanya dijawab! Jangan malah menghindar dan menyepelekan seperti ini!"
Briel tidak bisa membendung kemarahannya kali ini. Semua hal telah bercampur menjadi satu, membuat diri Briel kesulitan untuk mengendalikan diri. Napasnya memburu, matanya kini telah memerah menahan amarah.
Gea berhenti. Ia memejamkan matanya sejenak lantas memutar badannya.
"Bagaimana aku bisa menjawab jika kamu masih marah seperti itu?" tanya Gea menohok dirinya. Sejak awal ia sudah merasa kecewa dengan Briel yang tidak menepati ucapannya, kini Briel menambah kekecewaannya dengan datang dengan amarah yang tidak jelas tanpa bertanya terlebih dahulu bagaimana kebenarannya.
Gea kembali membalikkan badannya kembali. Ia berjalan melanjutkan aktivitas yang tertunda.
"Kamu belanja dengan siapa?" tanya Briel menyelidik.
"Tanpamu dan tanpa Runi," jawab Gea sinis.
"Ooo jadi itu yang buat kamu pergi sama lelaki lain?" sarkas Briel. Briel tertawa sumbang. Ia merasa dikhianati oleh Gea.
"Iya. Memang kenapa? Bukankah Bayang sendiri yang tidak bersedia meluangkan waktu untukku? Bukankah akhir–akhir ini Bayang malah sibuk dengan proyek barumu?"
Gea mencercanya dengan pertanyaan beruntun yang membuatnya sesak. Memang benar, akhir–akhir ini Briel kesulitan hanya dengan me time dengan Gea. Meski pada malam hari, ia masih melakukan tugasnya sebagai seorang ayah siaga.
"Tapi bukan begini caranya Gey! Apa yang kamu lakukan itu tidaklah baik. Kau membawa orang lain ke dalam pernikahan ini."
Briel melunak, namun ia tidak bisa menyembunyikan kekecewaannya terhadap Gea.
"Siapa yang dibawa adikku ke dalam pernikahan kalian?"
Tiba–tiba saja suara berat itu muncul begitu saja dari dari arah pintu kamar yang terbuka. "Siapa?" tanyanya sekali lagi sembari berjalan menghampiri mereka berdua. Ia menatap Briel dan Gea secara bergantian.
"Itu kak, Bayang!" rengek Gea manja pada sang kakak.
Hendri menatap Briel menyelidik. Mencurigai apa yang dilakukan Briel.
"Katakan padaku," ucapnya tegas.
"Lihatlah!" ucap Briel pasrah.
__ADS_1
Hendri menautkan kedua alisnya bingung. Kenapa fotonya ada bersama dengan Briel seperti itu? Namun pengambilannya dari arah belakang membuat semuanya terlihat begitu nyata kalau laki–laki itu adalah laki–laki tidak dikenal.
"Kenapa fotoku ada di situ?" tanya Hendri bingung. Hal itu membuat Briel menganga lebar.
"Hah? Maksudmu apa?" tanya Briel.
"Iya. Itu aku dan Gea. Tadi dia memintaku menemaninya karena kamu dan Runi masih sibuk lembur di kantor."
Seketika itu juga Briel merasa jika kemarahannya adalah hal yang sia–sia dan membuang–buang tenaga.
"Lah terus mobil ini?" tanya Briel lagi.
"Aku baru membelinya kemarin. Bagus bukan?"
Hendri mengangkat kedua alisnya untuk mendapatkan persetujuan dan pengakuan dari Briel.
Briel mengangguk pelan. Ia masih mencerna penjelasan Hendri. Ternyata orang yang ia curigai adalah orang terdekat Gea sendiri. Betapa malunya dia saat ini.
"Isshlah kan mobilku juga terparkir di depan. Apa kau tidak melihatnya?"
Briel menggeleng pelan. Kemarahannya menutup akal sehatnya. Jika itu adalah selingkuhan Gea, mana mungkin Gea membawa pria itu ke rumah. Yang ada adalah mencari masalah.
"Lihat tuh lihat!! Makanya jadi suami jangan mudah terhasut sama orang lain. Percaya sama istri sendiri!!!" Gea menyindirnya keras. Ia merajuk lagi.
"Eemm aku ke bawah dulu ya, kopi buatan Dini keburu dingin," pamitnya dengan kebohongan. Pada nyatanya tidak ada kopi untuknya. Ia hanya ingin melarikan diri dari semuanya ini.
"Iya ..." sahut Briel lirih.
Setelah kepergian Hendri, Gea kembali dengan aksi merajuknya. Ia tidak habis pikir kenapa Briel pulang karena adanya kemarahan seperti itu. Kenapa dia tidak pulang karena mengingat kebutuhan akan dirinya dan juga kedua anaknya.
Gea berdecak kesal. Ia masih mengabaikan Briel.
"Maaf, Geyang. Aku khilaf." Briel meminta maaf dengan tulus. Namun Gea masih enggan untuk memaafkan Briel.
"Gini nih, Bayang pulang karena mengira aku selingkuh? Iya? Terus kalau tidak ada foto itu, Bayang tidak akan pulang sekarang? Iya?
Lagi–lagi Gea membrondong Briel dengan pertanyaan beruntun yang membuat dia mati kutu. Apa yang dilontarkan Gea seratus persen benar. Namun bukan tanpa alasan. Ia melakukannya itu untuk mencari nafkah. Ia sadar kebutuhan mereka akan semakin banyak seiring tumbuh besarnya kedua anak mereka.
"Sayang ... Kan aku melakukannya untuk kalian," jelas Briel. Jika bukan karena terpaksa, Briel pun tidak akan seperti itu lagi, mengulang waktu dimana dia masih bujang dengan menghabiskan waktu di kantor. Bedanya dahulu tanpa berniat pulang dan sekarang pikirannya sudah berniat pulang awal.
Gea menghela napas kasar. "Hmmm"
Gea hanya bergumam lantas kembali melanjutkan apa yang masih tertunda. Ia mendiamkan Briel. Briel mengikuti kemana Gea bergerak. Hal itu membuat Gea risih.
"Bayang ... Berhenti mengikutiku!"
__ADS_1
"Iya aku berhenti."
Briel menuruti apa kata Gea. Ia memilih duduk di kursi, tidak jauh dari sana. Namun Gea masih tetap mendiamkannya.
"Ayolah Sayang... Jangan mendiamkanku seperti ini." Briel tidak suka didiamkan. Lebih baik ia menerima cercaan dan umpatan panjang lebar dari pada harus didiamkan seperti itu. Itu sangat menyiksanya.
Briel jadi berpikir, apa semua wanita akan menyiksa pasangannya dengan silent treatment seperti ini. Pasalnya ia pernah didiamkan oleh Tere beberapa tahun lalu.
"Geyang ..." rengek Briel yang membuat Ghea jengah.
"Apa?!" tanyanya ketus.
"Maafin aku ya ... ya ya ya ..." Briel menunjukkan wajah memelasnya.
"Nanti." Gea menjawabnya singkat. Briel masih belum bisa meluluhkan kekerasan hati Gea.
"Lah kok nanti." Briel menatapnya dengan tatapan sayu.
Ooeeeekk
Tanpa di duga, si kembar menangis kencang. Hal itu mengharuskan mereka untuk segera kembali ke kamar mereka lantas menggendong mereka. Briel membantu Gea menggendong Rio sedangkan ia menenangkan Nino.
Cukup lama mereka berusaha keras untuk menenangkan kedua buah hati mereka namun hasilnya nihil.
"Geyang maaf in aku ya," pinta Briel sekali lagi. Ia berpikir mungkin dengan ini kedua buah hati mereka terdiam.
Gea menghela napas kasar. "Iya..."
Tidak lama setelah itu mereka terdiam. Ternyata kedua bocah bayi itu merasakan hawa panas di kamar mereka lantaran pertengkaran kedua orang tuanya. Hal itu membuat mereka sadar jika anak mereka pun tidak mau melihat kedua orang tuanya bertengkar.
Setelah mereka kembali tertidur, Briel dan Gea meletakkan mereka pelan–pelan. Mereka memilih untuk keluar kamar meninggalkan mereka yang tertidur pulas. Di luar kamar Gea masih menatapnya sinis.
"Cih ... Bisa bisanya mereka masih saja membelamu!" ucap Gea dengan lirikan maut.
Briel tersenyum jumawa. "Mereka kan anakku jadi wajar mereka membelaku."
Mendengar jawaban Briel, Gea hanya memutar bola matanya malas. Ia mencari kedua baby sitter nya untuk menjaga si kembar sementara lantas menyusul di mana Hendri berada.
🍂
//
Happy reading gaes,
Jangan lupa bahagia 🤗💕💕
__ADS_1