
"Run ...."
Saat ini Gea tengah berada di depan rumah kontrakan Runi. Hari ini mereka jajian untuk pergi bersama. Sudah lama mereka tidak berangkat bersama. Gea juga telah meminta ijin pada Briel.
"Runii …." panggil Gea lagi. Sudah beberapa kali Gea memeanggil nama Runi, namun Runi tak kunjung membukakan pintu.
"Iya …. Sebentar …!" sahut Runi dari dalam rumah yang terdengar agak samar oleh Gea.
"Ck lama sekali sih Run!" gerutu Gea tatkala Runi membuka pintu.
Wajah cemberut Gea menjadi suguhan pertama yang Runi lihat. Runi tak peduli dengan eskpresi wajah Gea yang sudah manyun. Dengan santainya ia malah berjalan masuk kembali diikuti oleh Gea di belakangnya.
"Yee … namanya juga mandi," jawab Runi santai. Bahkan tangannya sibuk mengeringkan rambutnya dengan handuk kecil.
"Hilih alasan!"
"Bukan alasanlah! Mana dengar suara kamu kalai aku aja di dalam kamar mandi," ujar Runi jujur. Ia sungguh tak mendengar suara Gea. Bagaimana tidak? Kebiasaan Runi yang selalu saja konser dadakan di dalam kamar mandi tak pernah hilang, apalagi gemricik air memenuhi ruangan kamar mandi.
"Ahh terserahlah …. Cepat sana ganti baju terus berangkat!" titah Gea setelah melihat angka yang di tunjuk oleh kedua jarum jam.
"Siyap Bu Bos …!"
🍂
"Eh kalian tahu nggak?" tanya seorang karyawan wanita yang melambaikan tangannya kepada yang lain untuk mendekat. Namanya Ira.
"Apa apa apa?" tanya yang lain. Ia mendekat ke arah Ira. Gak hanya seorang. Namun beberapa karyawan datang mendekat mengerubungi Ira layaknya semut yang menemukan sebuah makanan.
"Ehh dah pada dengar kabar belum?" tanya Ira sekali lagi.
"Kabar? Kabar apa Ir?" tanya seorang yg lain.
"Sebentar lagi akan ada hari patah hati nasional … aihh …." ujar Ira sedramatis mungkin.
"Heh Ir …. Masak iya patah hati kok nasional. Ada–ada saja kamu."
"Iya bener deh. Aku gak bohong. Mau tau kenapa?" tanya Ira pada mereka. Bahkan Ira memandang mereka satu–persatu bergantian. Mereka menunggu jawaban dari Ira.
"Kalian tahu kan kalau bos kita itu tampannya luar biasa, maskulin lagi?"
Mereka semua mengangguk.
"Kalian juga tahu kan kalau bos kita itu masih single?"
Mereka mengangguk lagi.
"Kalian tahu kan kalau bos hadir itu bagaikan amunisi bagi kita semua?"
__ADS_1
Mereka mengangguk setuju lagi. Mereka mengagung–agungkan sosok Briel.
Ira menghela napas berat. Ia menata hatinya yang berat untuk mengatakan apa yang ia dengar. Jujur saja, sebelumnya ia berencana untuk memepet Briel. Siapa tahu Briel jodohnya. Tapi sayang, ia telah mendengar berita ini.
"Apa Ir? Cepat sedikit kenapa? Kamu dah buat kami penasaran, bisa–bisanya kamu menggantungkan kami!" ucap salah seorang tidak sabaran. Ia kesal dengan Ira yang tak kunjung menyampaikan apa maksudnya.
"Astagaaa .... Dengarkan dulu weh! Aku ini berusaha menata hati yang remuk redam, patah, dan hancur, biar hati tatag (kuat) untuk mengucapkan apa yang terjadi!" sungut Ira. Ia bahkan melirik kesal rekan kerjanya itu.
"Iya iyaa …. Buru deh!"
Ira berdecak kesal. Ira menoleh ke kanan dan ke kiri. Melihat kondisi aman tidaknya aia bergibah. "Aman."
"Aku tak sengaja mendengar dari Pak Heri bahwa …." Ira mengucapkannya setengah berbisik dengan badan yang sedikit membungkuk.
"…. Aku dengar si Bos sudah menikah!!!!"
"Ha?!!"
Seketika paduan suara itu tercipta mendadak di sana. Mereka tercengang medengar berita yang Ira bawa. Perlu diketahui, bahwa Ira adalah ratu gosip di perusahaan itu. Untuk masalah berita hangat, seringkali Ira mengetahui berita itu terlebih dahulu dari pada yang lainnya.
"Yang benar saja kamu Ir? Jangan ngaco ah! Masak iya yang katanya single berubah sudah nikah dalam waktu sekejab!" ucap salah satu di antara mereka tak percaya.
"Heem benar sekali. Masak iya begitu." Ada yang menimpali.
"Lagi pula seharusnya kita juga diundang dong ke pernikahan si Bos."
Semua orang menggeleng, termasuk Ira.
"Jangan–jangan kamu bohongi kita ya?" tuduh Ema.
"Hoax nih jangan–jangan!" ucap yang lain turut memojokkan.
"Idihh mana ada? Aku itu wanita cantik, cerdas, dan berintegritas. Masak iya bohongi kalian. Tidak level keles!" ucap Ira mencari pembelaan diri. Ia tak terima jika Ia dituduh sebagai penyebar hoax walau nyatanya ia memang penyebar gosip.
"Mulai–mulai!" ucap Vivi sembari memutar bola matanya malas. Ia jengah dengan sikap narsisnya Ira yang seringkali menjadi.
Mereka berlanjut bergosip sebelum waktu kerja dimulai.
Saat itu, Runi dan Gea sampai di perusahaan. Mereka mengerutkan dahi mereka. Mereka penasaran melihat keramaian di depan mereka, sekelompok karyawan yang berkumpul melingkar.
"Ada apa itu, Run?" tanya Gea.
"Tidak tahu. Ayok kita hampiri saja," ajak Runi.
Mereka berdua berjalan menghampiri kerumunan itu.
"Ada apa ya Mbak?" tanya Runi penasaran.
__ADS_1
"Gini Run …. Kami mengetahui bahwa kabarnya si Bos sudah menikah," jawab Ira. Dengan bangga dan menggebu ia menyampaikan informasi itu.
Run hanya mengangguk dan beroh ria mendengar informasi itu. Ia sudah tahu semuanya, jadi tak perlu kaget lagi.
"Eh? Kamu gak kaget?" tanya Ema.
"Ha?!" Runi mengerutkan dahinya. "Untuk apa kaget? " lanjutnya dalam hati.
"Kalian gak kaget dengar info ini?" tanya Ira.
Runi menoleh ke arah Gea. Mereka saling berkomunikasi lewat sorot mata. Runi menghela napas dalam.
"Ohh hehehehe iya. Ya kami kagetlah," ucap Runi mengiyakan. Tidak mungkin ia mengatakan yang sebenarnya. Sedangkan Gea hanya bisa diam. Karena kenyataannya dialah yanv tengah digosipkan.
"Iya enggak Gey?"
"I–iya!" jawab Gea dengan senyuman canggung. Ia tak mungkin berkata siapa dia. Semua akan percuma. Bukannya diakui, ia akan dicaci maki.
"Apa jadinya mereka tahu kalau aku istrinya ya? "
Pikiran Gea mengambang, membayangkan bagaimana ekspresi mereka nanti.
"Eheem ...!"
Dehaman keras itu membuyarkan mereka. Mereka semua terperangah, mati kutu melihat siapa yang hadir.
"Selamat pagi Bos ...." Ira tersenyum kikuk. Bagaimana tidak? Ia seperti seorang maling yang tertangkap basah. begitupu. juga dengan yang lain.
"Ada apa ini kalian semua di sini? Bukannya bekerja, malah bergosip di sini!"
Briel menatap Gea sekilas. Diam–diam Briel meghela napas berat. "Bisa–bisa nya ia malah ikut bergosip. Benar–benar ajaib." ucap Briel dalam hati.
"Sudah. Segera bekerja!" perintah Briel tak terbantahkan.
"Baik, Bos!" jawab mereka serentak. Mereka segera bubar, untuk mempersiapkan pekerjaan mereka. Mereka tak mau mengambil risiko kehilangan pekerjaan. Gea dan Runi pun turut segera melakukan kewajiban mereka.
"Astaga ada–ada saja mereka!"
Briel menggelengkan kepala kemudian melenggang menuju ruangannya.
🍂
//
Happy reading gaess,
Jangan lupa bahagia 💕💕
__ADS_1