Pengantin CEO Yang Tertukar

Pengantin CEO Yang Tertukar
Konsekuensi


__ADS_3

"Aduh gimana ini?" gumam Runi lirih sembari berjalan mondar–mandir di depan ruangan Adam. Ia membawa sebuah paper bag berisikan kemeja putih. Ragu ia ingin memberikan kemeja itu pada Adam


"Bodo amatlah. Untuk itu urusan belakangan yang penting sekarang aku kembalikan kemeja ini," tekad Runi yang telah bulat.


Tak ada pilihan lain. Tak ia sampaikan pun pasti dia akan salah pada akhirnya. Ibarat kata, maju salah mundur salah.


"Aiss kenapa jadi lagunya mbak mbak cetar yang maju mundur cantik sih." Runi mengusap rambut bagian belakangnya pelan. "Eh tapi ini maju mundur salah sih," ucapnya cepat.


Runi meralat pemikirannya. Tanpa menunggu lama lagi, ia berjalan masuk ke ruangan Adam. Terlihat Adam tengah duduk santai di kursi kerjanya dengan mata yang terpejam, kepala menyender pada punggung kursi.


Keberaniannya mulai ia tambah lantaran ia tak ingin terlalu lama lari dari kenyataan. Ia tak ingin semakin lama hingga bagaimana respon Adam yang tak ia ketahui selalu menjadi momok baginya di tiap harinya.


"Permisi Bos—"


"Mana kemejaku?"


Tanpa menunggu Runu menyelesaikan kalimat ucapannya pun Adam langsung memotong ucapan Runi seenaknya. Bahkan ia tak ada sedikitpun merubah posisinya.


"Astaga ... Mentang–mentang atasan seenaknya sendiri," rutuk Runi dalam hatinya.


Runi berusaha menenangkan hatinya sendiri agar tak khilaf dan melakukan hal yang makin membuatnya berada dalam keadaan yang tidak diuntungkan. Bukan masalah dipecat atau tidaknya. Namun sengsara tidaknya. Ia tahu kalau posisinya akan sulit dilengserkan kecuali dia sendiri yang melakukan pengkhianatan terhadap Gea dan suaminya.


"Apa? Kenapa?" tanya Adam.


Cukup lama tak mendengar jawaban maupun melihat tindakan dari Runi, Adam mulai angkat bicara. Nada bicaranya pun terdengar begitu mengesalkan di telinga Runi. Manik matanya pun menatap Runi dengan tatapan menyelidik. Bagaimana tidak? Sesuatu yang dapat dilakukan dengan singkat tertunda beberapa waktu begitu saja.


"Tidak ada Bos Adam."


Sebuah kalimat itu Runi tegaskan dengan senyum yang teramat dipaksakan. Bahkan giginya ia rapatkan kala ia mengucapkan itu semua.


Adam hanya mengangguk–ringan, bahkan terkesan santai.


"Mana kemejaku?"


Runi meletakkan paper bag di atas meja Adam. Jedag jedug, jantungnya berdisko menunggu bagaimana reaksi Adam. Namun raut tenang wajahnya menjadi penghias yang epik untuk menutupi kegugupan yang sebenarnya ia rasakan.

__ADS_1


Sebuah kemeja putih kini berada di tangannya dibuka membentang di depan badannya. Alisnya bertaut kala menatap kain putih itu. Ada yang berbeda dengan kemeja yang sebelumnya.


"Ini bukan kemejaku Runi."


Adam melempar asal kemejanya ke atas meja. Mulai dari bahan, ukuran, dan warna kainnya beda dari yang sebelumnya.


"Itu kemejamu Bos. Memangnya kemeja siapa lagi?" kilah Runi. Ia masih berusaha menyembunyikan apa yanh sebenarnya terjadi.


"Bukan. Kamu jual kemejaku terus kamu ganti dengan kemeja dengan harga murah ya?" tuduh Adam asal.


"Mana ada Bos. Memangnya baju bekas laku ya? Palingan harganya cuma 50 ribu."


Kalimat pembelaan yang Runi lontarkan sukses membuat mulut Adam menganga lebar. Sebuah kemeja putih seharga jutaan rupiah hanya ditafsir sebesar puluhan ribu saja.


"Ya itu kalau kamu belinya ke tanah abang. Tapi ini beda Runi, bahannya saja sudah terlihat lebih berkualitas." Adam menepuk dahinya sendiri.


"Ya kan sama saja Bos. Itu yang di meja juga bentuknya sama. Sama–sama bisa dipakai lagi."


"Mana kemeja saya?" tanya Adam sekali lagi. Batinnya menangis meraung kala ia kehilangan kemeja kesayangannya.


"Bagus apanya? Aku mau kemejaku kembali!" titah Adam tak terbantahkan.


"Tapi–"


"Bawa ke sini!"


Runi menghela napas kasar. "Baiklah."


Runi kembali ke ruangannya. Ia mengambil kemeja milik Adam lantas memberikannya kepada Adam.


Betapa terkejutnya Adam kala melihat kain yang semula putih itu bernoda. Ia mentap Runi dengan tatapan tidak terima.


"Kamu apakan kemejaku Runi ..."


Sangat disayangkan. Kemeja kesayangannya kini tak berwujud lagi.

__ADS_1


"Maaf Bos. Aku tak sengaja Bos," ujar Runi dengan rasa bersalahnya. "Makanya Bos. Kan aku tadi dah bilang. Bagus an yang itu Bos," Runi menunjuk ke arah kemeja yang ada di atas meja.


"Kemeja kesayanganku ..." rengek Adam sembari membentangkan kemejanya. "Dasar cerobih!"


"Maaf Bos ... Tolong terima kemeja baru itu ya Bos sebagai gantinya." Kali ini Runi menunduk.


"Hufffft"


Helaan napas itu pun terdengar. Runi semakin was–was akan nasibnya ke depan.


"Oke diterima dan dimaafkan."


"Makasih Bos." Seketika wajah Runi yang semula was–was pun kini berubah menjadi riang. Ia tak perlu memikirkan banyak hal lagi.


"Eitt ... Jangan senang dulu. Setiap kesalahan akan selalu ada konsekuensinya." Adam terlihat tengah berpikir. Runi terpaksa menelan ludahnya susah.


"Arrghhh dasar! Sudah gelo pendendam lagi!" teriak Runi dalam hati.


"Jangan mengumpatiku! Kau kira aku tidak tahu?"


Sebuah senyum terpaksa Runi perlihatkan kembali. "Ah ... Mana mungkin aku seperti itu Bos"


"Cih ..." Adam hanya melirik tak percaya dengan jawaban Runi.


Tiba–tiba saja sebuah telepon berdering. Segera Adam mengangkat gagang telepon itu lantas membicarakan hal yang terlihat begitu serius.


"Sudahlah, konsekuensinya nanti. Ada hal yang lebih penting yang harus kuurus. Urusan kita belum selesai," ucapnya setelah meletakkan gagang telepon lantas ia beranjak meninggalkan Runi di sana sendirian.


🍂


//


Happy reading gaess


Jangan lupa bahagia 💕💕

__ADS_1


__ADS_2