Pengantin CEO Yang Tertukar

Pengantin CEO Yang Tertukar
Tak Ada Jalan Lain


__ADS_3

Semenjak detik itu, Briel tak lagi menggunakan parfum kesayangannya. Bahkan untuk mandi ia hanya melakukannya sekali saja, di sore hari lantaran Gea yang memintanya, kecuali ada meeting penting. Namun selama semalaman pula, Briel akan tidur terpisah dengan Gea. Aroma tubuh Briel membuatnya tersiksa.


Seperti saat ini. Ia tengah berdebat kecil dengan Gea lantaran Briel mandi sehari 2x dan aroma tubuh Briel membuatnya mual–mual.


"Bang jangan dekat–dekat denganku!" Berulang kali Gea mendorong tubuh Briel agar menjauh dari dirinya.


"Tapi bagaimana aku tidur Geyang?" tanya Briel. Briel merengek layaknya anak kecil. Pasalnya ia tak ingin tidur di sofa yang membuat badannya semakin pegal.


"Itu sofa ada."


Briel hanya terdiam. Ia menampakkan wajah melasnya untuk meminta belas kasihan dan pengertian dari sang istri. Namun kali ini Gea bukanlah Gea yang biasanya. Ia menjelma menjadi Gea yang egois. Briel menggosok kepala belakangnya pelan.


"Ya sudah. Biar aku yang tidur di sofa," putus Gea. Gea membawa selimut dan bantal dan berjalan menuju ke sofa.


"Jangan!"


Briel tak rela jika Gea harus merasakan hal yang dahulu pernah dirasakannya di awal pernikahan. Tidur meringkuk di sofa yang tak lebar. Tak ada jalan lain. Malam itu juga, mereka pergi ke rumah orang tua Briel lantaran di apartemen hanya ada satu kamar saja. Malam ini mereka akan menginap di sana.


🍂


Seorang satpam jaga malam menghampiri pintu gerbang. Dia membukakan pintu untuk Briel lantaran ia sudah hapal dengan mobil Briel itu. Tanpa menunggu lama, Briel pun masuk ke dalam kawasan rumah orang tuanya.

__ADS_1


Suasana gelap namun terang. Tak ada aktivitas di sana lantaran hari sudah larut.


"Bayang ... Apa kita tak mengganggu tidur mereka? Ini sudah terlalu larut untuk bertamu, Bayang," ungkap Gea dengan mulut dan hidung yang tertutup oleh masker lantaran tak tahan jika berdekatan dengan tubuh Briel. Wajahnya terlihat cemas, khawatir. Ia menatap rumah besar itu dengan tatapan yang tak enak hati. Ia tak ingin mengganggu waktu beristirahat kedua mertuanya.


Briel menghadap ke arah Gea.


"STOP!!" titah Gea. Ia tak ingin Briel menyentuhnya. Seketika Briel mengurungkan niatnya. Ia menghela napas panjang lantaran harus bersabar menghadapi ibu hamil muda.


"Yayayaya baiklah." Briel mengalah. Ia tetap berada di tempat tanpa berusaha lagi untuk menyentuh Gea.


"Mereka gak bakalan terganggu Gey. Tenang saja. Mereka pasti malah menyambutmu ketimbang anaknya yang disambut," ucap Briel dengan nada yang melas, namun sebenarnya hanyalah gurauan semata. Nyatanya Briel malah bersyukur jika kedua orang tuanya menerima Gea apa adanya.


"Heeihh ... Bisa saja Bayang," ucap Gea dengan sedikit salah tingkah yang Gea tunjukan pada Briel. Kasih sayang mereka selalu bisa ia rasakan setiap berjumoa dengan mereka.


"Sudah ayo masuk."


Briel dan Gea membuka pintu mobil lantas segera turun dari mobil. Mereka berjalan masuk dengan Briel yang berjalan di belakang Gea lantaran Gea tak ingin mencium aroma tubuh Briel.


Briel menekan bel pintu. Tak lama kemudian datanglah pembantu rumah tangganya membukakan pintu untuk mereka berdua.


Malam itu begitu sepi. Bahkan kehadiran mereka berdua pun tak diketahui oleh Frans dan Tere. Mereka tak turun lantaran sudah terlelap dalam dunia mimpi mereka. Gea menempati kamar Briel sedangkan Briel menempati kamar kososng yang bersebelahan dengan kamarnya dahulu.

__ADS_1


🍂


Sementara itu di sisi lain, Runi tengah mencuci kemeja Adam yang beberapa hari lalu ia kotori. Wajahnya terlihat panik, lantaran noda itu sulit untuk dihilangkan dari kain berwarna putih itu.


"Astaga ... kenapa sampai lupa sih? Bagaimana ini jika tidak hilang ..."


Noda itu sulit dihilangkan lantaran terlalu lama didiamkan dalam keadaan seperti itu. Beberapa hari bukanlah waktu yang singkat. Aktivitas sehari–hari yang Runi jalani, membuatnya lupa akan satu hal itu. Padahal lusa kemeja itu harus sudah berada di tangan Adam dalam keadaan bersih.


Runi benar–benar merutuki dirinya akan kecerobohannya. Ia tak akan tahu bagaimana nasibnya jika berhubungan dengan atasan gila yang sangat menyebalkan baginya.


Berkali kali Runi mencoba menghilangkan noda itu. Namun hasilnya tetap sama.


"Ah bodo ah! Urusan nanti dipikirkan nanti. Udah terlanjur, mau bagaimana lagi?" putus Runi.


Tak ada jalan lain. Runi sudah menyerah dengan apa yang ia lakukan. Ia mengakhiri aktivitasnya itu. Ia menjemur kemeja itu agar baunya tak apek.


🍂


//


Happy reading gaess,

__ADS_1


Jangan lupa bahagia ❣️❣️


__ADS_2