
"Hahahaha bisa aja kamu Chik. Memang pacarmu kemana?" tanya Dela.
"Biasa dia. Terlalu sibuk kerja hingga lupa bagaimana caranya jalan sama pacar!" keluh Chika sembari mengaduk kesal minumannya.
Mereka berdua bercengkerama di sebuah restoran tempat mereka janjian. Di depan mereka telah tersaji banyak makanan. Bergosip atau bergibah ria adalah hal pokok yang wajib ada tatkala mereka bertemu.
"Untuk kali ini biar aku saja yang traktirmu, Chik," ucap Dela santai namun terkesan sombong.
"Wihh dah banyak duit ya sekarang," ucap Chika antusias.
"Tapi mau gak banyak duit bagaimana? Punya suami aja tajir seperti itu," goda Chika kemudian.
Dela tersenyum sombong. Pujian adalah amunisi yang sangat ampuh untuk menge–push jiwa kesombongannya yang sudah mendarah daging. Tidak ada pujian saja sombong, apalagi kalau ada?
"Mau kemana lagi kita?" tanya Chika.
"Kemana aja dong yang penting kita happy. Ayok dah pergi dari sini."
Dela ingin menghabiskan waktunya hari itu untuk bersenang–senang.
Mereka berdua keluar dari resto itu. Dari sana Dela melihat Gea berjalan bersama Hendri dalam jarak yang cukup dekat. Bahkan mereka sekarang tengah berhadapan.
"Wih dah dapat gandengan baru nih. Tajir pula," sindir Dela merendahkan.
Bukan tanpa alasan. Gea yang ia kenal, calon suami Gea telah menikah dengannya. Dalam waktu dekat Gea sudah bekerja dengan orang kaya sebagai pembantu. Dan sekarang ia melihat Gea berjalan bersama seorang pria kaya dengan penampilan Gea yang berbeda. Selama ini juga, Dela tidak pernah tahu siapa itu Hendri.
"Wah wah wah, gak nyangka ya. Ternyata Gea yang kelihatannya polos …." Chika menjeda ucapannya. "…ternyata bisa begini juga."
Chika melihat penampilan Gea dari ujung kepala sampai ujung kaki. Pandangan matanya pun terlihat begitu merendahkan. Begitupun juga dengan Dela.
Gea hanya melirik mereka berdua dengan malas. Hendri membenarkan jasnya saja. Bahkan ia tak sudi melihat keberadaan Dela dan Chika.
"Widihh rupanya ada orang sombong Chik. Ayo kita pergi saja!" sindir Dela kemudian. Mereka berdua pergi menjauhi keberadaan Gea dan Hendri.
Gea menghirup napas dalam–dalam lalu mengeluarkannya perlahan. Rasanya begitu dongkol mendengar penuturan dua makhluk yang berhadapan dengannya tadi.
"Dasar setan!" umpat Gea.
Hendri mengelus pundak Gea dengan lembut. "Sudah biarkan. Jadi makan tidak?"
"Oh ya harus jadi dong, Kak. Melihat rupa mereka semakin membuatku lapar karena energiku terbuang sia–sia," ucap Gea dengan nada yang masih ketus. Kekesalan masih meraja di hatinya.
"Ya sudah ayo."
Gea mengangguk sembari tersenyum. Hendri hanya menggeleng ringan melihat Gea yang secepat itu merubah suasana hatinya.
"Aneh."
Hanya itu kata yang Hendri gumamkan dalam hatinya.
🍂
__ADS_1
"Aaaa sudah lama sekali aku tidak main ke rumahmu, Kak," ucap Gea.
Ia masuk ke dalam rumah tanpa diminta. Bahkan ia langsung menuju halaman belakang. Rumah itu tidak begitu luas, namun terlihat asri dan nyaman untuk ditinggali.
Di belakang rumah, Gea melihat banyak pohon buah. Pohon–pohon itu berbuah lebat, terutama jambu dan mangga. Melihat buah itu membuat Gea ngiler, ingin memakan buah–buahan itu.
"Wahh kayaknya enak tuh buah mangga sama jambu kalau dimakan pakai sambal lotis."
Membayangkannya saja sudah membuat Gea menelan salivanya sendiri berulang kali.
🍂
"Eh … Gea tadi kemana ya?" tanya Hendri dengan dirinya sendiri setelah ia selesai menghubungi Briel untuk memberitahu keberadaan Gea saat ini.
Hendri berjalan mencari di mana Gea berada.
"Mbok Ratih, dimana Gea?" tanya Hendri pada pembantunya yang berusia 50 an tahun.
"Tadi saya melihat Non Gea ke halaman belakang, Juragan."
Ratih memanggil Hendri dengan sebutan juragan, karena Ratih berasal dari Jawa Tengah, yang biasa memanggil tuannya dengan sebutan juragan.
Hendri mengangguk ringan, lalu berlalu mencari Gea.
"Astaga Gea!!!!" teriak Hendri.
Hendri berlari dari pintu ke bawah pohon mangga tatkala ia melihat Gea tengah berdiri di atas pohon dengan satu tangan yang merangkul dahan pohon sedangkan tangannya yang lain mencoba meraih mangga yang ia inginkan. Lagi–lagi Hendri menepuk dahinya. Bahkan tangannya sudah berkacak pinggang melihat kelakuan Gea yang sangat aneh dan berbahaya.
"Ingin mangga, Kak."
"Kenapa gak minta bantuanku saja sih?"
"Kelamaan kalau nunggu Kakak."
"Aihh astaga .... tapi kenapa tidak menggunakan galah saja?"
Hemdri menepuk dahinya. Ia hanya menyebut di dalam. hati.
"Pengin manjat juga, Kak."
Gea memperlihatkan deretan gigi putihnya itu.
"Hedehh …. Turun Gey! Biar aku yang manjat."
"Gak mau!"
Gea tetap mempertahankan pendiriannya. Ia bahkan mulai meraih kembali buah–buah mangga itu.
"Kak tangkap!"
Gea melempar buah mangga itu agar Hendri menangkapnya.
__ADS_1
Setelah cukup terkumpul, Gea turun dari pohon mangga itu. Ia berjalan ke dapur, meminta Ratih untuk membuatkannya bumbu lotis. Ia sendiri mencuci mangga yang ia petik tadi sedangkan Hendri memetikkan jambu air yang ada di halaman belakang.
"Hemm"
Gea menikmati mangga yang ia potong tanpa ia kupas dengan mencocolnya pada sambal itu. Rasanya begitu segar dan nikmat. Sedangkan Hendri menatap Gea dengan ekspresi seperti menahan rasa asam, padahal ia sendiri tak mencicipinya.
"Enak Gey?"
"Enak" jawab Gea sembari terus memakan buah itu.
"Edeww Gey, apa enaknya makan buah seperti itu. Mangga muda dimakan. Rasanya pasti asem… hihh …."
Hanya dengan membayangkan saja, Hendri bergidik ngeri dengan rasa asam mangga muda itu.
"Mau Kak?"
Gea menyodorkan sepotong mangga muda itu kepada Hendri. Tanpa berpikir lama, Hendi bahkan menolaknya dengan tegas. Hendri mengerutkan wajahnya.
"Yaudah kalau tidak mau. Aku makan saja sendiri."
Gea mulai memakan mangga itu sampai ludes tak bersisa beserta jambu yang Hendri petik. Hendri hanya menemani Gea memakan buah buahan itu.
"Non Gea hamil ya?" tanya Ratih tatkala Gea masuk ke dapur.
"Enggak tuh Mbok," jawab Gea. Pasalnya ia tak mengalami morning sickness selama ini. Yang ia tahu ibu hamil muda sering mengalami morning sickness di trismester pertama.
Ratih terdiam sejenak. Menurut pengalamannya, banyak mama muda hamil muda yang suka dengan buah buahan yang masam seperti mangga muda. Apalagi melihat tingkah Gea yang cukup aneh menurutnya.
Gea menatap Ratih penuh selidik. "Memangnya kenapa, Mbok?"
"Melihat perubahan yang ada dalam diri Non Gea, sepertinya Non Gea hamil."
Ratih juga melihat bentuk tubuh Gea yang mulai berubah dan agak berisi juga.
"Eh? Tapi masak iya Mbok?" ucap Gea ragu, setengah berpikir.
"Sudahlah Gey. Mending kamu nanti beli saja alat tes kehamilan. Apa itu namanya aku lupa," ucap Hendri yang muncul dari kamarnya.
"Test pack"
"Nah itu pokonya. Nanti kita mampir dulu sekalian mengantar kamu pulang."
Gea mengangguk. Ia setuju dengan usulan Hendri. Ia juga penasaran apakah ia sudah hamil atau belum.
🍂
//
Happy reading gaeess
Jangan lupa bahagia 💕💕
__ADS_1