
"Hemmss .…"
Gea menghela napas. Kali ini dengan senyum cerah di wajahnya setelah turun dari mobil. Ini kali pertamanya menginjakkan kaki di perusahaan di waktu siang. Di tangannya terdapat sebuah rantang makanan berisi makan siang untuk Briel.
Ia berdiri sambil menengadah ke langit. Kemudian ia menatap gedung tinggi itu. Cukup lama ia berdiam diri seperti itu.
"Semoga Bayang suka dengan makanan yang aku bawa," ucapnya bermonolog dengan dirinya sendiri. Ia mengembangkan kembali bibirnya melengkung ke atas.
Suara derap sepatu yang ia pakai, terdengar seirama dengan seberapa cepat ia melangkah.
Yeahh … saat ini semuanya berubah. Ketika ia memasuki gedung, semua karyawan yang semula tak mau meliriknya, bahkan meremehkannya, sekarang mereka semua menyapa Gea. Bahkan ada yang menunduk hormat pada Gea.
Gea yang memang telah terbiasa dengan keadaan seperti itu hanya membalas sapaan mereka dengan senyuman. Tak ada rasa angkuh ataupun tinggi hati di hatinya. Bahkan rasa berkuasa sebagai istri CEO pun tak pernah terbesit sedikitpun di benaknya. Tak ada hal yang istimewa. Baginya, semuanya sama saja. Tak ada yang membuat di antara mereka berbeda.
"Nona Gea …."
Tiba–tiba saja Gea mendengar suara seorang wanita memanggilnya dari arah samping. Gea menghentikan langkahnya. Ia melihat seorang wanita berjalan menghampiri Gea dengan langkah tergesa.
Wanita itu berada tepat di hadapannya. Ia menunduk hormat dengan tangan yang menekuk sopan di depan badannya.
"Nona Gea …." panggilnya lagi. Ia mengerahkan keberaniannya untuk menatap Gea.
"Ya?" sahut Gea lembut. Ia tersenyum. Wajahnya bertanya–tanya. Matanya menatap mata lawan bicaranya. Sorot matanya menuntut sebuah penjelasan dari lawan bicaranya.
"Terimakasih …" ucap wanita itu. Tulus. Itu adalah kata yang bisa digambarkan dari apa yang terucap dari bibir wanita itu. Wanita itu tersenyum haru. Matanya berkaca–kaca. Bahkan di sudut mata itu terdapat genangan air yang sewaktu–waktu bisa jatuh karena pelupuk mata tak bia membendung lagi air itu.
__ADS_1
Gea masih terdiam, menunggu wanita itu melanjutkan ucapannya.
Wanita itu mengambil napas. "Terimakasih karena kebaikan hati Anda, saya dan keluarga saya masih bisa mencukupi kebutuhan kami sehari–hari…" Wanita itu menjeda ucapannya. Gea masih menunggu kelanjutan rangkaian kata selanjutnya, tak berniat untuk memotong apa yang ingin wanita itu sampaikan.
"Dan maaf. Maaf atas apa yang telah saya lakukan terhadap Anda. Bahkan Anda tak membalas perbuatan yang telah saya lakukan terhadap Anda. Terimakasih …."
Wanita itu berniat tersungkur di depan Gea. Namun Gea tak mau. Dia bukanlah manusia yang layak untuk disembah.
"Eh eh .... Jangan seperti ini Mbak Ira," ucap Gea.
Yeah …. Dialah Ira, karyawan yang beberapa waktu lalu berusaha menjatuhkan Gea dengan segala fitnah yang ia buat.
Gea menahan pundak Ira agar tak melanjutkan niatnya untuk tersungkur di depan Gea. Gea menahan agar Ira tetap berdiri di hadapannya. Ira menatap Gea bertanya–tanya. Tanpa aba–aba, Gea memeluk hangat tubuh Ira yang tinggi mereka hampir sama.
Tak disangka, Ira menangis dalam pelukan Gea. Ia menangis tersedu. Antara bersyukur dan juga malu. Ia tak mengira akan semudah itu mendapat maaf dari orang yang ia sakiti. Gea menepuk ringan punggung Ira. Lembut sekali. Rasa nyaman dan hangat mengalir lembut di tubuh Ira.
Tak lama kemudian, Gea melepaskan pelukan mereka.
"Maaf telah membuat baju Anda basah," ucap Ira gusar. Ia takut Gea marah padanya. Segera ia ingin mengelap baju Gea. Gea mencekal lembut tangan Ira. Gea berusaha mencegahnya lagi.
"Tak apa Mbak." Gea melepas perlahan genggaman tangannya pada pergelangan tangan Ira.
Ira pun mengerti. "Sekali lagi maaf dan terimakasih Nona," ucap Ira kemudian.
"Sudahlah Mbak, yang lalu biarkan berlalu. Sekarang, kita mulai dari awal. Anggap yang lalu sebagai pelajaran hidup Mbak Ira agar tak mudah menghakimi orang lain bahkan memfitnah sebelum mengetahui apa yang sebenarnya terjadi. Jangan lakukan lagi pada orang lain Mbak." Gea mengucapkannya lembut. Tak ada rasa dendam sedikitpun di dalam hatinya.
__ADS_1
Lagi–lagi, buliran air bening sudah siap membasahi pipinya. Ira mengangguk mantab sembari mengusap air matanya.
"Sudah. Lanjutkan pekerjaan Mbak Ira."
Setelah mendengarkan ucapan Gea, Ira pamit undur diri. Gea menatap punggung Ira yang perlahan menjauh. Ia tersenyum kembali.
"Astaga … Aku harus ke ruangan Bayang," ucap Gea tatkala ia mengingat tujuan awalnya datang ke kantor.
"Nona Gea ..." panggil dua wanita pada Gea. Gea menunda niatnya kembali untuk menanggapi maksud dua wanita itu.
Mereka berdua adalah Susi dan Lala. Mereka melakukan hal yang sama seperti yang Ira lakukan. Mereka meminta maaf pada Gea.
Memang baru hari ini mereka bisa bertemu dengan Gea. Karena selama beberapa waktu ini, di sisa waktu Gea bekerja sebagai cleaning service, Briel tak membiarkan Gea pergi dari sampingnya. Pekerjaan Gea hanya duduk menemani Briel di ruangannya, tanpa melakukan tugas seperti yang dilakukan oleh cleaning service lainnya.
🍂
Haii semuaa sembari menunggu Asa up, kalian bisa mampir juga ke novel keren dari kakak online Asa di bawah ini 🤗
🍂
//
Happy reading gaess
__ADS_1
Jangan lupa bahagia 💕💕