
Surrrllpp
Gea meminum jeruk hangatnya sedikit demi sedikit. Ia duduk di kursi dengan punggung yang bersender pada punggung kursi. Rasa manis bercampur masam sangatlah memanjakan lidahnya. Ia menatap jauh ke arah luar jendela yang ada di kamar si kembar.
"Nyonya, popok si kecil tinggal sedikit," ungkap Minah yang menghampirinya.
"Iya Bik, nanti sore aku akan berbelanja dengan suamiku."
Wajah Gea cemberut. Sebenarnya sudah sejal kemarin ia mengajak Briel untuk pergi membeli perlengkapan bayi. Namun ada saja alasan yang membuat mereka tidak jadi pergi. Dan kebanyakan alasan itu dari Briel yang selalu berurusan dengan kantornya.
Ia bertekad, jika Briel beralasan lagi untuk tidak bisa berbelanja dengannya, ia akan belanja sendiri baik tanpa ataupun seizin Briel. Awalnya dia Bayinya butuh perlengkapan itu. Ia tidak bisa membiarkan mereka kekurangan.
🍂
"Run, bisa temani aku ke mall tidak?"
Lagi–lagi Briel masih belum pulang. Ia menghubungi Runi untuk menemaninya belanja, dari pada ia belanja sendirian. Ingin ia meminta Tere, tapi Tere tengah tidak enak badan. Tidak mungkin ia membiarkan Tere yang belum pulih untuk menemaninya.
"Aduh maaf Gey, aku belum bisa pulang. Aku masih di tahan Bos Gelo untuk lembur di kantor."
"Yaaaah ..." Gea kecewa lantaran semua orang tidak ada yang bisa menemaninya.
"Oke deh kalau gitu. Makasih Run, bye."
"Bye Gey"
Gea mematikan sambungan itu. Gea menghela napas panjang. Mau tidak mau ia harus pergi belanja sendirian. Ia meletakkan gawainya kasar. Ia mengambil tas kecil untuk menyimpan dompetnya.
Gea memutuskan untuk membawa mobilnya sendiri tanpa bantuan sopir.
🍂
Di tangan Gea kini ada dua set sabun. Yang harus ia pilih. Ia kebingungan untuk memilih sabun mana yang cocok untuk kedua buah hati mereka.
"Astagaa ... Aku bingung yang mana. Apa aku beli dua–duanya ya?" Ia bermonolog dengan dirinya sendiri.
Pada akhirnya ia memasukan keduanya ke dalam troli belanjaan.
"Maaf Gey, Kakak telat."
Hendri datang dengan langkah tergesa. Gea menatapnya datar. Gea menatap jam yang ada di pergelangan tangannya.
__ADS_1
"Dua puluh menit lima puluh satu detik," ucap Gea. Ia benar–benar menghitung berapa lama Hendri terlambat.
"Astaga sampai dihitung segala," keluh Hendri. Baru kali ini dia terlambat, tapi sekalinya terlambat Gea menghitung waktunya.
"Ya iyalah, Kak. Kan kasihan juga mereka berdua aku tinggal terlalu lama. Mereka masih membutuhkanku, Kak," ucap Gea sembari memilih–milih popok yang menjadi tujuan utamanya.
"Iya deh mama muda."
"Briel ke mana? Kenapa dia tidak menemanimu malahan kamu m mintaku untuk menemanimu?" tanya Hendri. Tidak biasanya Briel melanggar janji seperti itu.
"Gak tau ke mana. Sibuk kali."
Gea masih menyimpan kekesalan dengan suaminya itu. Ia bahkan ke mall saja tidak berpamitan pada Briel. Jawaban Briel sudah bisa ditebak. Ia tidak akan membiarkan Gea pergi sendirian dan meminta Gea untuk menunggunya.
Hendri hanya mengangguk tanpa berniat untuk menimpali. Menimpali Gea hanya akan terkesan seperti kompor menyala yang bersiap untuk menyalakan bara api lebih besar.
"Gimana dengan baby twins?"
Semenjak kembali ke kota, Hendri belum sempat mengunjungi mereka. Banyak hal yang harus ia selesaikan di luar kota. Hal itu membuat kesibukannya meningkat. Biasanya dahulu ia berbagi tugas dengan Gea, namun kini berbeda. Ia sendirian menghandle semuanya.
"Ada. Kakak sih tidak pernah mengunjungi mereka. Kalau mereka gak kenal pamannya jangan salahkan mereka." Gea menjawab dengan gurauan berbalut kekesalan.
"Iya tau..."
Gea tidak bisa lagi memprotes apa yang Hendri lakukan. Pasalnya proyek yang mereka garap sekarang sangatlah menyita waktu. Sore itu Hendri memang sengaja menyisihkan waktunya untuk menemani orang yang selama ini ia anggap sebagai adiknya. Selain rindu yang menggebu, ia juga ingin melihat baby twins.
🍂
"Shitt! Kenapa harus sekarang sih, Dam? Gara–gara ini aku ingkar lagi dengan istriku."
Briel menggerutu. Ia meletakkan dokumen dokumen itu kasar. Ingin rasanya ia merobek tumpukan tumpukan berkas itu, tapi sayang juga. Karena proyek dengan profit besar menantinya.
"Ya kan memang harus selesai cepat Bos. Kalau ingin untung ya harus berkorban sementara. Kalau tidak mau ya sudah kita bubar."
Adam berucap tanpa menoleh sedikitpun. Tatapan matanya terfokus pada layar komputer yang menyala. Tangannya sibuk menari–nari di atas keyboard hingga tercipta bunyi ketikan dari sana.
"Ck tapi gegara ini aku harus menghadapi singa betina yang merajuk."
Briel meratapi nasibnya. Gea bukanlah tipe istri yang rewel. Namun sekali marah bisa membuat Briel kewalahan.
"Itu deritamu," ucap Adam tanpa mau tahu. Untuk kali ini ia ingin menertawakan sahabatnya itu. Pasalnya sering kali ia membuatnya tersiksa sendirian. Namun kali ini mereka harus bekerja sama dan pada akhirnya Briel turut merasakan deritanya.
__ADS_1
"Mana makananku?" ucap Briel. Ia bahkan sampai lupa tidak makan siang. Ia teringat belum makan ketika perutnya sudah berbunyi meminta untuk diisi.
"Eh iya ... Ke mana itu Runi?" Adam menyadari sesuatu. Sudah cukup lama ia meminta Runi untuk mencari makan. Namun sampai sekarang Runi masih belum sampai.
"Suruhlah dia segera ke sini dengan makanan."
Rasa lapar yang menyergapnya, membuat Briel tidak sabaran dan ingin memakan siapapun orang yang di sana. Ia membutuhkan energi untuk menyelesaikan pekerjaannya.
"Run segeralah kembali. Dalam waktu 20 menit tidak sampai juga, aku potong gajimu," ancam Adam kala ia menelpon Runi. Ancaman biasanya menjadi hal yang manjur untuk ia lontarkan pada Runi.
Adam mematikan sepihak sebelum Runi menjawab apapun.
"Idihh kopas lagi," sindir Briel. Potong gaji adalah senjata Briel untuk mengancam Adam.
Adam tersenyum cengengesan. "Kan yang penting manjur.
"Hmmm"
Briel hanya bergumam sebagai jawabannya. Wajahnya jutek, tidak enak dipandang.
🍂
"Aiss bagaimana ini ... Bos Gelo tetap saja Gelo. Apakah dia tidak tahu jika jam pulang kantor ini sudah dipastikan macet."
Runi menggerutu dengan 3 porsi makanan yang telah dibungkus. Ia duduk di dalam taxi sembari celingukan ke depan. Ia melihat antrian panjang mobil yang masih terjebak macet.
"Tau gini lebih baik aku tadi ngojek. Bisa melayang cuanku .... Gimana nasib barang yang belum ku check out di shoppa."
Di tengah kegentingan, Runi malah mengkhawatirkan belanjaannya yang masih di keranjang aplikasi online shop. Ia menunggu gaji bulan ini untuk bisa membeli skincare yang lagi promo dengan geratis ongkir. Jika bulan ini tidak ia check out, hanguslah sudah promonya itu.
"Aiihh ... Pak, Pak, berhenti depan ya, saya turun di sana aja."
Runi memilih untuk mencari tukang ojek yang bisa mengantarnya lebih cepat.
🍂
//
Happy reading gaes,
Jangan lupa bahagia 🤗💕💕
__ADS_1