
Malam pun tiba. Daniel dan Nico tengah duduk di teras samping Vila itu. Mereka menikmati kopi hitam khas negara itu yang selama ini belum pernah mereka icipi. Mereka cukup excited saat lidah mereka bersentuhan langsung dengan ciri khas rasa kopi hitam. Aromanya begitu menyengat, menusuk ramah ke dalam penciuman mereka, membuat mereka ingin segera menikmati kopi itu.
"Ini kali pertamaku meminum kopi senikmat dan sepekat ini. Pekat namun enak di lidah." Nico menghirup aroma kopi itu dalam–dalam lantas menyeruputnya sedikit demi sedikit. Begitupun juga dengan Daniel. Daniel memilih untuk menikmati kopi itu tanpa banyak bicara.
Mereka berdua memilih duduk di teras samping berdua. Xavier meminta mereka berdua untuk mengawasi tempat itu terhadap gerak–gerik mencurigakan. Xavier sadar, jika saat–saat itu adalah hari yang berbahaya untuk mereka terutama Gea, apa lagi Briel memang merencanakan penyerangan kepada Davin.
Sementara itu, di lain tempat, Gea tengah panik lantaran ia telah membaca pesan singkat dari Runi.
From Runi
Gey, aku butuh bantuanmu. Temui aku di jalan depan. Aku tidak bisa menemuimu di sana. Ibuku masuk rumah sakit dan aku ingin meminjam uang terlebih dahulu padamu.
Gea membaca pesan itu kembali. Ada kembimbangan di dalam hatinya. Ingin sekali ia menemui Runi, namun ia mengingat pesan Briel untuk tidak pergi ke mana pun, terutama pergi ke luar area Vila itu. Gea berjalan ke dana ke mari dengan gawai yang masih ia genggam.
Tiba–tiba saja dering gawainya kembali terdengar. Gea kembali menatap layar gawai itu.
From Runi
Aku mohon Gey, aku tidak ingin menyusahkan suamimu juga. Aku tidak enak hati padanya, karena suamimu itu bosku. Aku ingin kamu ke sini sendirian. Aku malu jika mereka semua juga mengetahui masalah ini.
"Aku harus bagaimana ini? Bayang tidak memperbolehkanku keluar sendirian. Tapi bagaimana dengan Runi? Dia sahabatku dan dia membutuhkan pertolonganku. Masak iya aku tega membiarkannya kesusahan sendirian di sana? Apa gunanya aku sebagai sahabatnya?" gumamnya lirih.
Pikiran Gea berkecamuk. Ia kesulitan untuk memilih apa yang ingin ia lakukan; memilih membantu sahabatnya atau berdiam diri menuruti apa kata Briel. Gea menepuk–nepuk gawainya ringan ke tangannya.
From Runi
Please ... tolong aku kali ini saja.
Gea membaca kembali notifikasi pesan yang masuk. "Pasti aman pasti aman. Aku harus ada bersamanya."
Gea bertekad. Hatinya mengiba. Ia tidak bisa tinggal diam. Ia akan lebih berhati–hati dengan segala kemungkinan yang ada.
"Mau ke mana Nyonya Briel?" tanya Daniel sembari meletakkan kembali cangkir yang semula ia pegang.
"Aaaa itu, aku hanya ingin mencari udara segar sebentar."
Nico dan Daniel saling beradu pandang lantas mengangguk satu sama lain.
"Kami temani Nyonya," ucap Nico.
__ADS_1
Gea mengerutkan dahinya. Ia harus berputar cara untuk memilih alasan yang tepat.
"Aa ... tidak usah. Aku bisa sendiri. Lagi pula aku tidak suka diikuti orang lain ..." ucap Gea sedikit ragu, "ya aku tidak suka ... begitu. Jadi jangan mengikutiku," titah Gea.
"Tidak bisa! Kami harus ikut bersama Anda," ucap Daniel kekeuh.
Gea menghela napas dalam. "Kalian tidak percaya denganku? Atau kalian tidak paham dengan ucapanku? Aku bisa sendiri!" Gea menekankan setiap ucapannya lantaran kesal dengan sikap mereka berdua.
"Permisi!"
Kondisi hati Gea yang berkecamuk dan pengaruh hormonal, membuatnya tidak stabil secara emosional. Gea pergi meninggalkan Daniel dan Nico. Mereka berdua masih terdiam dan duduk di kursi. Namun tidak sepenuhnya mereka membiarkan Gea hilang dari pengawasan mereka.
Namun sayang, ketika mereka mengikuti Gea, Gea telah dibekap dan pingsan. Info yang Gea dapatkan hanyalah jebakan semata. Davin tahu jika keamanan akan lebih diperketat dan mereka akan kesulitan untuk masuk. Mereka memilih memasang umpan agar target mereka sendiri yang mendatangi umpan.
Daniel dan Keil mendesah kesal. Mereka pada akhirnya mengikuti mobil yang membawa Gea dengan hati–hati. Mereka memilih hanya mengikuti mereka lantaran keselamatan Gea dan calon bayi itu dalam bahaya jika mereka main kebut–kebutan di jalan raya.
Daniel dan Nico mengambil gawainya untuk memberitahukan kepada anak buah Briel dan Bima. Tak lupa pula Daniel menghubungi Xavier yang ternyata sudah diberitahu oleh Runi.
🍂
"Sekarang!!" ucap Davin pada anak buahnya. Anak buahnya itu mengiyakan segala ucapan Davin.
"Dor!!!"
Sebuah peluru melesat menembus kulit kaki. Erangan keras memenuhi ruangan itu lantaran peluru panas itu menembus dan bersarang di kaki itu. Darah mulai menetes lantas mengucur perlahan, membuat sang empunya menahan sakit di kaki sebelah.
"Sial! Kau meninggalkanku di sana bersama cecunguk–cecunguk sialan di sana!"
"Perfect," ucapnya sembari memutar pistol dengan jari jemari sebelah tangannya tanpa menghiraukan suara samar itu. Wajah devil itu terlihat cukup puas dengan bidikan timah panas yang tepat tanpa meleset sedikitpun.
"Perfect perfect! Harusnya jangan di betis itu saja, tapi di jari jari kakinya juga."
Suara bariton itu terdengar lebih jelas. Tiba–tiba muncul seorang pria lagi dari balik pintu, tepat muncul dari belakang pria itu.
"Ck suka sekali kau menggangguku, Nico!" ucapnya. Ia mendengkus kesal lantaran ucapan yang ia anggap ocehan itu mengganggu pendengarannya. Di tengah kegentingan pun mereka masih beradu argumen satu sama lain.
"Hmm.." Daniel mengangguk ringan, memikirkan apa yang dikatakan Nico. "...tapi boleh juga."
Senyum pembunuh menguar begitu saja. Secepat kilat, Daniel mengarahkan pistolnya ke ujung jari jemari kaki anak buah Davin. Tak lama kemudian, sang anak buah pun mengerang kesakitan atas rasa sakit yang berlipat.
__ADS_1
"Woww benar katamu," ucap Daniel tanpa ada belas kasihan sedikitpun. Baginya tidak ada belas kasihan untuk manusia biadab sejenis Davin dan antek–anteknya.
Sedangkan Davin yang masih terkejut melihat serangan dadakan di depannya itu, menatap mereka geram. Gesit, ia mengarahkan pistol lantas menarik pelatuk ke arah Daniel, tepat di dadanya.
Dorr!!
Tak ada apapun yang terjadi. Hanya angin yang tertembus peluru itu, melesat jauh tanpa arah. Daniel berhasil menghindar dari serangan balik itu.
Daniel hanya tertawa, menertawakan bagaimana Davin menggunakan senjata api di tangannya.
"Heiihh sepertinya kita salah tebakan. Harusnya cukup kita saja yang menangani pun semua akan selesai hanya dengan mengibaskan tangan," ucap Nico sengaja mengejek kemampuan Davin dan antek–anteknya.
Yeah ... Mereka berhasil mengetahui di mana keberadaan Gea. Bukan tanpa sengaja, tapi mereka telah ditugaskan Xavier untuk mengawasi gerak gerik yang mencurigakan, untuk menjaga keselamatan istri sahabatnya. Namun mereka agak tertinggal setengah langkah. Komplotan Davin telah berhasil membawa pergi Gea, namun mereka berhasil mengejar dan menemukan di mana keberadaan Gea.
Davin tertawa sumbang. Ia masih seyakin itu dengan kemampuannya. "In your dream!"
Davin mengarahkan sebelah tangannya, memberikan instruksi kepada anak buah terbaiknya untuk menyerang Daniel dan Nico. Mereka saling baku hantam. Bunyi pukulan terdengar di indra pendengaran Gea, memenuhi seluruh ruangan itu.
"Aiss kenapa sesulit ini??" gumam Gea dalam hati.
Melihat mereka sedikit lengah, Gea berusaha melepaskan tali yang mengikat tubuhnya itu. Namun mereka terlalu pintar untuk menyimpul tali. Mereka mempelajari bagaimana kegagalan mereka saat waktu itu Gea berhasil melepaskan simpul tali dengan mudah.
Bugh
"****!"
Pelipis Daniel terpukul cukup keras dengan bogem mentah kepalan tangan. Ia menggelengkan kepalanya sejenak, mengusir rasa pusing yang menghantam.
"Ya ya ya ya lumayan," ucapnya dengan nada ejekan lantas kembali melanjutkan baku hantam. Mereka berdua di serang masal, tidak ada orang lain yang membantu mereka. Anak buah Briel dan Bima yang lain tengah berjuang pula mengalahkan anak buah Davin yang menjaga area itu.
"Rasakan ini!" ucap Nico. Ia sengaja membenturkan kepalanya dengan kepala sang lawan, membuat lawan terakhirnya terkapar tak berdaya.
Satu persatu anak buah Davin mulai tumbang. Davin yang mulai kewalahan pun menarik diri lantas mengambil pistol dan menodongkannya ke pelipis Gea. Ia mengunci tubuh Gea dari belakang.
"Mundur, atau nyawa ini akan segera melayang," ancam Davin dengan senyum liciknya. Hal itu membuat Daniel dan Nico tidak bisa berkutik.
🍂
//
__ADS_1
Happy reading gaess
Jangan lupa bahagia 🤗💕💕