Pengantin CEO Yang Tertukar

Pengantin CEO Yang Tertukar
Terhalang


__ADS_3

"Arrghh sial. Bukannya untung tapi buntung kalau aku juga menampung Papi yang sudah gak berguna itu," omel Dela sembari membukaโ€œ pintu apartemennya itu.


Ia memijat mijat ringan pelipisnya yang terasa berat.


"Apa ini?" ucapnya kala melihat sesuatu di atas meja.


Dela berjalan mendekat lantas mengambil kertas itu. Namun belum sampai tangannya meraih, ada rasa yang bergejolak tak enak dari dalam perutnya. Rasanya melilitโ€“lilit, membuat dirinya mual seketika. Tas yang ia bawa ia lempar seadanya di sana, entah jatuh di tempat seperti apa. Dela berlari menuju toilet yang paling dekat dengan ruang tamu.


"Hoeek ... Hoeek ... Hoekk ..."


Dela mengeluarkan isi perutnya. Namun tak ada yang keluar lantaran seharian ia belum memakan sedikitpun makanan.


Dela membasuh mulutnya dengan air yang mengalir. Bayangan serupa dalam cermin itu ia tatap cukup lama. Wajah yang pucat dengan keringat dingin yang mengalir. Lantas menunduk dengan napas yang terengah. Kedua tangannya bertumpu pada wastafel.


"Arrghh menyesal aku tidak mampir makan dulu sebelum pulang. Tahu begini kan aku makan dulu," gerutu Dela menyesali keputusannya tadi, keputusan yang ternyata salah kaprah. Niat hati ingin makan di rumah papinya, namun makan hatilah yang ia dapatkan. Bahkan asam lambung tinggi pun turut berbicara.


Dela menegakkan badannya. Ia mengumpulkan sisa tenaganya untuk berjalan kembali ke ruang tamu. Ia mengambil sebuah amplop putih besar di sana. Ia menatap dengan seksama dari amplop itu.

__ADS_1


"Apa ini?" ucapnya sembari menaikkan sebelah alisnya.


Penasaran, Dela membuka amplop itu. Dan betapa terkejutnya ia melihat selembar kertas tertera sebuah kata "cerai" di dalamnya. Sungguh, ia tak menyangka jika Davin sampai mau menceraikannya.


Dela memiringkan senyumnya. "Atas dasar apa dia menggugatku?"


Dengan yakin Dela beranggapan jika Davin tak memiliki alasan yang tepat untuk menceraikannya. Bahkan jika masalah pihak yang menggugat, harusnya dialah yang bisa menggugat Davin, bukan Davin.


Selama Dela kembali kepada Davin, Dela hanya dijadikan sebagai pemuas nafsu belaka. Bagi Dela, dari segi ketidakjelasan Davin pulang. Memberi nafkah dan tugas Davin sebagai suami pun sudah jauh dari kriteria. Namun untuk kali ini, Dela tak rela melepaskan Davin. Bagaimana dengan hidupnya jika Davin juga menceraikannya? Setidaknya walaupun uang yang diberikan kepadanya tak sebanyak dulu, namun ia tak perlu capek kerja.


๐Ÿ‚


"Kalau ditanya itu jawab!" Amarahnya tak terbendung lagi. Tak ada kata damai dari setiap kata yang Dela lontarkan.


"Jawab apa? Bukannya itu sudah jelas? Kurang jelas apa lagi?" tanyanya datar.


Tak ada jawaban. Davin malah balik bertanya.

__ADS_1


Dela tersenyum licik. "Ya ya ya ya sudah jelas... Dan juga sudah jelas kita tidak akan bisa cerai dan kauu .... Harus menafkahiku dengan baik."


Davin tersenyum meremehkan. "Itu tidak akan pernah terjadi."


"Lihat saja nanti!"


Dengan penuh keyakinan, Dela keluar meninggalkan apartemen itu. Malam itu ia memilih untuk menginap di hotel. Ia tak memiliki tempat lain kecuali di sana. Beruntung saldo kartu debitnya masih cukup untuk menanggung hidup mewahnya beberapa hari di sana.


"Lakukan apa yang ingin kau lakukan. Come on, Baby, aku menunggumu!" ucap Davin acuh, selepas Dela pergi.


๐Ÿ‚


Dalam ruangan berbalut kemewahan, Dela berdiri di balkon sembari menatap langit hitam dengan sedikit bintang bertaburan tanpa rembulan. Gemerlip lampu perkotaan menjadi pemanis di malam itu.


Dela tersenyum licik. "Kukira awalnya kau adalah petaka. Ternyata adanya dirimu membawa keuntungan juga bagiku."


Tanpa sadar, sebuah percikan api cinta yang sebelumnya ia mengira tak akan pernah tumbuh, nyatanya sekarang pun rasa itu mulai menelusup ke dalam hati Dela. Tujuan yang semula hanya perihal harta dan balas dendam semata, ternyata telah berubah jadi sebuah perasaan yang belum ia mengerti. Niat hatinya masih dipenuhi oleh nafsu dan ego, yang menutup kata hati kecilnya.

__ADS_1


__ADS_2