Pengantin CEO Yang Tertukar

Pengantin CEO Yang Tertukar
Terdampar (Berdua di Jalan)


__ADS_3

Mereka berdiam beberapa saat. Sesekali Adam menolehkan kepalanya ke kiri dan ke kanan menatap setiap ujung jalan, berharap ada seseorang yang lewat di malam itu. Namun tidak ada satupun kendaraan yang melintas di tempat ini. Mau bagaimanapun hari telah larut dan lagi, kawasan itu bukanlah kawasan perkotaan yang mobilitasnya tinggi.


"Heihh ... "


Tidak ada yang ia lihat, Adam kembali ke dalam mobil. Ia mengambil gawainya. Sekilas di layarnya ada banyak panggilan tak terjawab dari Briel.


"Aihh ... Bagaimana ini? Aku harus segera sampai ke rumah sakit."


Adam memutuskan untuk menghubungi Briel balik. Namun siapa sangka. Baru sedetik suara dering terdengar dari ujung sana, gawai Adam kehabisan baterai. Gawai itu mati seketika.


"Aaaaa ... kumohon jangan mati." Adam berusaha menghidupkan gawainya. Namun sekeras apapun ia mencoba, tidak akan pernah bisa kecuali dengan di–charge kembali.


Runi yang masih ada di trotoar pun menghampiri Adam.


"Kenapa?"


Adam menghembuskan napasnya kasar. Adam hanya mengangkat sebelah tangan yang memegang gawai. Jarinya menekan tombol yang biasa ia gunakan untuk menghidupkan gawai. Adam menunjukkan apa yang terjadi dengan gawainya.


"Yahhh ... Terus kita gimana?" ucap Runi melas. Ia meratapi bagaimana nasibnya jika sampai pagi dia harus bersama dengan Adam di jalanan seperti itu. Lebih baik di rumah kontrakannya yang sempit dari pada harus di jalanan seperti itu.


"Makanya bantu mikirlah! Aku juga bingung mau bagaimana. Apa lagi Bunda juga memintaku untuk menjemputnya sekarang," sungut Adam. Adam benar–benar gelisah. Bagaimana dengan Tere kalau ia tidak sampai rumah sakit tepat waktu.


Runi berdecak kesal. Reflek ia menggigit–gigit kecil kukunya. Ia juga bingung memikirkan hal itu. Apa lagi ia juga lupa tidak membawa gawai bersamanya di dalam tasnya.


"Pinjam punyamu," ucap Adam kemudian.


Runi memperlihatkan deretan gigi rapinya, tidak enak. "Punyaku tertinggal."


Adam mendesah kesal. Ia tidak memiliki harapan lagi. Tidak ada yang tersisa yang bisa ia gunakan untuk menghubungi orang.


"Baiklah ... aku harus memperbaikinya sendiri."


Adam mulai mengeluarkan segala peralatan yang selalu ia bawa di dalam mobil itu. Ia mengambil ban yang masih utuh. Ia menggantinya sendirian. Cukup sulit bahkan sulit. Penerangan yang kurang membuat aktivitasnya sangat terhambat. Ia tidak mempunyai alat yang bisa ia gunakan untuk meneranginya.


"Ambilkan kunci," titah Adam tanpa menoleh ke arah Runi. Segera Runi mengambilkan kunci dari kotak peralatan itu lantas memberikannya pada Adam. Adam menerima kunci itu segera dengan pandangan yang masih terfokus pada ban.


Cukup lama Adam berkutat dengan aktivitasnya. Hal yang tidak biasa ia lakukan ternyata cukup lama untuk ia kerjakan. Sedangkan Runi mengamati bagaimana Adam mengganti ban itu dengan berjongkok di samping Adam. Beruntung yang dia pakai saat itu adalah celana, meski celana yang ia pakai terbilang cukup pendek. Setidaknya ia tidak perlu ribet karena kurang baju yang ia pakai kurang nyaman.


"Selesai."


Terlihat senyum lega di tengah kegelapan di sana. Ada bangkit berdiri. Tangannya sibuk menepuk–nepukkan tangan, membersihkan tangannya dari debu–debu yang menempel.


"Sudah?" tanya Runi.


Adam mengangguk. "Sudah. Sini kotaknya."


Adam mengambil kotak peralatan yang Runi bawa. Ia memasukkan ban rusak dengan kotak peralatan itu ke dalam bagasi.


"Mari kita berangkat."


Adam memasang sabuk pengaman lalu menyalakan mesin mobilnya itu. Namun siapa sangka. Hal yang tidak disangka kembali terjadi. Berulang kali Adam mencoba menstarter mobilnya, namun mobil itu tidak kunjung nyala.

__ADS_1


"Kenapa lagi?" tanya Runi. Ia menatap Adam dengan penuh tanda tanya.


Adam mengambil napas dalam lantas menghembuskannya kasar. Tangannya memukul stir cukup keras.


"Bahan bakar habis," ucapnya datar. Baru saja satu masalah terselesaikan, masalah baru datang lagi. Mereka kehilangan harapan untuk bisa paling tidak kembali ke villa.


Runi menjatuhkan punggungnya ke punggung kursi. Ia menoleh ke arah Adam. "Terus gimana dong?"


"Entahlah. Nunggu mungkin. Atau kamu mau mendorong mobil ini sampai depan sana?"


"Heiihh tega ya kamu nyuruh cewek dorong mobil malam–malam?! Badanku sudah kurus. Mau jadi apa diriku? Yang ada tinggal tulang ma kulit kek tengkorak hidup!"


Adam memutar bola matanya malas. Itu salah satu cara yang bisa ia lakukan. "Ya kan dah mirip. Sekalian ajalah! Banyak aja alasan."


"Ya memang benerlah. Lihat aja badanku!" ucap Runi kesal. Ia terdiam sejenak. "Berapa kilo meter?"


"Empat atau lima kilo meter"


Runi menganga. Ia seakan ingin menjatuhkan rahangnya. Jawaban Adam membuat otaknya seakan berhenti bekerja.


"Hah?! Kamu ingin membunuhku?"


Mendorong mobil dengan jarak yang jauh seperti itu mampu membunuhnya pelan–pelan. Mendorong 5 meter saja melelahkan, apa lagi 1000 kali lipatnya. Gila, pikir Runi.


"Ya memang segitu jaraknya," jawab Adam santai.


"Aaaaammm" Runi mengerucutkan bibirnya. Sungguh ia kesal, teramat kesal. Jika ia tahu akan seperti ini, ia memilih untuk tidak memaksa Adam untuk ikut.


"Yeee ... Salah siapa maksa ikut!"


"Hufft!"


Sungguh Runi ingin berteriak saat itu juga. Berjalan mencari bahan bakar itu sendiri sama saja mereka harus berjalan 10 kilo meter. Mau sampai kapan mereka sampai jika begitu.


"Ada charger tidak?" tanya Adam tiba–tiba. Matanya berbinar, ada harapan yang masih tersisa.


"Bentar aku cari." Runi sibuk mencari charger di dalam tasnya.


"Ada. Ini ... Buat apa?" tanya Runi penasaran.


"Pinjam."


"Iya ... Buat apa?"


"Untuk mengisi baterai ponselkulah! Gitu saja tidak tahu." Adam mengambil alih charger dari tangan Runi. Sebelah tangannya sibuk melepas kembali sabuk pengaman.


Benar–benar. Jawaban Adam benar–benar menyebalkan. Runi semakin merapatkan giginya, kesal. Ia menghirup udara dalam–dalam berusaha meminimalisir amarah yang begitu membuncah.


"Ya ya ya ya ... Memangnya bisa?"


"Bisalah."

__ADS_1


"Pake apa? Di mana?" tanyanya beruntun. Runi menyipitkan matanya. Ia tidak paham di mana Adam


Adam berdecak kesal. Pertanyaan Runi adalah pertanyaan yang tidak berbobot yang hanya akan membuat dirinya kesal.


"Di hidungmu!"


Runi tidak habis pikir dengan manusia di depannya itu. Benar–benar definisi pria paling menyebalkan sedunia. Ingin rasanya ia memukul kepala Adam dengan tangannya.


"Bisa tidak sih kamu bersahabat sebentar saja?"


"Tidak bisa."


"Ahh terserah!"


"Mau ikut atau di sini?" tanya Adam yang kini telah berada di luar mobil. Ia masih belum menutup pintu mobil itu.


Runi celingukan, melihat ke sekitar. Gelap dan sepi. Runi bergidik ngeri, takut–takut ada makhluk yang menghampirinya.


"Ikut!!!!"


Runi mengikuti langkah Adam. Ternyata Adam melihat ada halte di bawah penerangan lampu jalan yang cukup terang. Di sana ada colokan yang masih berfungsi. Adam mulai mengisi baterai gawainya. Mereka duduk berdua di halte itu.


Mereka diam tanpa kata. Runi yang sedari tadi duduk di sana mulai menggosok badannya dengan tangannya. Dingin mulai menyelimuti tanpa permisi.


"Dingin?"


"Udah tau kenapa tanya?" jawab Runi ketus.


Adam memutar bola matanya sebal. Mau bagaimanapun mereka tidak akan pernah akur.


"Kembalilah ke mobil."


"Tidak mau"


"Ya dari pada kamu kedinginan di sini?"


"Tidak mau ..." rajuk Runi layaknya seorang anak kecil. Bukan tanpa alasan. Ia takut sendirian di dalam mobil.


"Dasar bebal!"


Runi tidak menyahutinya lagi. Ia sibuk bagaimana ia harus menghangatkan badannya.


Sedangkan di satu sisi, Adam kasihan melihat Runi yang kedinginan seperti itu. Namun ia tidak bisa meninggalkan gawainya untuk menemani Runi. Terisinya baterai saat ini menjadi bagian penting untuk mereka bisa pulang.


🍂


//


Happy reading gaes,


Jangan lupa bahagia 🤗💕💕

__ADS_1


__ADS_2