
Briel keluar dari kamar mandi dengan jubah handuk yang ia gunakan. Ia tersenyum tatkala melihat baju kantornya sudah disiapkan oleh Gea.
"Istri yang baik," gumam Briel. Ia tak menyangka pagi ini Gea berkenan menyiapkan apa yang ia perlukan tanpa dia memintanya. Semalam ia memang berbicara pada Gea kalau hari ini dia mau pergi untuk mengurus masalah pekerjaan.
Briel segera memakai baju yang telah disiapkan Gea. Ia mematut diri di depan cermin. Ia mengamati penampilannya sendiri.
"Wow … seleran fashionnya bagus."
Briel memuji padanan baju yang telah Gea siapkan. Ia tidak menyangka, walaupun Gea wanita sederhana, tetapi Gea cukup mahir untuk menyiapkan stelan baju kantor.
Briel memakai pomade untuk membuat style rambut klimis. Tatanan rambut seperti itu membuat Briel terlihat lebih berwibawa.
"Tampan," ucap Briel saat tangannya menyisir rambutnya ke belakang. Jiwa narsisnya masih belum bisa hilang dari hidupnya.
🍂
Di dapur Gea berkutat dengan panci di tangannya. Ia tengah membuat nasi goreng. Ia meletakkan nasi goreng di dua piring. Tak lupa ia menambahkan telur ceplok setengah matang di atasnya.
Di tengah kesibukan Gea yang menyiapkan sarapan, Briel membantu Gea membawa dua piring berisi nasi goreng itu ke meja makan. Sedangkan Gea membereskan dapur yang masih berantakan. Di meja makan, Briel menyiapkan air minum untuk mereka berdua.
Mereka pun memakan sarapan mereka dengan tenang.
"Selesai," ucap Gea yang telah selesai mencuci piring kotor bekas sarapan mereka.
Ia pergi ke kamarnya untuk mengambil sling bag yang sering ia gunakan. Di kamar ia melihat Briel tengah mengambil berkas–berkas yang akan Briel bawa.
"Bang, aku berangkat dulu!" pamit Gea.
"Berangkat bersama saya aja Gey, agar lebih cepat sampai!" ajak Briel. Ia tidak tega melihat istrinya ini berangkat kerja menggunakan angkutan umum sedangkan dia menggunakan mobil.
"Aduh … pakai acara mengajak berangkat bersama lagi," batin Gea. Dia tidak mau berangkat bersama Briel karena ia tidak mau identitasnya terbongkar lebih cepat. Kemarin saja sepulang kerja, ia harus bersembunyi terlebih dahulu untuk menghindari orang yang mengintainya. Apalagi kalau dia sampai terlihat berangkat bersama Briel. Selesai sudah penyamarannya.
"Enggak … enggak usah!" tolak Gea cepat. Briel menatapnya heran dengan mengerutkan dahinya.
"Kenapa? Bukannya kalau bareng saya kamu lebih enak, tidak perlu mencari kendaraan umum. Lagi pula pasti lebih nyaman."
Baru kali ini Briel ditolak ketika menawarkan tumpangan pada orang lain. (Padahal baru kali ini juga Bang Briel menawarkan tumpangan pada orang lain. Jadi nggak heran juga Bang Briel 🤣🤣) Tapi banyak wanita di luar sana yang sering kali Briel tolak karena Briel merasa tidak nyaman.
"Emm … bukan begitu maksudku, Bang. Aku masih ingin naik bus saja untuk berangkat kerja." Gea masih kekeuh untuk tegap berangkat sendiri tanpa mau menjelaskan apa yang ia alami. Padahal ia sadar bahwa waktunya untuk perjalanan menuju tempat ia bekerja sudah mepet.
"Tapi ayolah, sudah siang ini. Jangan keras kepala!"
"Tidak aku tidak mau. Biarkan aku berangkat sendiri ya …" pinta Gea dengan tatapan matanya yang menggemaskan. Hal itu membuat Briel tersenyum.
"Baiklah, baiklah. Hati–hati di jalan."
"Yeyy" Gea bersorak senang sambil mengepalkan tangannya dengan semangat.
__ADS_1
"Bye, Bang. Aku berangkat," ucap Gea sambil berlari keluar apartemen.
Briel hanya menjawab dengan gumaman. Briel tersenyum sambil menggeleng melihat tingkah Gea yang menggemaskan di matanya.
🍂
Gea berlari menuju ruang ganti untuk berganti pakaian. Gea sudah terlambat dua puluh menit. Ternyata ia tertinggal bus. Bus yang seharusnya Gea naiki telah berangkat lima belas menit sebelum Gea sampai di halte bus dekat apartemen. Gea harus memesan ojek online yang mengharuskannya menunggu hingga sepuluh menit.
Ia berganti pakaiannya dengan cepat lalu mulai mengerjakan tugasnya dengan sigap.
"Gea, kamu dipanggil Pak Heri untuk ke ruangannya," ucap Runi.
"Duh tamat riwayatku," ucap Gea sambil menggigit bibir bawahnya. Nasibnya sudah di ambang hidup dan mati.
"Lah kamu sih, berangkatnya kesiangan. Jangan–jangan kamu keasikan main nih," goda Runi. Runi mengerlingkan sebelah matanya. Gea membulatkan matanya dan berdecak kesal. Ia menepuk punggung Runi cukup keras.
"Aaa … sadis sekali kamu Gey. Aku kasihan sama suamimu Gey. Jangan–jangan kamu siksa setiap malam," goda Runi semakin menjadi.
"Runi …!" ucap Gea kesal. Runi tertawa terpingkal–pingkal. Wajah Gea semakin ditekuk.
"Udah ah, aku mau menemui Pak Heri." Ia tidak mau berdebat lebih panjang dengan sahabatnya itu.
"Yaudah sana! Keburu nanti Pak Heri lebih marah."
Setelah itu Gea langsung pergi menemui Heri. Rasa was–was telah mengambil sebagian ketenangan di dalam hatinya. Sebenarnya tidak apa jika dia harus dipecat dari pekerjaan ini. Tapi untuk menemukan rekan kerja seperti Runi, ia tak menjamin bisa menemukannya. Dia juga harus repot untuk mencari pekerjaan baru.
"Selamat pagi, Pak." Gea menyapa Heri dengan hormat.
Gea pun duduk sesuai dengan perintah Heri.
"Sudah tahu apa kesalahanmu?"
"Sudah, Pak."
"Baiklah ini peringatan bagimu. Kerja bukan untuk main–main. Jika kamu sering terlambat, jangan bekerja di sini. Saya harap ini peringatan pertama dan terakhir."
"Sebenarnya, CEO kita yang baru ingin menemuimu sendiri karena kamu terlambat. Namun karena beliau ada urusan yang lebih penting, beliau menyelesaikan urusan yang lebih penting dari pada mengurusmu yang tidak penting!" sarkas Heri.
Gea hanya menundukkan kepalanya. Dia merasa tidak memiliki hak untuk berbica di sini. Mungkin jika dia adalah atasan Heri, ia akan menasihati Heri agar tidak merendahkan bawahannya. Namun di sini ia tidak memiliki wewenang itu.
"Sudah sana! Kembalilah menyelesaikan tugasmu. Jika kamu terlambat lagi, tidak ada surat peringatan kedua. Kamu akan langsung saya pecat!" tegas Heri.
"Baik, Pak. Ke depannya saya akan bekerja lebih benar lagi," ucap Gea sambil menunduk.
Setelah itu ia berdiri lalu berlalu meninggalkan ruangan Heri. Ia menggerutu dalam hati karena sikap Heri yang merendahkannya. Mugkin jika ia atasannya ia akan memberikan surat peringatan kepada Heri. Namun ia juga bersyukur karena CEO tempatnya bekerja tidak ada di sana. Setidaknya ia tidak dipecat hari ini.
"Gimana, gimana Gey?" tanya Runi saat ia melihat Gea menghampirinya dengan muka kesal.
__ADS_1
"Aku dikasih surat peringatan gara–gara terlambat. Tapi untung saja bukan Bos kita yang menemuiku. Bisa tamat riwayatku kalau sampai beliau yang menemuiku Run," ucap Gea dengan perasaan lega.
"Maksudmu ...?"
"Iya. Sebenarnya Bos kita yang mau menemuiku. Namun tidak jadi karena beliau ada kepentingan mendesak. Jadi ya sudahlah aku selamat." Gea tersenyum cerah.
"Makanya, kalau main jangan kelamaan dan kemalaman. Gini kan jadinya," goda Runi lagi. Gea berdecak kesal.
"Ck apaan sih kamu Run! Jangan bahas lagi ah! Geli tauk!"
"Ngaku aja kamu, Gey!" goda Runi lagi.
Gea memutar matanha malas. "Iya! Gue ngaku. Gue main kuda–kudaan sama dia. Karena malas aku tendang dia sampai ke sofa! Puas?!"
Runi ternganga tak percaya. Sebegitu sadisnya temannya ini?
"Ni kayaknya otakmu perlu di kasih deterjen biar bersih Run. Maksudku, aku sama dia aja tidurnya terpisah. Dia di sofa dan aku di ranjangnya." Gea menjelaskannya dengan malas. Dia tidak mau dikira yang iya–iya oleh sahabatnya ini.
"Astajim!! Beneran kamu Gey? Parah kalian!" ucap Runi tak percaya. Bisa–bisanya sepasang suami istri tidur seperti itu. Luar biasa.
"Memang kenapa? Dia sendiri kok yang menawarkan. Aku mah ngikut aja. Toh gak merugikan diriku," jawab Gea santai.
"Parah kamu, Gey!"
Gea sudah tidak menanggapi ucapan sahabatnya itu. Ia fokus dengan pekerjaan yang ia lakukan. Ia tidak mau berdebat lebih panjang dengan Runi.
"Gey, kamu tahu tidak? Pagi tadi, CEO pengganti sudah datang di perusahaan ini. Dia sangat tampan dan berwibawa." Runi membayangkan betapa tampannya CEO baru.
"Ahh rugi kamu tadi terlambat!"
"Memangnya CEO kita yang lama kemana?"
"Kurang tahu, Gey. Besok ia baru akan diperkenalkan secara resmi. Aku tadi gak sengaja dengar dari Pak Heri dan Bu Ning yang membicarakan hal itu. Dan tadi aku juga melihat orang baru yang tampan dan berwibawa. Umurnya juga masih muda." Runi membayangkan bagaimana rupa CEO perusahaan itu yang baru.
"Oalah ya sudahlah. Gak penting juga buatku," ucap Gea acuh. "Lagian siapapun itu, tidak akan berpengaruh banyak untuk kita."
"Iya juga sih. Tapi itu ngaruh banget bagiku, Gey. Setidaknya aku bisa lebih semangat bekerja. Apalagi katanya dia masih single."
"Dah, dah ngayalnya nanti aja ya, Run. Sekarang kita beresin nih pekerjaan kita."
"Siyap, Bos!"
Mereka berdua menyelesaikan pekerjaan mereka dengan segera.
🍂
//
__ADS_1
Happy reading guys
jangan lupa bahagia 💕💕