
Meja makan yang biasanya diisi oleh 4 orang atau paling banyak 5 orang, kini telah diisi dengan 6 orang dewasa dengan pakaian yang tidak biasanya. Suasana masih hening. Hanya dentingan sendok dan piring yang mengisi di ruangan itu. Mereka saling terdiam dengan mulut yang menikmati hidangan makan malam yang telah tersedia di atas meja.
"Tuan Edi dan keluarga, silahkan ambil apa saja yang ingin dimakan. Maafkan kami hanya bisa menyiapkan makanan seperti ini untuk menyambut kedatangan kalian. Semoga sesuai dengan selera kalian."
Frans mempersilahkan tamunya untuk menyantap hidangan itu kembali jika ada hal yang ingin mereka kembali makan.
"Iya iya Tuan," sahut Edi. Sedangkan Clara mengangguk sembari melebarkan bibirnya ke samping atas.
"Ayo Dela nambah lagi makannya Nak," ucap Tere sembari tersenyum.
"Iya Tante," sahut Dela dengan senyum yang terlihat jelas di wajahnya itu.
"Ku dengar kamu sudah menikah. Di mana suamimu Dela?" tanya Tere.
Sedari tadi ia mencari keberadaan suami Dela. Suasana kembali dalam kecanggungan. Hening seketika. Dalam hitungan detik, ia mendapatkan senggolan dari Frans yang duduk di sampingnya. Matanya seakan berbicara pada Tere lantaran ucapan Tere yang terdengar cukup lancang untuk menanyakan keberadaan seseorang yang tak berada di sana.
"Aaa maafkan aku yang lancang mempertanyakan hal yang tidak seharusnya. Silahkan nambah Dela, Jeng," Tere mengalihkan pembicaraannya agar tak membahas hal itu lagi. Ia paham akan kode yang Frans layangkan padanya.
"Ohh tidak apa Jeng. Dia bekerja Jeng. Dia harus merintis semuanya dari nol kembali jeng."
Bukan suatu hal yang baru lagi. Mereka semua tahu bagaimana kasus Davin beberapa waktu lalu. Maka dari itu tak seharusnya Tere membahasnya kembali di sana.
Tere mengangguk sembari tersenyum. "Semoga kejayaannya kembali ya Jeng."
Tiba–tiba saja Dela melirik pada maminya. Ia merasakan kakinya disenggol oleh maminya itu.
__ADS_1
"Apa Mi?"
Begitulah kira–kira dari apa yang dikatakan Dela lewat lirikan matanya.
Clara memberikan sinyal–sinyal pada Dela. Namun Dela mengabaikan semuanya lantaran tak mengerti apa yang Clara kodekan untuknya.
"Aihh anak dungu!" batin Clara. Ia hanya menyuruh Dela untuk bersikap seolah–olah menjadi orang yang tersakiti akibat peristiwa kemarin. Namun usahanya sia–sia.
Dalam keseriusannya menyantap makanan, Gea makan tanpa berniat sedikitpun untuk terlibat dalam pembicaraan. Begitupun juga dengan Briel.
"Kurang ajar!" umpat Briel dalam hati. Ia merasakan kakinya disentuh dengan sengaja oleh kaki lain di sebelah kirinya. Jika itu Gea tidaklah mungkin. Pertama Gea berada di samping kanan dan yang kedua Gea tak seagresif itu.
Sedangkan Dela melirik ke arah Briel dengan lirikan kelicikan dan dengan sedikit membuka belahan rok yang ada di sebelah pinggir pahanya, memperlihatkan kulit putih mulus Dela kala Briel melihat ke bawah meja, m mastikan apa yang terjadi. Dela berusaha untuk menggoda Briel.
"Shiiiiiitt!" Rahang Briel mengeras. Bukannya tergoda, ia malah benar–benar marah akan apa yang Dela lakukan. Namun ia tak dapat melakukan apapun. Ia tak mempunyai bukti untuk meluapkan kemarahannya.
"Ahh maaf maaf."
Gelas yang Dela pegang akan terjatuh. Airnya tumpah ke baju Briel. Dela berdiri, tangannya sibuk membersihkan minuman yang membasahi kemeja Briel.
"Menjauh!"
Briel menepis tangan Dela cukup kasar.
"Biar aku saja yang mengurusnya!" Gea mulai berbicara. Diam bukan berarti kalah. Panas, sudah jelas membara. Ia bukan orang bodoh. Ia hanya menahan diri agar tak membuat kekacauan dalam acara makan malam mertuanya. Namun ternyata, biarpun ia menahan, jika orang lain tak mau bekerja sama pun sama saja. Gea menatap datar dengan suara yang dingin.
__ADS_1
"Ayo Bayang,"
Gea menarik Briel pergi dari sana, menuju ke kamar mereka.
"Maaf Tante, Om, Dela gak bermaksud mengacaukan makan malam ini," ungkap Dela. Ia bersikap seolah olah tak ada unsur kesengajaan. Dalam hati ia tersenyum puas.
"Hmmss tak apa Nak." Tere tersenyum maklum.
"Hmm anakku memang pintar," gumam Clara dalam hati.
"Maafkan anak saya, Tuan, Nyonya," ungkap Edi. Ia merasa bersalah akan kekacauan yang terjadi. Tak enak hati, menelusup cepat.
"Tak apa, Tuan, namanya juga anak muda," ungkap Frans dengan senyum di wajahnya.
Makan malam telah usai. Mereka mengakhiri makan malam mereka dengan minum teh dan makan makanan ringan di samping rumah sembari bercengkerama, membicarakan hal yang telah terlewatkan terutama mengenai pernikahan anak mereka. Mereka tak menunggu Briel maupun Gea yang tak kunjung hadir kembali.
"Ehemmm! Aku punya kejutan untuk kalian."
Briel datang dengan tangan yang ia sembunyikan di belakang tubuhnya. Mereka yang semula asik dengan aktivitas mereka, pun beralih menatap Briel penuh tanya. Mereka semua terdiam.
"Kejutan apa Bri?" tanya Frans.
🍂
//
__ADS_1
Happy reading gaess,
Jangan lupa bahagia 💕💕