
"Ck apa apaan ini?" gumam Dela dalam hati kesal.
Ini bukanlah refreshing yang ia inginkan. Ia ingin pergi ke tempat di mana ia dulu bisa menghabiskan waktunya seharian tanpa memikirkan banyak hal. Hanya bersenang–senang dan berfoya–foya. Wajahnya kusut, bibirnya sudah dimanyunkan ke depan. Mungkin jika bisa diikat, bibir itu sudah bisa diikat.
"Sudah, sana bersenang–senang. Lumayan kan bisa ganti pemandangan," ucap Gaza. Ia berusaha menahan tawa sekuat tenaga agar tidak kelepasan saat ini juga.
Dela memutar bola matanya malas. "Bersenang–senang bagaimana? Ini apa ini apa? Harusnya kalau bersenang–senang itu ke mall, shopping lah atau nonton lah atau nongkronglah atau apa lah gitu. Ini apa?! Kau hanya membawaku ke taman kota. Ck ah tidak ada bedanya hanya dengan di kontrakan!"
Mood Dela saat ini sungguh dibuat anjlok seketika.
"Kau sengaja ya hanya membawaku ke sini?" tuduh Dela tanpa basa–basi.
Gaza mengangguk–angguk. "Yeah ... Memang sengaja pun!" Gaza berucap jujur tanpa ada sedikitpun hal yang ia tutup–tutupi.
"Kau ya..." Dela meremas jemari tangannya erat di depan Gaza, seakan ingin mencakar wajah Gaza yang songong itu.
"Apa? Kau mau apa?" tantang Gaza.
Dela menghempaskan tangannya kasar lantas memalingkan wajahnya. Tubuhnya yang semula menghadap ke arah Gaza, kini menghadap ke arah lain hingga Gaza mampu melihat wajah dan tubuhnya dari samping. Dela menghirup napas dalam lantas mengeluarkannya kasar.
"Sabar Dela ... Tarik nafas... Keluarkan... Tarik napas ... Keluarkan..." gumam Dela yang masih terdengar di telinga Gaza. Dela melakukan hal itu berulang kali dengan tangan yang diangkat kala ia menarik napas dan bergerak ke bawah seiring napasnya dihembuskan.
Gaza memutar bola matanya malas. "Dasar tidak tahu bersyukur ya. Sudah nikmati apa yang ada. Masih mending aku membawamu ke sini. Bukankah pemandangan di depanmu itu berbeda dengan yang di kotrakan? Di kontrakan hanya dinding, sedangkan di sini banyak orang berjalan dengan warna hijau rerumputan dan pepohonan. Mau apa lagi? Sudah berbeda kan?"
Gaza memiliki banyak alibi untuk mengimbangi kalomat protes yang Dela lontarkan. Berdebat dengan wanita seperti Dela memang membutuhkan keahlian lemes yang kebanyakan hanya dimiliki oleh wanita.
"Serah!"
"Gini nih kalau hidupnya taunya hanya manja dan suka menghabiska uang saja!"
"Ya suka–suka aku dong. Lagi pula dahulu kan Papi bekerja juga untuk aku. Tidak bermanfaat jika uangnya tidak aku gunakan. Sia–sia sudah Papi bekerja."
__ADS_1
Memang begitulah pola pikir Dela waktu itu yang bahkan terbawa sampai saat ini. Bahkan bergelimang harta membuatnya malas bahkan enggan untuk memikirkan bagaimana caranya agar yang pemberian Edi mampu ia putarkan hingga menghasilkan uang yang lebih banyak lagi.
"Pantas saja, bapaknya bangkrut anaknya jadi gelandangan!" ucap Gaza pedas tanpa memikirkan perasaan Dela.
Hal itu membuat Dela meradang. Baru kali ini ia menemukan sosok pria yang begitu pelit dan irit di dalam hidupnya. Oh iya ditambah satu: lemes. Ingat LEMES pake huruf kapital semua.
Sering kali keadaan ini membuat Dela bertanya–tanya dalam benaknya, apa sebenarnya pekerjaan Gaza. Pasalnya jika Gaza tidak memiliki uang, seharusnya Gaza lebih sering mengeluhkan keuangannya atau bahkan menyalahkan Dela seperti para lelaki di sinetron indolayar. Tapi jika Gaza memiliki uang, mengapa ia tidak pernah memberi apapun kepada Dela. Bahkan untuk makan dan tempat tinggal saja hanya seadanya.
Pertanyaan itu berputar–putar terus namun tidak sedikitpun ia menemukan jawabannya.
"Aneh," batin Dela menimbang–nimbang.
"Heh!"
Gaza mengagetkan Dela dengan tangan yang juga ia jentikan di depan wajah Dela. Keterdiaman Dela membuatnya bertanya–tanya bahkan pikirannya terbesit jika Dela kerasukan jin ataupun hantu penunggu pohon beringin yang menaungi mereka yang duduk di papan semen yang mereka duduki sembari meneduh dari teriknya matahari siang hari.
Dela berjengit kaget. Ia berdecak kesal lantaran kelakuan Gaza yang tanpa diduga sering mengganggunya. Bahkan di keadaan saat dirinya pun terdiam. Dasar menyebalkan.
"Tidak usah menggangguku sekali saja bisa gak sih?" tanya Dela kesal.
Dela mengedarkan pandangnya. Ia melihat seorang penjual es dung dung yang ia sendiri belum pernah mencoba es krim itu. Kali ini ia penasaran bagaimana rasa es krim itu pasalnya banyak anak–anak yang rela antri hanya untuk menyantap satu cone es krim yang tidak begitu besar. Tanpa sadar Dela menelan ludahnya sendiri lantaran terlalu ingin mencicipi es krim itu. Bahkan setiap anak kecil menyantap es krim itu pun mata Dela mengikuti bibir anak kecil itu.
Gaza yang berada di sampingnya dan menatap Dela sedari tadi pun kini mengikuti arah pandang Dela. Gaza terkekeh kecil.
"Mau?"
Dela kini menatap Gaza dengan tatapan penuh pengharapan. Ia mengangguk antusias. Bahkan tatapan itu membuat Gaza luluh seketika.
Gaza menghela napas.
"Secepat inikah mood ibu hamil berubah?" tanyanya dalam hati?"
__ADS_1
"Oke. Tunggu di sini, jangan ke mana–mana" lanjutnya kemudian.
Gaza beranjak menghampiri penjual es krim. Cukup lama Dela menunggu akhirnya Gaza kembali dengan 2 cone es krim rasa campur. Ia memberikan satu cone itu untuk Dela dan satu cone untuk dirinya.
Dela menerima es krim itu dengan mata yang berbinar cerah. Ia menyantap es krim itu lahap layaknya anak kecil yang tidak ingin es krimnya itu diminta orang lain.
"Pelan–pelan, Dela. Tidak ada juga yang ingin mengambil es krim itu," ucap Gaza mengingatkan. Namun Dela hanya menjawabnya dengan menyengir saja lantas tidak mengindahkan perkataan Gaza. Rasa es krim itu terlalu enak untuk pertama kali lidahnya mencecap rasa itu.
"Astaga ke mana saja aku, hingga sebesar ini aku tidak pernah tahu jika ada es krim seenak ini?" ucap Dela. Sisa es krim yang berada di jari tangannya ia jilatt sampai bersih.
Tanpa diduga, Gaza menahan tawanya. Namun tidak berhasil. Gaza tertawa lepas. Hal itu membuat Dela mengerutkan dahinya heran.
"Kenapa tertawa?" tanya Dela. Ia mulai kembali mengerucutkan bibirnya.
"Ck itu hidung kamu ... Hahahaha... " ucap Gaza di sela tertawanya. Hal itu membuat Dela bingung.
"Haihh ..."
Tanpa banyak berucap, Gaza mengusap hidung Dela yang terkena es krim dengan tangannya. Perlakuan Gaza membuat Dela salting. Tidak pernah ia diperlakukan seorang pria selembut itu. Tubuh Dela mematung. Ia menatap wajah Gaza tanpa kedip.
"Kenapa? Terpesona dengan ketampanaku?" ucap Gaza narsis. Dela tersadar seketika. Hal yang awalnya membuat Dela memuji Gaza, kini ia menyesal pernah mengucapkannya walau hanya sebatas di pikirannya saja.
Dela berdecak kesal. "Idihh jangan harap! Kalau ngayal jangan ketinggian! Kalau jatuh baru tau rasa!"
"Apa? Selembut itu? Kutarik semua perkataanku!"
Dela ngedumel dalam hatinya. Kata "amit–amit" ia rapalkan di dalam hatinya berulang kali. Sedangkan Gaza sendiri tidak peduli dengan apapun yang Dela rasakan saat ini. Tugasnya hanyalah menemani Dela agar Dela tidak membuat kekacauan yang menyebabkan dirinya kerepotan.
🍂
//
__ADS_1
Happy reading gaes
Jangan lupa bahagia 🌻