
"Pastikan semuanya aman!" titah Briel. Ketiga pria lainnya di ruangan itu pun mengangguk mengiyakan.
š
Deru ombak terdengar megah di telinga, menenangkan jiwa. Ombak itu saling berkejarākejaran, terlihat begitu bahagia dengan warna langit yang cerah. Sinar mentari yang terpancar benarābenar hangat, namun tidak sedikitpun menyakiti kulit yang terpapar. Dekorasi indah pernikahan menghiasi area itu hingga kesan romantis dan meriah pun pasti dapat di rasakan oleh semua orang yang hadir di sana.
Satu persatu tamu undangan berdatangan. Mereka terkagum melihat dekorasi yang mempercantik area itu. Suatu keindahan yang dipadukan dengan keindahan alam. Sungguh memukau hati. Senyum lebar menghiasi masingāmasing tamu undangan. Kehadiran mereka pun telah dipastikan oleh anak buah Bima dan Briel agar semuanya ada dalam kendali mereka.
"Para hadirin sekalian ...."
MC yang bertugas telah memulai acara di sore itu. Mereka menyambut para tamu dengan begitu antusias.
Di sisi lain, Briel berdiri di ujung area itu dengan sesekali mengambil napas dalam lantas mengeluarkannya kuatākuat. Adam yang di sampingnya pun hanya menggelengkan kepala sembari tersenyum. Ia terheranāheran dengan Briel. Pernikahannya sudah terlaksana. Namun hanya resepsi saja Briel terlihat segugup itu.
"Aneh!" gumam lirih Adam yang meledek Briel.
"Aneh aneh! Apanya yang aneh? Tidak usah banyak berkomentar kalau belum merasakan. Paling nanti kalau kau yang menikah, kau bakalan merasakan seperti aku, bahkan lebih. Atau malah terkencingākenncing di celana?" ucap Briel sarkas. Ia kesal dengan Adam yang suka sekali meledeknya. Bibirnya tertarik sebelah, meledek Adam dengan bayangan Adam yang tengah mengalami apa yang ia ucapkan.
"Idihh malah nyumpahin. Jangan harap! Itu hanya di pikiranmu!" Adam tidak terima dengan ucapan Briel
"Oke, lihat saja nanti"
Begitulah mereka. Mereka terlalu sulit untuk terlihat akur sebentar saja. Ada saja yang selalu mereka ributkan. Sungguh, pria dewasa hanya menjadi balutan jiwa anakāanak.
Alunan piano mulai berdenting. Terdengar begitu romantis dengan iringan biola yang mulai terdengar. Briel mulai menarik napasnya dalam lagi lantas mengeluarkannya kasar, mengusir kegugupan dalam dirinya. Ia pun mulai memasuki area itu, berjalan perlahan dengan gagahnya. Senyum itu merekah di wajah yang sudah dewasa itu. Semua pasang mata terpusat pada dirinya.
Ia berhenti di depan semua tamu undangan, di tengah perjalanan. Sesekali, diam diam ia masih menghirup napas dalam. Jantungnya berdebar hebat, menanti istrinya menghampirinya.
Sedangkan di sisi lain, Gea tengah berdiri bersebelahan dengan Runi. Runi tersenyum menatap sahabat sekaligus bosnya itu.
Runi menggenggam kedua tangan sahabatnya itu dengan senyum yang mengembang di sudut bibirnya. "Tenanglah. Inilah harimu," ucapnya.
Gea mengangguk dengan bibirnya yang menipis lantaran tertarik ke atas.
"Mempelai wanita akan segera memasuki area ini"
Suara MC itu mulai terdengar. Gea menghirup oksigen begitu banyak untuk mengusir kegugupan. Mereka berdua saling berpandangan lantas mengangguk bersamaan, saling memberikan kode satu sama lain. Gea mulai berjalan dengan perlahan. Gaun pernikahan yang melekat di tubuhnya dengan riasan natural itu membuat Gea terlihat semakin anggun. Aura keibuannya menguar dengan perut yang membuncit di balik gaun itu. Semua pasang mata tertuju padanya, tak terkecuali Briel.
Briel menatap Gea yang datang dari kejauhan dengan tatapan mendambakannya. Tidak terasa mata Briel mulai berkacaākaca. Sudut mata Briel mengalir sebuah air mata kebahagiaan. Semua orang takjub melihatnya.
__ADS_1
Runi menghantarkan Gea menuju di mana ayah Gea berada. Edi menatap Gea dengan tatapan yang lembut. Edi memberikan lengannya untuk Gea lantas Gea meraih lengan itu, membiarkan lengan itu sebagai tempat Gea berpegang sebelum Edi menyerahkannya pada Briel.
Mereka berdua berjalan menghampiri Briel. Senyum itu masih tersemat, memperlihatkan betapa bahagianya pasangan anak dan ayah itu.
Hati Briel semakin tidak karuan. Benarābenar jiwa pemimpinnya yang berwibawa runtuh seketika itu juga. Hingga papa mertua dan istrinya sampai di depannya.
Edi melemparkan senyum. Di balik senyumnya itu masih terlihat ketegasannya. "Aku menyerahkan putriku kepadamu. Jagai dia dan bahagiakan dia!"
"Sesuai perintah. Dengan setulus hatiku, aku akan menjaga dia, memastikan keselamatannya dan membahagiakannya seumur hidupku, Pa."
Ada rasa yang tidak bisa diungkapkan dengan kataākata. Satu kata panggilan yang terucap dari mulut Briel nyatanya mampu membuat hatinya menghangat hanya dengan hal yang sederhana. Matanya pun berkacaākaca.
"Terima kasih," ucap Edi lantas memeluk menantunya itu. Seketika itu juga, tepuk tangan meriah mengiringi suasana haru.
Edi pun menyerahkan putrinya itu. Briel pun memberikan lengannya pada Gea. Mereka berjalan beriringan menuju altar.
Briel menatap manik mata Gea dalam. Kedua pasang mata tulus itu saling menatap, saling mencari ketidakpastian untuk memastikan ketulusan.
"Di hadapan semuanya, aku, Gabriel Abraham Yohandrian berjanji, dengan setulus hati akan menjagamu, menyayangimu dan membahagiakanmu sampai kuasa Tuhan memisahkan kita. Aku akan mencintaimu dan keluarga kita sampai akhir."
Briel mengucapkannya dengan tegas tanpa keraguan sedikitpun. Tidak terasa buliran air bening mulai luruh dari sudut mata Gea. Senyum menawan itu terukir jelas di wajahnya.
"Dan aku, di hadapan semuanya, aku, Gea Agatha Wiyarta, dengan setulus hati akan menyayangimu, menemanimu di waktu sehat maupun sakit, di waktu mudah maupun sulit, aku akan setia mencintaimu sampai akhir."
Briel dan Gea saling beradu tatap dengan senyum yang masih mengembang. Briel mengecup hangat bibir ranum Gea. Gea memejamkan matanya sejenak, menerima perlakuan Briel. Briel semakin memperdalam kecupannya, bukan dengan nafsu semata, melainkan dengan rasa cinta yang begitu dalam untuk pasangannya itu.
Langit yang perlahan mulai berwarna jingga kemerahan, deru ombak yang saling berkejarākejaran, hempasan sayap burung laut yang juga terbang di area itu, dengan angin pantai yang menyejukan, menyatu bersama alam menjadi saksi bisu janji mereka berdua untuk kedua kali.
Sepasang burung merpati mereka lepaskan bersama, melihat kedua burung itu terbang bersama yang mewakili betapa tulusnya cinta mereka, cinta sejati layaknya sepasang merpati. Merpati, burung yang tidak memiliki empedu, tulus tidak ada niat tersembunyi.
Tepuk tangan meriah pun terdengar kembali. Kebahagiaan turut mereka rasakan. Frans, Tere, dan juga Edi terlihat begitu lega melihat anak mereka. Begitupun juga dengan Runi, Adam, Bima, dan Hendri yang saat ini berdiri bersebelahan.
"Aaaa manisnya mereka ..." ucap Runi di tengah suara riuh dengan tangan yang masih bertepuk tangan.
Tuing
"Aaaiiss" umpat Runi. Dengan jahilnya, Adam menonyor kepala Runi dengan telunjuk tangannya.
"Tidak usah menghayal. Cari dulu sana pasangannya!"
__ADS_1
"Yee tidak usah julid kenapa?" ucap Runi dengan bibir yang sedikit manyun.
"Suka suka saya. Emang masalah buat Anda?!"
"Ya masalah lah! Masih tanya lagi," ucap Runi kesal.
"Ni anak lamaālama berani ngelunjak ya." Adam mulai terpancing. Sedangkan Bima dan Hendri menggelengkan kepalanya.
"Anak anak .... Aku sudah gedhe." Runi tidak terima mendapatkan julukan anakāanak. Umurnya sudah tidak lagi remaja.
"Iya ya ya gedhe. Apanya yang gedhe? Badan kurus kerempeng gitu," ledek Adam dengan lirikan yang sedikit mengejek.
Seketika Runi menyilangkan kedua tangannya ke depan tubuhnya, menutupi bagian dadanya yang sedikit terbuka lantaran model dress yang dia kenakan.
"Kurang ajar ya kamu! Dasar otak mesum!" ucapnya dengan lirikan mata membunuh.
"Heii jangan kegeeran! Siapa yang bernafsu melihat tubuh yang kayak lidi seperti itu? Otak kamu tuh yang harusnya dicuci bersih. Kalau perlu di kali sana. Air bersih tidak tersedia untukmu." Adam mendengus kesal lantaran ia dituduh berpikiran mesum pada Runi.
"Ck kalian berdua. Ingat tempat. Ini bukan ring tinju. Nanti aku siapkan setelah acara selesai," sindir Bima. Lamaālama ia gerah melihat tingkah kedua manusia beda spesias itu ribut tanpa tahu tempat.
"Nah iya, sekalian aku siapkan wasit untuk kalian." Hendri membenarkan.
Runi dan Adam melongo mendengar percakapan mereka.
"Ndri tuh lihat. Giliran begini saja mereka akur. Beneran jodoh tahu rasa kalian!" ledek Bima. Ia benarābenar tidak habis pikir dengan sikap Adam dan Runi yang saling tidak mau mengalah.
Runi dan Adam saling memandang sejenak.
"Idihh NAJIS!!!"
Lagi lagi mereka mengucapkannya bersamaan sembari saling memalingkan wajah.
Hendri dan Bima hanya bisa menggelengkan kepala mereka sembari tertawa geli. Mereka pada akhirnya membiarkan Runi dan Adam dengan dunia mereka.
Sedangkan di sisi lain, seseorang dengan aura mematikan pun menatap semua penjuru area itu dengan pengelihatannya yang begitu tajam, memastikan keadaan bisa berada di dalam kendalinya. Seulas senyum tipis mengembang di wajahnya, hampir tidak terlihat.
š
//
__ADS_1
Happy reading gaess
Jangan lupa bahagia š¤šš