Pengantin CEO Yang Tertukar

Pengantin CEO Yang Tertukar
M2 – Rumah (Harfiah)


__ADS_3

"Astaga ... Kapan pekerjaan ini selesai?" keluh Briel.


Briel merenggangkan tubuhnya mulai dari tangan, kaki, lantas badan. Terlalu lama berkutat dengan laptop dan berkas–berkas membuatnya lelah. Kacamata anti radiasi yang semula bertengger di hidungnya, kini telah berpindah di atas kepala.


Sebenarnya ia ingin kabur dari tanggung jawabnya itu, namun ia tidak bisa. Jika semuanya ingin selesai lebih awal, maka ia pun harus turut turun tangan, bekerja sama dengan Adam. Mereka berdua adalah kolaborasi partner kerja yang mumpuni.


Sedangkan di meja tidak jauh dari sana, Adam memutar bola matanya malas. Pasalnya ia sering merasakan hal yang lebih daripada uang dirasakan Briel. Ia mulai mengadu nasib dengan Briel.


"Hilih segitu doang. Bagaimana jika kau menjadi diriku yang sering kali kau melimpahkan tugasmu padaku? Bayangkan!" ucap Adam sarkas tanpa ada rasa takut sedikitpun.


"Tidak mau. Aku tidak mau membayangkan. Itu dah jadi tugasmu. Jadi wajar jika aku memberikanmu tugas lebih untuk meng–handle semuanya." Briel mulai mengeluarkan jurusnya sebagai bos besar. "


"Aihh andai bisa pun aku ingin kau saja yang menangani proyek ini," ujarnya kemudian.


Itulah harapan Briel yang tidak akan pernah terealisasikan. Harapan itu hanyalah sebuah angan belaka yang melintas dalam pikirnya.


Tiba–tiba saja terdengar suara bolpoint yang terlempar dan terjatuh di meja yang berada tepat di depan Briel. Briel berjengit kaget, hingga ia reflek menghindar ke belakang satu lompatan kecil.


"Wah wah wah ... Kau bawahan yang terlalu kurang ajar dengan bosnya. Aku pecat baru tau rasa kau!"


Perkataan Briel itu tidak membuat Adam jera. Malahan Adam tertawa terbahak, menertawakan pernyataan Briel yang tidak akan pernah terealisasi kecuali dia melakukan kesalahan fatal. Hal itu membuat Briel kesal hingga bolpoint Adam itu kini melayang ke arah Adam. Gesit, Adam menangkap bolpoint itu dengan kedua tangannya.


"Tidak takut. Aku masih punya Bunda," ucap Adam menantang Briel.


Briel berdecak kesal. Tiap kali ada perdebatan di antara mereka, Adam selalu saja membawa nama Bunda Tere. Menyebalkan!


"Hih ... Mainnya curang, seperti wanita saja yang kerjaannya suka ngadu," cibir Briel.


Tanpa menggubris ucapan Briel, Adam kembali fokus dengan kerjaan di depan matanya itu. Sedangkan Briel malah memberesi mejanya.


"Dahlah! Aku mau pulang. Selesaikan semuanya ini, Dam. Tidak ada bantahan!"


Belum lama mereka memperdebatkan persoalan kerjaan, Briel telah seenaknya memberikan tugasnya pada Adam. Adam menganga seketika.


"Astaga Briel ... Bagaimana aku bisa istirahat dan menemukan jodohku jika setiap kali aku ingin bernapas sebentar saja, kau memberikanku pekerjaan sebanyak ini."


Adam meratapi nasibnya. Terkadang ia ingin menikmati hidup tanpa gangguan Briel. Namun selalu saja Briel menggagalkannya. Ah mungkin setelah proyek ini selesai, ia berniat akan mengambil cuti untuk menajuh dari rutinitas yang membosankan sekaligus menyebalkan.


"Urus semuanya sesempurna mungkin. Ketika sudah selesai, ke rumah saya. Saya akan mengecek bagaimana dokumen itu nanti."


Briel tidak menjawab pernyataan dari Adam. Pada intinya ia hanya ingin memberikan perintah untuk kemudian terima beres atau mungkin hanya akan memantau jika ada suatu hal yang benar–benar harus dia yang menangani. Yang ia butuhkan saat ini adalah pulang.


Adam menghela napas kasar. "Baik Bos!" Adam mengiyakannya dengan ucapan malas. Bahkan terkesan terpaksa. "Untung bos," gerutunya dalam hati.


"Bagus."


Briel mengambil jas yang tergantung tidak jauh dari sana. Ia menyampirkan jas itu pada lengan bawah tangan kirinya. Ia pergi meninggalkan Adam sendirian dengan tumpukan pekerjaan di pundaknya.


🍂

__ADS_1


"Astaga Gea ..."


Briel terdiam, terpaku, melihat betapa banyaknya paper bag yang berjajar di dalam kamar mereka. Ia tidak menyangka jika istrinya bisa sekalap itu kala belanja. Baru kali ini ia melihat istrinya seperti itu. Bukan karena tidak suka uangnya digunakan, namun lantaran kaget semata.


"Apa saja yang kau beli Geyang?" tanyanya yang masih tidak percaya. Ia melihat Gea berjalan dari arah kamar mandi dengan masih menggunakan handuk kimono dan handuk kecil di tangannya. Gea mengeringkan rambutnya dengan handuk itu.


"Banyak. Bajuku, bajumu, dan baju si kecil. Oh iya tadi juga ada beberapa potong baju untuk Bunda. Oh iya tadi sekalian perawatan yang termahal dan masih banyak lagi. Kenapa? Kamu keberatan Bayang?" ucap Gea beruntun.


"Tidaklah. Kan aku bekerja juga untuk kamu."


Briel tersenyum hangat. Ia menatap lekat manik mata indah itu. Malahan ini yang ia inginkan; Gea berbelanja dan melakukan hal yang disukai sepuasnya menggunakan uang pemberiannya. Selama ini terlampau jarang Gea menggunakan uang pemberiannya. Bahkan Gea terlalu sering menggunakan uangnya sendiri untuk membeli barang–barang mahal. Mungkin Gea hanya akan menggunakan uang Briel untuk kebutuhan keluarga.


"Okelah" Gea menarik kedua sudut bibirnya ke atas.


"Bayang... tumben sudah pulang," ucap Gea kemudian.


"Iya" Briel memberikan tas kerjanya pada Gea. Gea meletakkan tas kerja itu di sebuah kursi.


"Kerjaan sudah beres?" Gea menghampiri Briel, membantu Briel melepas dasinya. Ia bersikap sebagai istri yang baik.


"Belum," jawab Briel singkat. Gea berhenti sejenak. Ia mendongakan kepalanya, menatap manik mata Briel dengan penuh tanda tanya.


"Loh kok sudah pulang?"


"Biasalah, Adam," jawab Briel santai. Ia menaikkan kedua alisnya.


Plak


Gea menatap Briel cukup garang. Ia mendaratkan telapak tangannya cukup keras di lengan atas Briel sebelah kiri. Briel mengelus pelan lengan atasnya yang terasa cukup panas. Energi Gea memang tidak bisa disepelekan.


"Bayang ... Kasihan Adam jika sering kali kau memberinya pekerjaan tambahan. Bayang tu ya ... Bos yang tidak bertanggung jawab!" ucap Gea mengomel.


"Ya kan tapi itu tugas dia, Sayang. Wajar dong jika aku berbuat demikian. Toh aku pasti memberinya bonus nanti itu."


Gea berdecak. Ada benarnya dengan apa yang dikatakan Briel. Dirinya pun demikian. Dia yang memiliki butik, namun Hendri lah yang menangani, bahkan bisa dibilang keseluruhan. Ia menatap Briel kesal.


Briel yang ditatap pun menatap Gea dengan sorot mata heran kala Gea masih saja kesal.


"Kamu kenapa, Sayang?"


"Tidak! Pada akhirnya akupun sama saja denganmu," ucap Gea dengan nada dan ekspresi yang terkesan imut itu. Sekuat tenaga Briel menahan tawa namun akhirnya pecah juga.


"Pfft buahaha" gelak tawanya memenuhi ruangan itu. "Baru sadar kamu juga begitu? Bahkan kau lebih parah dariku."


Briel meledek Gea. Ia tahu jika Gea bersembunyi dibalik kinerja visualnya Hendri. Sampai sekarang pun masih tidak banyak orang yang mengetahui siapa owner sebenarnya dari butik itu. Gea mengerucutkan bibirnya kesal.


"Ck ah!"


Gea memalingkan wajahnya kesal. Bahkan ia meninggalkan Briel dan berjalan untuk melanjutkan aktivitasnya mengambil pakaian.

__ADS_1


"Geyang ... Jangan ngambeg dong," bujuk Briel.


"Gak"


"Gak apa?"


"Gak ngambeg," ucap Gea sedikit ketus.


Bukannya takut, Briel malah semakin menggoda istrinya itu. Ia bahkan menahan tawanya agar tidak kelepasan.


"Gak ngambeg tapi menjauh," goda Briel.


Briel mengikuti ke arah mana Gea selalu melangkahkan kakinya.


"Awas minggir Bayang!" Gea berusaha mendorong, menyingkirkan tubuh raksasa Briel kala Briel menghadang langkah Gea. Setelah berhasil ia kembali melangkahkan kakinya.


Berulang kali ia membujuk Gea, namun Gea tidaklah menggubrisnya.


"Jangan ngambeg mulu, nanti cepet keriput loh!"


Mendengar kata keriput, kekesalan Gea semakin memuncak. Dan benar saja, sesuai dengan dugaan Briel, Gea berbalik lantas berjalan cepat menghampiri Briel ia kembali melayangkan telapak tangannya ke lengan Briel dengan tenaga yang lebih besar. Briel berusaha keras menangkis pukulan bertubi itu dengan kedua telapak tangannya. Bukanya kesal, Briel malah tertawa lebar melihat respon Gea.


"Ampun Sayang," mohon Briel dengan tawa kecilnya.


Briel berjalan berputar untuk menghindar. Sedangkan Gea masih terus berusaha menyentuh permukaan kulit Briel.


Beberapa waktu kemudian, ia lelah menghindar, Briel menangkap tangan Gea.


"Sudah–sudah, aku hanya bercanda Sayang."


Gea menurut. Di balik wajah pasrahnya itu, Gea tersenyum tipis, dan ...


Plak


'Kena kau!'


Begitulah kira–kira ekspresi wajah Gea kala berhasil mendaratkan pukulan panasnya dari telapak tangan mulusnya.


"Aww ... Sadis" ungkap Briel. Ia tidak mengira jika Gea tetap akan mendaratkan telapak tangannya diam–diam.


"Aku juga bercanda, Bayang." Gea mengedipkan sebelah matanya.


Tanpa rasa bersalah sedikitpun, Gea tertawa lantas meninggalkan Briel yang menatapnya dengan senyum hangat walau pada mulanya Briel menahan rasa panas di permukaan kulitnya itu. Namun tidak ada rasa kesal atau bahkan dendam pada Gea. Hal–hal kecil yang mereka lakukan mampu menghilangkan kepenatan yang seharian telah Briel rasakan. Setelah seharian ia pergi, ia dapat pulang ke rumah yang sesungguhnya.


🍂


//


Happy reading gaes,

__ADS_1


Jangan lupa bahagia 🤗


__ADS_2