
"Ck! Ini dia yang tak kusukai dari pekerjaanku di bagian ini. Aku harus berurusan langsung dengan Bos Gelo," sungut Runi. Ia berjalan dengan langkah kaki yang sedikit dihentakkan.
Di tangannya kini telah ada sebuah berkas yang harus ia serahkan kepada Adam. Bertemu dengan Adam adalah hal yang paling menyebalkan di hidupnya. Emosi dan tenaganya harus terkuras karena ulah Adam.
"Ayo Runi, semangat semangat!"
Runi berusaha keras untuk menambah energi bagi dirinya sendiri.
"Tuan, ini berkas yang harus segera ditandatangani," ucap Runi menyerahkan berkas itu kepada Adam.
"Hmm ... Taruh saja. Nanti ambil kembali ke sini setelah semuanya telah selesai," jawab Adam tanpa memperhatikan Runi. Kali ini ia lebih tertarik pada berkas–berkas yang ada di depannya yang harus segera ia selesaikan.
"Wih tumben bos gelo jadi waras," gumam Runi dalam hati.
Runi menatap Adam yang sibuk sendiri. Sikap Adam kali ini membuat Runi menatap heran. Tak biasanya Adam seperti itu. Biasanya akan ada sikap menyebalkan Adam bagi Runi. Runi mengedikkan bahunya.
"Apa dia sedang ada masalah? " gumam Runi lagi, mencoba menganalisa apa yang sebenarnya terjadi.
"Kenapa masih di sini?" ucap Adam membuyarkan lamunan Runi dengan tegas.
"Eh?" jawab Runi spontan karena suara Adam yang cukup mengagetkannya.
"Kenapa? Kangen sama saya? Tapi maaf, saya tak punya banyak waktu untuk berurusan denganmu," ucap Adam dengan percaya dirinya.
Hal itu membuat Runi membeliakan matanya. Runi menyesal telah mengganti predikat gelo menjadi waras. Nyatanya kewarasan Adam hanya bertahan beberapa detik saja.
Adam mengangkat wajahnya dan menatap Runi sementara. "Apa? Benar kan ucapanku?" ucap Adam sok cool saat melihat bagaimana reaksi Runi terhadapnya.
"Ahh tak apa kali ya aku bermain–main sebentar dengannya," gumam Adam dalam hati. Mengganggu dan membuat kesal Runi adalah hobi baru yang sudah menjadi tabiat dan kesenangan Adam.
"Ihhh …." desis Runi kesal, menyangkal hal yang ia rasa tak pernah ia rasakan.
"Atau kamu sengaja mau menemani saya di sini?" goda Adam.
"Mon maaf ya Tuan, Anda terlalu percaya diri," jawab Runi yang tengah kesal namun tertahan.
__ADS_1
"Tuan Adam yang terhormat, saya permisi."
Setelah kepergian Runi, gelak tawa menggelegar di dalam ruangan itu. Adam tak kuasa menahan tawanya.
"Heeih masih banyak pekerjaan yang belum aku selesaikan," keluh Adam saat melihat kembali tumpukan–tumpukan kertas penting bertinta hitam itu. Ia mengingat pula kejadian yang menimpa perusahaannya.
"Semuanya akan baik–baik saja."
🍂
"Halo Jeng Besan, apa kabar? Dah lama gak bertemu," sapa Clara, mami Dela, pada Selly tatkala ia melihat Selly dan Dela menghampirinya. Mreka berdua menjemput Clara ke rumah kediaman Wiyarta.
"Halo juga Jeng Besan, baik Jeng. Bagaimana denganmu?"
"Selalu baik, Jeng."
Mereka saling berpelukan sembari cium pipi kanan dan kiri.
"Sudah siap berangkat?" tanya Selly.
"Ayo Mi, Mom," ajak Dela. Dela memegang kemudi untuk kali ini, menjadi sopir untuk mami dan mertuanya.
Sore itu, ketiga wanita dengan dua generasi yang berbeda tengah berada di perjalanan menuju sebuah rumah sakit. Mereka ingin memeriksakan mengenai kesuburan hormon yang Dela miliki. Karena sudah beberapa bulan mereka menikah, Dela dan Davin masih juga belum memiliki momongan. Padahal mereka ingin segera menimang cucu.
"Sudah janjian dengan dokternya Jeng?" tanya Clara. Ia adalah orang yang pantang menunggu. Ia lebih duka ditunggu dari pada menunggu.
"Sudah dong. Saya malas Jeng kalau harus antre. Kelamaan. Panas dan gerah lagi," ucap Selly menimpali.
Mereka bertiga adalah gabungan para wanita yang saling berkesinambungan ketika mereka dijadikan satu.
"Di mana suaminya?" tanya seorang dokter wanita muda kepada mereka bertiga. Biasanya orang yang mengecek kesuburan itu berdua sekalian dengan pasangannya.
"Suami saya tengah bekerja, Dok," jawab Dela.
"Iya dok. Tiba–tiba saja anak saya ada urusan mendadak. Jadi dia tak bisa ikut, sedangkan kita sudah membuat janji temu," timpal Selly.
__ADS_1
Dokter cantik itu mengangguk mengerti. Ia tak mempermasalahkan hal itu.
"Baiklah, kita lakukan pemeriksaan. Mari ikuti saya."
Dela mengikuti prosedur pemeriksaan yang dokter itu lakukan.
"Bagaimana dengan kondisi anak saya, Dok?" tanya Clara seusai dokter selesai melakukan pemeriksaan untuk Dela.
"Semuanya baik–baik saja, semuanya normal. Tidak ada permasalahan yang terjadi."
Mereka bertiga menghela napas lega, terutama Dela. Ia tak ingin menjadi wanita mandul, wanita yang tak sempurna sebagai kodrat seorang wanita.
"Lalu mengapa menantu saya tak kunjung hamil, Dok?" tanya Selly.
"Ini masih tahap wajar karena masih terbilang belum lama," ucap dokter itu, kemudian beralih menatap ke arah Dela.
"Tapi nanti jika dalam waktu 3 bulan lagi masih belum hamil, maka Anda dan suami Anda harus melakukan pemeriksaan ulang dan program hamil."
Mereka pun akhirnya paham akan penjelasan panjang lebar yang dokter kandungan itu ucapkan.
🍂
//
Hai semua... sambil menunggu asa up, kalian bisa mampir ke karya author kece di bawah ini 🤗
🍂
//
Happy reading gaes
__ADS_1
Jangan lupa bahagia 💕💕