Pengantin CEO Yang Tertukar

Pengantin CEO Yang Tertukar
M2 – Toxic Relationship


__ADS_3

Cukup lama mereka berjalan. Berulang kali ia meminta Ida untuk memelankan langkahnya lantaran dia merasa sering cepat lelah. Kehamilannya membuat ruang geraknya lebih terbatas.


"Jeng Ida, pelan–pelan sedikit dong," ungkap Dela. Ia memegangi punggungnya. Napasnya terengah–engah. Ia berhenti sejenak menghela napas.


"Astaga Neng Dela... Kamu itu masih muda sudah encok begitu. Kaya aku dong, biarpun sudah berumur tapi tenaga masih gadis dan tubuhku juga bugar."


Ida menyombong dengan gaya. Halus namun menusuk. Dela memutar bola matanya malas. Andai ia tahu di mana tempat semuanya berkumpul, mungkin dia juga akan berangkat ke sana sendirian. Ia menyibakkan rambutnya beberapa kali.


Dela tersenyum terpaksa. "Hehehe ... Kurang olahraga mungkin ini Jeng," ungkap Dela bohong.


"Ooo pantes makanya ..."


Ida mulai mengeluarkan jurus keritik dan ceramahnya yang harusnya ditujukan untuk dirinya yang berat badan masih di atas kata ideal.


"Aihh dasar emak–emak gak sadar diri," cibir Dela dalam hati. Diam–diam ia memutar bola matanya malas.


"Nanti Jeng, urusan itu gampang. Seminggu aja juga sudah bisa membentuk badan saya jadi bagus," ucap Dela yang sebenarnya menyindir keras Ida. Namun namanya juga bebal. Yang disindir tidak pernah merasa disindir.


"Ayo lanjut jalan lagi, keburu panas. Bisa gosong kulit dan wajah cantikku ini."


Ingin rasanya Dela muntah mendengar perkataan itu.


🍂


"Hai semuanya ... Apa kabar jeng?" sapa Ida kala ia telah sampai di salah satu rumah anggota yang bernama Retno. Mereka cipika cipiki tanpa rasa risi. Mereka terlihat sudah sangat akrab.


"Aduh Jeng, silahkan silahkan," ucap Retno mempersilahkan duduk.


"Loh, ini tetangga baru kita itu ya?" tanya Retno menunjuk ke arah Dela.


"Ohh iya ... Aku tadi melihatnya sendirian. Makanya dia aku ajak ikut gabung bersama kita." Ida menyentuh lembut lengan atas Retno. "Tidak apa kan, Jeng?"


Retno mengangguk–angguk.


"Aduh jeng, tidak apa. Malah semakin banyak semakin rame. Kan seru."

__ADS_1


Retno menyambut hangat kehadiran Dela. Sedangkan ibu–ibu yang lain melihat ke arah Dela dengan tatapan yang sulit di artikan. Tentunya membuat mereka memunculkan tanda tanya besar dalam benak mereka. Bahkan mereka mengamati pakaian yang Dela kenakan. Mereka saling berbisik satu sama lain.


Dela menghembuskan napasnya malas. "Ternyata warga kampung tidak ada bedanya," gumamnya dalam hati membandingkan pertemanannya dulu dengan sekarang.


"Tambahkan saja lotre namanya, Jeng. Nanti kita tinggal ambil lotre seperti biasa," usul Ida.


Ia ingin mengajak Dela untuk ikut arisan saat itu juga. Sedangkan Dela tidak lagi menyimak pembicaraan mereka. Ia sibuk mengamati rumah yang petakannya hanya lebih besar sedikit dari rumah kontrakan yang ia tempati bersama dengan Gaza.


"Hmm rata–rata ternyata memang miskin meskipun katanya termasuk kaya di kampung ini," ejeknya dalam hati.


Ibu–ibu yang lainnya hanya menyetujui usulan Ida lantaran Ida adalah poros dari kelompok mereka.


Di sela–sela sebelum memulai mengambil lotre, kebiasaan julid para emak yang tengah berkumpul kembali kambuh. Mereka berbicara ngalor ngidul, menjulidi orang lain yang tidak berangkat.


"Eh Jeng, tau tidak? Kemarin itu Eri menyombong kan, membeli tas yang katanya tas hermes buatan luar negeri." Seorang ibu bernama Sari membuka acara rumpi no rahasia di sana. Ia mulai menjulidi teman mereka sendiri.


"Apa? Tas hermes? Bohong sekali dia. Bilangnya dari luar negeri. Kapan dia ke luar negeri? Hutang aja segaban, mau pake apa dia makan," ucap Ida merendahkan namun juga seperti itulah faktanya. "Bohong boleh tapi bodoh jangan. Ini namanya double kebodohan," lanjutnya kemudian.


Mendengar ucapan Ida, semuanya bersorak sorai membenarkan apa yang Ida ucapkan.


Gelak tawa memenuhi ruangan itu. Kesusahan orang lain seakan menjadi candaan untuk mereka. Kemewahan adalah prioritas bagi mereka. Gengsi dan gaya hidup mahal sudah menjadi standar kekayaan di kampung itu agar lebih dipandang dan dihormati.


"Oh iya dan kamu, Jeng Dela. Kamu ke sini dengan daster saja, tidak malu kah? Kamu coba lihat baju kami. Bagus–bagus bukan?" Retno mulai menyudutkan Dela. Ia ingin mempermalukan Dela di depan banyak orang.


Seketika dalam hati Dela, ia ingin tertawa sekencang–kencangnya mendengar percakapan mereka yang sangat terlihat noraknya. Namun sebisa mungkin ia menahannya.


"Buat apa malu? Astaga Jeng... Jangan salah dulu. Jeng Retno tidak update perkembangan terbaru kah?"


Retno menatap Dela dengan penuh tanda tanya.


"Sialan. Rupanya aku dipermalukan oleh Ida Norak!"


Tanpa disadari oleh yang lainnya, Dela melihat Ida sekilas tersenyum julid. Ida memang berniat mempermalukan Dela di depan banyak orang agar semua orang tahu jika bermodal cantik saja tidak cukup.


Dela menghela napas di depan mereka semua. "Itu lho Jeng, sekarang itu pake daster ke mana aja itu sudah menjadi trand. Jadi tidak apa lah saya memakai daster ke manapun saya pergi," ungkap Dela. Bibirnya bisa tersenyum namun hati tidak singkron dengan bibir.

__ADS_1


"Iyakah? Di mana aku bisa belinya?"


"Nanti gampang Jeng Retno. Masalah itu serahkan pada saya," ungkap Dela tersenyum penuh kemenangan terutama melihat wajah kesal Ida yang sekilas dapat ia lihat.


Retno berbinar antusias. Ia tidak boleh kehilangan momen untuk mendapatkan baju bagus seperti itu. Apa lagi simpel, hanya berbentuk daster semata.


"Jeng Dela, iuran uangnya," tagih Retno. Semenjak dibuatlah lotre untuk Dela, Dela resmi menjadi anggota mereka. Dan saat itu Dela seketika kebingungan. Tidak ada uang yang bisa ia gunakan untuk iuran.


Cukup lama mereka menunggu namun Dela tidak kunjung mengeluarkan uangnya.


"Ehem ..." Ida berdeham.


"Ya sudah, Jeng, biar aku saja yang bayar." Ida mengeluarkan uang dari dompetnya. Ia melirik ke arah Dela. Di mata semua orang Ida baik bahkan seperti malaikat. Namun di depan Dela, Ida tidak lebih dari seorang penjilat.


"Jangan lupa ya, nanti utangnya dilunasin, duitku dikembalikan. Jangan diembat lho ya," ungkap Ida pedas. Ia ingin mempermalukan Dela. Tujuan dia mengajak Dela memang untuk mempermalukan Dela agar dirinya bisa terlihat lebih baik di mata banyak orang.


Sedangkan di sisi lain, bara api yang siap untuk membara kini telah membakar hebat hati Dela. Sungguh ia benar–benar dipermalukan. Namun sebisa mungkin ia mencari celah untuk bisa mebalas Ida.


"Oke, Jeng, nanti bakalan saya ganti 5 kali lipat." Dela menyombong untuk mengangkat derajatnya. Urusan utang ia akan pikirkan nanti.


"Emang gak keberatan, ganti 5 kali lipat, Jeng?" tanya Sari yang juga merupakan anggota geng arisan itu.


"Tidak dong, kan suamiku bukan orang sembarangan," ucap Dela. Biarlah tong kosong, yang penting dirinya tidak diinjak injak.


"Dela pulang."


Tiba–tiba saja suara bariton terdengar di telinga mereka. Mereka langsung melihat ke sumber suara. Mereka melihat orang yang tidak lain adalah Gaza.


"Nah Jeng, tu suami saya sudah datang. Saya pulang dulu ya, sudah dicariin. Bye semua... Emuach..." Dela melakukan kiss bye. Kehadiran Gaza menyelamatkannya. Sebelum Gaza berbicara banyak hal, ia menyeret Gaza lekas pergi dari sana.


🍂


//


Happy reading gaes,

__ADS_1


Jangan lupa bahagia 🌻🌻


__ADS_2