Pengantin CEO Yang Tertukar

Pengantin CEO Yang Tertukar
M2 – Pengasuh Bayi?


__ADS_3

"Bunda... "


Briel menyapa Tere yang kini tengah berkutat dengan peralatan dapur untuk menyiapkan menu makan siang. Siti turut membantu Tere untuk menghandle semuanya. Bagi Tere jika Tere masih bisa, menyiapkan makanan adalah hal wajib yang harus ia lakukan.


Briel berjalan menenteng tas kerjanya menghampiri sang ibunda. "Masak apa Bun?" tanya Briel. Ia mengintip masakan yang Tere buat.


"Ikan gurame kuah pedas."


"Waaahh ..." Itu adalah makanan favorit Briel sedari kecil. "Pasti enak nih," ucap Briel kemudian.


"Ayah mana Bun?"


Briel celingukan mencari keberadaan ayahnya.


"Masih di kantor. Sebentar lagi pulang katanya," jawab Tere sembari mengaduk masakannya.


Tere mengambil sendok bersih. Ia menyendokkan kuah yang masih mendidih itu, I meniupnya lantaz memberikannya pada anaknya.


"Gimana? Enak?"


"Masakan Bunda emang the best!"


Rasa masakan Tere tidak pernah bersebrangan dengan lidah Briel. Pas, enak dan pastinya rasa mewah meski murah meriah. Tere tersenyum melihat anaknya yang selalu saja menyukai masakannya.


"Bun, aku ke atas dulu," pamit Briel. Ia ingin segera membersihkan tubuhnya yang terasa lengket dan ingin segera menyentuh kedua bayinya.


Dengan langkah yang lincah, Briel menaiki anak tangga demi anak tangga itu.


Briel membuka pintu kamarnya. "Gey–yang"


Briel melemahkan suaranya kala melihat istrinya tertidur menyamping di samping Nino dan Rio yang juga tertidur pulas. Gea hanya menggunakan sebelah tangannya sebagai bantal. Briel berjalan menghampiri istrinya yang tertidur itu. Ia memelankan langkahnya agar suara langkah kakinya tidak mengusik tidur Gea.


Ia menatap lekat wajah lelah itu. Wajah itu berusaha tetap baik–baik saja meski kenyataannya memang lelah. Briel tersenyum sendu. Tanpa menyentuh sang istri, Briel meletakkan tas kerjanya di meja lantas memutuskan untuk membersihkan tubuhnya terlebih dahulu.


🍂


Briel keluar dari kamar mandi dengan tubuh yang lebih bugar. Buliran–buliran air masih tersisa di tubuhnya. Ia melilitkan handuk di pinggangnya sedangkan sebelah tangannya memegang handuk kecil untuk mengeringkan rambutnya yang basah.


"Ehh ... Bayang? Sudah dari tadi pulang?" tanya Gea dengan mata yang setengah terpejam. Ia masih mengantuk namun sudah waktunya ia harus bangun.


Gea menguncir kembali rambut panjangnya yang berantakan. Sesekali ia pun juga menguap lebar karena rasa kantuknya yang belum hilang.

__ADS_1


"Belum lama Geyang."


Briel berjalan menghampiri Gea lantas mencuri ciuman singkat dari bibir ranum Gea yang masih cemberut lantaran masih bangun tidur.


Tidak ada penolakan dari Gea. Ia menyambut perlakuan Briel dengan hangat pula.


"Aku siapkan dulu ya bajunya, Bayang," ucap Gea yang kini mulai beranjak dari ranjangnya.


"Eh eh eh ..." Briel menahan tubuh Gea agar tetap berada di ranjang itu. "Tidak usah. Aku bisa sendiri. Lagi pula kamu suda disibukkan dengan mengurus si kembar." Briel tidak ingin membuat istrinya itu lebih kelelahan lagi. Ia hanya memudahkan perkejaan istrinya.


"Tapi Bayang–"


"Hei ..." Briel memotong ucapan Gea. "Turuti saja apa kataku. Selagi aku bisa melakukannya sendiri, aku akan melakukannya tanpa bantuanmu. Apa gunanya aku menjadi suamimu jika aku membiarkanmu kelelahan bahkan berujung sakit, Sayang?" Briel diam sejenak.


"Aku akan menjadi suami yang gagal jika itu sampai terjadi padamu."


Briel mengangkat alisnya lembut. Ia mencoba memberikan pengertian untuk Gea agar Gea menuruti ucapannya. Ia melakukannya itu juga untuk kebaikan Gea.


Gea menghela napas panjang. "Baiklah, terima kasih, Bayang." Gea tersenyum manis.


Briel mulai mencari baju gantinya. Ia memilih pakaian santai yang biasa ia gunakan ketika di rumah.


"Eh kok Bayang sudah pulang?" tanya Gea kala Briel telah usai memakai bajunya.


"Kok sudah pulang? Bukannya tadi kata Bayang ada meeting dengan client?"


"Udah selesai. Kan yang penting meeting beres. Urusan setelah itu ada Adam yang menghandle," jelas Briel santai.


Gea hanya menggelengkan kepalanya pelan. Rupanya syndrom atasan masih melekat dalam diri Briel bahkan semakin menjadi.


"Gege Briel, segeralah turun. Kita makan siang bersama." Tiba–tiba saja suara Tere menginterupsi pembicaraan mereka. Tere mengajak mereka, tepat di balik pintu yang masih tertutup.


"Iya Bunda, sebentar."


Briel berjalan membukakan pintu untuk Tere.


"Ayo turun," ucap Tere sekali lagi.


Belum Briel menjawab ajakan Tere, ia menatap ke arah Gea, meminta persetujuan untuk ikut turun atau tidaknya. Gea memberikan isyarat jika lebih baik gantian saja lantaran harus ada yang menjaga si kecil.


"Kami nanti saja, Bunda. Sekarang Ayah dan Bunda terlebih dahulu yang makan. Nanti sehabis kalian, giliran kami."

__ADS_1


"Tidak, kita makan sama sama. Nanti si kembar biar Bi Siti yang menjaga mereka terlebih dahulu."


Tidak ada penolakan. Tere mengucapkannya dengan tegas.


Pada akhirnya mereka menyetujui saran dari Tere.


🍂


"Bun, bagaimana kalau aku mencari jasa pengasuh bayi untuk membantu Geyang menjaga si kembar di siang hari? Nanti kalau malam biar kami yang menjaga mereka berdua."


Briel angkat bicara kala mereka telah menyantap makan siang di meja makan. Ia meminta saran kedua orang tuanya.


"Hmmm ... bagus itu, ayah setuju," sahut Frans lantas menyuapkan kembali makanan ke dalam mulutnya. Tidak ada salahnya jika hal itu mampu membantu mereka berdua.


"Kalau Bunda?" Briel meminta pendapat Tere.


"Itu lebih baik Bri, kasihan tuh istrimu kecapaian." Tere menunjuk keberadaan Gea dengan dagunya.


Mendengar namanya disebut, Gea mendongakkan wajahnya menatap mereka secara bergantian. Mimik wajahnya mengisyaratkan ucapan "kok aku?". Ia tidak merasa kecapaian. Bahkan ia mampu tersenyum lebar hanya dengan menatap kedua putranya yang mampu ia sentuh dengan kedua tangannya sendiri.


"Tapi yang jelas adalah bagaimana pendapat Gege," ucap Tere kemudian. Keputusan apapun itu tetaplah harus mereka yang memutuskan.


"Tidak usah minta pendapat istriku, Bunda. Sudah pasti dia akan tetep kekeh merawat mereka sendiri," ucap Briel. Pasalnya Briel pernah membicarakan hal itu dengan Gea, namun Gea tidak menyetujuinya. Ia ingin merawat mereka sendiri, tentunya dengan bantuan Briel dan juga orang tua–orang tua mereka.


Tere tersenyum mengerti. Ada sebagian seorang ibu yang ingin merawat anaknya sendiri tanpa bantuan orang luar. Dan ia memaklumi hal itu.


"Menurut Bunda, kalian memang harus menggunakan jasa pengurus bayi agar kalian tidak kewalahan." Tere tersenyum ke arah Gea. Pernyataan itu memang ia tujukan untuk menantunya itu.


"Tuh dengar, Sayang. Benar kan apa kataku?"


Gea menatap Briel sekejab lantas menghela napas, menyerah dengan argumennya. 1:3 tidak akan menang.


"Baiklah ... Tapi cukup di siang hari saja ya. Untuk malam kita sendiri yang jaga mereka." Gea menyetujuinya dengan syarat.


Briel mengangguk. "Iya ..."


Tere dan juga Frans hanya mampu tersenyum kecil melihat anak dan menantunya itu.


🍂


//

__ADS_1


Happy reading gaes,


Jangan lupa bahagia 🤗💕💕


__ADS_2