
Seusai makan siang, di sinilah mereka berada. Mereka berada di ruang keluarga. Frans menepati janjinya untuk menjelaskan apa yang ia janjikan pada Briel.
"Yeah benar. Ayah sudah mulai curiga padamu tatkala kamu berusaha mengalihkan perhatian kami ketika membahas soal pernikahanmu dengan Sela. Mulai dari saat itu, Ayah berusaha keras untuk mencari tahu apa yang terjadi."
Tere duduk di sofa sembari mendengarkan suaminya berbicara. Sedangkam Briel dan Gea mendengarkan Frans menjelaskan apa yang terjadi dengam seksama.
"Dari sana, ayah meminta anak buah ayah untuk mencari tahu apa yang terjadi. Dan benar saja. Pada waktu hari pertama kamu masuk kerja, Mark menangkap sinyal kejanggalan dari kalian berdua. Maka dari itu, aku selalu menyuruh Mark untuk mengawasi kalian berdua, sekaligus mencari informasi mengenai siapa Gea."
Briel dan Gea tertegun dengan apa yang terjadi. Briel tidak menyangka ternyata Mark yang diam telah bersengkongkol dengan Frans.
"Cukup susah untuk mencari identitas siapa Gea. Namun dari CCTV hotel itu, sudah menjelaskan setidaknya Gea adalah istrimu. Perlahan identitas Gea mulai berhasil ayah cari."
Frans beralih menatap Gea. "Kamu putri dari Tuan Edi Wiyarta. Namun kamu di usir keluargamu dan memutuskan untuk tinggal sendiri."
Gea mengangguk ragu. Semua yang dikatakan Frans memang benar.
"Tapi kenapa Ayah dan Bunda tega sama kami? Ujian cinta kalian membuat Briel seperti orang gila Yah, Bun!" gerutu Briel.
"Karena Bunda gak mau salah memilih menantu. Apalagi kamu main narik wanita aja buat dijadikan istri. Untung Gege baik. Kalau dia gak baik gimana? Beruntung kamu Briel karena dapet istri sebaik dan secantik dia! Makanya kamu jangan main asal ambil keputusan yang gak nalar. Salah sendiri dulu gak mau tahu soal perjodohan," ucap Tere untuk mencari pembenaran diri. Gege adalah panggilan sayang Tere untuk Gea.
"Tapi kan kalau aku tahu siapa calon istriku dulu aku gak bakal nikah sama Gea, Bun!"
Tere terkekeh. "Iya juga sih." Ia membenarkan perkataan Briel. Briel memutar bola matanya malas.
"Uluh uluhh menantu Bunda yang cantik."
Tere mencubit gemas pipi Gea yang tengah duduk di sebelahnya. Gea hanya bisa tersenyum canggung. Frans hanya tersenyum sembari menggelengkan kepalanya pelan. Ia heran dengan segala tingkah istrinya itu.
"Jangan–jangan Ayah sudah tahu dimana keberadaan Gea kemarin?!" ucap Briel. Ia menatap Frans dengan tatapam menyelidik, untuk menelisik kenyataan yang sebenarnya.
Frans menggeleng. "Tidak. Ayah tidak tahu soal itu. Ayah sudah berusaha cari di mana Gea berada. Namun ayah tak berhasil menemukannya. Kali ini informasinya benar–benar sangat ketat. Tapi ayah sudah yakin kalau kalian akan bertemu lagi jika berjodoh."
Gea hanya tersenyum simpul. Ia tahu kalau Bima benar–benar sayang padanya dan begitu menjaganya. Briel masih setia mendengarkan penjelasan Frans.
"Dan benar saja. Kalian bertemu sebelum waktunya habis." Frans menyunggingkan senyum hangatnya.
"Bagaimana Ayah bisa seyakin itu, Yah?" tanya Briel penasaran.
"Astaga … makanya kalau punya nama itu diperhatikan, Briel," ucap Tere malas. Briel mengerutkan dahinya. Ia masih belum mengerri maksud ucapan Tere.
__ADS_1
Tere berdecak. "Ngakunya CEO tapi ternyata tidak pintar," cibir Tere.
"Ayolah, Bun, Yah. Tinggal jelasin aja!" rajuk Briel.
"Nama Yohandrian. Nama itu adalah sejarah di keluarga kita Briel." Frans angkat bicara.
Briel dan Gea memicingkan matanya. Mereka belum mengerti dengan apa yang Frans bicarakan.
"Iya Yohandrian. Nama itu mempunyai sejarah dalam hidup keluarga kita. Mulai dari buyut, kakekmu, ayah, dan sekarang kamu."
Frans menatap Briel dan Gea silih berganti.
"Buyut, kakekmu, dan ayah memiliki kisah cinta yang unik. Kami menemukan cinta sejati kita dengan cara yang unik. Buyut menemukan istrinya karena menyelamatkan istrinya dari pemerkosa di jaman itu. Beliau langsung menikahinya tanpa basa–basi. Kakekmu menikahi nenekmu dengan cara perjodohan yang cukup pahit namun berakhir bahagia. Sedangkan Ayah menikahi bundamu karena kejadian yang sungguh konyol."
Ucapan Frans terjeda. Ia tertawa untuk sejenak. Begitupun juga dengan Tere. Mereka tertawa karena mengingat kejadian masa itu. Briel dan Gea hanya terbengong karena tak tahu apa–apa. Tere dan Frans semakin tergelak tatkala melihat Briel dan Gea hanya terbengong.
"Baiklah–baiklah, akan ayah jelaskan."
"Jadi waktu itu ..."
Seorang pria berusia 21 tahun, mahasiswa tingkat akhir, tengah menunggu bus di sebuah halte. Ia berangkat lebih awal karena akan mengikuti acara yang diselenggarakan oleh pihak kampus. Ia membawa sebuah buku di tangannya untuk ia baca.
Pria itu terjatuh. Ia tak siap dengan keadaan karena ia sibuk membaca bukunya. Namun tak disangka, ia terjatuh dengan seorang wanita yang berada dalam kungkungannya. Bahkan tidak tanggung–tanggung. Pria itu mencium bibir wanita di kungkungannya itu. Mereka berdua saling terbengong. Mereka masih belum bisa mencerna apa yang terjadi.
Keriuhan terdengar. Setelah itu mereka langsung berdiri tegak. Mereka merasa malu. Rasa canggung menyelinap dalam diri mereka. Mereka bahkan tertunduk malu.
"Maaf," ucap pria itu.
Wanita itu hanya mengangguk sembari menyelipkan rambut ke telinganya. Ia sangat malu kala itu, namun ia tak bisa menyalahkan pria yang telah menciumnya karena semua itu adalah kecelakaan.
"Dan setelah itu ayah pulang. Tahu–tahu di rumah, ayah sudah disambut kakek dan nenekmu dengan kehororan. Ayah saat itu yang tak tahu apa–apa juga bingung." Frans berhenti. Ia merasakan tenggorokkannya mulai kering.
"Bun ambilkan minum."
Tak lama kemudian, Tere membawa empat gelas air putih. Frans mengambilnya lalu meminumnya karena rasa haus melandanya karena sudah terlalu banyak bercerita.
"Ternyata ada seorang wartawan di sana yang memotret gambar ayah dan bunda. Dari sana ia memberitahukan pada kakek. Kakek marah pada ayah, walaupun kejadian itu tak disengaja. Dari situ kakek mencari tahu siapa bundamu. Dan ternyata bunda anak dari rekan bisnis kakek. Dan ya sudah kami dinikahkan."
Briel tertawa. Ia merasa lucu dengan kisah kedua orang tuanya. Ia tak menyangka bisa begitu. Lucu saja. Hanya ciuman dengan orang yang tidak dikenal mereka dinikahkan.
__ADS_1
"Kenapa? Lucu ya? Memang." Tere tertawa.
"Maka dari itu kami tadi tertawa, karena lucu saja," ucapnya lagi.
Mereka berempat tergelak karena kisah konyol itu.
"Maka dari itu, kami yakin kalau kamu punya jalan tersendiri untuk menemukan cinta sejatimu. Dan benar. Kamu menikah dengan cara yang tak terduga," ucap Frans.
"Tapi tetap saja kamu Anak Nakal!"
"Nikah gak minta restu sama bunda," rajuk Tere.
"Kan kepepet, Bun!" Briel terkekeh. Tere hanya memutar bola matanya malas.
Briel terdiam ia seperti memikirkan sesuatu.
"Bun, Yah, maaf ya saat itu Briel mengucapkan kalimat yang seharusnya tidak Briel ucapkan."
Hatinya tidak enak karena telah mengatakan hal yang tidak pantas kala itu.
Tere dan Frans tersenyum hangat.
"Tidak apa. Karena kala itu kamu pasti diselimuti kabut amarah. Bunda paham itu. Maafkan bunda juga ya, karena menamparmu keras kala itu?"
Briel tersenyum dan mengangguk.
"Gege, maafkan bunda sama ayah ya karena kami kamu harus menahan sakit hati karena mendengar kata cerai dan melihat semuanya." Tere menatap Gea lekat, penuh permohonan. Gea pun mengangguk dan tersenyum. Tere mendekap hangat Gea. Dan Gea juga mendekap Tere dengan hangat pula.
"Sudah–sudah. Kita lupakan apa yang sudah terjadi dan kita simpan sebagai kisah. Hari ini juga ayah akan membatalkan pernikahanmu dengan Sela."
Briel dan Gea tersenyum lega. Akhirnya masalah mereka satu persatu telah usai.
🍂
//
Happy reading guys,
Jangan lupa bahagia 💕💕
__ADS_1