Pengantin CEO Yang Tertukar

Pengantin CEO Yang Tertukar
M2 – Sebuah Pembelajaran


__ADS_3

...Warning!!!...


...Kekenyangan dapat menimbulkan bahaya ketiduran di tempat dengan tangan memegang perut....


Dan itulah yang terjadi pada Dela. Ia tertidur di kursi setelah perutnya kenyang setelah mendapat amunisi yang Gaza berikan padanya. Gaza yang sedari tadi berada di luar dengan sebatang rokok di tangannya, kini berjalan ke dalam rumah. Langkahnya santai namun pasti. Ia mendekat ke arah Dela. Ia menatap tubuh yang terbaring itu dengan perut yang masih rata namun badannya mulai berisi.


Gaza mengambil napas dalam lantas menghembuskannya cepat. Seulas senyum menguar begitu saja kala melihat tubuh terlelap itu.


"Cantik, tapi sungguh menyebalkan jika terbangun," ungkap Gaza jujur. Ia mengambil bungkus makanan yang kini telah menjadi sampah itu. Ia membuangnya ke kantong plastik yang semula ia gunakan untuk membawakan makanan itu.


"Maafkan aku... Maaf telah membuatmu menunggu lebih lama," ucapnya tulus. Ia menatap wajah yang terlihat polos itu.


Sebenarnya adalah akal–akalan dia saja. Ia hanya berniat membuat Dela jera dengan tingkahnya. Bahwa tidak semua hal bisa ia dapatkan dengan mudah, atau bersikap seenaknya tanpa ada tanggung jawab. Ia paham bahwa Dela tengah hamil. Namun bukan berarti Dela tinggal di rumah itu sesuka hatinya.


Ia memang sengaja memindahkan isi kulkas ke dalam lemari makanan yang atas, yang jarang sekali Dela sentuh. Susu ibu hamil yang jarang bahkan hampir tidak pernah Dela minum juga menjadi bagian dari alasannya. Susu ibu hamil juga diperlukan untuk kesehatan mereka.


Makanan yang biasa Dela makan pun tidak baik untuk kesehatan mereka berdua jika dikonsumsi dalam jangka panjang. Terlalu banyak penyedap rasa, pewarna, dan juga pengawet. Gaza selalu geleng–geleng melihat perilaku Dela sekuat apapun ia melarang, pasti akan mental. Ibarat masuk telinga kanan, keluar telinga kiri.


Sambungan listrik ke televisi pun sengaja ia matikan. Sengaja memberi Dela pelajaran agar dia mau bergerak, tak hanya berdiam di dalam rumah saja.


Ada kepuasan tersendiri kala rencananya berhasil. Namun ada rasa bersalah yang hinggap di dalam hatinya kala ia melihat betapa lahapnya Dela kala menyantap sebungkus mananan dengan buah sebagai pencuci mulut.


Gaza merendahkan dirinya, berjongkok tepat di samping kursi Dela, mendekat ke tubuh Dela. Manik matanya jatuh pada wajah Dela. Gurat penyesalan tergambar jelas di wajah Gaza.


"Maaf telah membuatmu kelaparan."


Setelah mengucapkan kalimat itu, ia hanya pergi meninggalkan Dela yang masih terlelap. Akan canggung dan jatuh harga dirinya jika Dela terbangun dan melihatnya memandangi tubuh Gea saat ini.


Namun tiba–tiba langkahnya terhenti. Ia membalikan badannya. Ia menggerakkan telunjuk tangannya.


"Tapi maaf juga, hal ini akan berlanjut sampai beberapa hari ke depan. So ... nikmati hari harimu ke depan, beby."


Gaza tersenyum licik. Matanya mengedip sebelah. Lantas Gaza melenggang ke luar mencari udara segar.


🍂


"Papa ... "

__ADS_1


Panggil Gea. Ia teramat bahagia kala melihat sosok pria pertama di hidupnya kini mengunjunginya. Ia tersenyum menatap Edi yang kini menatapnya penuh senyum.


"Hai, Sayang, apa kabar?" ucap Edi sembari memeluk hangat sang putri.


"Baik Pa. Papa sendiri bagaimana? Masih sering check up?"


Edi mengangguk. "Iya ... Baru saja kemarin. Dan semua hasilnya bagus. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan."


Seperti ada angin sejuk yang menerpa, Gea lega mendengar jawaban Edi. Ia menginginkan papanya itu sehat selalu.


"Papa kenapa baru ke sini?" tanya Gea sedikit merajuk.


"Maafkan Papa, Gea. Banyak hal yang tengah Papa selesaikan. Bahkan media banyak yang mencari keberadaan Papa akibat Davin yang tiba–tiba saja diberitakan menghilang tanpa diketahui penyebabnya. Papa harus membungkam banyak media agar mereka tidak mengganggu hidup Papa."


Sejak hilangnya nyawa, keberadaan Davin memang tengah di cari media yang sering mengupdate hal terbaru dari dunia bisnis. Dan Edi harus menyiapkan banyak hal lantaran keberadaan Davin masih disangkutpautkan padanya.


"Papa..." Gea menatap sendu pada sang papa.


"Hmm?"


"Kenapa Papa tidak membicarakan hal ini pada suamiku, Pa?" Gea khawatir dengan keadaan Edi. Ia takut jika hal–hal seperti itu mengancam kesehatan Edi.


"Tenanglah, semuanya sudah usai."


Edi meyakinkan Gea untuk percaya kepadanya. Briel memang sudah meminimalisir pergerakan media. Namun ternyata masih ada media yang berhasil mencium bau–bau kejanggalan itu.


"Sudah. Aku ingin melihat kedua cucuku yang makin menggemaskan ini."


Edi mengusap lembut pipi si kembar secara bergantian. Terlihat sekali kasih sayang seorang kakek kepada cucu pertamanya. Melihat tubuh mungil nan menggemaskan itu seketika membuat kepenatannya mengilang tanpa tahu kemana jejaknya. Edi menimang Rio dan Ino secara bergantian.


"Wah wah wah ada besan datang ke rumah ternyata."


Tiba–tiba saja suara itu menginterupsi sementara kebahagiaan Edi. Ia menatap ke sumber suara. Ia tertawa mendengar siapa yang menyapanya.


"Iya, besan. Ingin melihat cucu sendiri. Soalnya mereka tidak mau main ke rumah," sindir Edi dengan sedikit rajukan yang dibumbui dengan candaan. Ia melirik jahil ke arah Gea.


"Papa lah ... Bukan gak mau Pa, tapi mereka masih terlalu kecil untuk di bawa ke mana–mana. Nanti kalau usia mereka sudah cukup, sesekali pasti kami main ke rumah Papa."

__ADS_1


Gea tidak terima dengan kata "tidak mau" yang dilontarkan Edi. Seakan–akan kata itu menuduh dirinya. Sedangkan Edi hanya tertawa karena berhasil menggoda anaknya itu. Sedangkan Frans tersenyum melihat interaksi papa dan anak itu.


Frans berjalan meraih Nino yang masih terbaring. Ia menimang Nino sama bahagianya dengan Edi yang menimang Rio.


"Cucu Opa sudah mula berat ya..." Frans menciumi wajah Nino dengan gemas.


"Rio juga, cucu Kakek mulai gembul pipinya," ungkap Edi.


"Pipiku uga gembul Akek, cepelti Akak Iyo." Frans menirukan gaya bicara anak kecil yang dibuat secedel mungkin. Hal itu membuat Gea tertawa melihat interaksi yang jarang ia lihat itu.


Kedua pria dewasa yang kini menyandang gelar lansia dari si kembar itu saling berbincang, mengikuti suara anak kecil seolah–olah yang berbicara itu Rio dan Nino.


🍂


"Pa."


"Hm"


"Sampai kapan Papa akan membiarkan Kak Dela seperti itu?"


Edi menghela napas kasar kala mendengar sebuah pertanyaan yang muncul begitu saja dari mulut Gea. Ia membaringkan Nino lantas menatap Gea dengan tatapan sendu. Sedangkan Gea masih terdiam, menunggu Edi berbicara.


"Papa tidak tahu. Tapi biarlah dia belajar sampai ketamakan dan kesombongannya benar–benar hancur."


"Tapi, Pa–"


Melihat tatapan mata Edi yang sendu dan penuh harap walau entah sampai kapan akan tecapai, Gea mengurungkan niatnya untuk mengungkapkan keibaannya pada sang kakak. Edi menatap Gea, menuntut agar Gea melanjutkan perkataannya.


Gea menghela napas. "Ya ... Lakukan apa yang menurut Papa benar."


Gea tahu, jika apa yang Edi lakukan adalah untuk kebaikan Dela. Tidak ada alasan baginya untuk menghalangi niat papanya itu.


Edi tersenyum. "Terima kasih," ucapnya tulus. Ia hanya berharap, semoga apa yang ia lakukan itu tidak berujung pada kesiasiaan.


🍂


//

__ADS_1


Happy reading gaes,


Jangan lupa bahagia 🤗💕💕


__ADS_2