Pengantin CEO Yang Tertukar

Pengantin CEO Yang Tertukar
88. Tingkah Adam


__ADS_3

"Ikut saya ke ruangan. Saya akan memberikan perhitungan karena kekurangajaranmu kali ini!" ucap Adam datar.


"Ba–baik, Tuan."


Mau tak mau Runi mengikuti Adam yang berjalan di depannya. Siap tak siap ia harus siap menerima konsekuensi atas kesalahannya walaupun tak disengaja.


"Malangnya nasibku ini," gumam Runi lirih meratapi nasibnya nanti.


Runi mulai mengikuti Adam untuk masuk ke ruangan Adam. Lorong–lorong panjang ia lewati. Tidak ada keramaian. Yang ada hanyalah ketegangan. Runi tak tahu akan ada apa nanti setelah ia sampai ke ruangan Adam.


Sampai di ruangannya, Adam duduk di kursi yang biasa ia pakai. Tangannya mengetuk–ketuk meja itu berirama. Suara ketukan–ketukan itu terdengar begitu menegangkan untuk saat ini. Runi hanya bisa menelan salivanya dengan tenggorokannya yang mendadak kering karena kegugupan yang melanda.


"Ahh …. Rupanya ini adalah waktu di mana aku harus mengatakan selamat tinggal untuk semuanya." Runi menunduk. Ia bergumam di dalam hatinya. Batinnya menangis meratapi nasibnya nanti.


"Selamat tinggal gedung elit, selamat tinggal pekerjaan!!!" jeritnya dalam hati.


Hati Runi memang benar–benar sangat cemas dengan posisinya kali ini. Bagaimana tidak? Nasib pekerjaannya di tangan Adam kali ini. Adam bisa dengan mudah memecat Runi.


"Hmmm"


Deheman keras itu mulai terdengar. Adam berdeham agar Runi mendengarkannya.


"Dasar tidak sopan!" Adam memulai pembicaraannya. Rasa kesal masih terlihat jelas di wajahnya.


Runi hanya semakin meringsutkan tubuhnya lebih menunduk karena suara Adam yang terdengar cukup keras.


"Haihhh … karenamu wajah tampanku terkena kuman–kuman dan bakteri dari lap kotor yang kamu bawa itu."


"Astaga …. Tampan sih tampan. Tapi ternyata narsisnya membuatku ingin menjitak kepala dia biar dia sadar!" gerutu Runi dalam hati.


"Kenapa? Kalau berani jangan mengumpatiku dalam hati. Ayo lakukan saat ini juga secara langsung!" tantang Adam.


Runi hanya bisa menganga dalam hatinya. Ia tak menyangka jika Adam bisa membaca apa isi pikirannya.


"Maaf Tuan. Bagaimana mungkin saya berani mengumpati Anda?" jawab Runi dengan wajah yang polos. Ia berucap semanis mungkin agar Adam tak mencurigainya.


"Astaga … untung dia tangan kanan Bos. Kalau bukan … ahh bukan waktunya untuk berandai." Runi mencoba menghentikan pikirannya yang mulai mengembara memikirkan tentang seandainya.


Adam hanya berdecih. Ia sudah hapal dengan wanita seperti Runi yang mencoba bersikap manis di depan atasannya padahal di belakangnya ia mengumpati atasannya.


"Kamu tinggal pilih. Mau saya pecat karena ketidaksopananmu, atau turuti apa yang saya mau?"

__ADS_1


Runi terperangah. Ia heran, kenapa hanya dengan kesalahan kecil begitu saya berakibat pada pemecatan.


"Ini tidak adil bagi saya, Tuan. Kesalahan ini tidak saya sengaja. Kenapa saya harus membayarnya sedemikian rupa?" Runi menyuarakan suara hatinya.


"Bos macam apaan hanya begitu saja main pecat–pecatan. Dasar bos lebay!"


"Pecat atau ikuti perintah saya?"


"Tap–"


"Pecat atau ikuti perintah saya?!"


Runi tak bisa berkutik lagi. Ia hanya bisa menjawab iya. Ia tak mau mata pencaharian dia hilang begitu saja karena kesalahan kecil. Ia membutuhkan uang untuk hidupnya dan keluarganya.


Runi mengambil napas dalam. "Saya akan mengikuti perintah Anda, Tuan." Runi mengucapkannya lesu.


"Bagus!" Adam tersenyum miring. Runi merasakan hawa–hawa yang tidak enak. Pikiran dan hatinya sibuk mengumpati Adam.


Adam memegang dagunya sembari berpikir. "Apa ya yang bisa kuperintahkan padanya?"


Tak lama kemudian, ada sekelebat ide untuk memerintah Runi.


"Cepat belikan saya tisu basah."


Runi tidak begitu fokus dengan instruksi Adam. Ia tidak mendengar jelas apa yang di bicarakan Adam. Ia menggerutu dalam hatinya, merutuki dirinya sendiri.


"Saya tidak akan mengulangi perintah saya. Cepat selesaikan! Nasibmu ke depannya ada di tanganku!"


Runi yang belum mengerti pun bertanya lagi. "Tapi apa Tuan?"


Adam semakin dibuat kesal oleh Runi. Ia sampai menggaruk kepalanya yang tidak gatal karena terlalu jengkel dengan Runi.


"Belikan tisu basah! Wajah saya banyak kumannya karenamu! Cepat!"


Adam berusaha untuk sabar dengan Runi.


"Ba–baik Tuan!"


Runi segera pergi meninggalkan Adam di sana. Ia pergi membelikan apa yang Adam minta.


"Ahh dasar atasan gila!" gumamnya lirih mengumpati Adam ketika ia sudah berada di luar ruangan.

__ADS_1


Sedangkan Adam yang di dalam ruangan hanya tersenyum jahil, karena telah berhasil memperdaya Runi. Entah mengapa, ia ingin saja menjahili Runi. Dan kebetulan waktunya begitu mendukung aksinya.


Kesendiriannya saat ini membuat ia teringat dengan kisah percintaannya. Kisah asmara yang cukup miris di hidupnya. Ia ditinggalka sang kekasih yang menikah dengan ditinggalkan menikah oleh kekasihnya yang berpaling pada mantannya.


Ternyata selama ini Adam hanya dijadikan sebuah pelarian karena kekasihnya itu yang sekarang telah menjadi mantan, melihat kekasihnya yang dahulu masuk ke dalam apartemen bersama seorang wanita. Namun ternyata itu semua hanyalah kesalahpahaman yang terjadi. Wanita itu ternyata saudara sepupu sang mempelai pria.


Kala itu, Adam sudah menyelidikinya sebelum menjadi kekasihnya. Dan katanya sang kekasih memilih untuk hidup bersama Adam. Namun apa? Ternyata hati manusia tidak ada yang tahu.


Mirisnya, kali ini ia diundang ke pesta pernikahan mantan kekasihnya. Ia tidak tahu harus menghadirinya atau tidak. Ia cukup gengsi dengan statusnya saat ini yang telah berganti menjadi jomblo. Tidak mungkin ia datang seorang diri.


"Ahh … nanti aku diledek habis–habisan di sana kalau hanya datang sendirian."


Yeah benar. Mantan kekasihnya itu menyelenggarakan pernikahannya di negara yang sama dengan Adam saat ini berada. Mau tidak mau Adam harus menghadiri acara itu.


Tiba–tiba pintu pun terbuka. Runi datang dengan membawa sebuah tisu basah. Ia menyerahkan tisu itu pada Adam. Adam menerimanya. Ia membuka bungkus itu, lalu mengusap wajahnya dengan tisu itu.


Dalam aktivitasnya, Adam tersenyum miring. Ia mencur pandang pada Runi yang masih berdiri di sana. "Kenapa aku tak mengajak Runi saja pergi ke sana? Setidaknya aku tidak sendiri."


Ide gila mulai muncul di pikiran Adam. Ia beralih menatap Runi yang sudah mulai pamit meninggalkan ruangan itu.


"Hukumanmu belum selesai. Masih satu lagi!"


Runi berusaha menekan rasa kesalnya. Ia mencoba untuk bersabar.


"Apa itu, Tuan?" Runi berkata dengan lembut, padahal sebenarnya ia ingin meneriaki Adam.


"Besok akhir pekan, kamu harus ikut dengan saya. Atau kamu tahu sendiri kosekuensinya."


Membawa kata konsekuensi lagi–lagi menyudutkan Runi untuk berkata iya. Runi mengangguk mengiyakan. Ia tak memiliki pilihan lain.


"Bagus! Kamu boleh pergi!"


Saat itu juga, Runi pergi meninggalkan ruangan Adam dengan rasa kesal yang membuncah.


"Dasar atasan setan! Untung dia atasan. Kalau bukan sudah kutendang sampai Jepang!" geruntunya sambil terus berlalu.


Sedangkan di dalam ruangan, Adam telah tersenyum lega. Ia sudah tenang karena tidak perlu berpikir keras lagi untuk menghadiri pesta pernikahan sang mantan kekasih.


🍂


//

__ADS_1


Happy reading guys,


Jangan lupa bahagia 💕💕


__ADS_2