Pengantin CEO Yang Tertukar

Pengantin CEO Yang Tertukar
106. Suka Vs Duka


__ADS_3

"Bunda …. Gege datang, Bun …!" teriak Gea dari depan rumah. Ia dan Briel baru saja sampai. Malam ini mereka menginap lagi di rumah sang mertua.


Briel yang baru selesai memarkirkan mobil, dibuat melongo olehnya. Gea yang biasanya anggun berubah menjadi wanita yang periang. Sikap Gea benar–benar aneh menurutnya.


"Benar–benar perubahan yang signifikan," gumam Briel sembari menggelengkan kepalanya.


Ia bergegas menyusul Gea ke dalam.


"Hey, Gege. Kenapa ke sini tidak bilang, hem?" ucap Tere. Gea pun langsung memeluk Tere manja. Gurat kebahagiaan terlihat jelas di wajah Gea. Gea menenggelamkan kepalanya di ceruk leher Tere.


"Terimakasih Tuhan. Engkau memang mengambil mamaku terlebih dahulu. Namun saat ini Engkau menghadirkan Bunda Tere di hidupku. Setidaknya dari beliau, aku bisa merasakan bagaimana dicintai seorang ibu dengan tulus," batin Gea. Senyuman terukir dari bibirnya.


"Eh? Ada apa ini?" tanya Tere. Pasalnya baru kali ini Gea berinisiatif memeluk Tere.


Gea menarik kepalanya lagi. Ia menatap lekat Tere. Senyumnya itu terukir manis, seakan tak akan peenah sirna di wajahnya.


Gea menggeleng ringan. "Ah … tidak apa, Bun. Hanya ingin memeluk Bunda saja."


Tere menggeleng ringan sembari mengulas senyum manis di wajahnya yang tak lagi muda.


"Ada–ada saja kamu, Gey." Tere mengelus pelan lengan atas Gea.


Gea kembali memeluk erat tubuh Tere. Tere juga membalas pelukan itu sama eratnya.


Sedangkan dari luar, Briel menghentikan langkahnya sejenak. Ia tersenyum melihat pemandangan di depannya. Ia terharu melihat pemandangan di depannya ini. Seorang menantu dan ibu mertua yang saling menyayangi.


Setelah cukup mengamati aktivitas keduanya, Briel kembali melangkah menghampiri mereka berdua.


"Astagaa … peluk–pelukan sana sampai puas. Suaminya dianggurkan saja," sindir Briel yang dimaksudkan untuk candaan semata.


Gea memeletkan lidahnya ke arah Briel. "Biarin."


Gea semakin erat memeluk Tere. Tere tertawa melihat pemandangan di depannya ini.


"Astaga kalian ini. Ayo masuk."


Gea mengangguk senang.


Mereka berjalan beriringan.


"Kebetulan sekali Bunda tadi masak lumayan banyak. Kalian sudah makan belum?" tanya Tere.


"Belum, Bun. Kan niat Briel sama Gea ke sini memang untuk meminta makan. Iya kan Geyang?"


Gea terkekeh ringan. "Iya, Bun. Kami malas masak untuk hari ini."


Gea memperlihatkan cengiran khasnya.


"Ciyee yang sudah punya panggilan sayang."


Gea tersipu malu. Pipinya terasa panas. Sudah dipastikan rona merah akan terlihat jels di wajahnya yang putih bersih itu.

__ADS_1


Tere dan Briel tergelak. Hal itu semakin membuat Gea tersipu.


"Ya sudah. Ayo kita langsung saja ke ruang makan," ajak Tere.


"Ayah ke mana, Bun?" Gea mengedarkan pandangan matanya.


"Ada di kamar. Sebentar lagi turun."


"Ayah sdah bisa jalan, Bun?" tanya Briel.


"Sudah. Kakinya sekarang empat lagi."


Jawaban Tere membuat Gea dan Briel mengernyitkan dahi mereka. Mereka tak mengerti apa yang dimaksud Tere.


"Empat?" tanya Briel.


"Iya. Itu lihat." Tere menunjuk Frans yang berjalan mendekat dengan dagunya. Frans berjalan pelan–pelan, di dampingi oleh perawat yang membantu merawat Frans.


Gea dan Briel hanya melongo saat mengerti apa yang dimaksud Tere.


Frans tertawa. Tawanya terdengar renyah di telinga mereka.


"Iya. Kaki ayah sekarang ada empat. Nih buktinya."


Frans sedikit mengangkat kedua tongkatnya dengan berat badan yang ia tumpukan pada satu kakinya.


"Sudah lama?"


Briel berjalan menghampiri Frans dan membantunya untuk berjalan ke kursi. Briel menarik kursi untuk Frans duduk. Frans menyambut bantuan Briel itu dengan senyuman.


"Wihh … tumben sekali anak ayah baik sama ayah," goda Frans.


Briel memutar bola matanya malas sembari berdecak. "Udah deh, Yah. Jangan mulai kenapa? Iya Briel jarang bantuin Ayah. Makanya Briel sekarang bantuin Ayah."


"Mau nginep apa pulang?"


"Nginep Yah," jawab Briel.


"Bagus."


Frans duduk di kursi itu. "Kenapa tidak tinggal di sini saja?"


"Kami akan tinggal di sini, tapi tidak untuk sekarang, Yah. Ada sesuatu hal yang ingin kita lakukan," jawab Briel sembari menarik kursi untuknya sendiri. Sedangkan Gea dan Tere sibuk mengambilkan makanan untuk suami mereka masing–masing.


"Melakukan apa?" tanya Tere penasaran.


"Ya pokoknya ada, Bun," jawab Briel sekenanya.


"Proyek ya?" selidik Tere.


"Iya, Bun."

__ADS_1


Briel mengerti arah pembicaraan Tere.


"Okedeh. Kalau begitu jangan lupa Bunda tunggu kabar baiknya. Jangan lupa nanti yang imut ya."


Tere sudah tak sabar menimang cucu dari Briel. Menjadi nenek adalah impiannya saat ini. Pasti akan sangat bahagia jika di masa tuanya ia bisa melihat cucu–cucunya tumbuh. Tere membayangkan saat–saat itu.


"Siyap Bun."


Briel memang tak memberitahu apa yang sebenarnya tengah Briel dan Gea rencanakan. Namun baginya, ucapan bundanya adalah doa baginya. Diam–diam ia juga mengamini ucapan sang bunda. Begitupun juga dengan Gea. Gea tersenyum simpul.


Tak berapa lama kemudian, terdengar dering panggilan masuk dari gawai Briel. Briel mengamati sebentar gawainya lalu mematikan panggilan itu.


"Kenapa tidak diangkat?" tanya Gea.


"Nanti saja."


"Bagaimana kalau penting?" tanya Gea.


Briel tersenyum simpul. "Bukan waktunya mengangkat telepon. Sekarang waktunya makan malam bersama."


Bagi Briel, ia tak akan mengangkat telepon dari siapapun itu, jika ia tengah bersama keluarga di luar jam kerja. Prioritas utamanya adalah keluarga.


Mereka menyantap hidangan makan malam itu sambil sesekali berbincang ringan.


🍂


Malam semakin larut. Saat ini Ayu tengah berada di mini bar yang ada di rumahnya. Mini bar itu dahulu sering digunakan Davin dan teman–temannya berpesta di rumah. Ayu mengambil sebotol red wine yanh tersimpan di almari yang ada di sana.


Ia menuangkan red wine itu ke gelas secara perlahan. Ia menyesap red wine itu perlahan. Ia bukanlah peminum andal, namun ia masih kuat untuk meminum minuman beralkohol.


Ayu mengangkat gelasnya. Ia memutar–mutar gelas itu tepat di depan wajahnya. Tatapannya kosong. Ia tersenyum miring, menertawakan nasibnya yang gagal menikah padahal sebagian undangan telah tersebar.


"Why?" gumam Ayu lirih.


"Kenapa ia membatalkan pernikahan ini?" ucap Ayu pada segelas red wine di tangannya dengan suara yang sudah parau.


"Jahat!!!!" teriak Ayu.


Prank


Ayu melempar gelas yang ia pegang. Air membasahi lantai itu, pecahan kaca bercecer di lantai, siyap melukai siapapun yang menginjaknya. Ayu mengacak rambutnya sendiri. Derai air matanya telah luruh membasahi pipinya dengan begitu deranya. Isakan tangis itu terdengar pilu di tengah kesunyian malam yang dingin.


Sepi, ia sendirian. Kedua orang tuanya tengah melakukan perjalanan bisnis ke luar kota. Sedangkan Davin tak berada di rumah itu. Hal itu membuatnya semakin menjadi. Ayu meminum red wine langsung dari botolnya. Hingga tanpa sadar ia pun tertidur di sana karena pengaruh minuman beralkohol yang ia minum.


🍂


//


Happy reading guys,


Jangan lupa bahagia 💕💕

__ADS_1


__ADS_2