
Sepi.
Briel mengedarkan pandangannya, tatkala ia memasuki halaman kediaman Yohandrian yang sudah dua tahun lamanya tak ia kunjungi lagi.
"Selamat datang Tuan Muda," sapa satpam yang bertugas dengan membungkukkan badan.
Briel mengangguk, lalu ia melanjutkan langkah kakinya masuk ke dalam diikuti Adam di belakangnya. Malam tengah larut. Itulah mengapa suasana disana sangatlah sepi.
Briel melangkah ke dalam rumahnya. Sebagian lampu utama telah dipadamkan, menyisakan sedikit lampu yang menyala. Ia menyampirkan jasnya di salah satu kursi yang ada di ruang makan. Ia mengambil segelas air di dalam kulkas karena tenggorokkan terasa kering. Dahaga menyergapnya walaupun hawa di malam itu cukup sejuk.
"Wahh ada dua kaleng soda. Kau mau gak Dam?" Briel menoleh.
"Bolehlah. Mana Bos, satu saja."
"Memang hanya satu, gak bisa lebih. Soda kaleng ini memang tinggal dua kaleng saja. Nihh... "
Briel melemparkan sekaleng soda itu ke arah Adam. Namun naas, ternyata Adam masih kurang sigap menangkap kaleng yang dilempar Briel untuknya. Kaleng soda yang Briel lempar mengenai guci kecil yang ada di atas meja makan. Bunyi pecahan keramik terdengar nyaring. Suara pecahan guci yang terlempar jatuh itu menimbulkan kegaduhan.
"Maling... maling... "
🍂
"Yah… bangun, Yah."
Tere menggoyangkan badan Frans agar ikut terbangun dengannya saat ini.
"Ada apa sih, Bun?" ucap Frans dengan suara khas orang yang tengah terbangun dari tidurnya. Mata yang terlihat seperti diberi perekat, menjadi pengiring wajah Frans dikala itu.
"Ayah haus nggak?" tanya Tere manja.
"Enggak, Bun. Yang ada saat ini, aku ngantuk, Bun."
Setelah berucap seperti itu, Frans langsung membalikkan badannya membelakangi Tere. Ia melanjutkan kegiatannya yang tertunda untuk menyelami alam mimpi.
Tere berdecak kesal. "Astaga dasar suami tidak peka," geruntu Tere.
Ia segera beranjak turun dari ranjang king size, berjalan menuju dapur untuk mengambil segelas air putih untuk memuaskan dahaga yang menyergapnya. Dengan rasa kantuk yang mengikutinya, Tere berusaha keras untuk sampai di dapur, demi segelas air putih.
"Hahh suami diajak ambil minum malah balik tiduooorr," ucapnya sambil menguap.
"Kapan dia mau peka ya? Dasar gak ada romantis-romantisnya."
Tere berjalan dengan mata yang masih setengah terpejam.
Pyar
Tere berjengit kaget. Kantuk yang semula menyerangnya telah pergi. Mata yang semula mengantuk sekarang terbuka sempurna. Perasaan was-was menyergap hatinya. Ia mendengar suara pecahan keramik yang terdengar nyaring.
"Suara apa itu? Apa jangan-jangan ada maling yang masuk?"
Tere berusaha mencari sesuatu di dekatnya untuk ia jadikan senjata. Ia menemukan sebuah kemoceng yang masih tertinggal disana. Tere memegang erat kemocengnya itu dengan kedua tangannya. Ia berjalan mengendap-endap, menuju dari mana suara itu berasal.
Hingga Tere melihat ada sosok pria bertubuh tinggi besar berdiri di depan kulkas yang terbuka. Tere panik. Ia tak tau apa yang harus ia lakukan.
"Maling... maling... "
Tere berteriak sambil memukul-mukulkan kemoceng yang ia bawa ke badan tubuh sosok itu. Sosok itu berusaha melindungi tubuhnya dengan kedua tangannya.
__ADS_1
"Bunda… ini Briel, Bun. Jangan pukuli Briel!" ucap Briel yang masih terus dipukuli oleh Tere.
"Rasakan ini… rasakan! Dasar maling gak punya akhlak!"
"Bunda... " ucapnya melas.
Seketika Tere berhenti memukuli Briel. Ia tidak tega lagi melihat wajah melas anaknya sendiri yang ia kira maling.
"Aduh, Bun. Sakit, Bun!" Briel mengaduh sakit ketika Tere dengan sengaja memukul Briel cukup keras setelah ia berhenti melancarkan pukulan bertubi-tubi.
"Rasakan itu! Dasar anak nakal kamu ya, Briel. Pulang gak kasih tahu Bunda dulu. Kamu pikir bunda kangen apa?" ucap Tere yang masih kesal karena anaknyalah malingnya.
"Yaudah kalau nggak kangen, Bun. Briel balik lagi aja ke Jerman."
"Aww"
Lagi-lagi Briel mengaduh saat telapak tangan Tere mendarat di lengan atas Briel. Rasa yang panas menjalar, namun rasa itu tak menyegarkan.
"Dasar, semua kenapa semua laki-laki tidak peka?" gumam Tere lirih.
"Makanya dengerin dulu bunda ngomong sampai selesai baru berasumsi."
Briel menampikan deretan giginya yang rapi. Briel langsung menghambur memeluk bundanya. Briel memeluk tubuh yang mulai renta itu dengan erat. Rasa hangat pelukan seorang ibu sangat menenangkannya.
"Bunda jelas kangen dong sama kamu."
Pelukan rindu dari keduanya cukup lama. Mereka saling mengobati rasa kehilangan sementara yang telah berlangsung selama dua tahun. Adam yang ada disitu pun diabaikan oleh mereka. Adam hanya diam mematung, speechless dengan apa yang baru saja terjadi di depan matanya. Kegiatan absurd ibu dan anak.
"Mana Bun! Mana malingnya, Bun?!"
Suara panik itu menginterupsi mereka berdua untuk menghentikan pelukan hangat antara ibu dan anak. Mereka memalingkan wajah mereka berdua ke arah dimana Frans berada. Seketika wajah Frans yang semula panik, kini malah memutar malas bola matanya karena ia merasa diprank sama anak dan istrinya.
Briel berjalan menghampiri Ayahnya, ingin memeluk sang ayah.
"Eitt tunggu dulu. Jangan dekat-dekat ayah. Ayah gak mau terkena virus korona yang gak sengaja kamu bawa." Frans menghentikan niat Briel untuk memeluknya. Tindakannya membuat Briel lesu seketika.
"It's okay, Yah. Aku mau peluk Bunda saja," balas Briel sengan senyum smirk sambil berbalik menghampiri Tere.
Frans pun terkekeh. Ia berjalan menghampiri Briel, memeluknya erat.
Frans tertawa. "Ayah bercanda Bri, gitu saja baper."
Briel membalas pelukan sang ayah dengan sama eratnya.
"Dam, udah dari tadi disitu?" ucap Frans yang menyadari kehadiran Adam disana setelah mengakhiri kegiatan peluk memeluk.
"Udah, Yah." Adam menarik bibirnya ke atas.
"Eh… ada Adam juga ya?" ucap Tere yang menghampiri Adam. Ia memeluk Adam layaknya anaknya sendiri. Begitupun juga dengan Adam. Ia telah menganggap Tere dan Frans layaknya orang tua sendiri.
"Sudah, sudah. Segeralah bersih-bersih dan beristirahatlah. Adam, pilihlah sendiri dimana kamu akan beristirahat," ucap Frans untuk menghentikan kegiatan mereka. Ia membebaskan Adam untuk memilih kamar tidur yang akan Adam pakai, karena di rumah kediamannya itu banyak kamar yang 'tak terpakai, namun terawat dengan baik. Briel dan Adam mengangguk.
🍂
Sementara itu, Gea tengah berbaring di dalam kamarnya. Ia menatap langit-langit kamar untuk mengisi kesunyian yang melandanya. Malam ini ia tidak bisa tidur bahkan sampai tengah malam.
Gea bangun dari tidurnya, mengambil buku kecil di mejanya. Ia menggoreskan tinta hitam di atas lembaran putih di dalam kesendirian, kesunyian malam.
__ADS_1
🍂
Nyanyian Malam
Sepi, sunyi,
Tak berujung jua.
Gelap, kelam,
Kapan esok akan datang?
Krik-krik
Bunyi jangkrik menjadi pengisi suara merdu,
Tatkala semua insan tengah sibuk menyelami alam mimpi.
Sepi, sendiri,
'Tak ada seorang pun yang menemani.
Hanya gelapnya malam
Dan dinginnya rasa yang menyapa.
Kubersandar, menengadah
Mengucap seutas harapan panjang
Kapan hari esok akan segera tiba,
Hingga sang cahya menampakkan titiknya di ufuk timur?
Disitulah ada sebuah titik.
Mengenyahkan sunyi, sepi, sendiri,
Gelap, dan kelam.
Mengenyahkan suara jangkik yang hanya berbunyi "Krik"
Menggantinya dengan suara burung yang terdengar merdu dan lebih berwarna dengan suara "cicitcuit"
Memberikan amunisi positif yang menenangkan dan menghangatkan.
Buah dari penantian panjang,
Si nyanyian malam yang sunyi.
🥀Gea Agatha - Asa Bt
🍂
//
Happy reading all 🤗
__ADS_1
Langan lupa bahagia 💕