Pengantin CEO Yang Tertukar

Pengantin CEO Yang Tertukar
M2– Batasan


__ADS_3

"Merepotkan!" gumam Gaza sebal.


Gaza berjalan menuju ke dapur dengan wajah yang masam. Kakinya enggan melangkah, namun telinganya lebih tidak ingin mendengar rengekan Dela yang kian menjadi. Sedangkan Dela yang masih mendengar memilih bersikap bodo amat, berpura–pura tidak mendengar. Egonya lebih besar dari rasa gengsinya.


Cukup lama Gaza berkutat dengan bahan dan juga peralatan dapur, Dela mencium aroma masakan yang begitu harum. Dari aromanya tercium bau kencur yang membuat dirinya semakin tergoda.


"Nih makan!" ucap Gaza jutek. Ia meletakkan semangkuk seblak di atas meja, tepat di depan Dela yang sedari tadi duduk di kursi meja makan.


Dela menerima masakan Gaza dengan rasa senang yang tidak terbendung. Senyuman lebar ia lemparkan pada Gaza. Hanya helaan napas yang terdengar dari Gaza, namun Dela membodoamatkan, yang penting dia kenyang.


Sesuap, dua suap, tiga suap, sendokan seblak itu masuk ke dalam mulutnya. Bahkan tanpa sadar Dela menggelengkan kepalanya. Rasa seblak itu sangat cocok di lidahnya.


"Uhuk uhuk"


Terlalu fokus dengan makanannya membuat Dela tersedak lantaran dirinya terlalu bersemangat meminum kuah seblak dengan tingkat kepedasan yang sedang. Dia terbatuk–batuk. Bahkan dada dan tenggorokannya terasa sakit. Matanya berair menahan rasa sakit itu.


Cukup lama tidak kunjung berhenti terbatuk, Gaza mengambil segelas air putih. Tanpa sepatah katapun ia meletakan air putih itu di depan Dela. Dela meraih segelas air putih itu segera. Ia meminumnya seperti orang kesetanan.


"Haaaah"


Dela lega lantaran batuknya telah mereda dan rasa sakit akibat tersedak kuah pedas sudah menghilang.


"Seblaknya masih tidak?" tanya Dela. Kedua tangannya menyangga mangkok kosong, ia arahkan pada Gaza, berharap masih ada sisa seblak.


"Masih, kuahnya saja."


"Oke"

__ADS_1


Dela sedikit berlari ke dekat kompor untuk mengambil sisa kuah. Ia menuangkan kuah itu ke dalam mangkoknya. Tak lupa pula ia menambahkan sedikit nasi ke dalam mangkok, lantas kembali ke kursi semula.


Dengan cepat namun hati–hati, Dela kembali menyantap makanannya. Ia juga meminum kuah itu sampai habis. Gaza terheran–heran dibuatnya. Pasalnya ketika ia merasakan masakan itu, ternyata masakannya keasinan. Namun ia heran kala Dela biasa–biasa saja kalau menyantap masakannya. Bahkan malah terlihat sangat menikmati.


Gaza menggeleng pelan. "Aneh" gumamnya tanpa mengalihkan pandangannya pada sosok wanita berbadan 2 itu.


"Ah kenyang. Ternyata rasa kenyang hanya seperti ini," ucap Dela sembari memegang perutnya yang semakin besar karena kekenyangan.


"Sudah kan? Kalau sudah bereskan sendiri. Aku mau tidur."


"Hmmm" gumam Dela. Ia tidak bisa menjawab lantaran beberapa tenggak air putih membasahi krongkongannya.


Gaza tetap pergi lantaran dirinya sudah mengantuk lagi. Lagi pula Dela sudah selesai, jadi selesai juga tugas nya malam itu.


"Eh eh tunggu dulu, jangan tidur dulu!"


"Apa?!" ucapnya tanpa berbalik dengan datar namun ketus.


"Jangan galak–galak napa," rayu Dela.


"Cepat katakan. Apa maumu?" Gaza tetap fokus pada satu titik utama saja.


"Temani Gue di sini dulu. Tidak mungkin sehabis makan aku langsung tidur."


"Tidak mau!"


"Mau dan harus mau! Dela masih terus meminta Gaza sampai pada akhirnya Gaza sendiri yang lelah berdebat dengannya.

__ADS_1


Pada akhirnya Gaza menuruti lagi permintaan Dela. Mereka kini duduk di depan televisi. Tidak ada satu acara pun yang bagus. Pada akhirnya mereka hanya membiarkan televisi yang menyala untuk menemani malam mereka yang terasa sangat canggung lantaran mereka sibuk dengan pikiran mereka masing–masing.


"Selama ini kau tu kerja apa?"


Dela bertanya tiba–tiba. Sebenarnya bukan tiba–tiba. Namun karena ia tidak menemukan jawabannya, pada akhirnya ia bertanya saja untuk menjawab rasa penasarannya dari kemarin.


Cukup lama Dela menatap Gaza. Gaza menghembuskan napasnya kasar. Ia berdecak kesal.


"Sudah jelas kan pekerjaanku apa?" ungkap Gaza yang memang belum siap untuk mengungkap siapa dirinya sebenarnya.


Dela memutar bola matanya malas.


"Ya yayayaya terserah, Kang Service!"


Hanya itu pekerjaan yang terlintas dalam benak Dela. Pasalnya ia melihat tumpukan barang bekas yang sering kali ia melihatnya. Dan yeah itu mungkin pekerjaan Gaza.


Gaza tertawa miris. Tawa Gaza mengundang tanya Dela.


"Kenapa kau? Benar bukan?"


"Iya benar. Bisa bisanya kau menebak seperti itu."


Dela hanya mengedikkan bahunya.


Apa yang dikatakan Dela memang benar meskipun tidak sepenuhnya benar. Kang service yang Dela maksud memang berarti seperti biasa. Namun dalam hidup Gaza, di masa lalunya, ia memang kang service di arti lain.


"Tidak semua hal kehidupan orang bisa kau ketahui. Ada batasan yang tidak bisa kau masuki begitu saja oleh orang asing," gumam Gaza dalam hati.

__ADS_1


__ADS_2