Pengantin CEO Yang Tertukar

Pengantin CEO Yang Tertukar
102. Pesta Pernikahan


__ADS_3

Dekorasi indah nan menawan, memanjakan mata. Bunga–bunga warna–warni menyegarkan mata, menyejukkan hati. Lantunan lagu itu terdengar mendamaikan jiwa. Hawa romantis terasa begitu pekat. Itulah suasana yang ada di gedung yang digunakan untuk pesta pernikahan.


Briel dengan Gea dan Adam dengan Runi, berjalan beriringan ke dalam. Briel dan Gea berjalan lebih dahulu. Banyak tamu undangan mulai berdatangan. Masing–masing dari mereka membawa pasangan. Mereka saling menyapa satu sama lain untuk sekadar menanyakan, apa kabar? Bagaimana dengan perusahaanmu? Bagaimana dengan pasanganmu? Bagaimana dengan anak–anakmu? Bahkan, kapan menikah?


Adam mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan. Sampai matanya berhenti memandang di satu arah. Di pelaminan, terlihat kedua mempelai tersenyum bahagia. Adam, tersenyum kelu melihat pemandangan itu.


"Well, akhirnya dia bahagia di atas penderitaan orang lain," gumamnya dalam hati. Siapa sih yang tidak sakit hti dan tertawa miris? Beberapa waktu lalu ia dipatahkan, dan hari ini, Adam melihatnya duduk bersanding dengan orang lain. Tak bisa dipungkiri, hatinya masih terbawa oleh sang mantan kekasih.


Runi menatap ke arah Adam. Sorot matanya terlihat sendu. Ia kasihan dengan kisah asmara hidup Adam.


"Malang sekali nasibmu Bos Gelo. Ku kira orang kaya dan tampan tak akan bisa dikhianati. Ternyata bisa juga ya ...." batin Runi.


Adam menoleh ke arah Runi. Tak sengaja tatapan mereka bertemu. Runi mengalihkan pandangannya ke sembarang arah. Ia seperti maling yang tertangkap basah.


"Kenapa lihat–lihat?"


"Siapa yang melihatmu? Geer sekali!" kilah Runi. Ingat kata pepatah. Tidak ada maling yang mau mengaku, kecuali maling hati. Hanya maling hati yang mampu mengungkap secara sukarela.


"Hilihh!"


Adam tak percaya dengan apa yang diucapkan Runi. Ia sudah menangkap basah bahwa Runi terlihat jelas memperhatikannya. Hanya saja Runi tak mau mengakuinya.


"Haihh bodoh kau Run! Kenapa juga sampai bisa ketahuan," gumam Runi dalam hati. Ia merutuki kebodohannya.


"Jangan–jangan kamu tertarik sama saya. Ngaku saja!" ucap Adam percaya diri.


Runi ternganga. Ia tak terima dengan ucapan Adam yang menghakimi dirinya. Kenyataannya memang tidak begitu.


"Sembarangan! Dasar Bos Gelo!"ucap Runi tanpa ditutup–tutupi lagi.

__ADS_1


Semua orang menoleh ke arah mereka berdua. Suara Runi yang cukup keras mengundang perhatian orang sekitar. Adam memejamkan matanya malu. Dia berdecak kesal. Ia menatap tajam Runi. Runi hanya memperlihatkan wajah polosnya tanpa merasa bersalah.


"Maafkan kami Tuan dan Nyonya, telah mengganggu kenyamanan Anda sekalian." Adam meminta maaf dengan menahan malu. Semua orang kembali ke aktivitas mereka.


"Ahhh dasar cewek lemot, nyebelin lagi sekarang! Hihh ...!" ucap Adam.


Adam membawa Runi menjauh dari sana. Selain karena malu, ia juga ingin menghampiri Briel yang telah berada cukup jauh di depannya.


"Kalian kenapa malah ribut sendiri di sana?" tanya Briel saat Adam dan Runi menghampirinya. Ia mendengar sedikit keributan dari arah Adam. Ia penasaran dengan apa yang terjadi.


"Tau tuh!" ucap Adam tak acuh.


Runi tersenyum terpaksa. "Bapak Atasan yang terhormat, kenapa saya disalahkan?"


"Lah memang kamu yang salah!" ucap Adam. Lagi–lagi mereka mulai berdebat. Briel dan Gea semakin pusing dibuatnya.


"Kuatkan Dam?" goda Briel.


Adam mengernyitkan dahinya. Ia tidak terima juga diledek Briel seperti itu.


"Memangnya aku apaan? Masak gitu aja tidak kuat. Aku sudah tidak peduli sama dia!" ucap Adam. Padahal dalam hatinya dia ketar–ketir, mengkhawatirkan hatinya sendiri.


🍂


Pesta pernikahan telah usai. Semua orang mulai berhamburan meninggalkan tempat itu. Begitupun juga dengan Gea, Runi, Briel, dan Adam. Mereka menuju ke parkiran.


Sementara itu, sepasang suami istri licik juga ada di sana. Mereka tak lain adalah Davin dan Dela. Ternyata mempelai laki–lakinya adalah rekan bisnis Davin.


"Eh? Bukankah dia seperti Gea?"

__ADS_1


Davin bertanya tanya dalam hati. Perasaannya berkata demikian. Namun logikanya menyangkal. Davin berpikir sejenak, bahkan terlihat seperti orang yang sedang melamun.


"Mana mungkin Gea bisa menghadiri pesta pernikahan ini?"


Davin masih memandang di mana ia melihat Gea sekilas. Namun hanya sekejab saja karena Gea telah menghilang di antara kerumunan orang banyak.


"Kamu lihat apa, Sayang?" tanya Dela penasaran. Ia bahkan ikut celingukan melihat apa yang sebenarnya Davin lihat. Ia tak menemukan apapun.


"Engga kok," kilah Davin. "Ayo pulang."


Mereka berdua pun turut pulang.


🍂


//


Hai semuaa sembari menunggu cerita Asa up, kalian bisa mampir dulu ke cerita baru dari kakak online Asa 🤗


Ceritanya seru, dan banyak nilai nilai kehidupan yang bisa diambil dari sana. Coba saja mampirin, siapa tahu jodoh 😗😗



🍂


//


Happy reading guys,


Jangan lupa bahagia 💕💕

__ADS_1


__ADS_2