
"Apa yang kutakutkan terjadi," gumam seorang pria yang tak lain adalah Bima.
Ia berdiri di sebuah ruangan dengan dinding berkaca. Ia menatap lurus ke depan dengan pandangan datar. Ia selalu memantau Gea, walau ia tak terlalu ikut campur ke dalam masalah Gea yang sudah menjurus ke privasi Gea.
Bima tersenyum samar dan terkesan simpul. Ia berharap, semoga Gea dan Briel bisa melewati masalah mereka. Karena ia mengetahui fakta yang sebenarnya terjadi.
๐
Setelah beberapa waktu, sampailah Gea di rumah Bima yang tidak diketahui oleh siapapun. Rumah itu selalu Bima gunakan untuk merancang software sejak ia sudah tinggal terpisah dengan orang tuanya. Kedua orang tua Bima memutuskan untuk tinggal di Amerika semenjak Bima mulai hidup mandiri. Sedangkan Bima sendiri memilih untuk tetap di sini untuk meneruskan perusahaan yang sudah ia rintis sejak awal.
"Hai, Kak," sapa Gea. Ia melihat Bima yang masih berdiri menghadap ke luar ruangan. Bima membalikkan badannya mengarah kepada Gea.
Gea berusaha untuk tersenyum agar kakaknya ini tak khawatir. Namun tetap saja, senyum yang dipaksakan tetap akan terlihat bagaimana suasana hati orang itu yang sesungguhnya.
"Jangan paksakan senyum jika kamu tak bisa tersenyum. Terkadang memaksakan senyum hanya akan membuat hatimu bertambah sakit," ucap Bima.
Gea mematung. Senyum yang ia kembangkan memudar. Ia menghela napas dalam. Memang benar adanya apa yang dikatakan oleh Bima. Sekuat apa pun Gea membohongi dirinya, hatinya tidak akan pernah bisa ia bohongi.
Bima berjalan mendekat. Ia memegang kedua sisi pundak Gea, kemudian memeluknya erat. Gea menikmati pelukan hangat kakaknya itu. Ia merasa sangat disayangi saat ini.
"Hendri sudah ku beri tahu kalau kamu ada di sini agar dia tak mencemaskanmu."
"Makasih, Kak."
Bima hanya mengangguk sembari menepuk ringan punggung Gea. Gea menikmati pelukan kakaknya itu. Menenangkan, walau tak seampuh pelukan Briel.
Gea menggeleng cepat di dalam dekapan Bima untuk mengenyahkan pikiran itu.
"Lupakan dia Gey, lupakan!" batin Gea.
Gea berusaha mengenyahkan Briel walaupun sulit dan sakit.
"Kenapa kamu, Gey?"
Bima heran kenapa Gea tibaโtiba saja menggeleng cukup cepat di dadanya.
Gea mendongak, lalu memperlihatkan gigi rapinya. Ia terkekeh ringan.
"Tak apa, Kak."
"Dah sana bersihkan dirimu. Sesuka hati kamu mau pakai kamar yang mana."
"Siap, Bos!" Gea memberikan hormat layaknya seorang murid yang tengah memberi hormat pada bendera.
Bima tak bisa menahan tawanya. Ia terhibur oleh tingkah lucu Gea.
__ADS_1
"Yaudah sana. Bau tahu!" Bima menutup hidungnya sendiri.
Gea tertawa. Dia langsung menuju ke kamar untuk membersihkan dirinya, meninggalkan Bima seorang diri. Bima hanya menatap Gea sampai punggungnya tak terlihat lagi. Kemudia ia kembali pada aktivitasnya merancang software anti virus yang tengah ia garap.
๐
Sementara itu, di lain tempat, Briel tengah berada di sebuah markas. Markas yang sudah lama sekali tak ia singgahi. Sebelumnya ia memiliki kelompok yang sering disebut dengan Naga Hitam.
Jangan salah. Kelompok ini bukan kelompok mafia maupun gengster. Kelompok ini Briel bentuk untuk membantu membasmi kejahatan secara rahasia. Kelompok ini sering didapuk oknum kepolisian untuk membantu melacak keberadaan penjahat yang sulit untuk di temukan. Tapi tidak banyak yang mengetahui keberadaan kelompok Naga Hitam.
"Kalian semua saya kumpulkan di sini untuk membantu saya."
"Saya ingin kalian melacak di mana keberadaan istri saya dan menemukannya."
Briel menjelaskan kapan kejadian itu beserta plat mobil yang dikendarai Gea dan rombongannya.
"Lacak dengan CCTV jalan yang tersembunyi. Kirim permintaan izin penggunaan pada kepolisian."
Briel tidak asal meretas saja. Karena ada aturan yang harus ia ikuti. Lagi pula tidak susah menggunakan akses itu, karena kepolisian sudah dipastikan akan mengijinkan jika yang berkeperluan adalah Naga Hitam.
"Temukan segera!"
"Baik, Bos!" jawab mereka serentak.
Mereka semua menjalankan aktivitas mereka sesuai instruksi Briel. Mereka melakukannya dengan serius dan teliti, agar lebih cepat menemukan keberadaan Gea. Hingga suatu ketika ada seorang dari mereka melihat mobil yang dinaiki Gea. Dia langsung memfokuskan pencarian pada mobil itu di setiap CCTV.
"Damn it!" umpatnya yang diketahui bernama Nichol. Dia adalah anak buah kepercayaan Briel. Ia merasa ditipu oleh apa yang dilakukan kedua orang pengguna mobil itu.
Mereka terus mencari dan mencari. Namun mereka tak berhasil menemukan Gea. Karena tanpa mereka sadari, orang suruhan Bima sudah bisa membaca langkah apa yang harus mereka lakukan. Mereka telah menurunkan Gea di tempat yang tidak terdapat CCTV. Gea beralih menggunakan taxi agar tak mudah di lacak oleh siapapun yang membututinya.
Dua jam telah berlalu. Malam sudah semakin larut, namun mereka belum juga menemukan titik terang.
Briel telah menagih apa yang ia minta.
"Bagaimana?"
"Kami tidak menemukannya, Bos. Saya sempat menemukan mobil yang membawa Nona. Namun mereka lebih cerdas dari apa yang kita bayangkan. Mereka mengelabuhi kita dengan menurunkan Gea di tempat yang tidak ada CCTV nya. Mereka telah mengetahui di mana saja tempat yang terdapat CCTVnya maupun tidak. Hal itu membuat kita semakin kesulitan," ucap Nichol hatiโhati.
Briel menghembuskan napas kasar. Ia bingung akan melakukan hal apa. Tapi ia akan berusaha semaksimal mungkin untuk menemukan Gea, meski ia tahu, bahwa orang dibalik menghilangnya Gea pasti ada hubungannya dengan Bima. Dia tak bisa meremehkan Bima begitu saja.
"Terus cari dan temukan dia sampai dia ditemukan!" perintahnya lagi. Briel langsung pergi meninggalkan mereka semua menuju ruang pribadinya bersama dengan Adam.
๐
"Abang!" panggil Ayu pada Davin.
__ADS_1
Malam ini Davin mampir terlebih dahulu ke rumah orang tuanya. Ia ingin mengambil dokumen yang tertinggal di kamarnya.
"Apa?"
"Bang, nikah itu enak nggak?" tanya Ayu dengan polosnya. Ia ingin mengetahui bagaimana rasanya melalui pengalaman Davin.
"Enak."
"Kenapa? Apa alasannya?"
"Rasakan sendiri kalau kamu menikah!" jawab Davin cuek. Davin memang cuek jika diajak bicara adiknya. Namun ia juga menyayangi adiknya itu.
"Gitu saja masak tidak tahu sih!" batin Davin malas. Ia muak dengan sikap Ayu yang terlalu polos.
"Iih, Bang! Gak asik ah!" rengek Ayu manja.
Davin menghela napas dalam. Ia berusaha menambah kesabarannya yang menipis setiap kali berbicara dengan adiknya ini.
"Aku bicara yang sebenarnya. Kamu bisa memuaskan kebutuhan batinmu sepuasnya bersama pasanganmu!"
Ayu membulatkan matanya, kaget dengan apa yang diucapkan Davin. Namun itulah kenyataannya yang dirasakan Davin.
"Ihh Abang mesum!"
"Lah memang benar."
Davin mengucapkannya dengan santai.
"Apakah calonmu itu CEO Mega raya Group?" tanya Davin tibaโtiba.
"Iya. Memang kenapa, Bang?" tanya Ayu penasaran.
"Enggak."
"Dahlah Abang pergi dulu! Sana kamu balik kamar kamu!" usir Davin. Dari dulu ia tak suka diganggu oleh adiknya yang super manja ini.
Ayu memanyunkan bibirnya. Ia kesal karena secepat itu diusir kakaknya. Ia berjalan sembari menghentakkan kakinya menuju kamarnya.
Davin menggelengkan kepalanya sembaru tersenyum simpul. "Dasar bocah!"
Davim segera pergi meninggalkan rumah itu setelah mendapatkan apa yang ia cari.
๐
//
__ADS_1
Happy reading guys,
Jangam lupa bahagia ๐๐