Pengantin CEO Yang Tertukar

Pengantin CEO Yang Tertukar
M2 – Tetangga Julid


__ADS_3

"Stop stop stop stop!!"


Seorang tetangga mencegat Gaza dan Dela yang berjalan di gang depan rumahnya menuju rumah mereka. Seketika itu juga ibu–ibu yang lain, yang rumah mereka bersebelahan, turut mengerubungi Dela dan Gaza dengan posisi mereka berdua berada di tengah.


Perlu diketahui jika Gaza dan Dela hanya menggunakan angkot sebagai akses masuk ke kampung mereka. Dan Angkot itu pun hanya mampu mengantar mereka sampai jalan depan. Untuk masuk gang, mereka harus jalan kaki sendiri. Dan saat ini, Gaza mendorong Dela dengan kursi roda itu. Aktivitas mereka mengundang perhatian warga kampung sepanjang jalan itu.


"Ada apa ya, ibu–ibu?" tanya Dela heran. Ini adalah kali pertama dia diperlakukan seperti itu.


"Dengar–dengar kamu kecelakaan terus nginep di rumah sakit... Ck... Apa itu namanya ...?"


Seorang wanita umur 40 tahunan yang kerap dipanggil Wiwid itu mencoba mengingat istilah "menginap" di rumah sakit itu. Tangannya memegang dahinya, berharap dengan seperti itu ia lekas mengingatnya.


"Opname?" sahut beberapa orang serentak.


"Nah itu dia ..." Ia membenarkan ucapan para ibu. Sedangkan Dela tersenyum canggung. "Apa yang sakit sekarang?" tanyanya kemudian.


"Ini, Bu, kakinya kesleo... Sudah dulu ya, Bu, kami pulang dulu. Dela membutuhkan istirahat yang cukup. Maaf, permisi."


Alih–alih Dela yang menjawab, Gaza menjawab pertanyaan itu lebih dahulu. Bahkan ia memilih untuk langsung berpamitan. Ia berusaha membelah kerumunan mereka. Cuaca yang panas membuatnya enggan untuk menjawab gerombolan ibu–ibu itu. Kabur dari mereka adalah jalan ninja untuk menghindari banyak pertanyaan dari mereka.


"Yaahhh ..."


Serentak mereka mengumandangkan paduan suara dadakan. Mereka kecewa lantaran Gaza dan Dela tidak mau menjawab pertanyaan mereka saat itu juga. Padahal jiwa kepo mereka sudah di level dewa.


"Eh eh eh ... Ada apa ini Bu?" tanya Ida yang berlari menghampiri mereka.


"Jeng Ida tidak tahu kah?" tanya Siti mengernyit heran.


"Tau apa?"


"Itu, Neng Dela masuk rumah sakit. Bahkan sekarang dia pakai kursi roda. Itu didorong lakinya," jelas Wiwid dengan menggebu–gebu.


"Hah? Kenapa saya baru tau sekarang?" Ini adalah kali pertama Ida ketinggalan berita. Biasanya ia adalah orang pertama yang mengetahui berita terbaru tentang warga yang ada di kampung itu.


"Astaga Jeng Ida ... Itu informasi sudah dari 3 hari yang lalu. Jeng Ida ketinggalan kereta!" Ledek Siti, salah satu di antara mereka. Ia mulai menyalakan kompor.


Mendengar ucapan Siti, wajah Ida berubah kusut. Harga diri sebagai istri RW merasa ternodai. Ia mengetahui informasi itu paling akhir. Hal itu juga merusak reputasinya sebagai pembawa berita terupdate.


"Huffftt" Ida menghela napas berulang kali untuk menetralisir rasa panas dalam dirinya karena dengki.


"Lalu Dela kenapa dan bagaimana keadaannya sekarang?" tanya Ida. Ia tidak ingin ketinggalan berita lagi.


"Ya tidak tahu. Cuma katanya sih kecelakaan ditabrak sepeda," jawab Wiwid.

__ADS_1


Di luar dugaan. Mendengar jawaban Wiwid, Ida tertawa kencang. Semua orang yang ada di sana menatap Ida aneh. Dalam benak mereka mempertanyakan, kenapa Ida malah tertawa di atas penderitaan orang lain.


"Haih ... Haih ..." Ida berusaha meredam tawanya. "Sepeda??" tanyanya lagi lantas mendapatkan anggukan sebagai jawaban. Ida tertawa kembali.


"Kenapa sih Jeng?" tanya Pipit penasaran, mewakili yang lainnya. Mereka tidak mengerti jalan pikir Ida.


Ida menarik napas berulang kali untuk menghentikan tawanya.


"Gini loh. Kalian bayangkan saja. Hanya tertabrak sepeda saja dia bisa masuk rumah sakit. Aneh kan?" Ida menjelaskan kenapa ia tertawa. "Lama lagi," lanjutnya. Ida berpikir dengan logika.


"Ya kan?" ucapnya lagi, mencari pembenaran.


Seketika itu juga jalan pikir mereka terbuka. Berbagai macam prasangka mereka lontarkan satu persatu.


"Iya bener juga ya ... Jeng Ida memang pintar!" puji Siti sembari mengacungkan jempolnya.


Jebreett!!


Ida mengembangkan kipas yang selalu ia bawa. Ia mengipasi dirinya cepat. Keangkuhan dan sok pintarnya mulai ia tunjukkan. "Ya dong, Ida gituloh!" Begitu kira–kira sebuah isyarat uang tersirat.


"Sudah ah, bye!"


"Mau ke mana Jeng!!" teriak Pipit.


Ida berjalan cepat meninggalkan mereka. Tidak ingin ketinggalan berita, Ida memilih untuk pergi ke rumah kontrakan Gaza untuk memastikan apa yang terjadi. Ia melangkah terlebih dulu untuk menjadi yang pertama.


Point utamanya bukan karena peduli, namun untuk reputasi. Sungguh jaman memang sudah gila.


Tidak ingin ketinggalan, mereka mengekori ke mana Ida pergi. Pada akhirnya mereka berbondong–bondong pergi ke rumah Gaza.


🍂


"Akhirnya sampai juga ..." ucap Dela kali pertama masuk ke dalam rumah petak itu. Ternyata setelah beberapa hari ia tidak berada di rumah kontrakan itu, ada kerinduan tersendiri dari rumah itu. Dela juga merasa lebih tenang lantaran bisa terhindar dari ibu–ibu tukang rumpi.


"Biasa aja bisa gak?" potong Gaza. Tingkah Dela terlalu kekanak–kanakan baginya.


Dela berdecih mendengar ucapan Gaza. "Diamlah! Merusak momen saja," ucap Dela dengan lirikan tajam.


Tidak betah berada di kursi roda, Dela bangkit berdiri dengan menumpukan seluruh beban tubuhnya di satu kakinya. Ia mencoba berjalan, namun terseok. Rasa sakit menjalar di kaki kirinya. Membuatnya meringis kesakitan.


"Astaga ... Sudah kubilang jangan berjalan sendiri," ucap Gaza jengkel. Ia membantu Dela untuk duduk kembali. Kali ini bukan di kursi roda, namun di sofa, tempat biasa dia rebahan.


"Sudah diamlah di sana dan jangan jalan ke mana–mana," ucap Gaza mengultimatum.

__ADS_1


"Iyaaa ..." jawab Dela malas.


Gaza memutar bola matanya malas. Ia mendengar sendiri jika Dela menjawabnya. Namun ulah Dela selalu berbeda dengan ucapan nya. Dengan kewaspadaan, Gaza tetap meninggalkan Dela untuk meletakan barang bawaan ke kamar.


"Assalamualaikum!!" ucap banyak orang serentak.


Dela terperangah mendengar suara mereka. Ia celingukan untuk melihat apa yang terjadi, namun seberusaha bagaimanapun ia kesulitan. Ia tidak bisa berdiri dengan bebas.


"Hufft ... Untung saja pintunya ditutup."


Dela mengelus dadanya sendiri. Ia bersyukur setidaknya pintunya ditutup. Jika tidak ... Tamatlah riwayatnya. Ia malas meladeni mereka semua. Individualisme perkotaan yang sudah tertanam sejak kecil membuatnya jadi sosok yang kurang suka bersosialisasi seperti itu.


"Siapa Del?" tanya Gaza.


Dela mengedikan bahunya.


"Assalamualaikum ..."


Suara serentak itu terdengar lagi. Dela dan Gaza menghela napas bersamaan.


"Tuh fans kamu," sindir Gaza.


"Yeee mana ada fansku. Fansmu kali. Mana ibu–ibu semua itu ..." ucap Dela. Mendengar kata fans di telinganya, Dela bergidik ngeri.


Dela menggerakkan dagunya agar Gaza membuka pintu. Suara mereka berkali–kali juga membuat mereka terganggu. Dela yakin jika ibu–ibu itu tidak akan pergi sebelum dibukakan pintu. Mudah saja, mereka tahu keberadaan Dela dan Gaza ada di dalam rumah itu.


"Hmm"


Gaza berjalan membukakan pintu untuk mereka.


"Aih ... Kehidupanku yang damai mulai hancur," sungut Gaza dalam hati.


Sebelum Dela hadir dalam hidupnya, hidupnya itu benar–benar tenang. Kesendirian membuatnya nyaman. Semua orang seakan acuh dengan kehidupannya. (Ya iyalah. Di depannya aja anteng. Tapi di belakang siapa yang tau kan? Wkwk)


Namuuunn .... Setelah ada Dela, hidupnya berubah 180 derajat. Terlalu ramai untuk dia yang suka menyendiri.


🍂


//


Happy reading gaes,


Jangan lupa bahagia 🤗💕💕

__ADS_1


__ADS_2