
"Tetap awasi dan cari tahu pria yang membawa putriku tinggal bersamanya," titah Edi pada asistennya, Bowo.
Edi memang membiarkan Dela untuk bertahan hidup dengan hidup yang berbanding terbalik. Namun bukan berarti ia melepas anaknya itu. Bagaimanapun rasa sayangnya pada Dela tidak berkurang sedikitpun. Dela tetaplah anaknya. Ia hanya ingin mengajari bagaimana hidup yang sesungguhnya.
Dela memang hidup, namun hidupnya hanya dipenuhi dengan hura–hura, keserakahan, dan kesombongan. Ia ingin Dela mengerti arti hidup. Ia telah merasa gagal menjadi seorang ayah dengan hidup Dela yang seperti itu. Untuk itu, ia ingin menebus kesalahannya dengan mendidik ulang, walaupun kali ini dengan cara yang lebih keras.
Sebenarnya keinginan untuk mengunjungi Dela itu sangat besar. Terutama ia tahu jika anaknya tengah mengandung. Mengandung tanpa seorang suami di sampingnya lantaran suaminya telah gugur akibat kesalahannya sendiri. Dendam yang mengakar adalah penyebabnya. Namun sebisa mungkin ia harus bisa menahannya.
"Tidak ... Tidak boleh..." Edi menyangkal keinginan itu. Keinginan itu begitu kuat.
"Jika aku menghampirinya, maka sia–sia juga apa yang kulakukan sampai saat ini. Tidak ada perubahan yang bisa terlihat dari dalam diri Dela."
Edi berusaha meyakinkan dirinya agar tak melakukan hal yang membuat rencananya sendiri gagal.
"Ya ... Aku harus lakukan ini. Ini adalah pilihan yang tepat. Putrimu akan baik–baik saja."
Lagi–lagi Edi masih bermonolog dengan dirinya sendiri sembari mulai membuka berkas–berkas yang harus ia teliti dan tanda tangani dalam waktu dekat.
Edi menghela napas, lantas mulai mengerjakan tanggung jawabnya untuk menghidupi keluarga sekaligus banyak keluarga yang menggantungkan hidup mereka dari perusahaan yang ia pimpin.
🍂
"Dini ... Dini ..." panggil Gea mencari keberadaan beby sitter nya yang entah ke mana itu.
"Ya Nyonya ..." Dini berlari menghampiri Gea. Ia berusaha sampai di hadapan Gea secepat mungkin. Ia sedikit membungkukan badan dengan kepala yang menunduk.
"Ada apa, Nyah?" tanyanya untuk meminta tugas yang sebenarnya memang ditujukan untuknya. Ia juga mendengar tangisan salah satu dari si kembar yang menggema.
"Tolong buatkan susu untuk Rio dan Nino ya, Nino butuh saya. Dia menangis sedari tadi. Mungkin karena ASI saya masih belum cukup untuk mereka berdua."
Dini mengangguk. " Siyap Nyah!" Ia lantas melangkah tergesa menuju ke dapur untuk membuatkan susu bagi si kembar.
Dengan wajah paniknya, Gea kembali ke dalam dan menghampiri Nino yang menangis semakin kencang. Gea berusaha menenangkan si kembar seorang diri. Minah yang baru bekerja beberapa hari ini, tengah cuti lantaran saudara yang ada di kampung halamannya meninggal dunia.
Gea menimang–nimang tubuh mungil Nino dengan sabar.
"Sayang nya Bunda ... Cup cup cup cup ..." ucapnya menenangkan dengan masih terus menimang Nino dalam gendongannya.
Sedangkan Rio hanya mengerjap–kerjapkan matanya dengan sesekali tersenyum. Senyuman itu seperti berbicara pada Nino, sang adik. Andai mereka sudah bisa berceloteh, mungkin Rio tengah mengejek sang adik yang sedari tadi menangis.
__ADS_1
"Adek Nino cengeng."
Mungkin akan terdengar seperti itu.
"Uuuu Rio, sayang, kamu seperti itu aja ya, jangan menangis, sayangnya bunda..."
Gea tersenyum pada Rio dengan seulas senyum yang terlihat jelas di wajahnya yang sedikit panik itu. Lantas perhatiannya kembali terfokus pada Nino yang membutuhkan perhatiannya lebih.
"Ini Nyah susunya."
Dini membawa 2 botol susu yang berisi susu formula. Sebelumnya ia memang sudah berkonsultasi dengan dokter untuk menambah susu mereka dengan susu formula. Dan dokter telah memperbolehkannya.
"Makasih, Din."
Satu botol yang ada di tangan Dini, kini telah berpindah ke tangan Gea. Ia mulai memberikan susu itu pada Nino. Sedangkan Dini yang tanpa di suruh pun kini telah menggendong Rio, merengkuhnya lantas memberikan susu yang sama untuk Rio.
"Waahh anak–anak bunda pintar semua," ungkapnya dengan wajah sumringah kala melihat dua botol itu telah kosong. Mereka meminumnya habis tanpa sisa. Gea mulai tersenyum kala melihat kedua anaknya kini mulai terlelap kembali. Terutama Nino, yang pasti lelah dengan tangisan kencang yang dilakukannya.
Mereka berdua membaringkan si kembar dengan hati–hati agar si kembar tidak terbangun kembali.
"Din, Bunda di mana?"
"Ada Nyah. Beliau tengah duduk di ruang tengah."
Gea ingin memastikan kesehatan Tere yang sempat drop. Kesehatan Tere akhir–akhir ini kurang fit.
"Bunda ..." Gea menyapa Tere hingga membuat perhatian Tere kini berpusat pada arah datangnya Gea.
"Gege ..! Sini Ge.. duduk sini samping bunda." Tere memberikan sebelah kursinya untuk Gea tempati. Majalah yang ia baca pun kini ia letakan manakala Gea berada tepat di belakang tubuhnya, melingkarkan tangannya di leher sang bunda.
"Gimana Bunda sekarang? Udah baikan?" tanya Gea. Kepalanya menyembul di antara leher Tere. Tangan Tere memegang lembut tangan Gea, memberikan sentuhan lembut pada tangan Gea, menyalurkan sebuah keyakinan yang memang nyata ia rasakan.
"Sudah Ge," tuturnya sedikit mendongakkan kepalanya, menatap wajah sang menantu.
"Syukurlah," ucap Gea yang kini menguraikan pelukannya. Ia berjalan duduk di samping Tere.
"Ayah sudah berangkat ya, Bun?"
Tere mengangguk. "Iya, baru saja belum lama."
__ADS_1
"Berapa lama, Bun?"
"Hmmm ... Mungkin 5 hari, atau lebih. Aahh ... Bunda juga tidak tahu Ge," ungkap Tere jujur. Pasalnya sering kali jadwal pulang Frans dari luar kota sulit untuk di prediksi. Bisa kurang bisa lebih atau tepat waktu.
"Bunda..."
Gea mengajukan tubuhnya lebih dekat dengan Tere.
"Hmmm? Apa Ge?" tanya Tere sabar.
Gea tersenyum. Ia menatap wajah Tere cukup lama. "Bunda tidak kangen kah dengan ayah?" Tatapannya begitu menggoda sang ibu mertua untuk segera menjawab rasa penasarannya saat ini. Pasalnya ia sangat jarang melihat sang bunda kesal dengan sang ayah mertua jika berurusan dengan masalah pekerjaan.
Gelak tawa terdengar. Tere tertawa kecil mendengar pertanyaan dari menantunya.
"Astaga Gege, ada ada saja kamu." Tere masih enggan untuk menjawab pertanyaan Gea.
"Bundaa ... Jawablah! Atau Gege ngambek nih," rajuk Gea.
"Iiiiihh ..." Tere mencolek hidung Gea gemas.
"Tidak usah sentuh–sentuh, Bunda!" Gea menepis pelan tangan Tere dari wajahnya. Seketika Tere kembali tertawa dengan gelengan kecil.
"Macam anak–anak saja kamu, Ge. Ingat sudah ada buntut 2," goda Tere.
"Sekarang tidak ada Bunda. Mereka ada di atas. Jadi kini statusku itu anak bunda." Gea tersenyum menggemaskan. Kehangatan itulah yang membuat Tere sangat menyayangi menantunya itu.
"Iya iya bunda mengalah."
Nah gitu, Bun. Jadi gimana? Kangen tidak?"
"Biasa aja." Tere menjawabnya singkat.
"Loh kok biasa aja Bun?" Gea terkejut dengan jawaban Tere yang tidak sesuai dengan apa yang ia bayangkan.
"Iya biasa aja. Kan sudah biasa."
Jawabkan Tere seakan membuat mulutnya ternganga lebar.
🍂
__ADS_1
"Bagaimana? Sudah kau temukan siapa pria itu?" tanya Edi pada Bowo yang kini telah berada di hadapannya.
Sedangkan Bowo berdiri dengan membawa sebuah informasi yang tersimpan di amplop berwarna coklat. Ia menyerahkan amplop itu kepada Edi