Pengantin CEO Yang Tertukar

Pengantin CEO Yang Tertukar
M2 Hilang


__ADS_3

Hari telah berganti petang. Kehadiran pengganti baby sitter Nino dan Rio diterima dengan baik. Kini Dini lah yang harus di pulangkan.


"Maaf Din, kamu harus pulang," ujar Gea.


"Ini uang pesangonmu. Terima kasih sudah menjaga Nino dan Rio."


Dini menelan salivanya susah payah seperti ada sesuatu yang membuat tenggorokannya kering. Dingin dan menusuk. Ucapan Gea cukup kejam untuk di dengar, kini menambah goresan di hatinya yang sudah membiru itu.


Gea mengulurkan tangannya dengan sebuah amplop coklat dengan ketebalan kurang lebih 5 cm an. Tanpa menatap Dini berlama–lama, Gea memberikan amplop itu lantas memalingkan wajahnya cepat.


Tak ada respon apapun. Dini hanya terbengong lantaran semua peristiwa itu berjalan begitu cepat. Kilasan bersama dengan duo kembar terlintas begitu cepat, bagaimana bahagianya dia bersama dengan mereka. Air bening mengalir dari sudut matanya dengan bibir yang sedikit terbuka. Tangannya pun hanya menerima amplop itu tanpa sadar, hingga Gea sudah beranjak meninggalkan Dini di sana.


"Nyonya!! Jangan pecat saya Nyah..."


Dini meminta belas kasihan Gea. Namun hati Gea terlanjur mati rasa bahkan melihat air mata yang kini mengalir deras, namun sedikitpun ia tidak mengiba. Kepercayaannya sudah tergores.


"Lepas Din!" ucap Gea dingin kala tangan Dini meraih lengan Gea.


Dini menggelengkan kepalanya cukup cepat. "Nyah jangan pecat saya, Nyah!"


"Lepas!"


Suara dingin itu semakin menusuk. Cekalan Dini melonggar. Gea menghempas tangan Dini dengan sedikit lirikan tajam.


"Nyah..." ucap Dini memelas. Tanpa berbalik, Gea hanya mengangkat sebelah tangannya. Dengan tangannya ia meminta Dini untuk diam, dan Gea tidak akan mengubah keputusan apapun.


Dini terduduk. Ia menangis tersedu bertumpu pada kedua lutut yang menyentuh lantai. Ia telah kehilangan untuk kedua kalinya.


Minah yang sedari tadi menyaksikan kejadian itu dari luar kamar dengan menguping pembicaraan, kini menghampiri Dini. Ia memegang kedua pundak Dini yang rapuh itu.


"Mbak... A–aku kehilangan lagi. A–aku tidak bisa memeluk bayi mungil itu lagi," ucap Dini di sela tangisnya yang tersedu–sedu.


Tidak ada yang Minah lontarkan. Minah menyejajarkan tubuhnya dengan tubuh Dini. Pelukan hangat ia berikan untuk menopang diri Dini yang kini semakin rapuh. Tangannya mengelus punggung dingin itu, hangat. Tidak ada yang mampu ia berikan kecuali itu. Tidak ada satupun kata yang mampu menjadi penghibur untuk Dini yang tengah kacau.


Dini menumpahkan segala bebannya di sana. Ia menangis dengan mengabaikan rasa malu. Pilu, Minah mendengarnya.


🍂


"Din... Tetap semangat ya..."


Minah memberi semangat kala melihat Dini mulai melangkah ke luar rumah itu. Langkah gontai itu pun terhenti. Dini membalikan badannya, menatap Minah dengan lengkungan bibir ke atas di wajahnya yang sembab.


Dini mengangguk, "Iya. Kamu juga. Jaga mereka baik–baik. Jangan kecewakan Tuan dan Nyonya seperti aku yang mengecewakan mereka."


Minah mengangguk mengiyakan. Tangannya menggenggam erat kedua tangan Dini, menyalurkan sedikit energi untuk Dini.


Tanpa mengucap banyak kata, Dini kembali bergegas. Sebuah tas jinjing besar ia bawa di sebelah tangannya.


🍂


"Kau kenapa?" tanya Gaza pada Dela yang duduk manyun di atas sofa. Ia meratap seorang diri. Hormon ibu hamil membuatnya menjadi wanita yang lebih kekanak–kanakan.


"Gak!" jawab Dela singkat.


"Judes amat, Bu?!" ledek Gaza.


Tak perlu berkata panjang lebar. Tatapan mata tajamnya itu ia lemparkan bagaikan sebilah pedang yang menusuk lawannya.

__ADS_1


"Santai saja matanya. Ada lalat masuk, tau rasa!"


Mendengar kalimat itu terlontar dari mulut Gaza, Dela memutar bola matanya malas. Menanggapi Gaza hanya akan membuat moodnya makin hancur.


"Dahlah tak usah menggangguku. Pergi sana! Kehadiranmu membuat mataku makin sakit aja. Telingaku juga makin sakit mendengar ocehanmu yang tidak jelas!" usir Dela.


Gaza menganga tak percaya. Harusnya ia yang harus berbicara seperti itu pada Dela. Tapi sikap Dela ini seakan–akan Dela lah yang paling benar.


"Apa?!" ujar Dela ketus.


"Ka–"


Ucapan Gaza terpotong oleh ucapan Dela yang menyela cepat.


"Shuuutt!! Sudah pelit, gak usah banyak komentar. Lelaki macam apa kamu tu!"


Gaza semakin merapatkan giginya. "Ka–"


"Shuttt..."


Belum selesai Gaza berbicara, Dela mendekatkan telunjukkannya ke bibirnya sendiri agar Gaza tidak banyak bicara.


Gaza mengerang frustasi. "Aaarrgghh serah dah!"


Menghindar adalah jalan yang terbaik untuk menormalkan tekanan darah Gaza, agar tidak ada penyakit darah tinggi di hidupnya.


🍂


"Ah sepertinya aku harus segera menidurkan Rio dan Nino. Mereka di mana ya," gumam Gea bermonolog. Segelas jus yang ingin ia minum pun ia tinggalkan di meja dapur dengan peralatan yang masih kotor. Kedua anaknya adalah prioritas baginya. Apa yang bisa ia tunda untuk dilakukan akan ia kerjakan setelah si kecil mendapatkan perhatiannya, seperti saat ini, Gea menunda menyantap makan malamnya.


Gea memilih menaiki lift agar ia cepat sampai di kamar si kecil. Di sana ia melihat Minah yang tengah membereskan mainan duo kembar.


"Ada, Nyah. Di bawah mungkin dengan Oma Tere."


Gea mengangguk. "Oke. Saya turun ya, Nah."


"Iya, Nyah..."


Gea meninggalkan Minah di sana. Ia bergegas mencari anak–anaknya itu. Gumaman senandung merdu mengiringi langkah Gea, sopan masuk di telinga. Yang ada di pikiran Gea hanyalah wajah imut Rio dan Nino kala mereka tertidur pulas.


"Bunda..."


Gea mengetuk pintu kamar Tere.


"Iya sebentar, Ge!" Suara samar itu terdengar dari dalam kamar.


Tak lama kemudian, suara pintu telah terdengar. Di balik pintu yang mulai terbuka itu, Tere mengikat rambutnya asal dengan sebuah ikat tali di pergelangan tangannya. Wajahnya seperti baru bangun tidur.


"Mana Rio dsn Nino, Ma?"


Dengan nyawa yang baru setengah terkumpul, Tere menyipitkan matanya yang memang sudah menyipit lantaran masih mengantuk.


"Loh bukannya mereka ada sama kamu? Ini bunda aja baru bangun tidur, Ge," ujar Tere memberikan jawaban.


Rasa tak enak mulai membuat Gea tidak nyaman. Ia tidak ingin hal buruk menimpa buah hatinya.


"Aku dari tadi tidak sama mereka, Bun," ujar Gea yang mulai panik.

__ADS_1


Tere terdiam sejenak. Ia berpikir di mana kira–kira duo kembar berada.


"Mungkin dia bersama baby sitter baru itu. Ck iss... Siapa namanya itu? Aku lupa." Tere menekan dahinya dengan telujuk tangan.


"Naini, Bun."


"Nah itu dia. Ayo kita ke sana bersama–sama," ajak Tere.


Gea menyetujuinya. Mereka berdua mencari di mana keberadaan Naini.


🍂


Praaang!!!


Guci keramik itu berubah menjadi serpihan keramik. Badan Gea mulai lemas melihat kenyataan yang ada di depannya itu. Di gendongan Naini hanya ada Nino yang tertidur pulas. Sedangkan tidak ada orang lain yang bersama dengan Rio.


Naini melemparkan keberadaan Rio pada Minah. Namun Gea dan Tere juga tahu jika Nino tidak bersama dengan Minah.


🍂


"Ah sudahlah! Aku mau pulang. Bye bye!" pamit Briel pada Adam dan yang lainnya.


"Idihh ... Mentang–mentang punya istri dan anak," ujar Adam julid.


"Kenyataannya," sahut Briel sombong.


Di tengah obrolan mereka, tiba tiba dering gawainya berbunyi. Ia melihat nama istrinya terpampang di layar.


"Iya, Geyang. Ada apa?" sapa Briel sumringah.


"Bayang"


Sebuah kata dari seberang itu terlontar lirih, bahkan hampir hilang. Suara itu mematahkan kesumringahan Briel.


"Ada apa Geyang, ada apa?"


"Rio hilang..." Suara itu diikuti dengan tangis yang mulai pecah.


Bagai disambar petir, seketika dunia Briel berhenti seketika.


"Ya Tuhan ... Apa lagi ini?" gumam Briel dalam batinnya. Tangannya meraup wajahnya kasar.


"Oke aku segera ke sana. Tunggu aku Geyang. Jangan ke mana–mana."


Briel mematikan sambungan teleponnya cepat. Ia bergegas tanpa bicara sedikitpun. Penasaran dengan apa yang terjadi, Adam dan yang lainnya mengikuti arah langkah Briel.


🍂


Tin tiiiinn


Setiap kendaraan yang menghalangi jalan Briel, ia klakson agar memberinya jalan.


Sesekali tangan Briel memukul stir kemudi.


"Tak akan kubiarkan kau hidup dengan tenang. Siapapun itu!"


Tekad Briel sudah bulat. Ia tidak akan pernah memandang siapapun penculik itu. Ia akan memberikan hukuman yang setimpal atas tindakan mereka terhadap anaknya.

__ADS_1


Tbc 🌻


__ADS_2