
"Wahhh gemoynya anak Non Gea sama Tuan Briel," ujar Roinah tepat di depan si kembar. Manik matanya berbinar menatap duo kembar. Mereka berdua berbaring di kereta dorong.
"Aduhh namanya siapa ini?" tanya Roinah sembari mencubit ringan pipi Nino.
Plak
"Aduh... Sakit Man!" ujar Roinah mengaduh. Arman menepis tangan Roinah cukup keras.
"Ya makanya tangan dijaga. Seenaknya saja kamu memegang pipi Aden." Arman mengingatkan akan posisi mereka di rumah itu agar tidak lancang pada anak majikannya.
Roinah tersenyum canggung. Ia mengakui perlakuannya yang terlewat batas. Ia merasa tidak enak hati dengan Edi sekaligus Gea dan Briel.
"Maaf Tuan," ucap Roinah sembari mengangguk hormat.
Gea dan Briel tersenyum tulus. Begitupun juga dengan Edi. Mereka tidak mempermasalahkan apa yang dilakukan Roinah.
"Tidak apa Bi. Bahkan Bibi boleh kok kalau mau gendong mereka."
Bagaikan air segar, ucapan Gea melegakan hatinya.
"Iya, Bi. Kita kan juga sesama manusia. Masak iya gitu saja dibeda–bedakan. Kita sama," imbuh Briel.
"Dengar itu Bi," sahut Edi.
Roinah tersenyum lembar. Bagaikan mendapat lampu hijau, Roinah langsung ingin menimang mereka berdua secara bergantian. Namun tindakannya terhenti. Ia menatap tajam ke arah Arman yang terlebih dahulu menarik Roinah ke belakang. Kini Arman berada di depan duo kembar. Ia melakukan segala cara untuk membuat duo kembar tertawa. Dan berhasil. Duo kembar mulai bergerak gerak, merespon perlakuan Arman.
"Ihh Man. Tadi aja kamu julidin aku. Sekarang kamu yang lebih dulu menggendong Aden!" protes Roinah kesal kala melihat Arman sudah menggendong Rio.
"Kamu kan sudah dengar kan tadi, Tuan dan Nona sudah mengizinkan. Jadi ya sudah."
Ada saja jawaban Arman. Arman menggerakkan bibirnya untuk meledek Roinah. Roinah cemberut. Ia semakin kesal dengan Arman.
"Sudahlah Bi. Kan masih ada Nino yang belum Bibi gendong. Gendong saja Nino. Nanti kalian bisa gantian," saran Edi.
Roinah tersenyum canggung. Malu rasanya perdebatannya disaksikan oleh sang majikan. Kehadiran Arman yang menyebalkan membuatnya lupa di mana ia berada.
"I–iya Tuan," ucap Roinah malu–malu. Edi menggelengkan kepalanya pelan. Ia sendiri juga heran dengan tingkah pembantunya yang tidak bisa ditebak itu. Tapi ia tidak masalah asalkan kinerja Roinah bagus. Itu sudah lebih dari cukup. Attitude nya juga sesuai dengan kriteria pekerja menurutnya.
__ADS_1
Sedangkan Gea yang sedari dulu bersama dengan mereka, hanya bisa tersenyum. Ia tahu jika Arman dan Roinah sering kali berdebat tidak penting, namun ia juga tahu jika mereka berdua ini sering kompak dalam banyak hal. Terutama dalam hal pekerjaan dan menggosip.
Hari pertama Gea dan keluarga kecilnya menginap di rumah Edi disambut hangat. Begitupun juga dengan dua baby sitter duo kembar. Mereka juga diterima, bahkan kamar mereka ditunjukkan oleh Roinah. Kehadiran duo baby sitter juga menambah kebahagiaan Roinah lantaran pada akhirnya ia memiliki teman meski umur Minah dan Dini jauh berada di bawahnya.
"Oh iya, Papa ke atas dulu ya. Papa mau selesaikan pekerjaan Papa sebentar. Kalian istirahatlah terlebih dahulu. Terutama Rio dan Nino yang lelah kala perjalanan menuju ke sini," pamit Edi.
Perjalanan ke rumahnya cukup memakan waktu. Bagi orang dewasa mungkin masih biasa. Namun menjadi luar biasa jika yang melakukan perjalanan adalah bayi berusia beberapa bulan.
"Iya, Pa. Kami ke kamar juga," ujar Gea.
"Pa mau aku bantu?" tawar Briel sebelum Edi pergi ke ruang kerjanya.
"Tidak usah Bri. Kamu sudah pusing dengan perusahaanmu. Nanti saja kalau Papa sudah ingin pensiun, baru kamu yang urus semuanya," ujar Edi dengan sedikit candaan namun juga dengan keseriusan.
Briel mengangguk mengerti. "Ya sudahlah kalau gitu Pa. Kami pamit ya. Ada perlu apa tinggal telpon Briel," ujar Briel.
Edi tertawa. Gelaknya memenuhi ruangan itu.
"Astaga ... Ini namanya terbalik. Harusnya Papa yang bilang itu ke kalian." Edi menepuk tegas bahu Briel sembari tersenyum hangat.
"Kamu masih ingat kan, Gey?"
"Masih dong Pa. Papa kira Gea seberapa lama meninggalkan rumah ini," ujar Gea dengan gurauan.
Edi tersenyum kelu. "Lama. Bertahun–tahun kan?"
Perkataan Edi membuat Gea terdiam. "Astaga aku salah bicara," gumam Gea dalam hatinya.
Tanpa sadar ia mengorek luka masa lalu yang sebenarnya kalau dipikir harusnya dia sendiri yang terluka. Namun nyatanya Papanya lebih terluka. Karena sepanjang waktu itu, Edi menepis perasaan bersalah dengan kemarahan. Kemarahan yang sebenarnya marah pada dirinya sendiri.
"Papa, bukan begitu. Kan belum lama kita ke rumah ini juga. Belum lama kan itu? Sudahlah Pa. Kita sudah mulai lembaran baru. Tidak membuka lembaran lama lagi yang hanya akan membuat kita terluka. Tidak hanya Papa, namun juga Gea." Briel angkat bicara kala melihat keterbungkaman Gea. Ia juga tahu jika masa–masa itu adalah masa–masa sulit yang sangat menyiksa batin Gea.
Edi tersenyum. Dalam hati ia begitu bangga mempunyai menantu yang ternyata seorang menantu idaman. Ia menepuk ringan bahu Briel kembali. "Terima kasih, Bri."
Briel hanya mengangguk sembari tersenyum.
"Ayo, Sayang, kita istirahat," ajak Briel. Gea mengangguk mengiyakan lantas pamit pada Edi. Mereka berjalan beriringan sembari menggendong duo kembar. Di rumah Edi tidak ada lift. Maka dari itu mereka tidak bisa membawa kereta dorong bayi ke atas. Mereka meninggalkan kereta itu di bawah.
__ADS_1
🍂
"Ah enak ya kalau punya anak kembar," ujar Roinah tiba–tiba pada Arman.
"Iya, apa lagi yang lucu dan tampan seperti itu." Arman membenarkan pendapat Roinah.
Seketika wajah Roinah menjadi sendu. Arman yang semula biasa aja, kini mulai menatap Roinah sendu, menyadari perubahan drastis pada rekannya itu.
"Kamu kenapa Nah?"
Roinah menghela napas. Cukup lama ia terdiam hingga ia mau membuka suara. "Aku tidak papa. Hanya saja aku teringat pada anakku yang meninggal. Anak satu–satunya. Kalau dia kembar kan setidaknya aku masih punya satu."
Roinah menatap ke arah Arman sekilas. Ia tersenyum kelu mengingat semua kenangan bersama anaknya yang hanya singkat.
Hati Arman mengiba. Ia tidak tahu harus apa. Memang, dia belum pernah kehilangan anak. Namun yang ia tahu adalah sakit pasti rasanya kalau kehilangan anak. Rindu pada anak yang masih hidup dan tinggal di kampung saja menyesakkan hati, bagaimana rasanya merindu anak yang sudah beda dunia.
Arman menepuk lengan atas Roinah, mencoba menguatkan wanita berumur itu. Hanya itu yang ia lakukan tanpa sepatah katapun. Kalimat penghiburan manapun tidak akan pernah bisa membangkitkan kembali anak Roinah.
"Tidak usah menatapku seperti itu. Tidak cocok dengan wajahmu." Roinah mencoba mencairkan suasana. Ia tidak ingin menyeret orang lain masuk ke dalam kesedihannya. Biarlah dia sendiri yang menyimpannya dalam hati.
"Aku hanya bercerita, tidak ingin mengajakmu juga," ujarnya juga kemudian.
"Kau wanita kuat, Nah." ujar Arman.
"Sudah tau. Tidak kuat ya tidak bekerja. Tidak bekerja ya tidak makan. Sudahlah bye!"
Roinah sadar, meski kehilangan anaknya, kehidupan akan terus berjalan. Ia harus menghidupi ibunya yang ada di kampung. Mantan suaminya telah beristri lagi kala anaknya dahulu baru berusia 1 tahun.
"Diam diam ternyata Roinah ..." ujar Arman yang menatap punggung kuat yang sebenarnya ternyata rapuh. "Sehat–sehat orang baik," gumam Arman.
🍂
//
Happy reading gaes,
Jangan lupa bahagia 🌻🌻
__ADS_1