
Sementara itu di sisi lain, di ruangan yang remang–remang itu, kini Davin telah terikat tak berdaya. Semua anak buahnya hilang nyawa, tergeletak berserakan di sekitar sana. Xavier telah menyuruh yang lainnya untuk membereskan mayat–mayat itu.
"Bagaimana? Menakjubkan bukan?"
Xavier menatap lawannya itu dengan tatapan bengis. Tatapan pembunuh yang siap membantai kapan saja.
"Haruskah aku bertepuk tangan untukmu?"
Prok
"Hebat!"
Hanya satu tepukan saja yang Xavier lakukan. Xavier menatap Davin rendah. Bahkan senyumnya itu sebagai simbol ejekan bagi Davin. Davin hanya bisa bungkam dengan gigi yang merapat dan rahang yang kian mengeras.
Xavier mengangkat kedua alisnya sembari mengangguk–angguk ringan. "Wow ... Bisa marah ternyata."
"Aiihh ... Manusia tidak tahu diri. Siapa yang salah siapa yang marah," sahut Nico kemudian.
"Ya begitulah namanya SAM–PAH!"
Daniel menekan setiap suku kata itu. Dia tak sabar lagi ingin mengeksekusi Davin dengan caranya. Cara yang tidak terbayangkan manusia.
"Sampah. Artinya harus dimusnahkan!" Xavier melirik sekilas ke arah Davin. Tapi lirikan itu mampu membuat bulu kuduk siapapun berdiri.
"Yeah harus!" ucap Nico dan Daniel bersamaan. Mereka juga geram dengan perbuatan Davin yang kian menjadi.
Xavier tertawa sarkas. "Jangan harap hanya dengan engkau terjun ke dunia gelap, engkau berkuasa dan bisa lakukan apapun semaumu. Salah besar Brother! Pengalamanmu tak cukup banyak."
__ADS_1
Dari sana, Xavier mengeluarkan sebuah pisau lipat dari salam sakunya. Ia meluruskan pisau itu, memainkannya dengan kedua tangannya. Matanya menelisik setiap sisi pisau itu.
"Sepertinya pisau ini terlalu tajam untuknya," ucap Xavier dengan aura hitam yang menguar seketika.
"Hmm kau ... Harusnya janganlah engkau mengasahnya terlebih dahulu." Daniel mengimbuhkan. Baginya, pisau yang terlalu tajam tidak begitu asik.
"Iya kah? Tapi kalau untuk ini?"
Kresss
"Aaarrgh" Davin mengerang menahan rasa sakit di kulitnya. Darah itu mengucur, mengalir cukup deras dari betisnya. Kulit betis itu tersayat dengan pisau lipat itu. Tiba–tiba, hingga Davin tak sempat menghindar. Sedangkan Xavier mengangkat kedua alisnya, menatap ke arah Daniel dan Nico.
"Ck itu masih kurang. Harusnya kau patahkan terlebih dahulu jari kurang ajar yang menyentuh istri Briel tanpa ijin!"
"Hmm bagaimana itu?" Xavier mengangkat sebelah alisnya. Ia mengerti, namun ia memberikan ruang untuk Daniel bertindak.
Daniel tersenyum miring. Ia berjalan perlahan ke arah Davin. Senyum itu terlihat mengerikan. Dalam sekejab, Daniel telah mematahkan jari Davin dengan tangan kosong.
Davin tidak mau merasakan sakit karena penyiksaan sebelum ia mati.
"Hah? Apa? Lanjutkan? Oke lanjutkan!" Nico berpura pura tak mendengar permintaan Davin, dan malah memutarbalikan semuanya itu.
Mereka berlanjut menyiksa Davin sedikit demi sedikit hingga Davin benar–benar mengaku kalah.
"Bunuh aku!!" teriak Davin di sisa tenaganya. Tubuhnya sudah bermandi cairan berwarna merah.
"Tidak semudah itu Dude!" ucap Xavier dengan tertawa sumbang yang menggleggar di ruangan itu
__ADS_1
"Daniel, Nico, urus semua ini. Kalian sudah tahu apa yang harus kalian lakukan. Aku pergi. Jangan tinggalkan jejak sedikitpun!"
Xavier pergi dari sana. Setelah puas bermain–main dengan Davin, ia menyusul Briel ke rumah sakit. Rencana awal mereka berubah. Awalnya mereka akan menyerahkan Davin ke tangan yang berwajib, namun kelakuan Davin membuat Xavier memang harus menyerahkan Davin ke neraka.
🍂
"Kita ke rumah sakit terdekat!" ucap Frans dengan raut wajah yang sulit ditebak. Ia mengajak mereka bergegas. Tidak ada waktu untuk menjelaskan semuanya itu. Tak banyak bertanya, mereka mengikuti Frans yang berlari ke arah mobil mereka.
🍂
Briel berjalan ke sana ke mari seperti seterikaan baju kusut. Ia tidak bisa duduk tenang di tempatnya. Yang ia lakukan berdiri, berjalan, dan kembali duduk. Seperti itu berulang kali, membuat Bima tidak bisa menahan diri untuk tidak bersuara.
"Briel! Berhentilah, tenangkan dirimu!" ucap Bima halus. Melakukan hal semacam itu sudah pasti melelahkan. Namun tidak bagi Briel. Berdiam lebih melelahkan. Hatinya semakin tidak tenang. Ia hanya melirik tajam ke arah Bima tanpa berniat menyahut ucapan Bima.
Bima menghembuskan napasnya kasar hingga hembusan itu terdengar jelas di telinga mereka. "Yeah ... Terserah."
Dan Briel tidak berhenti melakukan hal yamg sedari tadi ia lakukan.
Tidak lama kemudian, pintu ruang operasi terbuka setelah mereka menunggu berjam-jam. Briel berlari ke arah dokter itu. Sang dokter menundukkan kepalanya sembari mengambil napas dalam. Briel semakin cemas. Ekspresi itu bagaikan kilat yang menyambar nyambar, siap untuk menyambar kapan saja.
"Maaf, saya harus menyampaikan hal ini ..."
Dokter itu menatap mata Briel dalam. Sepercik harapan itu ada, meski kekhawatiran mendominasi.
🍂
//
__ADS_1
Happy reading gaes,
Jangan lupa bahagia 🤗💕💕