
"Nanananana"
Ira bersenandung sembari berjalan menuju ruang CEO. Ini pertama kalinya ia menginjakkan kaki di ruangan itu. Ia membawa satu berkas laporan keuangan. Harusnya bukan dia yang harus menemui Briel. Namun karena suatu hal, kepala divisi menugaskannnya untuk menemui Briel. Dengan semangat empat lima pun ia mengemban kewajiban itu.
"Eh eh eh … bukankah itu Gea?" gumam Ira tatkala ia melihat Gea keluar dari ruangan Briel. Ia terus menatap ke arah Gea sembari menyipitkan matanya.
Ia berjalan mendekat dan mendekat, hingga dirinya telah memastikan bahwa dia memang Gea. "Kenapa dia keluar ruangan si Bos di jam–jam sekarang?" tanyanya heran dengan dirinya sendiri. Pasalnya sangat jarang cleaning service keluar masuk ruangan Briel, terutama saat Frans masih di sana.
Mereka berpapasan. Gea menundukkan kepala sembari tersenyum, menyapa Ira. Ia membalasnya canggung dengan pikiran yang melayang–layang. Bahkan senyumnya saja terlihat cukup terpaksa.
"Ada yang aneh."
"Ahh sudahlah pikirkan nanti. Yang penting aku bisa menemui Bos Tamvan," ucapnya sembari terus berjalan. Bahkan ia memeluk berkas itu.
🍂
"Bsst … hei!" panggil Ira kepada seorang cleaning service yang ada di dapur itu, Nana.
"Iya mbak?" sahutnya. Ia menghentikan aktivitasnya mencuci gelas untuk sejenak.
"Sendoknya di mana?" tanya Ira. Ia meminta sendok untuk mengaduk kopi yang ia buat untuk dirinya sendiri.
"Bentar Mbak saya ambilkan."
Ira mengangguk sedangkan Nana berlalu mengambil sendok.
"Hmm … apa aku tanya aja ya sama dia. Mungkin saja dia tahu," gunam Ira lirih sembari menambahkan air panas ke dalam gelas cangkirnya. Ia masih penasaran dengan apa yang ia lihat tadi sewaktu melihat Gea keluar dari ruangan Briel. Rasa penasaran dan kecemburuannya yang cukup tinggi membuatnya curiga dengan Gea.
"Aneh," gumamnya lagi. Otaknya berpikir keras untuk menganalisa apa yang sebenarnya terjadi.
"Ini Mbak."
Ira menerima sendok itu. Perlahan ia mengaduk kopinya. Dentingan suara sendok dan cangkir terdengar di sana.
"Eh … kamu tahu tidak? Apakah Gea memang sering keluar masuk ruangan si Bos?" tanya Ira tiba–tiba.
Nana mengerutkan dahinya. "Memangnya kenapa Mbak? Penasaran ya?"
__ADS_1
"E–enggak, cuma tanya aja," kilah Ira. Gengsinya yang tinggi membuatnya enggan rasa penasarannya diketahui orang lain.
"Jawab sajalah," seru Ira lagi.
"Emm …" Nana mengingat hari–hari sebelumnya. "Dulu sih tidak. Tapi akhir–akhir ini iya. Apalagi setelah kepimpinan perusahaan diambil alih oleh si Bos."
"Wahh …. Ada yang tidak beres ini." Jiwa–jiwa kepo bin gelar ratu gosip seorang Ira telah aktif. Pikirannya mulai mengembara kemana–mana.
"Ohh ternyata," ucap Ira sembari mengangguk.
"Kenapa dia sering ke ruangan si Bos?" tanya Ira lagi.
"Tidak tahu Mbak."
Ira mengangguk lagi. Ia masih memikirkan kata mengapa di otaknya.
Nana masih terus mencuci gelas–gelas hingga bersih. Sedangkan Ira pergi dari dapur tanpa mengucapkan sepatah kata pun lagi.
🍂
"Bang aku pulang bareng Runi ya?" pinta Gea. Gea pergi ke ruangan Briel lagi setelah semua karyawan telah pulang.
"Lah Abang, boleh ya ya …." pinta Gea melas. Ingin sekali ia menghabiskan waktu seharian bersama dengan Runi.
"Tidak boleh Geyang. Geyang harus pulang denganku. Karena aku kan sudah membuat janji temu dengan dokter kandungan," jawab Briel lugas.
"Yahh … " ucap Gea melas. Raut wajahnya kecewa. Namun apa daya. Nyatanya ia yang melupakan hal itu padahal semalam Briel sudah memberitahunya.
"Baiklah," ucap Gea lesu.
Briel menatap Gea sendu. Ia menghela napas dalam. Deru napas tedengar saat Briel menghembuskannya. Ia cukup kewalahan dengan perubahan suasana hati Gea semenjak Gea hamil.
Briel berjalan mendekat ke arah Gea, mengikis jarak, hingga posisinya berada satu langkah di depan Gea. Gea masih menunduk lesu.
"Hei …" ucap Briel lembut. Gea masih tak peduli dengan ucapan Briel.
"Hei …." panggil Briel lagi. Briel mengangkat dagu Gea dan menatap lekat netra indah itu. Tangannya mengusap lembut pipi Gea. Mau tak mau Gea juga menatap mata meneduhkan milik suaminya itu.
__ADS_1
"Jangan bersedih. Kan masih ada besok, Gey." Briel mencoba memberikan Gea pengertian.
Gea menghembuskan napas kasar. "Iyaaa"
Briel tersenyum simpul. Walaupun Gea masih lesu, tapi setidaknya Gea sudah menjawab iya.
"Tapi aku minta sesuatu …" Tiba–tiba saja raut wajah Gea sudah cerah kembali. Hal itu membuat Briel lega sekaligus ketar–ketir dengan permintaan Gea.
"Ahh apapun, asalkan ia senang," gumam Briel dalam benaknya.
"Apa?" tanya Briel.
"Ingin makan durian 😃"
"Ha …. durian?" ucap Briel. Ia terkejut dengan permintaan Gea. Setahunya ibu hamil muda tidak boleh memakan buah itu. Ia takut istri dan calon anaknya kenapa–napa.
"Boleh ya, bang?"
"Tapi Gey, itu kurang baik untuk ibu hamil."
Gea berdecak. Ia kecewa dengan apa yang Briel lontarkan.
"Astagaa … susah sekali ternyata menghadapi suasana hati ibu hamil," keluh Briel dalam hati.
"Oke oke … Abang tidak bisa memutuskan. Tapi sebaiknya kita tanya dulu sama dokternya. Nanti kalau diperbolehkan, maka kamu boleh makan durian. Tapi kalau tidak boleh, jangan harap bisa memakannya," putus Briel.
Gea menganggukkan kepalanya. "Oke …. Ahh ayo Bang berangkat."
Gea berjalan dengan semangatnya keluar dari ruangan itu. Ia bahkan tak menunggu Briel. Tingkah laku Gea sukses membuat Briel melongo. Briel menepuk dahinya sendiri.
"Astaga … Ada–ada saja kelakuan ibu hamil."
Briel mengambil kunci mobilnya dan berjalan menyusul Gea.
🍂
//
__ADS_1
Happy reading gaess,
Jangan lupa bahagia 💕💕