
"Masih lama tidak mengisi baterainya?" tanya Runi. Mungkin baru sebentar Adam mengisi, namun hawa dingin itu membuatnya ingin segera kembali ke dalam mobil.
"Astaga Runii! Baru saja aku mengisinya. Bagaimana mungkin sudah cukup untuk kugunakan? Tunggu beberapa saat lagi!" ucap Adam gemas. Ingin sekali ia memites Runi, melipatnya menjadi lebih mini.
"Idihh ... Gitu aja sewot!"
Runi melengos. Ia menatap ujung jalan yang cukup gelap. Sesekali ia menatap ke arah Adam, tidak ingin ditinggal sendirian di sana.
Runi mulai menguap. Rasa kantuk itu mulai datang, namun ia masih bisa menahannya. "Astaga ... kenapa pula harus mulai ngantuk sih?" gumamnya di tengah ia menguap. Sungguh ia kesal dengan dirinya sendiri.
"Hmm Bos, orang koma paling lama berapa lama ya?" Runi bertanya tiba–tiba. Ia teringat bagaimana nasib Gea yang masih terbaring di rumah sakit.
Adam menghela napas kasar. "Entahlah. Aku juga tidak tau. Sebentar lagi mungkin, atau nanti." Ucapan Adam cukup lirih pada bagian akhir kalimat yang terlontar dari bibirnya.
Tatapan Adam menjadi sendu. Seketika pikirannya mengingat kejadian beberapa tahun lalu, kala seseorang yang berarti di dalam hidupnya mengalami hal yang sama seperti Gea yang terbaring di rumah sakit. Hanya penyebabnya saja yang berbeda. Dada Adam terasa begitu sesak seperti ada banyak tali yang mengikat dadanya erat. Kenyataannya tidak sesuai yang ia harapkan. Adam berdiri membelakangi Runi.
Tidak ada yang bersuara dalam keheningan malam itu. Mereka saling terdiam menikmati dinginnya malam dengan pikiran mereka sendiri. Hingga beberapa waktu kemudian, Adam melihat ke arah gawainya. Terisi cukup baterai untuk ia gunakan. Seulas senyum kelegaan terukir di wajahnya yang hanya disinari oleh cahaya remang dari lampu penerangan jalan tak jauh dari sana.
"Baiklah, ayo kembali ke mobil." Adam mencabut charger itu dari stop kontak.
Tanpa menoleh ke manapun, Adam berjalan mendahului. Beberapa langkah ia berjalan, merasakan keanehan. Tidak ada langkah kaki yang mengikutinya. Adam memelankan langkah kakinya. Ia berhenti lantas menoleh ke arah belakang. Betapa terkejutnya ia melihat Runi yang masih duduk di tempat seperti sediakala bahkan dengan mata terpejam bersandar pada sandaran di halte itu. Adam memijit pelipisnya yang mendadak terasa pening.
"Astaga ... Dia malah tertidur di sana... merepotkan!"
Adam berjalan menghampiri Runi yang tertidur pulas dengan tangan yang merangkul dirinya sendiri, memberikan kehangatan untuk tubuh mungilnya itu.
"He–i ..."
Adam melemahkan intonasi suaranya. Ia tidak tega membangunkan wanita bertubuh mungil itu.
"Ck harusnya kau tidak perlu tertidur di sini," sungutnya. Adam menghela napas kasar. kesabarannya benar–benar diuji. Wajah polos Runi kala tertidur mampu membuat Adam tidak bisa membiarkan Runi terbangun begitu saja.
"Baiklah"
__ADS_1
Adam merangkul Runi ke dalam dekapannya. Ia membopong tubuh Runi dengan kedua tangan kokohnya.
"Astaga Tuhan... badan boleh kecil tapi beratnya melebihi karung beras!" keluh Adam. Bagaimana tidak? Yang ia jadikan pembanding adalah karung beras sembako yang berbobot 15kg. Ukuran itu hanya sebanding dengan berat badan anak kecil usia 6 tahunan. Sungguh kurang ajar. Mungkin jika Runi mendengarnya, ia akan mengomel panjang lebar.
🍂
Sementara itu di dalam sebuah kamar, Edi duduk sembari menatap jauh ke luar jendela. Ia menatap lampu–lampu yang ada di pinggir pantai. Deburan ombak menjadi iringan malam yang hening.
"Anna... " gumam Edi menyebut nama mendiang istrinya. Ia mengingat bagaimana perjuangan istrinya untuk melahirkan Gea ke dunia. Istrinya itu harus gugur setelah berjuang.
"Dia sekarang sudah dewasa. Bahkan dia sudah merasakan bagaimana berjuang untuk seorang anak. Lega rasanya melihat manusia mungil yang polos melihat bagaimana dunia, melihat dunia yang menyambutnya, berharap ada harapan yang menanti.
Edi terdiam sejenak. Lehernya terasa kering, begitu tercekat.
"Namun, apakah harus dia juga seperti kamu?"
Edi menatap langit gelap tanpa sedikitpun cahaya gemerlap bintang maupun purnama yang bersinar. Malam itu, langit pun turut mendung, seakan tahu jika keluarga mereka tengah tidak baik–baik saja. Ia berharap mendiang istrinya melihat lantas mendengarkan segala keluh kesahnya.
"Jangan bawa dia turut bersamamu. Biarkan dia melihat dan merawat kedua putranya. Kedua putranya membutuhkan Gea."
Edi menghirup napas dalam. Ia menundukan kepalanya sejenak untuk mengontrol firinya sendiri. Selepas itu ia menutup gorden itu. Malam semakin larut untuk tubuhnya yang mulai renta.
🍂
"Hai ... Bagaimana denganmu sekarang?" tanya Briel. Ia berjalan mendekat ke arah ranjang Gea. Baru beberapa jam ia meninggalkan Gea, rindu itu menghujam jiwanya begitu hebat.
"Sudah malam kedua kamu masih saja tertidur. Apa kamu tidak ingin bangun? Apa kamu tidak capek selalu tertidur?" Kalimat tanya itu beruntun ia lontarkan, seperti tidak memberikan celah sedikitpun.
"Haih ... sudahlah lupakan," ucapnya kemudian.
Tatapan sendu itu menatap ke arah Gea. Seulas senyum tipis tersemat dari bibir nya. Briel mengusap lembut wajah Gea dengan tangannya.
"Apakah tadi Bunda menjagamu benar–benar? Atau malah dia mengajakmu bergibah?" Briel terkekeh sendiri dengan ucapannya. Kebiasaan para wanita kala berkumpul adalah membicarakan apa yang sebenarnya tidak perlu untuk dibicarakan.
__ADS_1
"Maaf ya, aku meninggalkanmu sejenak. Salahkan Bunda itu. Dia yang menyuruhku pergi."
Briel mengadu pada Gea yang masih terbaring dengan alat yang menempel di tubuhnya.
"Baiklah sudah larut malam. Aku akan membiarkanmu istirahat."
Briel membenarkan selimut itu, membiarkan seluruh bagian tubuh Gea dari dada tertutup oleh selimut itu. Ia tidak ingin membiarkan Gea kedinginan.
Briel memang mendapat saran dari dokter untuk mengajak Gea berkomunikasi. Ada kemungkinan pasien koma mampu mendengar segala ucapan seseorang yang ada di sampingnya. Itu artinya ketika larut ia harus membiarkan Gea tidur pulas.
Briel merebahkan dirinya di sofa yang ada di dalam ruangan itu.
"Good night my wife"
Briel mencoba untuk memejamkan matanya walau terasa begitu sulit baginya. Namun ia harus berusaha melakukannya agar dia tetap sehat dan mampu menjaga Gea tanpa dirinya sakit.
Ada terselip harapan yang begitu besar di dalam benaknya. Ia berharap besok ia terbangun dengan hal yang lebih baik.
🍂
Hallo hai semuaa
Muehehe makasih ya untuk semuanya yang masih setia mengikuti perjalanan Briel dan Gea hingga detik ini. Oh iya, tinggal beberapa langkah lagi cerita ini bakalan habis. Asa ingin tanya sama kalian. Menurut kalian, Runi dan Adam ceritanya dipisah atau digabung sekalian di sini?
Tulis di kolom komentar ya 😉 Asa ingin melihat pendapat kalian.
Tingkyu 🤗
🍂
//
Happy reading gaess,
__ADS_1
Jangan lupa bahagia 🤗💕💕