
Kamu dan segala kenangan,
menyatu dalam waktu yang berjalan ...
Dan aku kini sendirian menatap dirimu hanya bayangan ….
Tak ada yang lebih pedih ....
Lantunan lagu itu terdengar dari bibir indah seorang wanita di sampingnya. Ya, dia istrinya, Gea. Bibir Gea bergerak mengikuti irama lagu dari musik yang di hidupkan di dalam mobil. Inilah keinginan Briel dari awal, duduk berdua di dalam mobil bersama orang yang dicintainya. Yeah … meski Gea harus menggunakan pakaian yang cukup tertutup hanya untuk masuk ke dalam mobilnya agar tak diketahui oleh karyawan maupun penguntit yang masih mengawasi Gea.
Briel mendengarkan suara merdu Gea. Ia fokus untuk mengemudikan mobil membelah jalanan sore yang cukup ramai. Sesekali ia menatap Gea yang tengah asik bernyanyi. Sesekali pula ia ikut melantunkan lirik lagu yang dinyanyikan Gea.
Melihat orang di sebelahnya ini tersenyum cerah adalah suatu kebahagiaan tersendiri di dalam hatinya yang terdalam. Briel menyunggingkan senyum manisnya.
"Senyum ini janganlah berakhir," harap Briel dalam batinnya.
"Yahh … lagunya habis." Gea menyayangkan lagu favoritnya. Lagu itu telah selesai diputar. Ia mulai memutar lagu lain yang menurutnya enak didengar dan dinyanyikan. Briel tersenyum geli melihat segala tingkah laku Gea.
"Ternyata istriku ini sangat manis." Briel melepas sebelah tangannya dari stir kemudi untuk mencubit pipi Gea dengan gemas.
"Aaa …. Bang, sakit …" keluh Gea. Ia membalas cubitan di pipinya dengan mencubit pipi Briel.
"Aaaaaaa ... Sakit Gey astaga ..." Briel mengaduh kesakitan. Gea mencubitnya cukup keras. Tak lama kemudian Gea melepaskan cubitan itu.
Bukannya merasa bersalah, ia malah tertawa di atas penderitaan Briel. Gelak tawanya terdengar begitu renyah.
Tiba–tiba saja mobil yang mereka kendarai berhenti. Briel menepikan mobil itu di pinggir jalan yang cukup sepi.
"Ada apa, Bang?" Kepanikan terlihat jelas di wajah Gea. Rasa bingung melanda dirinya.
"Mengapa mobilnya berhenti, Bang? Apakah ada masalah dengan mobilnya?" tanya Gea cemas.
"Iya, Gey, ini ada masalah." Briel menatap Gea dengan tak kalah cemasnya. Terlihat jelas di sorot mata Briel.
Satu
Dua
Tiga
Dalam detik ketiga, Briel melancarkan aksinya dengan menggelitiki pinggang Gea. Gea menggelinjang kegelian menerima setiap sentuhan jari jemari Briel yang bergerak lincah di pinggang Gea.
"Rasakan ini ..."
"Hahahahaha ampun, Bang, ampun …" Gea tertawa sembari meminta ampun agar lekas di lepaskan oleh Briel.
Bukan Briel namanya jika ia berhenti menggelitiki Gea. Ia tak memperdulikan permintaan Gea. Hingga ia capai sendiri dengan aktivitasnya.
"Hahaha, Bang … ampun deh ampun … hahaha …"
"Baiklah … kamu ulangi lagi jangan harap bisa lepas!" ancam Briel dengan senyum devil.
Suara sisa tawa Gea masih ada. Gea berusaha mengatur napasnya. Briel pun kembali ke tempat duduknya. Tangannya ia ulurkan ke depan untuk menyalakan mesin mobil. Ia ingin melanjutkan perjalanan mereka yang sempat tertunda. Dan …
"Hahahahaha .…"
Gelak tawa geli Briel terdengar begitu renyah. Gea telah menyerang Briel balik dengan menggelitiki pinggang Briel. Rupanya Gea mengabaikan peringatan dari Briel.
"Hahaha rasakan ini, Bang …."
__ADS_1
Gea terus melancarkan aksinya untuk menggelitiki Briel. Tawa bahagia tercetak jelas di wajahnya. Benar–benar serasa dunia milik mereka berdua. Bahkan mereka lupa jika saat ini mereka masih berada di dalam mobil yang terparkir di pinggir jalan yang cukup sepi.
Grep
Briel menarik tangan Gea. Gea terjatuh di pangkuan Briel. Gea diam memaku. Dia terperangah dengan apa yang dilakukan Briel padanya. Pandangan mereka berdua bertemu dan saling mengunci. Degup jantung mereka terpacu kencang, berdebar seirama, layaknya lagu mars yang tengah dikumandangkan.
Mereka masih terdiam. Pandangan mata Briel terpusat pada bibir ranum Gea. Bibir ranum itu seakan–akan menggodanya untuk ia makan. Briel mendekatkan wajahnya ke wajah Gea.
Semakin dekat, semakin mendekat. Napas Gea semakin memburu. Gea mulai memejamkan matanya, bersiap untuk menerima perlakuan Briel padanya.
Tok tok tok
Mereka berjingkat kaget. Ada seseorang yang mengetuk kaca pintu mobil dari luar. Dengan cepat Gea kembali ke kursi samping kemudi. Ia merapikan penampilannya yang cukup berantakan karena ulah Briel yang menggelitikinya tadi. Wajahnya merona bagaikan buah tomat yang sudah matang.
"Astaga malunya aku ... Bodoh kau Gey! Malah ikut terbuai oleh perlakuan Bang Briel."
Gea memejamkan matanya menahan malu.
"Pak buka pintu mobilnya!" perintah seorang pria dari luar.
Briel membuka kaca mobilnya. "Ada keperluan apa ya, Pak?"
Briel menatap bingung dua pria berseragam polisi. Iya, mereka bukan hanya satu orang, namun dua orang.
"Silahkan turun terlebih dahulu, Pak!"
Briel turun dari mobil. Begitupun juga dengan Gea.
"Kalian akan kami amankan ke kantor polisi. Ikut kami dan jelaskan di sana!"
Kedua polisi itu mulai mendekat ke arah mereka berdua untuk menyeret mereka mengikuti kedua polisi itu. Dengan cepat Briel menahan kedua polisi itu dengan mengangkat sebelah tangannya.
Salah satu polisi itu menghela napas kasar. "Sudah bersalah masih bertanya," gerutunya lirih.
"Kesalahan kalian itu, kalian berbuat mesum di pinggir jalan!" ujar yang lain dengan ketus.
"Ha? Apa buktinya, Pak? Kami tidak berbuat apapun, Pak!"
Gea membulatkan matanya. Ia terperangah mendengar kalimat penuduhan itu terucap dari mulut polisi dihadapannya ini.
"Sudah melakukan tidak mau mengaku!" ucap salah satu dari polisi itu. Ia memalingkan wajahnya dengan tersenyum culas.
"Mobil kalian berhenti di pinggir jalan yang cukup sepi dan mobil kalian bergoyang lama sekali. Kami memperhatikan kegiatan kalian cukup lama. Dan setelah kami hampiri, kalian tengah berduaan dengan wanita ini duduk di pangguan Anda, Pak!"
"Apa lagi yang kalian lakukan? Sudah tertangkap basah masih saja mengelak!" imbuhnya lagi.
"Tapi kami tak melakukan apapun, Pak. Kami hanya bercanda saja. Kami juga punya buktinya. Mari saya tunjukkan rekaman CCTV yang saya pasang di dalam mobil," sanggah Briel.
Briel berusaha mempertahankan kebenaran yang sesungguhnya. Meski bisa saja jika kedua polisi itu tak melihat, ia akan melakukan hal di luar batas.
Briel menunjukkan rekaman CCTV yang berisi tentang aktivitas mereka selama mobil itu berhenti. Akhirnya kedua polisi itu percaya. Mereka meminta maaf atas kesalahpahaman yang terjadi.
"Lain kali jangan asal menuduh, Pak, kalau tidak mempunyai bukt," sindir Briel. Ia kesal karena aktivitasnya dengan Gea terganggu.
"Tapi lain kali jangan membuat presepsi masyarakat menghakimi Anda. Seorang awam dewasa pun akan beranggap kalian berbuat mesum jika melihat mobil kalian yang berhenti itu bergoyang cukup lama."
Briel tak menyahuti perkataan polisi itu. Ia terlanjur kesal dengan kedua polisi itu. Ia menatap datar kedua polisi itu. Tatapannya mampu mengintimidasi kedua polisi itu. Bahkan mereka belingsatan karena tatapan Briel menunjukkan betapa kuatnya aura seorang pemimpin pada diri Briel.
"Baiklah, Pak, maaf telah mengganggu kenyamanan Anda. Permisi …"
__ADS_1
Mereka berusaha untuk menekan rasa gugup mereka. Kedua polisi itu pergi meninggalkan Briel dan Gea.
Gea menghembuskan napasnya kasar. Mereka berdua tertawa renyah setelah mengalami kejadian konyol.
"Gara–gara kamu ini, Bang!" ucap Gea sambil tertawa. Ia tak habis pikir dengan apa yang mereka alami. Pengalaman paling konyol di hidupnya. Ia berjalan masuk ke dalam mobil, begitupun dengan Briel.
Briel juga masih tertawa. "Enak saja gara–gara aku. Coba kalau kamu tidak balas menggelitikku pasti tidak akan ada polisi yang menghampiri kita."
Gelak tawa memenuhi ruangan di mobil itu. Mereka saling menuding, namun mereka menjadikannya sebagai bahan candaan semata. Briel kembali melajukan mobilnya menembus jalanan.
🍂
Briel menghentikan mobilnya di sebuah taman kota, yang terletak di pusat kota. Mereka berdua turun dari mobil. Mereka berjalan beriringan. Di sana banyak orang yang juga berjalan–jalan di sore hari. Ada yang duduk bersama pasangan, anak–anak berlari ke sana ke mari dengan kedua orang tua mereka yang menjaga mereka, ada pula anak muda yang berolahraga di sore hari. Taman kota kali ini sangatlah ramai.
Gea melihat ada seorang penjual es krim berjualan di sana.
"Bang es krim!" ucap Gea dengan tersenyum manis.
Briel menyunggingkan senyum hangatnya. Ia mengangguk. Mereka berjalan menghampiri penjual es krim itu.
"Kang, es krimnya dua, rasa coklat dan vanilla."
Penjual es krim itu mengambilkan es krim. Es krim yang dijual adalah es krim racikan sendiri. Gea harus menunggu sesaat untuk mendapatkan eskrim itu.
Gawai Briel berbunyi. Ia melihat siapa yang tengah menghubunginya. Briel izin kepada Gea untuk mengangkat panggilan itu. Ia berjalan menjauh dari Gea berada.
Gea menerima dua cup es krim. Ia membayar es krim itu dengan uang yang diberikan oleh Briel. Ia duduk di sebuah tempat duduk yang terbuat dari semen sembari menunggu Briel selesai dengan urusannya.
🍂
"Apa?!"
Bagaikan petir di siang bolong, informasi dari pria di seberang sana membuat Briel tercengang. Seketika dunianya terasa runtuh. Apa yang ia takutkan perlahan mulai terjadi.
"Sudah kamu pastikan, Dam?" tanyanya. Ia masih belum percaya dengan apa yang telah ia dengar dari mulut Adam.
Briel berharap apa yang dia dengar adalah suatu mimpi buruk saja.
🍂
//
Hohaii semuaa.... 👋
Sambil nunggu Gea up, kalian bisa kunjungi juga novel di bawah ini 🤗🤗
Terjebak Perjodohan Sang CEO - Desy Puspita
Blurb :
Menikah, impian setiap wanita bukan? Namun, bagaimana jika pernikahan yang terjadi karena keterpaksaan. Begitulah yang dialami Jelita dan Raka, pernikahan tanpa cinta yang mereka jalani semata-mata hanya demi bakti kepada orangtua. Memiliki sifat yang bertolak belakang membuat rumah tangga mereka terasa bak sebuah lelucon pada awalnya, hingga perlahan keduanya saling menerima dan memulai mahligai pernikahan yang indah bersama.
🍂
//
Happy reading guys,
__ADS_1
Jangan lupa bahagia 💕💕