
"Wahh Anda terlihat gagah sekali di hari ini, Tuan Edi," puji Frans kala mereka saling bertemu di ruang depan villa itu.
Edi tertawa ringan. Ia menepuk ringan pundak Frans. "Ah ... Jangan berlebihan Tuan, umur saya sudah banyak. Bahkan lihatlah, rambut saya sudah banyak yang mulai memutih. Ubanan, maklum sudah tua," ucap Edi merendah dengan kenyataan yang ada.
"Anda malahan yang tiap hari masih terlihat bugar," ucap Edi kemudian.
"Anda bisa saja," ucap Frans.
"Tapi benar loh, Tuan Edi terlihat berbeda di hari ini," ungkap Tere yang datang menghampiri dengan stelan kebaya modern yang ia pakai dengan make up ringan namun terkesan mewah. Dia turut bergabung dengan 2 pria yang sudah lebih dari setengah abad bersetelan jas formal.
"Nah kan. Istri saya pun mengatakan hal yang sama," sahut Frans.
Mereka bertiga saling melemparkan tawa bahagia yang selama ini belum pernah mereka rasakan.
"Jadi selama ini saya terlihat tua dan renta?" ucap Edi dengan gurauan.
"Astaga ... Tidak begitu juga Tuan. Aihh Anda bisa saja."
Edi pun tertawa mendengar jawaban dari Frans. Lantas Edi membuka suara, "Orang tua mana yang tidak bahagia melihat anaknya ke pelaminan. Yeah meski bisa dikatakan saya terlambat dalam berperan sebagai ayah yang baik." Edi tersenyum kecut kala mengingat bagaimana perlakuannya pada Gea selama ini.
Baik Frans maupun Tere saling menatap dengan senyum kelegaan di hati mereka masing–masing. "Sudahlah, jangan disesali kembali. Lebih baik terlambat bukan dari pada tidak sama sekali?" Frans mencoba menenangkan perasaan besannya itu.
"Untuk pernikahan, saya pun juga tidak bisa melihat mereka sah di depan altar." Kilasan balik di kecelakaan waktu itu kembali melintas di pikirannya.
Seuntaian kalimat itu cukup untuk sedikit meredakan perasaan bersalah dalam diri Edi. Edi pun mengangguk pelan.
"Sudah sudah. Ini hari berbahagia anak–anak kita dan kita semua. Ayo minum teh terlebih dahulu sebelum acara dimulai. Lagi pula waktu masih cukup lama. Bahkan Gea masih belum selesai bersiap," ucap Tere mencairkan suasana.
"Panggil saya dengan sebutan "besan" saja ya. Rasanya kurang pas kalau masih menggunakan panggilan formal, padahal kita besan," ucap Edi kemudian. Ia kurang nyaman dengan panggilan "tuan" padahal hubungan mereka tidak sejauh itu.
"Oke sepakat," ucap Frans.
"Besan"
"Besan"
__ADS_1
"Besan"
Mereka menyuarakannya bersama. Lantas mereka pun berjalan menuju sebuah meja yang cukup besar dengan kursi–kursi yang mengelilingi meja itu.
Dalam santai mereka, di pikiran Edi terbesit bagaimana keadaan anaknya yang satu, Dela. Namun sebisa mungkin ia mengesampingkan Dela terlebih dahulu. Ia sudah meminta orang suruhan untuk mengawasi pergerakan Dela. Ia tidak ingin mengulang kesalahannya yang dulu ia lakukan pada Gea. Ia mengawasi Dela dari kejauhan. Sampai saat ini yang Dela tahu adalah Edi masih terjatuh miskin.
"Semoga kamu baik–baik saja Nak," harap Edi dalam hati sembari meminum kembali teh hangat yang telah di siapkan.
🍂
"Nona, tutup mata sejenak," kata seseorang perias MUA.
Gea memejamkan matanya tanpa banyak protes.
"Selesai," ucap perias itu dengan sebuah kuas yang diapit oleh jari jemarinya setelah cukup lama memoles wajah Gea.
"Nona, ayo saya bantu memakai gaunnya," ucap salah satu tata busana yang bertugas di hari berbahagia Gea.
"Astaga kamu ... Biasanya juga manggil saya Bos. Kenapa mendadak menjadi Nona?" ungkap Gea. Telinganya cukup terganggu dengan sebutan Nona yang terlontar begitu saja dari bibir karyawan butiknya itu.
"Ya kan sekarang beda Bos. Kalau di kantor Bos itu bos kami. Tapi ini di acara Bos. Jadi Bos adalah client kami," ucapnya.
Mereka pun beranjak mengganti baju Gea.
Sedangkan di sisi lain, Briel tengah duduk di sofa dengan telunjuk yang ia ketukkan di pinggiran sofa. Ketukan–ketukan itu telah menunjukkan bagaimana isi hati Briel. Hal itu membuat ketiga pria lainnya yang ada di dalam ruangan yang sama ini menepuk dahi mereka masing–masing.
"Katanya Bos, tapi tinggal resepsi aja seresah itu," ledek Adam.
"Ck tidak usah banyak bicara. Urusi saja kisah asmaramu yang belum kelar–kelar!" ucap Briel sewot.
"Ih sewot!" sahut Bima.
Sedangkan Hendri hanya tertawa melihat adu mulut ketiga pria dewasa di depannya itu.
"Dan kau, mana Runi? Biasanya kalian seperti lem sama prangkonya." Hendri mulai meledek Adam.
__ADS_1
"Kau juga ya ikut–ikutan! Dasar tidak kreatif!" Ingin rasanya ia mengarungi Hendri saat itu juga lantas melemparnya ke jurang.
"Tidak kreatif dari mana? Biasanya kalian kan selalu bersama. Wajar dong kalau ditanyakan," kilah Hendri.
"Hari ini aku bebaskan dia karena ini adalah hari berbahagia. Selepas dari sini, dia harus tetap jalankan hukumannya seperti biasa," ucap Adam dengan senyuman sok berkuasa.
Memang benar, Runi harus menjalani denda yang Adam putuskan lantaran Runi memang harus membayarnya. Dan sebagai gantinya, Runi harus menuruti apa kata Adam.
"Awas, terlalu sering bersama bisa–bisa jatuh cinta." Bima membuka suara.
"Ooo tidak akan." Adam menjawab dengan percaya dirinya. Sikap Runi yang menyebalkan membuat dirinya memasukkan Runi dalam daftar hitam sebagai kriteria pasangannya.
"Awas terpeleset lidah sendiri," ucap Briel.
"Aapaan kau ikut–ikut. Sudah urusi saja dirimu sendiri!" Adam mengadopsi kalimat Briel sebelumnya.
"Ini dia definisi tidak ada kreatif–kreatifnys. Copyright ini!" gurau Briel.
Gelak tawa terdengar di ruangan itu. Briel mampu mengalihkan keresahannya sementara. Sedangkan Adam memutar bola matanya malas namun jauh dalam lubuk hatinya ia bersyukur lantaran Briel dapat lebih santai lagi.
"Perkuat penjagaan di sekitar lokasi acara. Jangan sampai ada penyusup yang luput!" Bima berbicara dengan semua anak buahnya dengan sebuah alat komunikasi kecil di telinganya.
Seketika suara Bima itu membuat ruangan itu kembali hening.
"Pastikan semuanya aman!" titah Briel. Ketiga pria lainnya di ruangan itu pun mengangguk mengiyakan.
🍂
//
Happy reading gaess,
Jangan lupa bahagia 💕💕
Jan lupa mampir karya di bawah ini ya gaees
__ADS_1
Terimakasih 🤗🤗