
"Kenapa kau membawaku ke mari? Apa yang perlu dibicarakan? Cepatlah! Aku ingin segera kembali."
Tanpa jeda sedikitpun, Briel melontarkan pertanyaan beruntun. Adam mendengkus kesal. Belum juga mereka sampai ke caffe untuk bersantai sedikit, Briel sudah gatal ingin kembali kepada istrinya.
"Bri astagaa... Istrimu tidak akan diculik ataupun hilang. Itu rumah sakit dan Runi juga ada di sana. Tidak ada yang bisa menculik istrimu kalau tidak membuat seluruh penghuni rumah sakit pingsan. Bersabarlah sedikit. Aku lapar, ingin makan sekalian."
Briel berdecak kesal. Jika pada akhirnya seperti ini, lebih baik ia tidak ikut dengan Adam dan memilih tetap bersama dengan Gea.
"Isss kau tu ... Terlalu lama jika harus sarapan dahulu."
"Sebentar saja. Lagi pula kau pasti belum sarapan kan? Sekalian."
Briel hanya memutar bola matanya malas. Memang benar, belum sedikitpun makanan masuk ke dalam perutnya. Kembalinya Gea membuatnya begitu bahagia hingga ia lupa akan perutnya yang meminta diisi.
Adam sengaja tidak mencari sarapan terlebih dahulu lantaran dia memang enggan untuk sarapan bersama dengan Runi. "Malas gila, yang ada aku tidak nafsu makan," gumam Adam dalam hati kala mengingat Runi.
🍂
"Ada apa?"
Adam mengelus dadanya kasar.
"Astaga Bri ... Baru saja sampai. Pesan dulu, pesan dulu!"
Ingin rasanya Adam menampol wajah sahabatnya itu.
"Apa ... Apa?!" Briel tahu niat Adam. Raut wajah Adam sendiri yang berbicara. "Ck kau mana tau gimana kesalnya saat ada nyamuk pengganggu sepertimu menggangguku!" Briel ngedumel.
"Ya gimana mau tau? Mengalami saja tidak," ucap Adam sembari menyerahkan daftar menu yang ia ambil dari pelayan pada Briel. Briel mengambilnya lantas memesan sesuai dengan apa yang mereka suka.
Cukup waktu mereka menunggu, datanglah makanan yang mereka pesan.
"Cepat katakan atau gajimu kupotong lagi!" ancam Briel.
Mendengar kalimat yang terlontar dari mulut Briel, Adam tersedak seketika. Ancaman berkurang hanya dengan 1 nol saja mampu membuat Adam kelimpungan. Dengan cepat tangannya meraih minumannya lantas meminumnya segera untuk meredakan rasa sakit di leher dan dadanya.
"Hah? Lagi?? Jangan mengada–ada Bri." Seingat Adam ia tidak melakukan kesalahan yang fatal yang membuat nilai nol di rekeningnya hilang.
"Iya lagi. Malam itu kau tidak menjemput Bunda. Untung saja ada Vie belum pulang jadi Bunda pulang diantar Vie. Kurang ajar sekali kau tidak tepati janjimu sama Bunda!"
"Ditelpon berkali–kali juga tidak kau angkat. Kalau bukan temanku sudah kupecat kau dari dulu!" gerutunya kemudian. Sikap Adam sering terlampau menyebalkan baginya meski tidak ia pungkiri banyak hal yang sudah Adam lakukan untuknya.
Kekesalan itu nyatanya masih belum hilang jika Briel mengingatnya. Baginya keselamatan dan kenyamanan Tere itu prioritas baginya. Orang yang bertugas menjemput bundanya tidak datang bahkan panggilan teleponnya pun tidak diangkat.
"Ya... Ya kan semuanya itu diluar kendali. Mobilku bocor di tengah jalan. Baterai ponselku juga habis. Bagaimana bisa aku menghubungimu atau kau menghubungiku? Logika logika!"
__ADS_1
Adam tidak ingin disalahkan begitu saja, karena memang nyatanya semuanya tidak ada dalam agenda hidupnya. Bahkan jika bisa, ia tidak menginginkan itu terjadi.
Briel menggeleng tegas. "Aku tidak terima alasan," ucap Briel tidak mau tahu. Ia terlanjur kesal dengan hadirnya Adam di pagi ini.
"Hidihh ..." Adam mendengkus kesal. Ingin sekali ia mengumpati Briel.
"Oke potong saja. Nanti aku bisa minta sama Bunda sendiri."
Ancaman diputarbalikan. Adam sedikit melirik ke arah Briel sebenarnya itulah kartu AS Briel yang ia pegang. Tere yang juga menyayanginya tidak akan membiarkan Briel semena–mena padanya. Apa lagi jika Adam tidak bersalah sedikitpun. Yang ada Briellah yang akan mendapatkan kalimat sepanjang kereta yang membuat telinga siapa saja terasa panas jika mendengarnya.
Briel tertawa sumbang. "Beraninya ngadu sama Bunda," ledek Briel. Sering ia bertanya–tanya kenapa Tere bisa sesayang itu juga dengan Adam padahal Adam semenyebalkan itu.
"Jangan–jangan Bunda kau kasih pelet kan?!" tuduh Briel asal. Tangannya yang memegang sendok ia gunakan untuk menunjuk tepat di depan wajah Adam.
"Enak saja! Kalau aku pelet, sekarang aku sudah jadi ayah tirimu!"
Pletak!!
Briel memukul kepala Adam dengan sendok yang ia gunakan untuk makan.
"Wa wa wa wa kurang ajar kau Bri!"
"Siall! Kau yang kurang ajar. Berani–beraninya mendzolimi Ayah!" ucap Briel. Terkadang apa yang Adam ucapkan memang tidak pernah memakai sedikit filter. "Tidak sudi punya ayah tiri seperti kau!" lanjut Briel.
"Terserah!" Briel memutar bola matanya malas. Ia tahu jika Adam hanya bergurau. Namun gurauannya itu mampu membuatnya naik darah.
"Cepat katakan!" titahnya kemudian mengembalikan bahasan ke topik utama.
Adam mulai membicarakan perihal masalah perusahaan. Sedari kemarin ia mencoba menahan informasi itu terlebih dahulu sampai keadaan Briel membaik. Dan sekarang adalah waktunya. Mendengar Gea yang kini telah kembali, ia berpikir mungkin inilah waktu yang tepat.
"Baiklah, kita selesaikan nanti setelah kita pulang dari sini. Atau kalau tidak kau menggantikanku ke sana."
"Baiklah. Aku akan menggantikanmu."
"Ya itu lebih baik. Lagi pula sepertinya Gea masih membutuhkanku di sini."
Adam mengangguk, setuju dengan apa yang Briel katakan. Mereka melanjutkan sarapan mereka yang masih belum habis. Percakapan absurd mereka membuat sarapan mereka menjadi lebih lama.
🍂
"Aaa ... Geaaaa ..."
Sepeninggalannya Briel dan juga Adam, Runi meletakkan mangkuk makanan lantas memeluk Gea. Ia merindukan sahabatnya itu. Sepi dan kosong rasanya kala Gea tidak sadarkan diri.
"Kangen ..." rengek Runi di tengah pelukan mereka yang cukup erat itu.
__ADS_1
"Iya tahu ..." ucap Gea dengan percaya diri.
Runi melepas pelukannya cepat. Ia menatap wajah Gea dengan sorot mata yang cukup tajam. "Ihhh kebanyakan bergaul dengan Si Bos kamu ketularan narsisnya Bos Briel!"
Gea tertawa. Tawanya cukup renyah, namun ia tidak bisa selepas biasanya. Jahitan bekas operasi masih belum sepenuhnya pulih.
"Kan istrinya," ucap Gea di sela tawanya.
"Baiklah Nyonya Briel." Runi turut tertawa bersama dengan Gea.
"Aaa lagi"
Selepas melepas rindu, Runi kembali menyuapkan makanan ke mulut Gea. Gea menerima suapan itu.
"Udah Run, aku bisa makan sendiri."
"Tidak bisa. Harus aku yang menyuap, atau Bos Briel bisa marah padaku." Runi mencari alasan untuk bisa tetap menyuapi sahabatnya itu.
"Masalah itu biar aku yang bicara Run. Ayolah ..."
"Tidak boleh."
Runi tetap kekeuh ingin menyuap sahabatnya itu. Kapan lagi ia bisa melakukan hal untuk sahabatnya itu.
"Eh sebentar," ucap Runi.
Gea menyipitkan matanya. "Ada apa?"
Tanpa menjawab pertanyaan Gea terlebih dahulu, Runi mendekat ke arah Gea. Tangannya yang memegang selembar tisu bergerak mengusap sudut bibir Gea.
"Nih ..." Runi memperlihatkan sisa makanan yang kini telah berpindah di tisu itu.
Gea tersenyum hangat. "Thanks"
"Tidak sama–sama."
Gea tertawa kecil mendengar jawaban Runi yang nyleneh.
🍂
//
Happy reading gaes,
Jangan lupa bahagia 🤗💕💕
__ADS_1