Pengantin CEO Yang Tertukar

Pengantin CEO Yang Tertukar
71. Kepulangan


__ADS_3

Hari demi hari telah berlalu. Sudah genap seminggu kemudian dari hari di mana Sam memberitahukan kepulangan Frans. Telah tiba saatnya Frans dan Tere pulang ke kediaman Keluarga Yohandrian.


Briel telah sampai di rumah sakit itu. Dia datang bersama Adam seorang tanpa istrinya. Ia tidak memberitahu Gea bahwa orang tuanya akan pulang. Ia ingin memberikan kejutan untuk istri dan kedua orang tuanya dengan mempertemukan mereka, sehari setelah kepulangan Ayah dan Bunda.


"Dam, sudah dipastikan Gea belum mengetahui perihal Ayah dan Bunda?"


Sampai saat ini Briel masih belum memperkenalkan Gea dengan orang tuanya. Ia masih menyiapkan diri agar pernyataannya tak membuat pihak manapun terluka. Ia tak kuasa jika harus membuat salah satu di antara mereka kecewa. Briel tak bisa memilih dari salah satu dari mereka yang ia sayangi.


"Sudah dipastikan, Bos."


"Bagaimana dengan Bima?"


"Mungkin saja Bos Bima sudah tahu Bos. Namun dari yang saya tahu, beliau tidak akan memberi tahu apa yang diketahuinya pada Nona Gea jika keadaannya tidak genting. Bos Bima hanya menjaga Nona Gea, memastikan keselamatan dan kerahasiaan identitas Noba Gea."


Jawaban Adam membuatnya lega. Rasa lega telah menjalar ke seluruh hatinya. Rasa kagum akan Bima seakan semakin besar. Ia tak menyangka jika Bima memberikan ruang untuk dirinya dan juga Gea untuk menyelesaikan masalahnya sendiri.


"Bunda, Ayah ... " sapa Briel tatkala mulai membuka pintu ruang perawatan. Ia berjalan mendekat ke arah mereka berdua. Ia disambut dengan senyum hangat Tere dan Frans. Briel mencium ringan pipi Tere. Briel juga memeluk Frans.


Plakk


Tere menabok ringan lengan Briel. Sorot mata sang bunda terlihat horor di matanya. Briel meringis kesakitan. Ia mengelus pelan lenganmya yang terasa panas.


"Sakit, Bun! Masa baru bertemu sudah dianiaya?" keluh Briel yang menahan rasa panas di tangannya.


"Dasar anak nakal!" Bukannya berhenti, Tere malah kembali menabok lengan Briel yang lain. Ia kesal dengan Briel yang jarang mengunjungi mereka berdua tatkala di rumah sakit. Raut wajah Tere begitu kentara.


"Aduh, Bun. Sakit!" Briel mengaduh lagi.


"Bunda lebih sakit. Orang tuanya sakit, anaknya tidak perhatian!" geruntu Tere lirih. Frans hanya tersenyum melihat istrinya yang tengah dilanda kekesalan yang berbaur dengan kerinduan. Ekspresi wajah Tere selalu membuat Frans bahagia, kecuali tangisan kesedihan dan kekecewaan. Namun untung saja sudah puluhan tahun ia tak melihat raut wajah itu.


Tere menabok lengan Briel sekali lagi ditempat yang sama di mana Tere mendaratkan telapak tangannya di lengan Briel. Briel mengaduh kesakitan lagi.


"Hilihh pria macam apaan ini? Baru dibegituin aja sakit. Bagaimana kalau nanti kamu ditinggal sama orang yang kamu cintai" ceplos Tere tanpa disaring terlebih dahulu.


Ucapannya menohok hati Briel. Briel langsung terdiam. Pikirannya melayang pada kata 'seandainya'. Ia membayangkan yang baru mungkin dan bisa saja terjadi maupun tak terjadi. Seketika rasa takut ditinggalkan mulai menelusup ke dalam relung hatinya.


Adam melirik ke arah Briel yang terdiam. Ia mengerti apa yang Briel rasakan. Ia tahu kalau bosnya ini telah menaruh hati pada sang istri yang masih disembunyikan keberadaannya baik dari keluarganya sendiri maupun dunia luar.


"Udah, Bun. Kasihan si Bos dianiaya Bunda terus," ucap Adam terkekeh. Ia berusaha untuk mencairkan suasana yang telah berubah menjadi canggung.


"Bas bos bas bos. Anak nakal seperti ini kamu panggil Bos, Dam?" tunjuk Tere pada Briel.

__ADS_1


Adam mengangguk ragu.


"Astaga …. Hancur–hancur!" Tere memejamkan matanya. Kepalanya ia gelengkan dengan tangan yang menyentuh dahinya.


Briel membulatkan matanya dengan bibir yang sedikit terbuka. Ia terperangah dengan apa yang ia dengar.


"Hancur? Yang ada bukan dia yang hancur, Bun. Tapi Briel. Hampir tiap hari Briel dibully asisten sendiri," ucap Briel. Batin Briel menangis mendengar pembullyan ini.


Ucapan Briel mengundang tawa Frans. Ia terkekeh mendengar jawaban Briel. Ia sudah mengetahui tabiat anak kandungnya dengan sang asisten yang sudah ia anggap sebagai bagian dari keluarganya.


"Haihh … habis anak sendiri malah gak peduli!" sungut Tere. "Apa kita adopsi Adam saja untuk melengserkan Briel jadi anak kandung kita, Yah?" ucap Tere asal.


Itulah ekspresi yang Tere munculkan. Sungguh, ia rindu pada anaknya ini. Akhir–akhir ini Briel sibuk dengan urusan perusahaan dan urusannya sendiri bersama dengan sang istri. Sedangkan setiap harinya hanya Adam yang rutin mengunjungi mereka setiap pagi dan malam.


"Bun jangan dong Bun. Nanti kalau Briel benar–benar hilang, nanti Bunda nyariin lagi," ucap Briel melas.


"Hus Bun. Jangan bilang seperti itu. Sudahlah, kasihan Briel. Lagian dia sibuk karena dia mengurus perusahaan yang Ayah tanggungkan padanya. Sedangkan ada proyek yang digarap di perusahaan Ayah. Jadi wajar kalau dia sibuk."


Frans memberikan pengertian pada istrinya ini. Tere memang termasuk dalam kategori wanita yang cenderung cerewet. Jadi tak diherankan lagi kalau ucapannya cenderung ceplas ceplos. Tapi itulah yang membuat kehangatan dan keharmonisan keluarga Briel tetap terjaga.


"Nah itu, Bun. Ayah aja pengertian. Iya kan, Yah?" Briel mencari pembelaan pada sang ayah.


Frans hanya menggelengkan kepalanya dengan senyum yang masih mengembang di bibirnya. Ia tak habis pikir dengan tingkah Briel dan juga Tere yang selalu saja meributkan hal sepele.


"Baik, Yah." Adam berlalu meninggalkan mereka semua, hingga tersisa satu keluarga inti.


"Lah, Yah? Bukannya ini rumah sakit milik kita? Kenapa kita tetap harus membayar biaya administrasi?"


Tere penasaran dengan hal itu. Seingat dia, semua temannya tidak akan membayar jika hal yang dipakai atau diambil berasal dari apa yang dipunyai mereka.


"Bun, bisnis tetaplah bisnis," sambar Briel.


Plak


Briel meringis menahan panas yang menjalar di lengannya karena tabokan Tere.


"Astaga badanku bisa remuk kalau seharian ditabok Bunda dengan tangannya," batin Briel. Biarpun tangan maupun badan Tere kecil, namun tenaganya untuk menabok begitu besar.


"Bunda gak tanya kamu. Bunda tanya sama Ayahmu!"


"Briel kan hanya mewakilkan, Bun."

__ADS_1


"Beda!"


"Iya–iya, Bunda Briel yang selalu cantik." Briel memilih mengalah. Jika diteruskan maka tidak akan pernah berakhir.


"Nah begitu dong." Tere tersenyum penuh kemenangan.


"Astaga kalian … Ayah pusing mendengar kalian selalu saja beradu mulut dengan hal sepele yang dipermasalahkan." Frans menggeleng sembari menatap Briel dan Tere secara bergantian. Kemudian ia memusatkan perhatiannya kepada Tere.


"Begini, Bun. Kita tetap harus membayar biaya administrasi kita itu untuk menghargai jerih payah mereka untuk merawat dan berusaha menyembuhkan kita semaksimal mungkin. Yeah … walaupun nantinya akan tetap kita nikmati, namun kita harus bisa memisahkan antara keperluan maupun kebutuhan kita dengan usaha maupun bisnis yang kita miliki. Apapun itu, Bun."


Dalam hal ini, Rumah Sakit Yasandri tergolong dalam rumah sakit privat, rumah sakit yang bergerak untuk mencari keuntungan walaupun lebih ditujukan untuk pelayanan. Rumah sakit ini tetap mengutamakan pelayanannya. Jadi Frans tetap membayar biaya administrasi untuk menghargai jasa paramedis. Itulah kebijakan yang ia pilih. Kekuasaan yang ia miliki bukanlah hal untuk bertindak sewenang–wenang semata. Ia memperhatikan keseimbangan semuanya.


Tere mengangguk. Ia akhirnya mengerti tentang apa yang membuat hatinya mengganjal.


Tak lama setelah itu, pintu ruangan itu terbuka, memperlihatkan seseorang yang telah mereka nanti.


🍂


//


Hai semuaaa ...


Perihal tentang rumah sakit privat, Asa mencari tahu dan bertanya pada "simbah". Kalau Asa salah mengerti, kalian semua boleh koreksi kesalahan Asa agar Asa bisa tahu dan membenarkan apa yang telah salah Asa pahami 🤗


Dan juga pandangan Frans tentang itu telah Asa bumbui dengan pandangan Asa 😁 jadi yasudah, sudah bercampur dengan kehaluan 😅😅.


🍂


//


Oh iya ...


Berikan pendapat kalian tentang cover baru Asa 🤭. Bagusan mana? Yang baru, atau yang lama? 🤔


Terimakasihh ...


🍂


//


Happy reading guys

__ADS_1


Jangan lupa bahagia 💕💕


__ADS_2