
"Baby twins sukanya apa ya?" Runi bergumam. Di sampingnya kini ada Adam dan juga Bima dan Hendri. Mereka berempat tengah berada di sebuah swalayan yang cukup besar. Mereka bersama–sama membeli beberapa barang untuk mereka bawa ke rumah Briel.
"Hei! Punya otak dipakai sidikit aja kenapa sih? Baby twins mana bisa makan makanan yang seperti kita. Bahkan bubur sekalipun. Mereka msih bayi, di bawah 6 bulan lagi. ASI juga masih ekslusif," hardik Adam. Ia tidak habis pikir dengan pola pikir Runi yang terkadang tidak memakai otak untuk berpikir. Terkadag ia berpikir, apakah Runi berpikir dengan lututnya. Adam menggeleng pela.
Runi menghela napas panjang. Runi memutar bola matanya malas. Belum apa–apa ia sudah diserang oleh perkataan Adam yang terkadang menurutnya tidak nyambung dengan apa yang sedang ia bicarakan.
Runi menoleh ke arah Adam. "Sekarang aku yang tanya. Siapa yang mikirnya tidak pakai otak? Kalau belum mengerti maksudku, tidak usah bicara panjang lebar deh. Aku tidak membicarakan perihal makanan. Memangnya hal yang disuka harus ya berbau makanan? Kak Hendri, Kak Bima, apa benar begitu?"
Runi menatap Hendri dan Bima bergantian. Tatapannya menuntut sebuah pembelaan dari mereka berdua. Ia ingin mencari pembenaran pada dua orang itu sebagai orang yang netral untuk menguatkan argumennya. Mereka berdua sekilas saling pandang. Lantas mereka memberikan respon yang sama. Mereka hanya mengedikan kedua bahunya singkat. Tidak ingin berkomentar apapun mengenai hal itu. Ikut campur dengan mereka hanya akan mereka ikut rumit.
Runi menghela napas kasar. "Semua cowok sama aja!"
Runi melengos. Ia pergi meninggalkan trio racun itu. Racun memang sebutan untuk ketiga pria itu. Runi menganggapnya racun lantaran berada bersama dengan mereka, lebih banyak hal menyebalkan yang terjadi dibandingkan dengan hal yang menyenangkan. Jika ia bisa memilih, ia lebih memilih untuk mengubah sifat ketiga pria itu agar lebih bisa berkompromi dengannya. Jika pilihannya sendiri, ia tidak akan memilih itu. Bagaimanapun kehadiran mereka juga mempermudah hidupnya. Eits ralat. Hanya Bima dan Hendri yang mempermudah hidupnya. Tidak dengan Adam.
Perdebatan di antara mereka hanyalah perdebatan yang tidak mempengaruhi niat mereka meski mempengaruhi mood mereka, terutama mood Runi. Mood seorang wanita memang lebih mudah hancur dengan hal–hal seperti itu. Sengambek–ngambeknya Runi dan semuak–muaknya mereka akan sifat satu wanita itu, mereka tetap mengekori ke mana Runi menggerakkan kakinya. Adam tetap mendorong troli belanjaan.
"Pencar aja deh, biar cepet," usul Bima.
"Iya tuh. Kelamaan kalau gerombol begini. Gak efektif juga," imbuh Hendri.
"Oke deh. Aku sama Kak Bima."
Runi menyetujuinya. Ia mengusulkan diri. Niatnya adalah untuk menghindari belanja berduaan dengan Adam. Hidihh hanya akan membuat dirinya tua seketika dalam hitungan jentikan jari.
"Oo tidak bisa. Aku sama Bima. Kami sama Adam. Ya kan, Bim?"
Secepat mungkin Hendri menyanggah ucapan Runi. Atau kalau tidak, Adam pasti juga bersuara.
"Iya betul itu. Ayo Hen," ucap Bima.
Bima menyetujuinya tanpa berpikir panjang. Niat awalnya memang untuk menghindar dari dua manusia lawan jenis yang kerap membuat kepala mereka pusing hanya dengan mendengarkan perdebatan mereka yang terkadang unfaedah.
"Kak ..." rengek Runi agar mereka berdua bersedia bertukar posisi.
"Dadah Runi."
__ADS_1
Hendri melambaikan tangannya pada Runi. Ia mengajak Bima untuk ikut bersamanya. Mereka meninggalkan Runi dan Adam berdua. Sedangkan Adam pun hanya memutar bola matanya malas.
"Kak!!" panggil Runi pada Bima dan Hendri. Namun mereka berdua mengabaikan teriakan Runi yang terbilang cukup keras. Pengunjung swalayan yang berada tak jauh dari mereka sampai menghentikan aktivitas mereka sementara hanya untuk menoleh ke arah mereka.
"Dah lah. Ayo! Jangan buang–buang waktu," ucap Adam yang melenggang begitu saja meninggalkan Runi. Ia berjalan tanpa menoleh sedikitpun ke arah Runi.
Mau tidak mau Runi mengikuti ke mana arah perginya Adam. Ia menghentakan kakinya sebal di langkah pertama kaki itu bergerak. Ia mencebikkan bibirnya.
🍂
"Bagaimana ini? Bagasi kita tidak muat!" ucap Bima. Ia mencoba memasukan semua barang belanjaan ke dalam serapi mungkin, namun tetap saja masih tidak muat. Masih setengah barang belanjaan yang masih di bawah.
"Hah? Yang benar saja Bim?" tanya Adam tidak percaya. Ia yang awalnya sudah di dalam mobil pun kini keluar menghampiri Bima.
"Iya. Lihat ni!"
Bima menunjukan betapa banyaknya barang belanjaan mereka.
"Tahu begini aku tadi membawa mobil sendiri ketimbang pergi sama kalian," sesal Bima.
"Lihat tuh," tunjuk Adam dengan dagunya. Kedua tangannya memegang pinggangnya.
Hendri menganga lebar. Ia tidak menyangka jika belanjaan mereka digabungkan jumlahnya akan meledak seperti ini.
"Ini nih akibatnya. Ulahmu ini Run. Sudah kubilang kalau jangan semuanya dibeli. Gini nih! Mana bayarnya pake uangku lagi, " omel Adam.
"Ya kan semuanya dibutuhkan. Lagi pula kau juga setuju saja saat bayar tadi!"
"Ya gimana gak setuju? Jatuh harga diriku di depan banyak orang jika aku tidak membayar belanjaan kita." Adam berusaha membela dirinya sendiri.
"Halah..."
"Eee stop! Kenapa malah menyangkut ke masalah pembayaran!" Hendri menatap Runi dan Adam bergantian. Ia menghentikan perdebatan sia–sia itu.
"Uang aja kau perhitungan Dam. Buat apa uangmu jika tidak digunakan. Dan kamu Run, haih... Kebiasaan buruk wanita. Gelap mata."
__ADS_1
Itu komentar Hendri. Ia menatap barang belanjaan yang sebenarnya tidak begitu penting tapi terbeli semua di sana seperti camilan bayi untuk usia 6 bulanan, susu formula, dll, yang memang belum dibutuhkan oleh baby twins untuk saat ini. Niatnya untuk mempercepat namun pada akhirnya malah tidak sesuai dengan ekspektasi.
"Hadooh!!" Hendri menepuk dahinya sendiri. "Ini barang tidak akan bisa digunakan Runi," keluh Hendri melihat barang belanjaan itu. Mau dikembalikan pun sudah tidak bisa.
Runi hanya menjawabnya dengan memperlihatkan deretan giginya. Banyaknya barang bayi memang menggelapkan matanya. "Maaf, Kak," ucap Runi.
"Hilih giliran sama Hendri saja minta maaf," cibir Adam. Runi menajamkan matanya ke arah Adam, namun Adam tidak peduli.
Hendri menggelengkan kepalanya.
"Yasudah pesan greb aja biar cepet," usul Hendri kemudian. Dialah orang yang paling dewasa di situ. Pola pikirnya lebih dewasa dibandingkan dengan mereka bertiga.
"Kelamaan, Hen. Sudahlah ikutin caraku saja."
Bima menaik–turunkan kedua alisnya. Ia tidak suka menunggu yang sampainya driver belum pasti kapan waktunya.
🍂
Semua orang yang ada di dalam mobil itu memanyunkan bibir mereka masal. Masing–masing tangan mereka membawa barang belanjaan. Hal itu membuat mereka bete kecuali Bima. Bima selaku pengemudi menatap mereka bergantian. Itulah cerdasnya Bima. Mengambil posisi yang menguntungkan dirinya. Mereka memalingkan wajah mereka ke luar jendela, tak ada yang mau menatap Bima.
"Gimana? Bisa kan?"
"Ya bisa Bim, tapi tidak begini juga," keluh Adam. Posisi duduk mereka tidak nyaman lantaran terlalu banyak barang yang memenuhi mobil itu.
"Iya nih, Kak. Sesek tau!!" protes Runi yang duduk di kursi belakang bersama dengan Adam. Sedangkan Hendri hanya pasrah saja meski sebenarnya ia juga sebal. Pernyataan Runi dan Adam sudah cukup mewakilinya.
"Tidak usah banyak protes. Ini kebanyakan juga karena ulahmu Run. Dah, jalan," ucap Bima membungkam mulut lemes milik Runi itu.
"Hmmm" gumam Runi sebal.
🍂
//
Happy reading gaes,
__ADS_1
Jangan lupa bahagia 🤗💕💕