Pengantin CEO Yang Tertukar

Pengantin CEO Yang Tertukar
103. Tentang Asmara


__ADS_3

Adam melempar kemejanya yang ia pakai ke ranjang, menyisakan kaos putih yang ia gunakan sebagai dalaman. Wajahnya terlihat kusut. Memang. Ia pulang tidak terlalu sore dari acara pesta pernikahan. Namun ia menghabiskan sore itu dengan mengitari kota dengan mobilnya.


Ia berjalan ke balkon apartemennya. Di sana ia memandang lurus ke depan, lalu menatap langit yang ada di depan atasnya. Gelap. Itulah yang ia lihat. Hanya lampu–lampu menyala yang menerangi gelapnya malam di bawah sana. Bintang–bintang pun seperti enggan untuk ikut andil. Apalaginsang rembulan.


Sunyi. Itulah suasananya, dan sepi itulah rasanya. Adam menghela napas kasar. Hati memang belum rela, namun ia tidak bisa melakukan apapun. Hatinya serasa kosong tak bertuan, karena sang tuan telah pergi dari hidupnya.


"Keputusanmu adalah hakmu dan aku akan pergi. Membuang rasaku untukmu."


Adam mencengkeram pembatas balkon yang ada di sana. Mencoba menumpukan badan dan beban pada sang pembatas. Ia memejamkan matanya sejenak, menyoba menyalurkan rasanya pada sang malam.


"Namun, entah kapan aku bisa membuka hatiku kembali. Pada siapa pun, aku tidak tahu."


Adam tersenyum getir. Seorang Adam masih saja bisa dikhianati. Ia menertawakan dirinya sendiri.


Sampai cukup larut ia memandang sang malam, yang perlahan hawa dingin mulai menusuk tulangnya.


🍂


"Bang …." panggil Gea kepada Briel yang tengah terbaring di sampingnya sembari memejamkan matanya.


"Hem?" gumam Briel sebagai jawabannya.


"Lapar."


Perut Gea meronta meminta diisi lagi. Sepulang dari kondangan, malamnya, Gea malas makan karena perutnya masih kenyang. Namun alhasil sekarang ia merasa perutnya kosong.


"Terus?"


"Haihh Bayang tidak peka!"


Gea cemberut. Ternyata suaminya tak memperhatikannya. "Dasar kaum lelaki!" gerutunya lagi.


Briel terkekeh. Gea begitu menggemaskan di matanya. Ia menyentuh manja hidung mancung Gea.


"Atutututu istriku ngambek," goda Briel.


"Jangan sentuh–sentuh!"


Gea menepis tangan Briel yang ingin mencubit gemas pipi Gea. Briel hanya ternganga.


"Kenapa dengan Geyang? Perasaanku dulu dia tak semanja ini. Ada apa dengannya?" tanya Briel dalam hati. Ia bingung dengan perubahan yang ada dalam diri Gea.


Briel menghela napas dalam. Dia berusaha agar dirinya sabar menghadapi istri tercintanya.

__ADS_1


"Geyang …. Mau makan apa? Ayo kita ke dapur cari makanan," bujuk Briel lembut. Seketika ekspresi wajah Gea berubah 180 derajat. Wajahnya terlihat sumringah, seperti orang yang mendapatkan lotre.


"Ayo Bayang."


Mereka berdua keluar kamar. Mereka menuju ke dapur. Mereka mencari makanan yang bisa mereka makan. Karena tak bisa dipungkiri, nyatanya Briel juga merasakan lapar. Mungkin bisa dibilang, kata lapar yang Gea lontarkan turut memberikan sugesti untuknya.


Mereka mencoba untuk mencari. Namun ternyata mereka hanya menemukan 2 butir telur, sosis, sedikit sayuran dan 2 bungkus mie instan kuah dan goreng.


"Gimana Gey? Hanya ada ini," tanya Briel. Ia takut istrinya ngambek lagi. Bisa brabe urusannya jika sampai terjadi.


"Masak ini aja, Bayang. Dingin–dingin begini pasti nikmat."


Gea membayangkan betapa enaknya makan mie dengan topping seperti itu, ditambah dengan potongan cabai rawit segar. Membayangkannya saja sudah membuatnya menelan ludah.


"Oke," jawab Briel singkat.


Briel mulai memasak mie itu. Setelah kurang lebih 10 menit, semuanya telah siap. Briel membawa sepiring mie goreng dan semangkuk mie kuah ke meja makan.


"Makanan siap …." ucap Briel dengan senyum menawannya. Tanpa sadar Gea bertepuk tangan kecil. Hal itu membuat Briel menarik kedua sudut bibirnya ke atas. Kegirangan Gea ternyata juga menjadi kebahagiaan sederhana di hidupnya.


"Mau yang mana?"


Briel memberikan pilihan kepada Gea ingin memakan yang kuah apa yang goreng. Gea memilih dua–duanya. Hal itu membuat Briel mengerutkan dahinya.


"Yang benar saja, Gey? Terus aku yang mana?" tanya Briel.


Gea tersenyum jahil. Hal itu membuat Briel tertegun, tak percaya. Ekspresi Briel begitu lucu hingga menggelitik geli dirinya.


Gea tergelak. "Ya tidaklah, Bang. Masak iya begitu. Kita makan berdua."


Ucapan Gea membuat hatinya menghangat. Mereka pun memakan mie instan itu sampai habis sembari bercanda ringan. Tak lupa mereka mencuci piring mereka bersama.


"Jangan tidur dulu," ucap Briel.


Briel memperingatkan Gea. Gea pun mengangguk. Gea juga tahu bahwa langsung tidur setelah makan tidak baik untuk kesehatan, apalagi makan di waktu malam seperti ini.


Mereka berdua berjalan ke ruang tamu. Di sana mereka menghidupkan televisi. Mereka melihat acara televisi tentang pencarian jodoh. Tidak ada acara televisi yang menarik di jam–jam seperti ini. Gea duduk menyender di lengan Briel.


"Bayang …." panggil Gea. Melihat acara ini membuat Gea ingin bertanya tentang Briel. Gea mendongakkan wajahnya menatap Briel.


"Apa?" jawab Briel lembut. Ia menundukkan kepalanya agar bisa menatap Gea.


"Pernah ikut pencarian jodoh?"

__ADS_1


Briel membulatkan matanya. Pertanyaan absurd dari Gea membuat harga dirinya ternodai.


"Enak saja. Ya tidak pernahlah Gey! Jatuh harga diriku sebagai seorang CEO, Gey," ucap Briel tak terima.


Gea tertawa. Pertanyaannya ternyata bisa membuatnya melihat ekspresi wajah Briel yang lain.


"Kenapa tertawa?"


"Lucu saja, Bang. Aku bisa melihatmu kesal seperti tadi."


Briel tersenyum. Ia menarik kepala Gea, lalu mencium pucuk kepalanya.


"Haihh … ada–ada saja kamu, Gey."


Mereka pun terdiam sembari menyaksikan acara yang disuguhkan di televisi itu.


"Bang, pernah jatuh cinta?"


"Pernah."


"Kapan?"


"Sekarang."


"Gombal." ucap Gea sembari menabok ringan lengan Briel. Gea dan Briel terkekeh ringan.


"Maksud aku, dulu Bayang, bukan sekarang."


"Sudah lupa, Geyang. Masa remajaku dah lama. Setelah mulai dewasa, aku sudah disibukkan dengan pekerjaan."


"Boong, " ucap Gea sembari menunjuk wajah Briel.


"Ck… gak percayaan. Iya aku gak bohong."


"Cih ... Hambar sekali hidupmu, Bang," ledek Gea.


Briel hanya tersenyum. Sebenarnya ia pernah jatuh cinta. Namun ia tak bercerita. Untuk apa bercerita kalau cinta pertamanya telah tiada? Lagi pula, hatinya telah diisi sepenuhnya oleh Gea. Tak ada celah bagi wanita lain untuk masuk, mengusik ruang yang telah dihuni oleh Gea.


Mereka melanjutkan menonton televisi sampai setengah jam kemudian mereka memutuskan untuk kembali tidur.


🍂


//

__ADS_1


Happy reading guys,


Jangan lupa bahagia 💕💕


__ADS_2