
Suasana rumah Edi dua hari terakhir ini berubah menjadi ramai. Kehadiran Gea sekeluarga membuat suasana di rumah itu menjadi hidup, tidak sepi seperti biasanya.
Raut wajah Edi tiba–tiba saja menyendu. Ia menatap dua cucunya itu cukup lama. Mereka bergerak aktif. Hanya sambil berbaring namun terlihat menggemaskan.
"Kalian benar–benar pulang hari ini?" tanya Edi pada Gea dan Briel.
"Iya, Pa. Bayang harus kembali lagi ke kantor. Kantor Bayang lebih jauh jika Bayang berangkat dari sini," ujar Gea memberikan pengertian.
Edi menghela napas. Ia masih tidak rela melepaskan mereka.
"Tapi kan kamu bisa menginap sendiri bersama duo kembar di sini," ujar Edi tanpa berpikir panjang. Ia masih mengedepankan perasaanya.
Briel hanya menyimak. Ia mendengarkan percakapan anak dan ayah itu. Untuk kali ini, Gea lah yang berhak menjawab.
"Pa ..." Gea diam sejenak. "Bukan Gea tidak mau. Tapi Gea punya suami, Pa. Lagi pula Gea akan kewalahan menjaga mereka di malam hari jika tidak ada Bayang di samping Gea. Terkadang Bayanglah yang membangunkan Gea kalau Gea tidak mendengar mereka menangis."
Gea menatap ke arah Briel. Briel tersenyum bangga dengan istrinya itu. Sang istri mampu memilih pilihan yang tepat. Bahkan mengangkat namanya di depan sang mertua.
Edi menghela napas. Pada akhirnya ia juga mengerti. Berat hati ia melepaskan mereka pulang kembali.
"Pa... Tidak usah bersedih gitu. Kan Papa bisa main ke rumah kami. Rumah di sana juga luas kan. Papa bisa menginap. Atau beberapa minggu sekali, kami bisa menginap lagi di sini." Kali ini Briellah uang angkat bicara.
"Aku tanpa Gea butiran debu, Pa. Kacau hariku," ungkap Briel jujur.
Pengakuan Briel membuat Edi tertawa. Menantunya terlalu lebai untuk mengungkapkan isi hati. Di satu sisi dia juga lega. Putrinya dicintai begitu dalam oleh lelaki yang tepat. Bahkan Edi dapat melihat jika Briel adalah sosok ayah yang bertanggungjawab. Sedangkan Gea tersipu malu mendengar ucapan Briel.
"Lebai!!" bisik Gea tepat di samping telinga Briel. Ia mencubit ringan pinggang Briel. Briel mengaduh geli. Edi tersenyum hangat melihat keharmonisan rumah tangga anaknya itu.
"Ya baiklah. Tapi nanti sore saja kalian pulang ya. Beri waktu sedikit lagi untuk Papa bersama dengan duo kembar," pinta Edi. Setidaknya sedikit waktu lebih lama mampu mengobati rasa rindunya meski hanya sesaat untuk kemudian menabung lagi.
Rindu aja ditabung ya kan dudududu
"Iya, Pa. Rencananya memang begitu," ujar Gea.
🍂
"Dadah Kakek ..."
Gea berpamitan pada Edi. Mereka resmi meninggalkan rumah Edi. Edi melambaikan tangannya ke arah mobil mereka yang perlahan menghilang.
Saatnya Edi kembali pada kesendirian dan kesunyian yang menghantui setiap waktu.
"Bi, tolong siapkan makan malam yang sederhana saja. Oh iya jangan lupa nanti kalian sekalian makan bersama saya saja di meja makan."
__ADS_1
"Iya Tuan. Tapi kalau untuk itu ..."
"Tidak apa. Setelah hari ini saya merasa jika ternyata selama ini saya terlalu lama berada dalam kesendirian. Kalau ada Bi roinah sama Pak Arman kan bisa menemani saya," ujar Edi menjelaskan.
"Tapi kami hanya pekerja, Tuan. Mana mungkin kami semeja makan dengan Tuan?"
Edi melebarkan bibirnya. "Sudah. Turuti saja perkataanku. Jika sudah siap, panggil saya di ruang kerja."
"Ba–baik Tuan."
Tidak ada pilihan lain, Roinah hanya bisa mengiyakan saja.
🍂
"Duh Man." Roinah mulai mengadu pada Arman.
"Hmm?"
"Gimana ini? Tuan mengajak kita makan di meja makan." Roinah gusar. Ia meremas jari jemarinya sendiri. Memasaknya sudah selesai. Namun ia ragu untuk memanggil Edi. Ia memilih untuk menemui Arman terlebih dahulu.
"Weee?!!" Arman terkejut. Ia masih tidak percaya dengan apa yang dia dengar.
"Mbok ojo ngawur! Ra sah ngimpi!" (Jangan sembarangan. Tidak usah bermimpi!)
"Iya ... Suwer." Roinah mengacungkan dua jarinya ke arah Arman untuk menunjukkan jika ia tidak berbohong sedikitpun.
"Ada angin apa, Tuan Edi begitu. Apa jangan–jangan jin tomang penghuni gudang merasuki Tuan?" ujar Arman berasumsi buruk. Ia memang mengetahui jika gudang di sana memang ada penunggunya. Selama bekerja di sana, ia sering mendengar suara–suara aneh. Untung saja tidak mengganggunya.
"Husss ngawur kamu! Mana ada hal hal gaib seperti itu. Musrik percaya seperti itu."
Dalam agama Roinah tidak diajarkan percaya pada hal hal mistis seperti itu.
"Ada saja! Buktinya aku sering mendengar." Arman masih tetap kekeh dengan pendiriannya. Agama mereka sama, namun latar belakang budaya mereka berbeda. Tradisi Jawa masih melekat dalam diri Arman.
"Yayaya terserah. Mungkin sebenarnya kamu yang perlu dirukiyah. Sudah kembali ke topik!"
Pembicaraan mereka malah melantur. Arman cengengesan.
"Jadi gimana ni? Tapi bagaimana jika kita menolak?"
"Janganlah! Menolak maksud baik juga tidak boleh," ujar Arman.
"Ya tapi bayangkan saja. Kita yang tidak pernah makan bersama tiba–tiba makan bersama satu meja. Apa gak canggung tu?" Hanya membayangkannya saja sudah membuat Roinah tremor.
__ADS_1
"Iya tapi jalani sajalah!" ujar Arman sok santai padahal dalam hatinya ia juga merasakan hal yang sama dengan Roinah.
🍂
Kini mereka bertiga sudah berada di ruang makan. Suasana begitu canggung. Edi yang terlebih dahulu memulai mengambil makanan ke dalam piring sudah memegang sendok dan garpu di tangannya.
Edi terdiam. Ia melihat Arman dan Roinah yang masih duduk terdiam dengan tangan yang dipangku.
"Ayo Pak, Bi. Kok kalian malah diam saja. Kalian makanlah," titah Edi.
Arman dan Roinah saling berpandangan. Bahkan kaki mereka tidak tinggal diam. Kaki mereka berperang di bawah meja, untuk saling lempar, siapa yang akan menjawab perkataan Edi.
"Ayo Bi, Pak," ujar Edi sekali lagi.
Arman dan Roinah tersenyum canggung.
"Kamu duluan, Man ..." ucap Roinah tanpa bersuara hanya komat–kamit saja.
"Kamu duluan lah!" ujar Arman dengan cara yang sama.
Mereka berdua kaget kala menatap ke arah Edi. Ternyata Edi masih menatap mereka sepanjang mereka berdebat sendiri. Mereka semakin tersenyum canggung.
Edi menghela napas. Ia meletakan sendok garpunya di meja. Ia meminum air putih beberapa tegukan.
"Kalau kalian tidak nyaman, baiklah. Kalian boleh makan seperti biasa. Maaf kalau saya terkesan memaksa kalian," sesal Edi.
"Ck kamu sih!" Begitulah kira kira yang dapat terungkap dari tangan Roinah yang menyiku ringan lengan Arman.
"Ti–tidak Tuan. Kami mau kok," ucap Arman. Ia langsung mengambil nasi dan lauk untuk ia letakkan di piringnya. Begitupun dengan Roinah. Ia mengikuti hal yang sama dengan Arman. Edi tersenyum melihat mereka berdua. Makan bersama lebih menenangkan dibandingkan makan sendirian.
"Mulai hari ini, kalian makan bersamaku. Ajak yang lainnya juga jika siang hari saya ada di rumah."
"Baik Tuan," jawab Roinah.
Pekerja yang dipekerjakan memang banyak. Namun yang menginap di rumah itu hanya Roinah dan Arman. Yang lainnya hanya ke sana sesekali untuk membantu Roinah dan merawat taman yang ada di sana.
🍂
//
Happy reading gaes,
Jangan lupa bahagia 🌻🌻
__ADS_1